LELAKI PENGGANTI Season 2

LELAKI PENGGANTI Season 2
RAHASIA YANG TERBONGKAR


__ADS_3

Di Jakarta.


Karina terkejut dengan permintaan Bayu. Suaminya itu menginginkan dia melepas alat kontrasepsi.


"Kamu toh, sudah nggak kerja lagi, Dik. Nggak ada masalah kan, kalau segera hamil?"


Semenjak sebelum menikah, Karina memang meminta Bayu agar mereka tak mempunyai anak dulu. Alasannya tentu saja karena Karina masih ingin konsentrasi di pekerjaan. Bayu tak pernah tahu bahwa di balik itu semua, istrinya menyembunyikan proses pengobatan kanker yang mengharuskan dia menunda kehamilan. Pada akhirnya Bayu memenuhi permintaan Karina, sekaligus permohonan istrinya agar merahasiakan permintaan itu dari keluarga Karina.


"Tapi, Mas ...."


Bayu merengkuh tubuh Karina. "Ayolah, Dik, umur kita semakin bertambah. Masak iya, aku nanti baru punya anak menjelang pensiun?"


"Aku masih belum bisa, Mas," ucap Karina lirih. Disembunyikan wajahnya di dada Bayu.


Lelaki itu menghela nafas. "Kenapa, Dik?"


Karina tak menjawab.


"Apa perlu Mbak Maira yang kasih tahu kamu?"


Perempuan itu sontak bangkit dari rebahnya di dada Bayu. "Jangan!" serunya panik. "Bisa panjang urusannya nanti kalau mbak Maira tahu aku KB sejak awal nikah."


Bayu tersenyum. "Makanya, kali ini kamu yang harus turuti permintaanku!"


Kembali ditariknya Karina dalam pelukan. Mereka berdua sekarang saling berangkulan di atas ranjang.


"Kita bikin anak, ya, ya, ya ...!" rayu Bayu, nakal.


Karina mencubit perut Bayu.


"Sayang, besok kamu lepas alat KB, ya!" bisik Bayu di telinga istrinya


Karina tak menjawab. Dia memilih sibuk menciumi dada Bayu.


Segera Bayu membalikkan badan Karina. "Pokoknya aku nggak mau tahu, besok kamu harus lepas KB!" ujar Bayu lebih tegas


Bayu beranjak mematikan lampu kamar, menggantinya dengan lampu tidur remang-remang. Sesaat kemudian mereka berdua sudah tenggelam dalam kehangatan cinta.


***


Sudah hampir sebulan Karina resign dari pekerjaan. Pengobatan kanker masih rutin dia jalankan. Hanya saja kali ini dia berpindah ke rumah sakit militer, mengikuti asuransi kesehatan suaminya. Dia juga masih menyembunyikan sakitnya dari Bayu.


Siang itu dia kembali kontrol ke poli onkologi di rumah sakit militer. Saat sedang antri di ruang tunggu, tiba-tiba seseorang menepuk bahunya.


"Bu Bayu?"


Karina menoleh. Dia terkejut ketika mendapati istri letting Bayu duduk di belakangnya.


"Bu Fatur?"

__ADS_1


"Periksa siapa, Bu Bayu?" tanya istri sertu Fatur.


"Oh, ee ... e ..., Eh, kalau Bu Bayu sendiri, siapa yang sakit?" Karina mengalihkan pertanyaan.


"Ini, ibu saya." Istri sertu Fatur menunjuk seorang perempuan paruh baya yang duduk di sebelahnya.


Karina mengangguk pada ibu paruh baya itu. "Sakit apa, Bu?"


"Ini, ada benjolan di payudara."


"Kalau Bu Bayu sendiri kenapa?" tanya istri sertu Fatur lagi, masih penasaran.


"Ee ... ini ... Ee ..., Kontrol biasa saja, kok." Tergagap-gagap Karina menjawab. Dia tak mau istri letting suaminya itu tahu. Bisa-bisa kabar mengenai penyakitnya akan sampai di telinga Bayu.


Pertemuan dengan istri sertu Fatur di poli onkologi menyisakan rasa khawatir di benak Karina. Dia hanya bisa berdoa semoga istri letting suaminya itu mengabaikan pertemuan mereka. Namun ternyata doanya tak dikabulkan. Dua hari kemudian Bayu bertanya dengan nada meradang.


"Kamu sakit apa, Dik?"


Karina terperangah. Tangannya yang sedang mengaduk teh berhenti mendadak. Perempuan itu sejenak menggigil ketakutan saat Bayu memegang bahu dan membalikkan badannya agar menghadap pada suaminya itu. Di depan meja makan kini mereka berdiri saling berhadapan. Karina merapatkan tubuh ke tepi meja.


"Dik, apa yang kamu lakukan kemarin di poli onkologi? Kamu sakit apa, Dik? Jawab!" Mata Bayu tajam menatap Karina.


Bibir Karina bergetar. Air matanya menggenang. Lalu perlahan luruh ke bawah.


Bayu memeluk tubuh Karina erat. "Dik, jujur, sakit apa kamu, Sayang? Jangan sembunyikan itu dariku. Apa, Dik?"


***


"Leukemia mielositik kronis?" Bayu terkejut. "Apa itu?"


"Jenis kanker sel darah yang perkembangannya lambat, Mas. Selama ini aku rutin melakukan terapi pengobatan. Insyaallah akan semakin membaik, Mas."


Apa pun penjelasan Karina, saat mendengar tentang kanker, nyali Bayu tetap ciut. Direngkuhnya Karina dalam pelukan. "Agh, Sayang, kenapa selama ini kamu rahasiakan?" sesalnya. "Seharusnya kamu bilang padaku, seharusnya tak perlu semua ini kamu tanggung sendiri!" Mata Bayu berkaca-kaca. Dia tak sanggup membayangkan penderitaan istrinya selama ini menahan sakit, tanpa dia ketahui.


"Aku takut kamu jadi khawatir, Mas."


Bayu melepaskan pelukan. Dipegangnya kedua bahu Karina. Tatap matanya semakin tajam menghujam. "Karin, aku ini suamimu. Aku berhak tahu apa yang terjadi padamu. Sakitmu adalah sakitku juga. Deritamu deritaku juga. Tak seharusnya kamu sembunyikan semua ini dariku. Mengerti?!"


Karina tergugu. "Maafkan aku, mas."


Kembali Bayu memeluk Karina erat, seakan takut kehilangan. "Mulai sekarang, ayo kita jalani ini semua berdua!"


"Iya, Mas. Tapi tolong jangan ceritakan dulu penyakitku ini ke Mbak Maira atau pun bapak ibu. Aku nggak mau mereka ikut khawatir."


Bayu mengangguk.


"Dan, tentang kehamilan, tak apa kan, aku masih menundanya? Aku nggak boleh hamil dulu selama proses pengobatan ini."


"Iya, Sayang, nggak apa-apa. Yang penting sekarang kamu sembuh dulu."

__ADS_1


"Terima kasih, Mas."


Karina membiarkan Bayu memeluk erat tubuhnya dalam waktu lama. Dia tahu, Bayu sangat terpukul dengan kabar itu. Yang bisa dia lakukan hanya berdoa, semoga Tuhan memberi umur lebih lama lagi baginya, untuk suami tercinta.


***


Di Bandung.


Acara peringatan ulang tahun organisasi PIA Ardhya Garini berjalan sukses. Kostum tari yang dikerjakan Maira selesai tepat waktu. Perempuan itu bernafas lega dan berseri wajahnya menatap para penari yang gemulai tampil di panggung dengan kostum cantik karyanya.


Usai acara, Bu Sapto memanggilnya. "Bu Janu, terima kasih untuk bantuannya, ya. Kostum desain Bu Janu cantik banget pas dipakai penari di panggung."


"Siap, ibu, sama-sama. Senang rasanya bisa ikut andil dalam kesuksesan acara ini."


Bu Sapto menepuk-nepuk bahu Maira. Pandangannya beralih ke perut Maira yang makin membesar. "Kandungannya gimana, sehat kan?"


"Alhamdulillah, ibu."


"Aktivitas menjahit kemarin nggak mengganggu, kan?"


"Tidak, ibu."


"Alhamdulillah."


Bu Sapto mempersilahkan Maira duduk di kursi lipat depan panggung. Beberapa ibu pengurus masih hilir mudik membereskan perlengkapan dibantu om-om tentara. Bu Sapto ikut duduk di sebelah Maira.


"Jadi begini, Bu Janu, bulan depan kan ada lomba Cipta Busana Nusantara. Rencananya kita mau ikut, nih. Nah, karena kebetulan kita sudah tahu bagaimana hasil karya Bu Janu, boleh dong kita minta Bu Janu untuk mewakili lomba?"


Maira terhenyak. "Ijin, ibu, tapi apa karya saya sudah layak diikutkan event seperti itu?"


"Saya yakin layak. Bahkan ibu ketua pun tadi memuji, lho."


Tak bisa dipungkiri, ada rasa bangga merasuk di dada Maira.


"Acaranya nanti juga cuma diadakan di Bandung, kok."


Maira mengangguk. "Siap ibu, akan saya coba."


Bu Sapto bernafas lega. Dielusnya lengan Maira. "Semangat, ya!"


Sementara itu dari sisi panggung, di antara om-om tentara yang sibuk membenahi perlengkapan, tampak Kapten Rian. Lelaki itu memberi instruksi pada anak buahnya, sambil sesekali mencuri pandang pada Maira.


(bersambung)


// Maaf jika selalu lambat up nya. Semoga kalian tak bosan.


Jika berkenan, please beri penilaian pada kisahku ini di kolom komentar. Entah itu penilaian baik atau pun buruk. Insyaallah akan bermanfaat bagi perkembangan tulisanku.


Terima kasih 🙏🙏🙏 //

__ADS_1


__ADS_2