LELAKI PENGGANTI Season 2

LELAKI PENGGANTI Season 2
HANIN HANANINA


__ADS_3

...Tuhan tidak pernah memberikan cobaan di luar kemampuan kita menanggungnya....


Kehadiran bayi di keluarga pak Kusno seperti oase di tengah gurun kepedihan. Wajahnya yang mungil menggemaskan mampu mengusir segala bentuk duka dan nestapa. Seakan dia sengaja dihadirkan Tuhan untuk mengusir kesedihan yang membayangi keluarga itu.


Maira pun semakin hari semakin terlihat segar. Kondisi tubuhnya sudah pulih seperti semula. Dia sudah bisa memandikan dan mengurus bayinya sendiri.


"Mai, ini ada kiriman parcel, dari siapa, ya?" Bu Kusno membopong parcel besar dibungkus plastik transparan.


Maira yang baru selesai membedong anaknya, mengernyitkan kening. "Dari siapa, Bu?"


Parcel berisi perlengkapan bayi itu ditaruh Bu Kusno di ujung ranjang. "Ndak tahu. Tadi yang ngantar ojek online. Ibu kira ada nama pengirimnya di parcel ini. Tapi dari tadi ibu cari kok, ndak ketemu, ya? Apa ada di bagian dalam?" Bu Kusno membungkuk, mengamati bagian dalam parcel. Tapi nihil. Hingga detik ini tak ditemukan nama pengirimnya.


"Nanti biar kubuka, Bu," ucap Maira sambil mengangkat bayinya, memangku dan mulai menyusui.


Bu Kusno mengangguk, lalu duduk di sebelah Maira. Diamatinya bayi Maira yang lahap menyusu pada ibunya.


"Masya Allah, cucu eyang pinter banget nenennya!"


Maira tersenyum. Dielusnya kepala bayi dengan lembut.


"Cepet gede kalau nenennya kayak gini, Mai."


"Insyaallah, Bu."


Beberapa saat kemudian Maira selesai menyusui bayinya. Bu Kusno mengambil alih bayi itu dari gendongan bundanya.


"Mau kamu beri nama siapa dia, Mai?"


Maira tertegun. Bukankah biasanya memberi nama dilakukan oleh bapak si anak?


Pandangan Bu Kusno menyelidik wajah Maira yang berubah. Ada gurat kesedihan tampak di sana. Bu Kusno menghela napas. " Kalau ndak, nanti biar eyang kakungnya yang mencarikan nama," ucap perempuan itu dengan hati-hati.


"Ah, tidak, Bu! Aku dan mas Janu sudah mempersiapkan nama untuknya."


"Iya?" Bu Kusno menyeringai getir. "Siapa, Mai?" lanjutnya lirih.


Mata Maira menerawang. Ingatannya kembali pada saat Janu menelepon terakhir kali.


"Hanin Hananina," ucap Maira dengan suara agak serak.


Bu Kusno tertegun melihat ekspresi wajah putrinya. Dia tahu, saat ini Maira pasti sedang terjebak dalam kenangan tentang suaminya.


"Bagus banget namanya, Mai. Apa artinya?" tanya Bu Kusno memecah kesenduan.


Maira menghela napas. "Anak perempuan yang mencintai dan dicintai Tuhan," jawabnya parau. Mengulang kalimat yang dulu pernah diucapkan Janu padanya. Tanpa sadar air matanya mengalir di pipi. Maura menangis tanpa isak.


Bu Kusno merengkuh bayi dalam gendongannya dan menciumi pipinya. "Hanin Hananina, namamu indah sekali, Nduk. Artinya pun luar biasa. Semoga kelak menjadi anak sholehah ya, cucunya eyang." Air mata Bu Kusno pun ikut luruh. Hatinya perih mengingat ayah si bayi yang hingga sekarang belum ada kabar.

__ADS_1


"Ah, iya, parcelnya!" seru Maira, berusaha mengalihkan kesedihan. Semenjak kelahiran anaknya, Maira memang semakin pandai mengendalikan perasaan. Keberadaan bayi itu seperti semacam penguat bagi dirinya.


Maira bangkit sambil menyusut air mata. Dihampirinya parcel yang berada di ujung tempat tidur. Tangannya mulai membuka pembungkus plastik. Ada banyak barang perlengkapan bayi di dalamnya. Mulai dari selimut, handuk, baju, juga sepatu bayi. Semua cantik-cantik dan terlihat mahal. Tangan Maira mencari-cari di antara lipatan-lipatan barang-barang itu. Selembar kertas persegi berukuran kecil dia ambil dari sana. Sejurus kemudian dibacanya.


Selamat atas kelahiran putrinya.


Semoga menjadi anak sholehah.


Semoga bundanya juga selalu tabah dan kuat.


Tama


Maira mengernyitkan kening. Tama? Kapten Rian kah?


"Dari siapa, Mai?"


"Em, entah, Bu. Mungkin kapten Rian."


"Kok, mungkin. Lha, disitu namanya siapa?"


"Hanya ditulis 'Tama' gitu."


"Mbok, wa dia. Tanya, apa benar dia yang kirim. Ndak enak kalau sampai ndak ngucapke terima kasih."


Maira menghembuskan napas berat. Dia teringat nomor kapten Rian yang sudah diblokir. Mendadak dia menjadi merasa bersalah.


***


Sapa Maira akhirnya, lewat aplikasi WhatsApp. Terpaksa dia buka blokir untuk nomor itu. Tidak enak juga rasanya memutus tali silaturahmi sedangkan orang tersebut sangat perhatian dan telah menolong hidup Maira dengan tetes darahnya.


Untuk beberapa waktu lamanya tidak ada jawaban. Hingga saat Maira hendak meletakkan handphone, terlihat notifikasi pesan wa masuk.


Waalaikumsalam, Bu. Tumben nih, wa saya.


Maira menjadi semakin segan. Dia yakin kapten Rian pasti tahu nomornya telah diblokir. Tapi orang itu tak menanyakannya. Lalu Maira mengarahkan kamera handphone ke parcel yang masih rapi lipatannya. Sebuah foto dia kirimkan sebagai balasan, berikut caption-nya.


Maaf, Pak, apakah parcel ini dari bapak?


Oh, iya. Saya yang kirim. Mohon maaf jika kurang berkenan.


Maira menghembuskan nafas panjang.


Oh, tidak, pak. Saya yang justru berterima kasih atas bantuannya. Mohon maaf sudah banyak merepotkan.


Ah, tidak apa-apa. Anggap saja ini sebagai bentuk perhatian dari teman lama.


Maira tertegun. Teman lama? Kenapa dia sampai sekarang terkesan begitu ingin mempererat tali silaturahmi antara kami? Tak buruk sebenarnya. Tapi mengingat posisi kami masing-masing, sepertinya akan lebih baik jika pertemanan ini lebih dijaga jaraknya.

__ADS_1


Semoga kamu dan anak-anak selalu sehat dan tetap tabah. Semoga suami juga segera bisa ditemukan.


Sekali lagi Maira menghela napas.


Aamiin. Terima kasih, Pak. Tulis Maira sebelum menutup aplikasi WA nya.


***


"Hanin Hananina!" pekik Karina. "Cantik banget namanya, Mbak!"


Adik Maira itu baru saja sampai dari Jakarta.


"Iya, dong. Secantik anaknya."


"Tapi, ngomong-ngomong kok, mirip nama Hanan?" Karina menyebut nama seorang lelaki yang pernah ada di masa lalu Maira. Masa lalu yang kelam dan tak ingin diingatnya.


"Hush!" hardik Bu Kusno. Perempuan itu melirik Maira. Tapi wajah anaknya terlihat lempeng saja. Tak ada gurat emosi di sana.


"Kenapa emangnya? Nama Hanan itu bagus kok, artinya," ucap Maira dengan santainya.


"Ah, ternyata mbakku ini sudah benar-benar bisa melupakan insiden itu!" Karina tersenyum lega.


"Iya, sampai kamu kembali mengingatkannya!" Maira melemparkan lipatan popok kepada Karina.


Tawa Karina berderai. "Ya, maaf, kakakku sayaaang ...!" Dipeluknya Maira dari belakang.


Setelah puas menggoda kakaknya, Karina mengambil alih bayi Hanin dari gendongan Bu Kusno. "Sini ikut Tante cantik dulu ya, sayang. Biar kamu ketularan cantiknya Tante."


Maira mencibir mendengarkan kenarsisan adiknya. Di saat bersamaan, Bayu masuk kamar bersama Oza.


"Nah, udah gede kan, adik Oza, Om!" Oza menarik tangan omnya, mengajak mendekat pada bayi Hanin yang digendong Karina.


"Woaa ..., iya, Za. Cantik dan lucu adikmu!" Bayu menatap bayi di gendongan istrinya dengan pandangan takjub. "Boleh aku pangku?" pintanya, sambil menatap Maira dan Bu Kusno.


Sejurus kemudian, bayi Hanin sudah berpindah tangan. Dia berada di pangkuan Bayu yang duduk dengan sikap canggung di tepi tempat tidur. Semua tergelak melihat ekspresi wajah tegang Bayu saat memangku bayi itu.


"Woe, jangan diketawain. Ngeri ini. Kecil dan lembut banget dia!"


Tawa mereka kembali berderai.


Di sela-sela tawanya, ada air mata di sudut netra Karina.


Maafkan aku yang tak akan pernah bisa memberimu anak, Mas.


Ada perih di hati Karina.


(bersambung)

__ADS_1


// Alhamdulillah ... bisa up lagi.


Happy reading dan jangan lupa tinggalkan like, komen n vote ya.... terima kasih...🙏🙏🙏 //


__ADS_2