LELAKI PENGGANTI Season 2

LELAKI PENGGANTI Season 2
KEMBALINYA PRAJURIT YANG HILANG


__ADS_3

Hasil serangkaian tes yang dilakukan, terkonfirmasi bahwa orang yang ditemukan di hutan pedalaman Papua adalah Serka Janu Satria. Kabar baik ini segera disampaikan ke markas besar TNI di Jakarta dan markas Komando Korps Paskhas di Bandung. Terlepas dari kondisi Janu yang amnesia, semua lega mendengarnya.


"Bagaimana kondisi terkini Serka Janu?" tanya Komandan di Bandung.


"Izin, kondisi fisik cukup bagus, hanya cidera patah tulang kakinya masih perlu pemulihan. Mengenai kondisi psikis, dia mengalami amnesia parah. Sama sekali tidak ingat identitas dan masa lalunya, Dan!"


Komandan menghela napas. "Mengenai perempuan bisu yang menolongnya, saya dengar dia dalam kondisi hamil?"


"Siap, Dan, benar!"


"Apakah ada kemungkinan Serka Janu yang menghamili?"


"Sepertinya memang begitu. Dari komunikasinya dengan pendeta yang menemukan mereka, gadis itu mengatakan bahwa mereka telah melakukan hubungan ..., eh, izin, Dan, mohon maaf ..., hubungan suami istri."


Komandan kembali menghembuskan napas berat. Tangannya resah mengusap kepala. "Oke. Kabar ini jangan sampai terkuak oleh media. Termasuk keluarganya jangan sampai tahu dulu. Amankan semua informasi mengenai gadis itu rapat-rapat!" perintah Komandan tegas. "Mengenai bapa Pendeta itu, bawa dia bersama Serka Janu. Kita akan membutuhkannya nanti untuk memberikan keterangan pers."


"Siap, Dan!"


"Terbangkan sersan Janu langsung ke Jogja untuk pemulihan kesehatan di rumah sakit pusat TNI AU. Sekalian biar bisa segera bertemu dengan keluarganya!"


"Siap!"


Sementara itu di Sentani, Pendeta Andreas menghadap pejabat militer setempat.


"Izin Komandan, Saya bersedia ikut ke Jawa tapi dengan syarat," ucap Pendeta Andreas dengan mimik wajah serius.


"Apa itu, bapa pendeta?"


"Bertha harus ikut!"


Komandan setempat menegakkan badan. "Wah, susah kalau itu, Bapa. Pimpinan sudah menginstruksikan agar tidak melibatkan gadis itu!"


"Saya janji tidak akan melibatkan Bertha. Saya hanya akan membawa Bertha untuk saya urus di paroki saya di Jogja. Bagaimana pun juga, saya tidak bisa meninggalkan anak itu di sini dalam kondisi seperti itu."


Pada akhirnya Pendeta Andreas diizinkan membawa Bertha turut serta. Janu sendiri juga masih susah dipisah dari Bertha. Segala informasi mengenai identitas aslinya belum sepenuhnya dia terima. Dia masih menganggap dirinya Batu, kekasih Bertha.


***


Di Jogja, keluarga Pak Kusno meluapkan kegembiraan saat perwakilan dari Paskhas datang dan memberi kabar tentang ditemukannya Janu. Pak Kusno langsung sujud syukur di ruang tamu, diikuti istri dan anaknya, Maira. Berderai-derai air mata bahagia Maira. Perempuan itu tak henti-hentinya mengucap kalimat tahmid.


"Alhamdulillah, Ya Allaaaah ...!" pekik gembira Bu Kusno. Dia kemudian berpelukan dengan Maira.


"Jadi ... jadi kapan menantu saya itu akan dibawa ke Jogja, Pak?" terbata-bata pak Kusno bertanya, sambil menahan rasa bahagia.

__ADS_1


"Secepatnya, Pak. Tapi sementara akan dibawa ke rumah sakit pusat TNI AU dulu."


Maira terhenyak. "Apakah ... apakah suami saya terluka?" tanyanya khawatir.


"Serka Janu pernah mengalami patah kaki dan sekarang sedang dalam proses pemulihan. Selain itu beliau juga mengalami amnesia."


"Amnesia?!" pekik Maira. "A-apakah dia t-tidak ingat s-siapa dirinya?"


Perwakilan Paskhas itu hanya menghela napas. "Kita akan tahu kondisi pastinya setelah beliau sampai di sini."


Maira terjajar di kursi. Harapan yang sesaat lalu membumbung tinggi, kini kembali terhempas. Rasa cemas kembali menguasai hatinya.


"Mai ...," desis Bu Kusno, parau. Direngkuhnya bahu Maira dalam pelukan.


***


Beberapa hari kemudian Janu sampai di Jogja. Lelaki itu awalnya berontak ketika hendak dipisahkan dengan Bertha. Tapi pendeta Andreas berhasil membujuknya.


"Kamu harus menjalani perawatan dulu di rumah sakit. Bertha biar saya bawa ke tempat saya. Biarkan dia istirahat dulu setelah perjalanan panjang dari Papua."


Kondisi Bertha memang cukup lemah. Dia yang tidak pernah naik pesawat terbang mengalami mabuk perjalanan parah.


"Tapi, bapa, apa tidak lebih baik Bertha juga dibawa ke rumah sakit?" Janu menggenggam tangan Bertha, saat pesawat mereka hampir landing.


Turun dari pesawat, Janu langsung dipisahkan dengan Bertha. Janu segera dibawa oleh tim kesehatan dari TNI.


"Bapa, jangan lama-lama membawa Bertha. Segera bawa dia ke saya ya, bapa!" pesan Janu sebelum dia dibawa dengan ambulance.


Sementara Bertha tampak bersandar di bahu pendeta. Tubuhnya lemas lunglai. Dia hanya mampu menatap Janu dengan sorot mata sendu. Ada kilat bening di netranya yang sesaat kemudian jatuh membasahi pipi.


Pendeta Andreas hanya mengangguk kelu. Digenggamnya tangan Janu sebelum brankar yang membawanya di dorong masuk ambulance. Sementara Janu dibawa ke rumah sakit, pendeta dan Bertha naik mobil yang akan membawa mereka ke kediaman pendeta di salah satu kampung pinggiran kota Jogja.


***


Berita mengenai ditemukannya Serka Janu sudah beredar. Namun media tak mengetahuinya kalau lelaki itu sudah dievakuasi ke rumah sakit TNI di Jogja. Penjagaan untuk Janu cukup ketat. Ini mempertimbangkan kondisi Janu yang amnesia. Media hanya mengetahui informasi mengenai Janu dari konferensi pers yang diberikan oleh pimpinan tertinggi TNI.


Di rumah sakit, Janu berada di kamar VVIP. Lelaki itu masih bingung dengan kondisinya. Kedatangan pimpinan tertinggi TNI AU dan jajarannya beberapa saat lalu tak membuat kebingungan lelaki itu terurai. Dia tetap tidak bisa mengingat mengenai identitas dirinya.


Beberapa kali Janu tampak melihat anggota TNI yang menjaganya di dalam kamar dengan tatap mata curiga. Dua anggota TNI berpangkat serka dan sertu itu berusaha terlihat seramah mungkin pada Janu.


"Kamu lupa denganku?" tanya salah satu diantaranya, sambil mendekat pada Janu.


Janu yang duduk bersandar di bed nya, menggelengkan kepala.

__ADS_1


"Aku Firman, lettingmu." Lelaki itu duduk di sebelah bed Janu.


Janu tetap menggelengkan kepala.


"Kita dulu satu angkatan ketika masuk tentara. Bareng-bareng pas pendidikan. Sayang ketika penugasan kita berbeda tempat. Kamu di Bandung, aku di Jogja."


Semua kalimat yang diucap Firman terasa membingungkan bagi Janu. Susah payah dia menemukan memori tentang apa yang diceritakan lelaki di depannya, tapi nihil. Tidak dia temukan di kepala.


"Aku Batu," desis Janu lirih.


"Aagh!" keluh Firman. "Apa kamu juga lupa dengan istri dan anakmu?"


"Istri, anak?" Janu mengerutkan kening.


"Ya Tuhan, kamu juga melupakan mereka?!" Firman membelalakkan mata. "Dengar, sebentar lagi mereka akan datang kesini. Semoga dengan melihat mereka, kamu jadi ingat siapa dirimu."


Benar apa yang dikatakan Firman. Tak berapa lama, pintu ruang perawatan Janu dibuka dari luar. Tampak seorang perwira TNI masuk, diikuti rombongan keluarga pak Kusno dan Bu Hartini.


Tampak diantaranya pak Kusno, Bu Kusno yang menggendong Hanin, Maira, Oza, Bu Hartini, serta Wulan dan suaminya. Maira terlihat tak sabar. Dia segera menghambur ke dekat bed Janu.


"Mas Januuu ...!" pekiknya.


Oza tak mau kalah. Dia ikut berlari di belakang bundanya. "Ayaaah ...!"


Tapi langkah mereka berhenti ketika mendapati Janu yang memasang muka datar saat melihat mereka. Sorot mata lelaki itu terlihat kebingungan.


"Mas, ini aku, Maira, istrimu!" Lalu Maira menarik Oza agar lebih mendekat pada Janu. "Ini Oza, mas, anak kita." Perempuan itu menoleh pada ibunya yang menggendong Hanin. "Dan itu Hanin Hanina, adik Oza. Anakmu, Mas!"


Penuh semangat Maira mencoba memberi informasi-informasi pada Janu. Dia berharap Janu segera bisa mengingat semuanya. Tapi hingga berbusa mulut Maira mencoba menjelaskan siapa saja anggota keluarga mereka, Janu tetap bergeming dalam kebingungan.


"Masak kamu lupa dengan istrimu, Mas?" Maira nyaris putus asa.


"Maaf," desis Janu lirih. "Siapa kamu. Apakah kita pernah bertemu?"


Deg!


Maira tak bisa berkata apa-apa lagi. Sosok Janu yang sangat memuja dan mencintainya, musnah tak berbekas. Tubuh dan wajah itu memang Janu, tapi jiwanya entah milik siapa.


"MAAASSS ...!!!" jerit Maira histeris dan membalikkan badan, berlari keluar ruangan.


(bersambung)


// happy reading, yaaa...!

__ADS_1


Jangan lupa bantu up semangat author untuk up dengan cara like, komen dan vote. Terima kasih...//


__ADS_2