
Panas matahari terasa hangat di lengan Janu yang telanjang. Lelaki itu membuka mata. Namun sesaat kemudian kembali terpejam. Silaunya cahaya membuat pupilnya belum terbiasa. Sejenak dia mulai mengerjap-ngerjapkan mata.
Beberapa detik berselang, pandangan Janu menjadi lebih terang. Dia masih dalam posisi meringkuk di tanah dengan tangan dan kaki terikat. Diputarnya leher, mencoba mengamati keadaan sekitar. Tampak didepan sana sisa api unggun masih mengeluarkan asap. Sementara beberapa orang tampak tertidur di sekelilingnya dengan senjata tetap di tangan. Beberapa lagi berdiri berjaga-jaga.
Janu mencoba mengingat-ingat apa yang terjadi. Dia tak tahu bagaimana bisa berada di sini. Seingatnya, dia tak sadarkan setelah sesuatu menghantam tengkuknya. Itu terjadi malam pada saat penyerangan di lapangan udara oleh kelompok separatis. Dan sekarang, hari sudah pagi. Entah peristiwanya terjadi malam tadi atau kemarin malam, dia tak terlalu ingat. Yang dia rasakan saat ini perutnya terasa sangat lapar.
Buk!
Dua potong umbi jalar bakar dilemparkan di depannya. Sebotol minuman menyusul kemudian. Janu mengangkat wajah, mencoba melihat siapa yang berdiri di depannya.
Seorang lelaki berkulit legam, rambut keriting kecil yang nyaris rata dengan kepala, menatapnya dengan raut wajah datar. Senjata yang dia pegang, ditodongkan ke arah Janu.
"Makan!" perintahnya singkat.
Janu menggerak-gerakkan tangan, berusaha melepaskan ikatan. Seperti menyadari sesuatu, lelaki itu menurunkan senjata dan berjongkok di depan Janu. Dilepaskannya ikatan pada tangan Janu. Lalu sigap lelaki itu berdiri dan kembali menodongkan senjatanya.
Janu segera bangkit dari posisi meringkuk di tanah. Dia sekarang duduk menekuk lutut, menghadap ke lelaki bersenjata itu. Diambilnya ubi jalar dan botol itu. Lalu segera dibuka tutup botol dan meminumnya beberapa tegukan. Ubi jalar yang kulitnya gosong kehitaman mulai digigitnya. Tak membutuhkan waktu lama bagi Janu untuk menghabiskan makanan dan minuman itu. Rasa lapar yang mendera membuatnya begitu lahap.
Lelaki bersenjata di depannya kembali mengikat tangan Janu. Lalu di tatapnya Janu lekat. Mata dengan iris kecoklatan itu sekilas memberikan tatapan ramah. Janu terhenyak.
Setelah lelaki itu beranjak pergi, baru disadari bahwa ikatan di tangannya tak lagi kuat. Dirabanya simpul ikatan tersebut dengan jari, terasa bahwa itu simpul yang mudah dibuka.
Janu mengangkat wajah, melihat lelaki yang tadi mendatanginya. Lelaki itu pun menatapnya sekilas.
Terima kasih, bisik Janu dalam hati.
Prajurit itu mulai mengedarkan pandangan ke sekeliling. Kanan kiri merupakan tebing terjal. Tumbuhan merambat tampak menutupi bebatuan. Akses pergerakan hanya dua arah, sepanjang lembah diantara dua tebing tersebut. Terdapat pohon-pohon di sekeliling mereka, namun tak begitu rapat.
Tempat yang buruk untuk melarikan diri dan berlindung dari tembakan.
Pandangan mata Janu sekarang beralih pada orang-orang bersenjata itu. Ada sekitar 13 orang. Tujuh diantara memegang senjata laras panjang. Enam yang lainnya ada yang menyandang busur, ada pula yang membawa senjata tajam lainnya. Tak ada satu pun yang tidak memegang senjata.
Kemungkinan selamat tak lebih dari delapan persen.
__ADS_1
Orang-orang bersenjata itu sekarang berkemas. Tampaknya mereka akan pergi. Sisa api unggun ditimbun dengan batu. Barang-barang dikemas dalam tas-tas canvas besar.
Lelaki yang tadi memberi makan Janu mendekat. Kali ini dia membuka ikatan di kaki Janu.
"Kitorang pi sekarang!" Disentuhkannya moncong senjata ke tubuh Janu. Isyarat agar Janu berdiri.
Tertatih Janu mencoba menegakkan badannya. Kedua kakinya terasa lemas dan kesemutan. Sementara tangan yang terikat di belakang punggung ikut menyulitkan gerakan. Tapi todongan senjata di depan wajah membuatnya berusaha keras untuk segera berdiri.
Orang-orang itu berbicara dengan bahasa daerah. Janu sama sekali tak mengerti. Dia hanya ikut saja ketika mereka memberi isyarat agar berjalan. Janu agak tertatih dengan kaki telanjang. Dia berjalan dibawah todongan senjata.
Mereka menyusuri puncak-puncak perbukitan, masuk hutan, menyeberangi sungai, melintasi lembah-lembah dan mendaki puncak-puncak terjal. Sesekali berhenti untuk sekedar minum. Selama perjalanan tak sekali pun orang-orang itu bicara dalam bahasa Indonesia. Janu tak mengerti, apa rencana mereka terhadap dirinya.
Hmm ..., dibiarkan hidup, berarti mereka akan mengambil keuntungan dari masih hidupnya aku. Mungkin mereka akan meminta tebusan untuk keselamatanku. Setelahnya mereka akan membebaskan atau bisa jadi malah membunuhku begitu keinginannya tercapai. Hal terbaik yang bisa dilakukan sekarang adalah, berusaha membebaskan diri secepatnya.
Janu mencoba menerka-nerka nasibnya dalam hati. Sementara mata tajam prajurit itu mengamati dan mempelajari orang-orang bersenjata yang berada di sekelilingnya. Rata-rata mereka berperawakan tegap. Ada beberapa yang yang badannya kecil, namun justru lebih gesit bergerak. Seorang dari mereka bertubuh gempal. Orang ini paling lamban dibanding yang lain. Namun begitu, si lamban ini sepertinya dekat dengan pemimpin mereka yang bertopi laken. Terlihat dari cara bicara si topi laken yang selalu merendahkan suara pada si gempal. Berbeda jika bicara dengan yang lain. Selalu penuh tekanan dan bernada tinggi.
Menjelang siang mereka berhenti di suatu tempat berupa dataran tinggi. Pepohonan rindang banyak tumbuh di tempat itu. Kanan kiri jurang yang tak begitu curam. Pohon dan belukar menutupi jurang-jurang itu. Akses terbuka ke berbagai arah. Tempat yang tepat untuk berusaha melarikan diri.
Gerakan Janu terhenti ketika orang yang tadi memberi makan kembali mendekat. Dengan bahasa isyarat, lelaki itu menyuruh Janu membuka mulut. Kemudian dia mengguyurkan air minum ke mulut Janu. Kesegaran air membuat otak Janu menjadi lebih jernih.
"Terima kasih ...," desis Janu.
Lelaki itu mengangguk. Seringai kecil tampak di bibirnya. Sesaat kemudian dia beranjak kembali ke tempat istirahatnya semula.
Angin berhembus semilir. Sejuk dan nyaman di tengah panasnya udara siang. Beberapa lelaki bersenjata itu bahkan ada yang tertidur di atas rerumputan.
Janu kembali menggerak-gerakkan jari dan pergelangan tangannya. Lelaki itu berusaha melepaskan simpul yang mengikat. Dan beberapa waktu kemudian usahanya berhasil. Kini tangan Janu terbebas dari ikatan. Namun lelaki itu tetap menyembunyikannya di belakang punggung. Matanya nyalang menatap orang-orang itu. Jantung berdebar hebat, adrenalin terpacu.
"Woii, ko pu mata jang melotot-melotot kaah!" hardik salah satu dari mereka.
Janu menunduk. Dia berusaha untuk tidak menimbulkan kecurigaan mereka. Tangan yang sudah terbebas dari ikatan tetap disembunyikan di belakang badan. Sementara tali yang sudah terlepas kini berada di genggamannya.
***
__ADS_1
Markas Komando, Bandung.
Beberapa pejabat berkumpul mengadakan rapat darurat. Kabar mengenai penyerangan di salah satu pangkalan udara di Papua sudah sampai di telinga mereka. Bahkan pasukan juga sudah dikirim untuk mengevakuasi korban dan memberantas kelompok separatis yang diperkirakan masih berada di sekitar sana.
"Berapa jumlah korban pastinya?" tanya komandan dengan raut muka tegang. Kabar cukup mengejutkan itu sudah membakar amarahnya.
"Izin, Dan, ada tiga korban gugur, lima luka berat, sembilan luka ringan, dan satu hilang." Letkol Sapto berdiri, menyerahkan kertas berisi nama-nama korban.
Komandan menghembuskan nafas berat saat matanya memindai nama-nama di atas kertas. Tangannya yang berada di atas meja terkepal erat. Berat rasanya mengetahui korban prajurit sedemikian banyaknya.
"Izin arahan, untuk keluarga masing-masing korban bagaimana, Dan?"
"Segera kita beri informasi. Jangan sampai mereka mengetahui berita ini lebih dulu dari media!"
"Siap, Dan!"
"Oiya, untuk Serka Janu Satria, apakah sudah ada update terkini tentang keberadaannya?"
"Izin, belum, Dan. Namun diperkirakan dia disandera oleh kelompok bersenjata itu."
Kembali Komandan menghela nafas. Kepalan tangannya memukul meja dengan penuh emosi.
(bersambung)
// Akankah Janu berhasil membebaskan dari dari penyanderaan?
Terima kasih sudah mampir. Novel ini GRATIS..., hanya butuh like, komen dan vote dari kalian.
Terima kasih
Terima kasih
Terima kasih. //
__ADS_1