
Waktu terasa lambat saat kita berharap akan datangnya bahagia. Sebaliknya, terasa akan seperti naik pesawat jet super cepat, saat ingin menghindar dari sesuatu yang mengecewakan.
Satu bulan tepatnya, saat pak Kusno menunjukkan pesan WA Gus Ikhsan pada Maira. Pesan itu mengabarkan mengenai kondisi Janu terkini di pesantren.
"Alhamdulillah, sudah bisa dijenguk, Pak!" seru Maira. Wajahnya berbinar. Dipeluknya erat Hanin untuk menumpahkan bahagia.
"Apa, siapa, Mai?" Bu Kusno tergopoh-gopoh dari arah dapur. "Janu sudah bisa dijenguk. Iyakah?"
Maira mengangguk. Matanya berkaca-kaca menatap ibunya. "Iya, Bu. Ini Gus Ikhsan WA bapak."
"Ayah sudah boleh dijenguk, Bun?" Oza ikut menghambur dari dalam kamarnya.
"Iya, sayang. Alhamdulillah!"
"Yeeey ... yey ... yey ... yey!" Anak lelaki berambut ikal itu berjingkrak-jingkrak menumpahkan rasa bahagia. "Kapan kita kesana, Bun?"
Maira menoleh pada bapaknya. "Kapan, Pak?"
"Sekarang saja. Mumpung bapak juga libur."
Oza kembali berjingkrak, jumpalitan. Lalu diciumi Hanin yang dalam gendongan bundanya. "Kita mau ketemu ayah, Dik. Asik, asik, mau ketemu ayah!"
Hanin merengek tak nyaman. Maira segera memegang lengan Oza, mencegah keusilan anak itu agar tak berlanjut.
"Kamu kabari Bu Hartini, ya, Mai. Siapa tahu beliau mau ikut!" saran Pak Kusno.
"Iya, Pak. Nanti aku telepon beliau."
Lalu siang menjelang sore itu rombongan pak Kusno berangkat. Bu Hartini pun ikut serta. Semua tak sabar untuk segera berjumpa dengan Janu.
Di pondok pesantren rupanya Mayor Yusuf juga sudah menunggu. Dia segera menyambut kedatangan Maira bersama Gus Ikhsan.
"Assalamualaikum!" Pak Kusno menghampiri dan menyalami mereka.
"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh." Gus Ikhsan menyambut. "Alhamdulillah, semua lengkap bisa kesini." Pandangan kyai itu beredar ke seluruh rombongan yang datang. Senyumnya tertebar.
"Iya, Gus. Kami penasaran dengan kondisi mas Janu. Bagaimana dia sekarang, Gus?" tanya Maira tak bisa menyembunyikan rasa penasaran.
"Sabar, Mbak. Sebentar lagi beliau kesini, kok. Ini lagi dipanggilkan oleh santri."
__ADS_1
Mayor Yusuf tertawa kecil. "Sudah kangen rupanya?"
Godaan mayor Yusuf membuat Maira tersipu. Kangen memang sudah seperti barang belanjaan dibungkus plastik transparan. Terlihat jelas dari luar.
Setelah duduk beberapa saat di pendopo pesantren, Maira melihat sosok tubuh berbalut koko putih dan sarung hijau mendekat. Sosok itu berjalan menuju pendopo, makin lama makin dekat. Jantung Maira berdebar, dia hapal betul dengan cara orang itu berjalan.
"Mas Janu," bisiknya.
Lelaki berkopiah hitam itu semakin tampak jelas wajahnya. Maira hampir saja tak mengenali wajahnya karena jenggot dan kumis yang tumbuh diseputar bibir. Sorot matanya terlihat lebih berbinar, tak seperti sebulan lalu saat mereka berpisah.
"Assalamualaikum." Suaranya berat dan dalam. Janu menganggukkan kepala, menyapa semua orang yang ada di dalam pendopo.
Serentak mereka menjawab salam Janu. Maira sendiri nyaris tak keluar suara, hanya bibirnya yang bergerak. Tatap mata perempuan itu tak lepas dari lelaki berkharisma yang berdiri di depan mereka.
"Ayah?" Oza mengerutkan kening. Ditelengkan kepala ke samping. Pandangan matanya menyelidik, mencoba mengenali lelaki berjenggot di depannya.
Janu tersenyum. Lelaki itu kemudian berjongkok di depan Oza. Kedua lengannya terentang, memberi ruang pada anaknya. "Iya, ini ayah, Oza."
Anak kecil itu segera melompat ke pelukan Janu. "Ayaaah ...!" Oza menangis haru. Dipeluknya erat-erat Janu, seakan tak mau lepas. "Oza kangen ayah!"
"Ayah juga kangen Oza," ucap Janu lirih. Kilat bening tampak di matanya.
Sementara itu Maira menutup mulutnya. Dia khawatir tak bisa menahan pekikan, karena rasa bahagia yang amat sangat. Lelaki yang sekarang memeluk Oza itu benar-benar Janu Satria sepenuhnya. Bukan Janu yang terjebak dalam dunianya sendiri. Dunia penyesalan yang menjauhkannya dari keluarga.
***
Di gereja, tampak seorang gadis berkulit legam duduk berdoa di depan altar. Dia tampak khusyuk menangkupkan kedua tangan di depan wajah. Matanya terpejam. Dan dari sudut-sudutnya mengalir cairan bening, membuat jalur di pipi. Gadis yang perutnya tampak membesar itu menangis dalam doa.
Pendeta Andreas dan Bu Harni berdiri di samping pintu keluar gereja. Mereka mengamati dan berbincang tentang Bertha dengan suara pelan.
"Bagaimana dengan permohonan salah satu jemaat itu, bapa pendeta?" tanya Bu Harni.
Pendeta Andreas membuang napas. "Sepertinya saya tidak berani memenuhinya, Bu Harni."
"Kenapa? Apa tidak memenuhi kriteria?"
Pendeta mengangguk. "Anak mereka tiga, masih kecil-kecil. Kondisi ekonomi juga biasa saja. Agak mengkhawatirkan memberikan anak Bertha untuk diasuh mereka."
Bu Harni menghela napas. "Seandainya saya sanggup, tentunya akan saya rawat sendiri anak Bertha nanti, bapa," ucapnya bergetar.
__ADS_1
"Sudahlah, bu Harni tidak usah ikut memikirkan ini terlalu dalam. Fokus saja ke kondisi kesehatan ibu. Saya yakin, jika Tuhan Yesus berkehendak, pasti akan ada jalan!"
Bu Harni mengangguk. Perempuan itu menggigit bibir. Dia kecewa pada dirinya sendiri. Kondisi tubuh yang beberapa waktu terakhir sering tak baik membuat pendeta Andreas melarangnya mengambil anak Bertha kelak untuk diasuh.
Mereka berdua kembali terdiam, tenggelam dalam pikiran masing-masing.
Pendeta teringat telepon yang dia terima tadi malam. Telepon dari Karina. Perempuan itu memang selalu rutin berkomunikasi dengannya. Sekedar menanyakan kabar juga kondisi Bertha.
"Apa Bertha sudah benar-benar yakin mau jadi biarawati, pendeta?" tanya Karina tadi malam.
"Puji Tuhan, begitulah, mbak Karina."
"Lalu, anaknya nanti mau diasuh siapa, Pak pendeta?"
Malam tadi pendeta Andreas tak segera menjawab. Dia kemudian malah mengalihkan pembicaraan. Menanyakan kabar Janu yang katanya mengalami depresi dan menjalani terapi di pesantren.
Mata pendeta Andreas mengerjab. "Aah," desisnya gundah.
"Ada apa, Bapa?" tanya Bu Harni heran. Sesaat lalu dilihatnya pendeta itu tenang. Tetapi kenapa sekarang jadi sedemikian resah?
"Oh, tidak apa-apa, Bu Harni. Hanya ... E ... Ah, sudahlah!"
Bu Harni mengerutkan kening. Tatap matanya mengiring langkah kaki pendeta Andreas yang keluar dari dalam gereja.
***
"Maira." Suara Janu bergetar mengucap nama itu. Matanya nanap menatap perempuan cantik berjilbab peach di depannya. "Maira."
Tak ada jawaban dari bibir Maira. Hanya anggukan kecil dan senyuman lega. Mata perempuan itu berkaca-kaca.
"Ehem!" Mayor Yusuf berdehem. "Gimana kalau kangen-kangenannya diteruskan di rumah saja?"
Janu dan Maira sama-sama tersipu. Tangan Janu yang sesaat lalu hendak mengusap kepala Maira, segera ditariknya. Mereka menunduk dengan pipi merah merona.
"Ayah sudah boleh pulang?" Oza nimbrung bertanya.
Mereka yang ada di pendopo serempak mengalihkan pandangan pada Mayor Yusuf. Berharap jawaban menggembirakan dari penanggungjawab pengobatan Janu itu.
(bersambung)
__ADS_1
// Mohon maaf baru up. Ada kerjaan lain yang harus diselesaikan.
Terima kasih sudah baca. Jangan lupa like, komen dan votenya, yaa... //