LELAKI PENGGANTI Season 2

LELAKI PENGGANTI Season 2
PULANG


__ADS_3

Ayah ingat aku?" pekik Oza.


Janu tercenung agak lama. Lalu kepalanya menggeleng lemah. Tangan yang sebelumnya mengelus rambut Oza, ditariknya kembali.


Oza menunduk sedih.


Maira segera memeluk bahu Oza sekaligus menggamit lengan Janu. Dia membawa dua lelaki yang dicintainya itu masuk rumah. Mereka berjalan menuju kamar Maira. Anggota keluarga yang lain pun mengikuti.


Di dalam kamar Maira menunjuk baby Hanin yang tertidur pulas. "Mas, itu Hanin Hananina, anak kita. Ketika kamu berangkat ke Papua, dia masih dalam kandungan."


Janu menatap bayi itu. Pelan-pelan dia berjalan mendekati ranjang. Tatap matanya tak lepas dari sosok mungil yang lelap dalam tidur. Di samping ranjang dia berhenti sesaat. Punggungnya ditundukkan, tangan terulur hendak menyentuh wajah Hanin. Tapi beberapa inci dari bayi itu, Janu berhenti. Dia urung menyentuh Hanin dan kembali menegakkan badan dengan gugup.


"Hanin Hananina, nama itu kamu yang memberikan, mas," ucap Maira sambil mendekat pada suaminya. "Kamu menitipkan nama itu padaku saat terakhir telepon, sebelum berangkat ke lapangan udara perintis tempatmu bertugas."


Janu menghela napas. "Aku tidak ingat," ujarnya singkat.


Semua tertegun. Sebegitu parahkah amnesia yang menimpa Janu?


Sementara hati Maira perih teriris. Namun perempuan itu sudah membulatkan tekad untuk berjuang sekuat tenaga mengembalikan ingatan Janu. Termasuk harus siap menghadapi berbagai resiko yang akan menyakiti perasaannya.


Sepanjang sisa hari itu di rumah pak Kusno, penuh cerita-cerita kenangan masa lalu Janu. Dimulai oleh Bu Hartini yang menceritakan masa kecil Janu hingga dewasa. Saat-saat indah keluarga mereka, hingga saat-saat kesedihan menimpa. Kematian ayah Janu, kematian Galang, adik Janu, semua ikut diceritakan. Namun nihil, Janu tetap berekspresi bingung.


Maira pun tak kurang-kurang pula ikut menceritakan tentang kisahnya dengan Janu sebelum menikah hingga awal pernikahan. Karina ikut menimpali dengan komentar konyolnya. Namun Janu tetap bergeming dengan lupanya.


Menjelang sore Bu Hartini pamit. "Janu, kapan-kapan kamu harus nginap di rumah ibu, ya," katanya pada Janu. Lalu dia berpaling pada Maira. "Ajaklah dia ke rumah masa kecilnya, Mai. Siapa tahu di sana ingatannya bisa pulih."


"Iya, Bu. Insyaallah secepatnya kami akan nginap di rumah ibu."


Bu Hartini mengangguk sambil tersenyum. Dipeluknya Maira. "Harus terus sabar dan kuat ya, Nduk," bisiknya di telinga Maira.


"Inggih, Bu," jawab Maira sambil mengusap matanya.


Menjelang magrib, Pak Kusno mengajak seluruh anggota keluarganya untuk sholat berjamaah. Karina yang kebetulan sedang tidak sholat, bertugas menjaga Hanin. Perempuan itu bersikukuh mengajak Hanin ikut menunggu mereka sholat di mushola kecil rumah pak Kusno.


"Nggak mau, ah, cuma sendirian sama Hanin di kamar. Sepi!" ujarnya sambil mengikuti langkah mereka.


Mushola mungil itu merupakan bangunan tersendiri yang terletak di samping bangunan rumah utama. Pak Kusno membangunnya sebelum Janu dan Maira menikah. Katanya untuk persiapan kalau keluarga mereka sudah menjadi keluarga besar. Jika berkumpul saat liburan, tentunya akan lebih bagus kalau punya tempat ibadah yang lebih longgar.

__ADS_1


Pak Kusno bertindak sebagai imam. Di belakangnya Janu berdiri berjajar dengan Oza. Sementara makmum perempuan, Bu Kusno dan Maira, berjajar di belakang. Karina memangku Hanin, duduk di sebelah makmum perempuan.


"Allahuakbar."


Sholat maghrib berjalan khusyuk. Janu lancar mengikuti. Selama di rumah sakit, terapisnya memang mengajarkan cara sholat padanya. Dan itu adalah ingatan yang paling cepat kembali pada Janu. Dalam waktu singkat, lelaki itu sudah bisa menguasai gerakan-gerakan dan bacaan sholat.


"Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh."


Selesai sholat, Pak Kusno memutar duduknya, menghadap ke jamaah. Oza segera menyalami tangan pak Kusno dan menciumnya. Demikian juga dengan Bu Kusno dan Maira. Terakhir, Janu dengan kikuk mengambil tangan pak Kusno dan menciumnya. Pak Kusno kemudian menepuk pundak Janu dan mengajak lelaki itu duduk di sebelahnya.


"Nak Janu, lihat, inilah keluarga kita. Keluargamu." Pak Kusno mengangkat dagu. Pandangannya beredar menatap istri, anak dan cucu-cucunya. "Dulu, saat anak-anak bapak belum menikah, mereka sepenuhnya tanggung jawab bapak. Tapi setelah Maira menikah denganmu, Karina menikah dengan nak Bayu, tentu saja sebagian besar tanggung jawab itu beralih pada kalian."


Janu menunduk. Jari-jari tangannya saling bertaut.


"Saat kamu hilang di Papua, tanggung jawab pada Maira dan anak-anaknya sepenuhnya kuambil. Aku rawat dan lindungi mereka dengan segenap kemampuanku."


Di tempatnya Maira mulai berkaca-kaca. Sementara Bu Kusno sudah berlinang air mata.


"Sekarang, saat kamu sudah ditemukan, tentu saja tanggung jawab terhadap Maira dan Oza akan kembali padamu." Pak Kusno menghela napas, menguatkan hati. "Jaga dan rawat mereka baik-baik!"


Janu mengangkat wajahnya. "Maafkan saya," ucapnya lirih. "Saya sendiri masih bingung. Saya belum ingat sama sekali. Yang ada di ingatan saya hanya Bertha dan calon bayi ...."


"Kita akan sama-sama berjuang untuk mengembalikan ingatanmu. Sabar dan kuatkan doanya. Insyaallah Allah akan segera memberi jalan terang bagi kita sekeluarga." Pak Kusno menutup pembicaraannya.


Malam itu Janu menolak tidur sekamar dengan Maira. Dia lebih memilih tidur di kamar satunya yang kosong.


"Lho, kenapa, Mas?" Karina yang gusar. "Suami istri itu ya, harus tidur sekamar!"


Janu menunduk, diam tak menjawab.


"Nanti Oza yang harus mulai tidur sendiri," lanjut Karina. "Iya kan, Za?"


Yang ditanya mengangguk tegas. "Iya, dong. Oza kan, udah gede!" ucapnya sambil membusungkan dada.


Tapi Janu tetap bergeming. "Maaf, tapi saya masih belum terbiasa ...."


"Ya, makanya dibiasakan dong, Mas. Siapa tahu pas tidur bareng nanti mas Janu jadi ingat!" Karina ngotot.

__ADS_1


Maira melotot pada adiknya. Baru saja dia hendak membuka mulut saat bapaknya menengahi.


"Ya, sudah, biarkan sekarang nak Janu tidur sendiri dulu. Mungkin memang butuh waktu baginya untuk membiasakan diri."


"Kalau gitu, ayah boboknya sama aku, ya!" seru Oza berberinisiatif. "Kita nanti bobok di kamarku, Yah!"


"Kamarmu?" Maira bingung. "Sejak kapan kamu punya kamar, Za?"


Selama ini Oza memang tidur dengan bunda dan adiknya. Maira yang menginginkan begitu. Rasanya lebih nyaman saat tidur bersama anak-anaknya. Apalagi saat jiwanya tertekan karena kehilangan Janu dulu.


"Weiii, Bunda nggak tahu, ya?" Oza mengangkat dagu sambil berkacak pinggang. "Tadi siang kan, aku dekor kamar sebelah kamar Bunda. Sekarang aku punya kamar yang keren, Bun!" Jempol Oza terangkat.


"Heleh, dibantu Tante aja!" sungut Karina.


"Eyang juga bantu!" Bu Kusno tak mau kalah.


Maira mencibir setengah tersenyum melihat kesombongan Oza yang lucu. "Baguslah kalau udah mau bobok sendiri sekarang."


"Dari dulu juga mau bobok sendiri. Bundanya aja yang boboknya selalu pengen ditemani Oza dan adek!" sungut Oza.


Semua tertawa melihat kepolosan Oza. Bahkan Janu pun tersenyum simpul dibuatnya. Maira sekilas melihat senyum itu, membuat hatinya berdenyar.


Akhirnya malam itu Janu tidur di kamar Oza. Maira menatap suami dan anaknya itu masuk kamar dengan pandangan kecewa.


"Sabar, Mbak. Aku yakin, sebentar lagi mas Janu justru akan enggan keluar dari kamar mbak Maira," ucap Karina.


"Hush!" hardik Maira. Mau tak mau gurauan adiknya membuat semburat merah di pipinya.


Sudah lama sekali ... Ah, akan seberapa lama lagi kutahan rindu itu, Mas?


(bersambung)


// Ada yang mau nemenin bobok Maira? 😁😁😁


Maaf, telat up-nya.


Terima kasih sudah mampir. Jangan lupa tinggalkan like,.komen dan vote, yaa...

__ADS_1


Terima kasih, terima kasih, terima kasih ....🙏🙏🙏 //


__ADS_2