
"Mbak, ini aku Karina!"
Tak ada jawaban dari dalam. Pelan-pelan Karina menarik handel pintu. Dan setelah terbuka, perempuan itu terkejut melihat kondisi kakaknya.
Maira tampak duduk termangu di atas ranjang. Matanya kosong menatap ke depan. Telinganya seakan tak mendengar suara pintu yang dibuka Karina. Perempuan itu tetap bergeming di tempatnya.
"Mbak kenapa?" Karina bergegas menghampiri kakaknya. Ada kekhawatiran dalam hatinya.
"Ah, kamu, Rin. Kapan datang?" Maira baru bereaksi ketika Karina duduk di tepi ranjang.
"Baru saja, Mbak." Karina menggenggamnya tangan Maira. "Mbak Maira sakit?"
Maria menggeleng pelan. Sebuah senyum getir terulas di bibirnya. Lalu perempuan itu kembali menatap ke depan dengan pandangan kosong.
"Karin, bersih-bersih dan minum tehmu dulu, Nduk!" Bu Kusno muncul di ambang pintu.
Karina menoleh pada ibunya. Sementara Maira tetap pada posisi semula. Perempuan itu seperti sedang konsentrasi pada satu hal yang maya, yang hanya dimengerti oleh dirinya sendiri.
Tatap mata Karina penuh tanya. Dia baru saja hendak membuka mulut ketika bu Kusno memberi isyarat agar dia segera keluar dari kamar Maira.
"Mbak Maira kok, seperti itu, Bu? Kenapa?" tanya Karina setelah mereka berada di meja makan.
"Seperti itu gimana?" Bayu yang mendengar jadi penasaran.
"Seperti nggak peduli sama sekelilingnya, Mas. Aku khawatir dia mengalami depresi."
Bayu terhenyak. "Beneran?"
Isak tangis Bu Kusno mengalihkan perhatian mereka. Karina pindah duduk ke sebelah ibunya. Diusapnya punggung Bu Kusno.
"Ya, begitu itu mbakmu sekarang, Rin. Kalau diajak ngomong cuma diam. Jarang nangis, tapi lebih banyak diam." Isak Bu Kusno makin kencang. "Ibu khawatir. Apalagi sebentar lagi dia lahiran."
"Ibu yang sabar dan kuat, ya, Bu," hibur Karina.
Di seberang meja Bayu tampak termangu. Lelaki itu tampak sedang memikirkan sesuatu. "Dik, apa perlu kita ajak ke psikolog?"
Karina menatap ibunya. Tatap matanya menyiratkan permintaan persetujuan
"Terserah kalian bagaimana baiknya. Kurang lebih sebulan lagi dia lahiran. Kalau kondisinya masih seperti ini, ibu khawatir ...." Bu Kusno melanjutkan kalimatnya dengan tangisan.
Karina memeluk ibunya erat. Dia merasakan bagaimana kesedihan perempuan itu. Baru saja dia shock mendengar penyakit Karina, kini harus menghadapi kenyataan Maira yang depresi karena kehilangan suami.
__ADS_1
Maafkan kami, anak-anak ibu yang bisanya cuma membuat ibu khawatir. Galau hatinya.
***
Atas izin pak Kusno, akhirnya Karina menghubungi salah satu sahabat akrabnya saat SMA. Kemala, seorang psikolog yang cukup ternama di Jogja. Psikolog muda itu bahkan bersedia datang ke rumah Bu Kusno untuk melakukan terapi bagi Maira.
"Nggak merepotkan kamu, Mal?" tanya Karina, merasa tak enak.
"Santai saja. Kayak sama siapa, lho, kamu nih!"
Kemala memang cukup dekat dengan Karina semasa SMA. Bahkan saat kuliah, meski tempat kuliah berbeda, mereka tetap berteman dan sering jalan bareng. Dengan semua keluarga Karina pun dia kenal, karena dulu dia sering menginap juga di rumah Karina.
Sore itu Kemala datang. Perempuan berjilbab itu tampak lebih anggun sekarang. Karina menyambutnya dengan pelukan hangat. Untuk sesaat mereka menumpahkan rasa kangen setelah sekian lama tak bertemu.
"Bagaimana kondisimu sekarang?" tanya Kemala sambil memperhatikan Karina. Dia termasuk orang yang tahu mengenai penyakit Karina. Bahkan sebelum Bayu dan keluarganya tahu, Karina sudah menceritakan terlebih dulu pada Kemala. Berkat support Kemala juga Karina kuat bertahan.
"Alhamdulillah, seperti yang kamu lihat. Aku baik-baik saja."
"Syukurlah." Kemala tersenyum puas.
Mereka kemudian melangkah menuju teras, dimana pak Kusno, Bu Kusno dan Bayu menunggu.
Setelah bersalaman dan berbasa-basi dengan semuanya, Kemala mulai menanyakan Maira.
"Oh, begitu, ya?" Kemala mengangguk-angguk. "Jadi sudah tiga minggu ini suami mbak Maira hilang?"
"Iya, Mal. Padahal kemarin-kemarin pas di Bandung, mbak Maira nggak separah ini depresinya. Kenapa, ya?"
"Bisa jadi karena tumpukan emosi dan kesedihan yang semakin lama semakin terasa berat dan tidak sanggup lagi dia tahan. Apalagi mbak Maira juga sudah mau melahirkan. Semakin kompleks permasalahan yang dia pikirkan."
"Nah, itu dia. Kita khawatir banget kalau sampai dia melahirkan dalam kondisi seperti ini."
Sesaat Kemala diam. Perempuan itu mengetuk-ngetuk ujung jari di lengan kursi. "Emm, oke, kalau begitu, boleh nggak aku sekarang nengok mbak Maira ke kamar?"
"Oh, ayo, aku antar!" Karina segera bangkit dari duduknya.
"Pak, Bu, mas Bayu, izin dulu menemui mbak Maira, nggih," ucap Kemala ikut bangkit dari duduk.
"Monggo, Monggo, Nak, silahkan. Minta tolong ya, Nak Kemala," Pak Kusno ikut berdiri dan agak membungkukkan punggungnya, mengiring langkah Kemala dan Karina masuk ke dalam rumah.
Setelah mengetuk pintu kamar, mereka masuk ke dalam. Seperti biasa, Maira tampak duduk di ujung ranjang dengan pandangan kosong ke depan. Dia tetap bergeming meski ada yang masuk ke dalam kamarnya.
__ADS_1
"Mbak Maira, coba lihat siapa ini yang datang?" seru Karina dengan suara dibuat seceria mungkin.
Sekilas Maira menoleh. Namun dia tampak tak antusias melihat Kemala mau pun Karina.
"Assalamualaikum, Mbak Maira. Masih ingat aku nggak?" Kemala mendekati Maira dan duduk di sebelahnya.
Maira menunduk. Diremasnya jari-jari yang tampak mengurus.
"Aku Kemala, teman SMA Karin dulu, Mbak. Yang sering nginep sini. Yang sering mbak kasih coklat." Kemala sengaja memajukan wajahnya ke depan Maira agar perempuan itu melihatnya.
Sekilas ada raut terkejut di wajah Maira. Matanya agak membola, bibir terbuka. Namun ekspresi itu tak lama kemudian kembali lenyap. Maira kembali tenggelam dalam diam.
Kemala memberi isyarat pada Karina agar dia meninggalkan mereka berdua.
"Eh, aku ambil minum dulu untuk kalian, ya!" Karina tanggap dan segera berdiri, keluar dari kamar.
Di luar bu Kusno, pak Kusno dan Bayu sudah berdiri berjajar. Mata mereka penuh rasa keingintahuan.
"Gimana, Rin?" Bu Kusno menggamit lengan anaknya.
"Sudah, serahkan saja sama ahlinya," bisik Karina. "O iya, Oza kemana?"
"Main ke tetangga belakang rumah," jawab Bayu. "Perlu dipanggil?"
"Em, ya dipanggil aja. Kan, belum mandi juga dia."
Sepeninggal Bayu menjemput Oza, Karina dan orang tuanya kembali memperhatikannya kamar Maira. Wajah mereka menyiratkan rasa keingintahuan. Lelah berdiri, Karina dan ibunya duduk di sofa depan kamar. Sedangkan pak Kusno masih mondar mandir jalan.
Sekilas Bu Kusno teringat saat menunggu kelahiran Oza. Persis seperti itu keadaannya. Namun saat itu mereka diliputi rasa was-was yang bercampur bahagia. Karena sebentar lagi akan mendapatkan cucu pertama.
Mata Bu Kusno berkaca-kaca. "Maira, yang kuat ya, Nduk," bisiknya.
Menit berlalu, mereka masih setia menunggu. Diam, tenggelam dalam pikiran masing-masing. Hingga akhirnya pintu kamar dibuka dari dalam.
Serentak mereka berdiri. Karina bergegas menghampiri Kemala.
"Gimana, Mal?"
(bersambung)
// Mohon maaf up nya lama. Mata author lagi nggak bisa buat lihat layar hp ataupun laptop. Mohon doanya saja semoga segera membaik.
__ADS_1
Terima kasih sudah bersedia mampir. Tinggalkan like, komen, juga vote sebagai pertanda jika kamu suka cerita ini. //