
Akhir minggu ini Karina pulang bersama Bayu. Sejak Janu ditemukan, dia baru sempat pulang ke Jogja sekarang. Bayu baru sempat mengantar karena kemarin sedang ada tugas luar.
"Mbak Mairaa ...!" serunya dengan agak berlebihan. Dia berlari ke arah Maira yang menyambut. Bukan untuk salaman atau memeluk kakaknya. Tapi tangan Karina langsung terjulur mengambil alih si chubby Hanin dari gendongan Maira.
"Iiih, main serobot aja!" hardik Maira. "Sana cuci tangan, bersih-bersih badan dulu!"
Karina tertawa renyah. Tak dipedulikan kakaknya yang gusar. Dia menggendong dan menciumi Hanin sambil masuk rumah.
"Pada kemana ini, Mbak?" teriak Karina dari dalam.
"Ibu, bapak sama Oza ke pasar," jawab Maira. Dia masih menunggu Bayu yang menurunkan bawaan mereka dari bagasi mobil.
"Sini aku bantu, Om!" Maira menghampiri Bayu. "Ya ampun, banyak banget bawaannya?"
Bayu tertawa, disalami kakak iparnya itu. "Karina mau agak lama di Jogja. Jadi ya, begini ini, barang pribadi diangkut semua kesini."
"Lama?" Maira mengambil salah satu tas dari bagasi. "Terus, gimana berobatnya?"
"Kemarin baru habis kontrol, kok. Obatnya masih banyak. Mungkin awal bulan depan baru kontrol lagi."
"Tapi, perkembangan kesehatannya sendiri gimana?" Maira berjalan beriringan dengan Bayu. Masing-masing menenteng tas dan koper.
"Alhamdulillah stabil. Hanya memang dokter belum mengijinkan berhenti atau ganti obat. Jadi ya, sampai sekarang masih belum bisa mulai progam kehamilan."
Maira menghentikan langkah. Demikian pula Bayu. Keduanya saling berpandangan.
"Sabar ya, Om."
Bayu hanya tersenyum lalu mengangguk. "Bang Janu sendiri gimana kondisinya sekarang?"
Tak ada jawaban. Hanya helaan napas yang keluar.
"Kamu juga harus sabar, ya."
Maira tersenyum kecut.
Di ruang tengah Karina sudah menunggu, sambil memangku Hanin. "Oza lama banget sih, pulangnya, mbak?"
"Orang baru aja berangkat kok, ya, pasti lama lah."
Setelah merapikan bawaan Karina di salah satu sudut ruangan, Bayu dan Maira ikut duduk bersama Karina. Baby Hanin terkekeh saat tantenya menggoda.
__ADS_1
"Nanti siang kita jenguk mas Janu ke rumah sakit ya, Mbak," ujar Karina. Perhatiannya tetap lekat pada Hanin, si keponakan chubby. "Siapa tahu setelah bertemu dengan iparnya yang cantik ini amnesianya bakalan0 sembuh."
Spontan Bayu memencet hidung istrinya yang centil itu.
"Ouuw! Sakit, Maas ...!" pekik Karina.
"Em, nanti kalian saja yang berangkat. Biar diantar ibu dan bapak."
"Lhoh, mbak Maira nggak ikut?" Karina masih mengusap-usap hidungnya.
Maira menggeleng lemah.
Bayu dan Karina saling melempar pandang. "Kenapa?" tanya mereka kemudian, hampir bersamaan.
Baby Hanin tiba-tiba merengek. Maira buru-buru mengambil alih dari pangkuan Karina. Lalu dia membawa Hanin ke kamar. "Sebentar, sepertinya Hanin haus."
Sebenarnya itu hanya salah satu cara untuk menghindar. Maira tak mau membahas lebih jauh tentang Janu. Hatinya masih terlalu perih untuk membicarakan itu.
Namun tanpa perlu Maira bicara pun akhirnya Bayu dan Karina tahu juga. Sepulang dari pasar Bapak dan ibu mengobrol dengan mereka dan memberi tahu mengenai permasalahan yang dihadapi Maira. Menjelang siang, mereka menemui Maira di kamar.
"Mbak." Karina membuka percakapan. Suaranya sedikit bergetar. "Benarkah apa yang dikatakan bapak dan ibu mengenai mas Janu?"
Maira tertegun. Wajahnya menegang.
Maira mulai terisak. Karina segera merengkuh bahu kakaknya. "Sabar, Mbak."
"Aku sekarang bingung mau gimana. Di satu sisi aku sangat berharap mas Janu bisa kembali mengingat kami, kembali pada kami. Tapi di sisi lain aku juga tak tega dengan kondisi gadis itu," ujar Maira di sela tangisnya. "Bagaimanapun juga, anak yang dikandung Bertha adalah anak mas Janu."
"Mbak Maira yakin itu anaknya bang Janu?" Bayu sedikit sangsi.
Maira menatap Bayu. "Aku yakin, Om. Saat bertemu pendeta dan juga gadis itu, aku yakin mereka jujur. Dan mas Janu sendiri sepertinya sangat terikat perasaannya dengan gadis itu."
Bayu mengambil napas panjang dan menghembuskannya. "Kami mau ke rumah sakit dulu menjenguk bang Janu," katanya kemudian.
Seperti ucapan Maira sebelumnya, perempuan itu tetap belum mau menjenguk Janu ke rumah sakit. Meski Karina dan Bayu sudah berusaha membujuk, dia tetap bergeming. Rasa campur aduk di hatinya membuat dia masih enggan bertemu Janu.
***
Siang ini Kapten Rian bertemu dengan sahabat lamanya yang berdinas di Bandung. Kebetulan Kapten Rana, teman kapten Rian itu, sedang ada tugas di Jogja. Mereka membuat janji bertemu di kafe tengah kota.
"Aku dengar kamu dekat dengan istri Serka Janu," kata kapten Rana tanpa basa basi, di sela pembicaraan santai mereka.
__ADS_1
Kapten Rian terhenyak. "Maksudmu?"
Kapten Rana tersenyum simpul. Dia mengangkat cangkir, lalu menyesap sedikit kopi robustanya. "Siapa pun tahu kamu tertarik padanya. Sejak di Bandung dulu rumor tentang kalian santer terdengar."
Dengusan napas terdengar. Meski kesal, kapten Rian mengakui juga. Salah satu sebab kenapa dia dipindahkan ke Jogja, karena rumor itu juga.
Ah, segitu susahnya menyembunyikan perasaan.
"Dalam kondisi seperti ini, tentu peluangmu akan semakin besar untuk mendapatkan istri Serka Janu, ya?" Kapten Rana tersenyum, sedikit sinis.
Mau tak mau kapten Rian terpancing juga. "Dengar, aku bertemu kamu bukan untuk membicarakan hal yang tak penting ini!" desisnya geram.
Kapten Rana tergelak. "Tenang Bro, jangan marah!" Lalu lelaki itu menyesap kopinya lagi.
"Tapi aku serius." Kembali kapten Rana berucap. Kedua lengannya tersilang di atas meja. Tubuhnya condong ke depan, mendekati kapten Rian. "Jika kamu tahu gimana perjuangan Serka Janu untuk mendapatkan Maira ...."
Lelaki di depan kapten Rana itu mulai tertarik. Dia ikut mencondongkan badan melewati meja. "Apa?"
Lalu mengalirlah cerita tentang Janu yang menunggu Maira belasan tahun lamanya, bahkan meski perempuan itu sudah dipersunting adiknya sendiri. Tentang Janu yang memperjuangkan cintanya setelah Maira ditinggal suaminya yang gugur dalam tugas. Semua bukan hal yang sederhana, bukan hal yang mudah. Dan sekarang, bahkan belum ada setahun mereka menikmati kebersamaan, harus dihempas kembali oleh cobaan.
(Note : cerita tentang perjuangan Janu untuk mendapatkan Maira bisa dibaca di season 1 ya, gaess ....)
"Setelah mendengar semua ini, apa kamu masih enak hati untuk mendekati istri Serka Janu?"
Pertanyaan kapten Rana taktis, menghempas harga diri kapten Riantama. Lelaki itu tercenung, tak sanggup menjawab.
"Bukannya aku mau ikut campur. Tapi aku salah satu saksi hidup kisah mereka. Rasanya agak risih juga melihat sahabatku berusaha berada di antara mereka."
Kembali kapten Rian mendengus kesal. "Selama ini aku tak melakukan apa pun pada Maira!"
"Belum!" potong Kapten Rana. "Hanya menunggu waktu saja yang akan membangun keberanianmu untuk menyatakan perasaan pada Maira."
Kapten Rian tak berkutik. Semua perkataan kapten Rana benar adanya. Sahabatnya itu memang selalu tahu apa yang ada di dalam hatinya.
"Kuharap kamu tak salah langkah. Sebuah perasaan yang tulus sebenarnya tak butuh pernyataan. Melihat dia bahagia sudah cukup membuat kita bahagia juga." Kapten Rana menatap lekat sahabatnya. Dia berusaha menyentuh bagian terdalam dari perasaan kapten Rian.
"Jangan tertipu oleh rasa ingin memiliki. Sebenarnya itu murni karena nafsu, bukan perasaan tulus."
Kapten Rian tercenung mendengar kata-kata sahabatnya. Mendadak dia ingin ke rumah sakit, ke ruang perawatan Janu. Sesal di dadanya terasa menggumpal.
(bersambung)
__ADS_1
// Makasih udah mampir yes....
Ditunggu like, komen n vote nya. //