
"MAAASSS ...!!!" jerit Maira histeris dan membalikkan badan, berlari keluar ruangan.
Hatinya hancur dengan apa yang baru saja dilihat dan didengar. Sekian lama menunggu saat seperti ini tiba, saat kembali bertemu suami tercinta. Ternyata semua tak seperti yang diharapkan. Rindunya seperti membentur kerasnya dinding batu. Hancur luluh berkeping-keping, ketika Janu menatapnya dengan sorot mata asing.
Bruk!
Langkah Maira terhenti ketika tubuhnya menabrak seseorang. Alih-alih menyingkir, orang itu justru merengkuh Maira dalam pelukan. Dia biarkan perempuan itu merebahkan kepala di dadanya. Dia abaikan air mata Maira yang tumpah membasahi bajunya. Tangannya yang melingkari bahu Maira, kemudian menepuk-nepuk punggung perempuan itu untuk memberi ketenangan.
Hingga beberapa saat lamanya, Maira tersadar. Dia menegakkan kepala. Lalu dalam satu gerakan, dia dorong lelaki yang memeluknya.
"M-maaf!" ujar lelaki itu dengan raut wajah menyesal.
Wajah Maira memerah. Kedua tangan menangkup, menutup mulutnya. "K-kapten Rian ...M-maaf!"
"Ahh ...." Kapten Rian menghembuskan napas dari mulutnya. "tidak apa-apa. Menangislah di sini sepuas-puasnya kalau kamu mau." Telunjuk Kapten Rian mengarah ke dadanya.
Maira kembali terisak. Dia terjajar di dinding. Kedua tangan menutupi wajahnya.
"Kamu sudah bertemu suamimu?" tanya kapten Rian, sambil mendekat.
Anggukan kepala Maira menjadi jawaban. Sementara bahunya masih tersengal oleh sebab isak tangisnya.
"Aku turut prihatin."
Tangis Maira semakin kencang. "Kenapa, kenapa harus seperti ini?!" jeritnya tertahan.
Tangan Kapten Rian terulur hendak menyentuh bahu Maira, tapi segera dia urungkan. Dengan canggung dikibaskan tangannya pelan. Lalu dia condongkan tubuh hingga wajah mendekat ke telinga Maira. "Kamu harus kuat!" Bisiknya. "Insyaallah semua cobaanmu akan segera berlalu. Hanya perlu bersabar saja."
Isak Maira berangsur menghilang. Perempuan itu kini membuka wajah. Matanya sembab menatap Kapten Rian. "Apakah, apakah dia akan bisa mengingat kami kembali?"
Kapten Rian menghela napas. Sekuat tenaga ditahan perih di hatinya. Lalu dengan berat dianggukkan kepala. "Insyaallah. Kalau Tuhan mengijinkan, pasti kalian akan segera menikmati hari-hari bahagia kembali," ucapnya dengan suara agak tertahan.
Mata Maira masih menatap Kapten Rian. Perempuan itu seakan hendak menemukan kebenaran dari kata-kata lelaki di depannya. "Benarkah?"
Kapten Rian tersenyum sambil kembali mengangguk. "Masuklah kembali ke ruang perawatannya. Kamu harus memperjuangkan kebahagiaan yang hampir terenggut darimu!"
Tangan Maira mengusap sisa air mata di pipi. Lalu perempuan itu menunduk dalam-dalam. "Terima kasih telah menguatkanku," ucapnya, sebelum kemudian meninggalkan kapten Rian.
__ADS_1
Lelaki gagah berseragam itu sekarang yang kemudian terjajar di dinding. Mulutnya berkali-kali mengeluarkan kesah. Diusapnya kepala dengan kasar.
Munafik! rutuknya pada diri sendiri.
Tapi, sekuat apa pun aku mengharapkannya, tetap saja bukan hakku untuk memilikinya. Mungkin ini yang terbaik bagiku sebagai seorang ksatria. Semoga kamu bahagia ... Maira.
***
Sementara itu sepeninggal Maira, di ruang perawatan suasana tampak mengharukan. Oza menangis di pangkuan Sapto yang juga berkaca-kaca. Bu Kusno memeluk erat Hanin dengan air mata berlinang. Pak Kusno terduduk di sofa sambil menunduk dalam. Sementara Bu Hartini menangis histeris memeluk Janu, ditenangkan oleh Wulan yang juga berurai air mata. Semua shock melihat apa yang terjadi pada Janu.
Ketika pintu ruang terbuka dan Maira masuk, pelan-pelan suasana kembali tenang. Setenang Maira melangkah mendekati bed Janu.
"Mas Janu, sekarang mungkin kamu memang belum bisa mengingat semuanya. Tentang aku-istrimu- tentang anak-anakmu dan tentang semua keluargamu. Termasuk juga semua kenangan yang pernah kamu jalani bersama kami. Tapi aku yakin, cepat atau lambat ingatanmu akan kembali. Aku, kami, hanya perlu bersabar untuk mendapatkanmu seperti dulu lagi."
Maira meraih tangan Janu. Digenggamnya tangan itu erat. Sementara Janu menatapnya dengan raut wajah yang masih kebingungan.
Ketika Janu kemudian menarik tangannya, menepiskan genggaman Maira, perempuan itu hanya bisa menghela napas. Dikesampingkan rasa perih di hatinya. Sekali lagi dia harus menegarkan diri untuk menghadapi cobaan.
Ini belum selesai. Aku hanya harus bersabar dan berusaha tetap kuat menjalaninya.
***
Kondisi ingatan Janu masih belum ada perkembangan. Dia tetap belum bisa mengingat identitas aslinya. Namun begitu Maira tak pernah lelah mendampingi. Meski hanya sebentar, setiap hari dia selalu datang menjenguk ke rumah sakit. Mengajak berbincang apa saja walaupun Janu jarang menanggapi.
"Mas, lihat ini!" Maira yang duduk di sebelah bed Janu menyodorkan handphone pada lelaki itu.
Mata Janu menatap layar handphone. Di sana ada foto keluarga kecil mereka. Maira, Janu dan Oza. Lelaki itu hanya mengernyitkan kening. Ujung bibirnya tertarik, membentuk seringai. Terlihat dia sepertinya berusaha keras mengingat.
"Ini kita pas di kebun binatang Bandung." Maira bersemangat menjelaskan. "Waktu itu ulang tahun Oza. Kita sepakat mengajaknya jalan-jalan ke kebun binatang."
Sesaat Maira mengamati raut wajah Janu. Berharap lelaki itu mulai terbuka memorinya. Tapi Janu masih membeku.
"Kamu ingat nggak, waktu itu Oza kamu ajak naik kuda untuk pertama kalinya. Anak itu awalnya ketakutan, tapi kemudian malah ketagihan, nggak mau turun dari kudanya. Kamu sampai menghabiskan uang lumayan banyak untuk menyewa kuda." Maira tertawa kecil mengingat kejadian itu.
Janu sendiri, lelaki itu tetap membisu. Tangannya bergerak menepiskan handphone yang diulurkan Maira di depannya. "Aku tidak mengerti apa yang kamu maksud."
Maira tertegun. "Mas ...."
__ADS_1
"Aku lelah, aku mau tidur," ucap Janu sambil kembali membaringkan tubuhnya.
Selalu begitu saat Maira mencoba mengembalikan memori Janu. Selalu ada penolakan dari lelaki itu. Seolah-olah Janu memang tidak ingin mengingat tentang dirinya di masa lalu. Dan kalau sudah seperti itu, biasanya Maira akan mengakhiri kunjungan dengan linangan air mata.
"Apakah masih ada kemungkinan ingatan suami saya bisa kembali, Dok?" tanya Maira. Sebelum pulang dia menyempatkan diri konsultasi dengan dokter yang menangani Janu.
"Insyaallah bisa, Bu. Hanya perlu bersabar saja. Jangan bosan untuk membantunya mengingat kembali."
"Tapi, Dok, kenapa sepertinya suami saya terlihat seperti menolak ketika saya berusaha mengingatkan dia pada kenangan-kenangan masa lalunya?"
"Hmm, saya juga melihatnya seperti itu. Ada kemungkinan kondisi yang dia alami selama menderita amnesia ini justru membuatnya nyaman, sehingga dia enggan meninggalkan memori yang terbentuk saat ini."
"Nyaman?" Maira membulatkan mata. "Apa itu?" desisnya lirih.
Pertanyaan Maira terjawab di hari berikutnya. Saat dia kembali menunjukkan foto-foto keluarga mereka, Janu kembali menepiskan tangan Maira, hingga handphonenya terjatuh.
"Dengar!" geram Janu. "Aku sama sekali tidak mengerti dengan apa yang kamu katakan!"
Maira tertegun. Sakit hatinya mendengar Janu bisa berkata sekasar itu padanya.
"Yang aku inginkan sekarang hanya bertemu dengan Bertha, bidadari hitamku!"
Maira terhenyak. "B-bertha ..., s-siapa dia?"
Tangan Janu mencengkeram bahu Maira. Mata elangnya menatap tajam pada Maira. Lalu pelan-pelan meredup, menyisakan isak tangis lirih.
"Tolong, tolong pertemukan aku dengan Bertha ... Tolooong!" Janu menghiba di depan Maira.
Perempuan hanya duduk mematung melihat Janu yang terisak-isak. Hatinya terlalu hancur hingga tak sanggup berkata-kata. Bahkan menangis pun tak mampu dia lakukan.
(bersambung)
// Maaf jika kisah ini makin membuat gemas. Semoga tidak bosan dan selalu menikmati prosesnya menuju ending cerita.
Terima kasih sudah mampir baca. Jangan lupa sedekah like, komen dan vote nya.
Terima kasih 🙏🙏🙏 //
__ADS_1