LELAKI PENGGANTI Season 2

LELAKI PENGGANTI Season 2
MENJEMPUT BAHAGIA


__ADS_3

Kantor PIA (Persatuan Istri Angkatan Udara) terlihat sepi. Hanya tampak Maira yang duduk di sofa ruang tamu kantor, bersebelahan dengan ibu Komandan. Dia menunduk sambil sesekali mengusapkan tangan pada mata.


Bu Jemy meletakkan tangan di bahu Maira. "Menangis saja kalau itu melegakan, Bu Janu. Tidak apa-apa."


Bahu Maira sekarang tersengal. "Izin, Ibu, maaf ...."


Bu Jemy merengkuhnya dalam pelukan. "Kamu perempuan luar biasa. Tak ada yang perlu kamu tangisi. Semua akan baik-baik saja."


"Ibu, saya ... saya bingung."


Bu Jemy mengurai pelukan. Tangannya meraih dagu Maira dan mengangkatnya. Kini wajah istri anak buahnya itu jelas dia lihat. Wajah yang menyiratkan penderitaan.


"Apa yang membuat Bu Janu bingung? Ceritakan saja, jangan dipendam sendiri. Sebab kalau semua itu ibu tanggung sendiri, maka yang tidak kuat nanti batin Bu Janu."


Maira mengangguk. "Izin, Ibu, sampai sekarang saya masih ragu, apa keputusan saya merawat bayi itu sudah tepat?"


"Tentu saja tepat."


"Tapi kenapa akhir-akhir ini hati saya terasa sakit saat melihat bayi itu? Bahkan saya nyaris berbuat dzolim padanya. Saya sudah berdosa, Bu!" Sekali lagi bahu Maira tersengal oleh isak tangis yang tak terkendali.


Bu Jemy mengusap-usap punggung Maira. "Sabar, Bu, mungkin itu karena terpicu omongan orang. Saya yakin Bu Janu bisa ikhlas seperti semula saat ibu memutuskan untuk mengambil bayi itu."


"Bu Janu tahu, orang berhati mulia seperti ibu jarang ada. Jangan sampai pengaruh luar membuat keikhlasan ibu selama ini ternodai. Yang kuat, sabar dan tabah!"


Maira mengangguk, masih dengan isak tangis.


"Jaga kekompakan keluarga, perdekat lagi hubungan dengan suami, saling terbuka, jangan ada yang disembunyikan."


Kalimat terakhir Bu Jemy membuatnya tercenung. Selama ini dia memang merasa agak berjarak dengan Janu. Apalagi setelah ada Lian. Seolah-olah Maira membangun tembok yang menghalangi antara dia dan suaminya. Apakah itu yang namanya keikhlasan palsu semata? Maira sedikit bergidik. Dia mencoba mengenyahkan pikiran buruk tentang dirinya sendiri yang bisa saja dinamakan 'munafik'.


"Bu Janu, yakinlah, apa yang sudah Bu Janu putuskan itu tepat. Merawat bayi itu bisa jadi wujud ungkapan terima kasih Bu Janu atas kembalinya suami. Ingat, kesalahan yang diperbuat pak Janu itu bukanlah hal yang disengaja. Bisa jadi itu adalah ujian bagi keluarga kalian. Jika kalian bisa melewati, maka kalian akan naik tingkat setaraf lebih tinggi dalam tataran hidup manusia."


Anggukan kecil Maira berikan. Perempuan itu sekarang sudah mereda tangisnya. Kalimat-kalimat lembut namun penuh energi yang diucapkan Bu Jemy, sedikit banyak mampu mengembalikan keteguhan hati Maira.


Suara ketukan terdengar dari luar, menyusul dibukanya pintu. Yang membuat Maira sedikit terkejut bukan Kolonel Jemy, tetapi lelaki yang mengikuti komandan itu masuk ke ruangan.


"Mas Janu," bisiknya.


"Maaf, mengganggu pembicaraan khusus perempuan!" sapa Jolonel Jemy, seraya menebar tawa.

__ADS_1


"Papa, bisa aja!" Bu Jemy bangkit dari duduk, menghampiri suaminya. "Wah, ada pak Janu juga. Cari istrinya, ya?"


"Siap, Ibu." Janu menunduk, sedikit tersipu.


"Sini, lho, Bu Janu! Ada yayangnya, kok, didiemin aja!' tegur Bu Jemy.


Sedikit gugup Maira bangkit dari duduk. Lalu dia menghampiri mereka bertiga.


"Nah, gitu, dong!" seru Bu Jemy.


"Serka Janu Satria!" Tiba-tiba Kolonel Jemy mengambil sikap tegak, seraya berpaling pada Janu.


"Siap, arahan, Komandan!" sigap Janu juga menegakkan badan.


"Saya perintahkan kamu untuk memeluk istrimu dengan segenap rasa sayang. Meminta maaf padanya seandainya kamu ada kesalahan. Berjanji padanya akan membahagiakan hingga maut memisahkan kalian!"


Janu terbengong-bengong, demikian juga Maira. Mereka hanya terlongong menatap Kolonel Jemy yang tetap memasang wajah serius.


"Serka Janu Satria, laksanakan perintah!"


"S-siap, laksanakan!" Janu tergagap. Lalu lelaki itu beralih pada Maira. Ditatapnya lekat perempuan itu.


"Sayang, maafkan aku." Janu mendekati istrinya. Tangan lelaki itu merengkuh bahu Maira dan memeluknya. "Maafkan aku jika selama ini kurang memperhatikanmu. Maafkan aku jika tidak pandai mengerti perasaanmu," bisiknya di telinga Maira. "Aku janji, tidak akan pernah membuatmu menangis lagi. Aku janji akan membuatmu bahagia hingga akhir hayat."


Janu mempererat pelukannya. Sementara Maira, menenggelamkan kepala di dada bidang suaminya. Tangan perempuan itu ikut memeluk erat punggung Janu. Untuk beberapa saat lamanya, mereka menikmati kehangatan yang menentramkan, hingga tak menyadari kalau Kolonel Jemy dan istri sudah meninggalkan mereka berdua.


"Mas, maafkan keegoisanku selama ini."


"Nggak, Sayang, kamu nggak egois." Janu mengurai pelukannya. Ditatapnya wajah Maira. "Aku saja yang mungkin kurang peka. Seharusnya aku lebih bisa mengerti perasaanmu."


"Mas, mulai sekarang aku janji, akan lebih ikhlas merawat Lian. Bayi itu akan kuanggap seperti anak sendiri. Aku akan menyayanginya sebagaimana aku menyayangi Hanin dan Oza."


"Sayang, terimakasih." Janu mencium kening Maira, hidung, pipi dan bibirnya.


"Haish, dasar gak ada akhlak!"


Satu teguran membuat sepasang suami istri itu tergeragap. Buru-buru Janu melepaskan dekapannya pada Maira. Dan demi dilihatnya Untung yang menyeringai konyol di ambang pintu, lelaki itu segera mengayunkan tinjunya pelan, tepat mengarah bahu sahabatnya.


"Ugh! Sialan!" Untung pura-pura kesakitan. "Lagian, main sosor-sosoran di sini. Tuh, buntut pada nyariin!"

__ADS_1


Serka Untung menunjuk ke arah luar. Di teras kantor tampak Nina menggendong Hanin sambil memegang dorongan kereta bayi Lian. Sementara Oza sudah berlari masuk lebih dulu, menghampiri Janu.


"Ayaah!" Anak itu memeluk erat ayahnya.


"Waah, kok, kalian kesini?" seru Janu seraya mengangkat tubuh Oza dalam gendongan. Tetapi anak itu berontak.


"Nggak mau! Oza kan, udah gede! Adik Hanin aja yang digendong!"


Mereka tertawa mendengar ucapan Oza. Maira bergegas mengambil Hanin dari gendongan Nina. Lalu ditengoknya Lian yang tertidur pulas di kereta bayi.


"Rewel nggak, Mbak?" tanyanya.


Nina menggeleng. "Nggak terlalu, sih. Cuma tadi Hanin yang agak rewel minta gendong."


"Agak?" Serka Untung menimpali. "Nih, bahuku serasa mau lepas gendong itu bocah kesana kemari!"


"Sukurin!" Janu tersenyum puas.


"Ayah, sih, gak biasa momong anak!" Nina berbalik merutuk. "Bisanya cuma bikin melendung trus ditinggal pergi. Anak udah bisa lari kemana-mana, baru pulang!"


Serka Untung garuk-garuk kepala. Harusnya dia yang menumpahkan kejengkelan karena terpaksa sepagian ini membantu Nina menjaga anak-anak Janu. Tetapi kenapa situasi malah jadi berbalik?


Ah, perempuan memang selalu benar. Kalau perempuan salah, balik lagi ke pernyataan awal, 'perempuan selalu benar'.


"Jadi nggak enak, nih. Makasih ya, Om Untung, Mbak Nina," ucap Maira.


Matahari semakin tergelincir ke arah barat. Mereka meninggalkan kantor tempat suami-suami berdinas, pulang ke rumah masing-masing. Ada setumpuk harap di dada Maira. Ada berlapis janji yang tak terucap di batin Janu. Semua membuat langkah mereka terasa lebih ringan dari pada sebelumnya.


...----------------...


Readers, Lelaki Pengganti Season 2 akan berakhir. Terima kasih untuk supportnya selama ini. Banyak cinta dan doa untuk kalian semua.


Semoga selalu sehat dan bahagia.


Untuk karya-karya cerpen, bisa kalian cek di akunku.


Untuk update karya-karya yang lain, bisa kalian follow ig ku @estikurnia13.


Sekali lagi...terima kasih.

__ADS_1


❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️


__ADS_2