LELAKI PENGGANTI Season 2

LELAKI PENGGANTI Season 2
NGEBET HAMIL


__ADS_3

Malam belumlah larut. Tapi Bayu dan Karina sudah masuk kamar, menyusul Maira dan kedua anaknya, serta pak Kusno dan bu Kusno, yang juga sudah masuk kamar masing-masing.


"Mas." Karina memiringkan tubuh, menghadap suaminya.


"Hem?" Bayu ikut miring, sehingga posisi mereka saling berhadapan.


"Kita program hamil, yuk!"


"Heh?" Bayu membelalakkan mata. "Jangan dulu!"


"Nggak apa-apa, Mas. Terakhir periksa kan, kadar Bcl-Abr ku sudah nyaris 0,1 persen. Kurasa sudah aman kalau aku hentikan obat dan mulai program hamil."


Bayu bangkit dari tidurnya. "Nggak, Rin, aku nggak mau kita ambil resiko itu. Ikuti saja petunjuk dokter. Jangan menyimpulkan sendiri!"


Karina ikut bangkit. "Coba kita ganti dokter deh, Mas. Aku rasa pasti sudah diijinkan hamil."


Bayu menatap tajam istrinya. Wajahnya tampak menegang. "Kamu kenapa sih, Rin? Kesambet apa tiba-tiba ngotot pengen hamil kayak gitu? Sabar dulu, apa!"


Karina menunduk. "Aku kasihan sama kamu, Mas," ucapnya lirih.


"Kasihan? Memangnya aku tampak memelas gitu, sehingga perlu kamu kasihani?"


Karina mengangkat wajah. Ada selaput bening di matanya. "Saat tadi aku melihatmu memangku bayinya mbak Maira, aku merasa kamu sangat mendambakan hadirnya seorang anak bagi kita, Mas. Nggak tega rasanya membiarkan kamu menunggu terlalu lama."


Bayu mendengkus. Dibuangnya muka ke arah depan. "Aku nggak mengira kamu sepicik itu!"


"Mas?" Karina tersentak kaget mendengar kata-kata Bayu yang dingin.


"Dengar, Rin, anak memang selalu didambakan bagi setiap pasangan. Tapi tahukah kamu, keberadaan anak bukanlah segalanya. Anak itu hak prerogatif Tuhan. Kita hanya bisa pasrah dengan ketentuan-Nya. Kalau pun belum diberi kesempatan, ya, jangan ngotot seperti ini!"


Karina kembali menunduk. "Aku hanya ingin kamu bahagia, Mas."


Bayu berpaling pada Karina. Diangkat dagu istrinya dengan kedua jari. "Kebahagiaanku adalah kamu bisa sembuh dari penyakit itu, Rin. Bukan yang lain. Mengenai anak, nanti kita pikirkan setelah kamu sembuh."


Karina tersedu, memeluk tubuh suaminya. "Maafkan aku, Mas."


Bayu tak menjawab. Dielusnya rambut Karina yang tampak menipis.


Cinta yang didasarkan pada rasa, akan lebih kuat mengakar dibanding cinta yang hanya berdasar nafsu belaka.


***

__ADS_1


"Mbak, aku pengen hamil!" ucap Karina siang itu.


"Heh, jangan macem-macem, ah. Penyakitmu saja belum dinyatakan sembuh!" hardik Maira.


Karina mengerucutkan bibir. Perempuan itu tiduran di sebelah baby Hanin. Wajahnya menengadah ke atas, menatap langit-langit kamar.


"Tapi aku pengen banget, Mbak!"


Maira mengangkat baby Hanin ke dalam gendongan. "Suamimu gimana?"


Bola mata Karina berputar. "Em ..., nggak boleh sih, Mbak!"


"Nah, itu!" Maira memangku Hanin dan mulai menyusuinya. "Sabar dulu lah, Rin. Tunggu sampai kondisimu memungkinkan untuk hamil. Sebab kalau pun dipaksakan, akan berbahaya untuk dirimu dan janinnya nanti. Pokoknya nurut aja apa kata dokter!"


Karina tak menjawab. Dia bangkit dari tidurnya dan menatap baby Hanin yang lahap menghisap ASI dari Maira. Matanya berbinar.


"Aaah, Mbak, aku pengen bisa nenenin bayi kayak gitu!" Karina merajuk. Kedua telapak tangan menempel di pipi, mata berkedip-kedip manja.


"Sa-bar!" tegas Maira.


Mata Karina menerawang ke atas. Bibirnya menyeringai nakal. "Apa kubolongi aja ya, ko**omnya mas Bayu?"


"Hush!" hardik Maira lagi. "Jangan aneh-aneh deh, kamu, Rin!"


"Karin!" Maira melotot. Pipinya tampak memerah. "Awas ya, kalau kamu aneh-aneh!"


Gelak tawa Karina semakin keras. Air matanya sampai keluar menahan rasa geli melihat ekspresi ketakutan di wajah kakaknya. Lalu diciuminya baby Hanin yang sedang asyik menyusu, membuat bayi itu merengek, merasa terganggu.


"Kariiiin ...!!!"


Sekali lagi Karina berderai tawanya. Dia segera beranjak keluar kamar sebelum kegusaran kakaknya berubah jadi kemarahan.


Maira menggeleng-gelengkan kepala. Setelah menidurkan baby Hanin, diraihnya handphone di atas nakas. Beberapa saat kemudian pesan WhatsApp dia kirim pada Bayu yang dua hari lalu sudah pulang ke Jakarta lebih dulu.


Tenang saja, Karina insyaallah aman terkendali. Terima kasih sudah mengingatkanku.


Balasan WhatsApp dari Bayu disertai emoticon ketawa lebar dan jempol terangkat.


Tapi aku khawatir dia benar-benar nekad pengen hamil, Om.


Gak akan. Dia masih waras, kok. Aku yakin dia hanya menggoda kamu saja.

__ADS_1


Maira menghela napas. Dalam hati dia berdoa semoga apa yang dikatakan Bayu benar adanya.


***


Karina memang sengaja ditinggal sementara di Jogja oleh Bayu. Selain agar tak terlalu lelah perjalanan pulang pergi Jakarta-Jogja, Karina juga masih ingin dekat dengan keponakan barunya. Bapak ibunya dan Maira tentu saja sangat senang dia ada di Jogja.


Sore itu Karina menyiram aglonema Bu Kusno di depan teras. Keningnya tampak berkernyit ketika melihat Fortuner putih lewat di depan rumah. Ini sudah ketiga kalinya mobil itu bolak balik di depan rumah bapaknya.


Siapa, ya?


Mobil itu berlalu, Karina mengangkat bahu, mencoba tak peduli. Tapi ketika beberapa saat kemudian mobil itu kembali lewat berlawanan arah dari sebelumnya, Karina menjadi benar-benar penasaran.


"Siapa sih? Udah kayak setrikaan aja, mondar mandir gak jelas!" sungutnya.


"Apa, Rin?" tanya Bu Kusno yang baru keluar dari dalam rumah.


"Itu, lho, Bu, mobil kok, bolak balik aja di depan rumah dari tadi!"


"Biar saja to, yo! Namanya juga jalan, pasti banyak mobil lewat."


"Tapi masak mondar-mandir sampai empat kali kuhitung. Mana kalau pas lewat di depan rumah kita mobilnya jadi agak lambat lagi ...."


"Ah, sudahlah, jangan banyak suudzon. Nanti sempit pikiran jadi kurus kering badan!"


Karina mencebik. Dilanjutkannya menyirami tanaman ibunya.


***


Sementara itu beberapa jam sebelumnya, seorang lelaki berseragam biru langit tampak menghembuskan napas panjang. Tubuhnya disandarkan di kursi kerja. Kedua tangan terlipat di belakang kepala. Matanya menerawang, menatap langit-langit ruangan.


Beberapa kali dia tampak berkesah. Seperti ada hal berat yang dia pikirkan. Lalu dia kembali menegakkan badan dan meraih handphone di atas meja. Dibukanya layar dan dilihatnya galeri foto.


Senyum berlesung pipi itu tampak terkembang saat melihat foto-foto seorang perempuan berjilbab. Jelas sekali terlihat bahwa foto-foto perempuan itu diambil secara diam-diam.


"Maira," bisiknya pelan.


Jantungnya berdegup kencang. Sesaat kemudian jari-jari tangannya menegang. Ada sesuatu di dalam hatinya yang butuh untuk diluapkan. Dia gelisah, dia tak tahan.


Lelaki itu segera bangkit dari kursinya, meraih kunci mobil di meja dan beranjak keluar. Di tempat parkir, dia menghampiri mobil Fortuner putih miliknya. Sejurus kemudian, dia sudah melaju membelah kota Jogja, menuju daerah pinggiran kota.


(bersambung)

__ADS_1


// Bcr-Abl adalah protein abnormal yang memerintahkan sumsum tulang belakang untuk memproduksi sel-sel kanker darah putih abnormal (Kompas.com )


Makasih sudah baca novel ini. Jangan lupa untuk tinggalkan like, komen n vote. //


__ADS_2