
Sebulan kemudian, Maira sudah siap dengan karya yang akan dilombakan. Malam nanti dia akan menampilkannya di acara cukup bergengsi itu. Kabarnya ibu-ibu pejabat dari mabes TNI juga akan hadir.
Bu Kusno dan pak Kusno kebetulan juga berkunjung ke Bandung. Pak Kusno mendapat cuti akhir tahun sehingga keinginannya menengok cucu di Bandung dapat terlaksana. Jadi Maira tak akan terlalu berat meninggalkan Oza di rumah nanti malam.
"Acaranya sampai malam, Nduk?" tanya Bu Kusno.
Kelihatannya seperti itu, Bu."
"Lha, terus pergi pulangmu nanti sama siapa?"
"Perginya dijemput sopir dari kantor. Pulangnya pasti juga demikian."
"Hati-hati, ya. Jangan ngoyo. Ingat kandunganmu!"
"Iya, Bu, tenang saja. Aku sudah pengalaman hamil Oza. Lagian kehamilanku ini santai-santai saja, kok. Gak mabuk, gak ngidam. Aman."
Lepas Maghrib Maira dijemput. Hanya dia sendiri karena model dan penata riasnya sudah berangkat lebih awal. Mereka harus mempersiapkan diri jauh sebelum acara dimulai.
Acara dilaksanakan di sebuah hotel berbintang kawasan Paskal. Panggungnya cukup megah. Dan tak tanggung-tanggung, jurinya pun desainer kenamaan dari ibu kota. Dada Maira hampir meledak karena rasa bahagia. Tak mengira dia akan berada dalam event semegah ini.
Karya Maira mendapat nomor undian nyaris terakhir untuk tampil. Perempuan itu terkantuk-kantuk menunggu di belakang panggung. Sepasang mata sipit tapi tajam menatapnya dari balik tirai yang memisahkan bagian belakang panggung dan aula utama.
"Mbak, riasanku masih fresh nggak, nih?"
Suara si model menyadarkan Maira dari kantuknya. Samar-samar dilihatnya si penata rias membenahi make up modelnya. Lalu kepala Maira mulai terayun-ayun lagi menahan kantuk.
"Minum dulu!"
Byarr!
Sekali lagi mata Maira terbuka, kini lebih lebar. Di depannya tampak seraut wajah yang tersenyum padanya.
Argh, si lesung pipi lagi!
"Eh, makasih, Pak." Maira menerima secangkir teh yang diulurkan kapten Rian. Namun dia tak segera meminumnya.
"Minumlah dulu. Lumayan untuk meredakan kantukmu!"
Maira mengangguk. Lalu dia mulai menyesap teh panas itu pelan-pelan.
"Anakmu di rumah sama siapa?"
"Ada eyangnya dari Jogja, Pak. Kebetulan sedang berkunjung ke sini."
Kapten Rian kemudian duduk di sebelah Maira. Perempuan itu agak menggeser letak duduknya. Jengah karena harus duduk berdampingan dengan perwira, meski itu teman lamanya. Nasehat Janu selalu dia camkan dalam kepala.
"Lama ya, giliranmu?" Kapten Rian merebahkan punggung di sandaran kursi. Kakinya diluruskan ke depan, tangan terlipat di depan dada. Lelaki itu seakan tak peduli pada kerikuhan Maira.
__ADS_1
"Iya, Pak. Ijin, saya dapat nomor belakang."
"Sepertinya kita pernah sepakat kalau lagi ngobrol berdua nggak perlu kaku seperti ini. Toh, kita teman lama, kan?"
Ih, berdua gimana? Tuh, mata si model sama penata rias curi-curi pandang ke arah kita. Bisa ribet kalau sampai digunjingkan! rutuk Maira dalam hati.
"Iya, Pak." Maira mengangguk, tetap dengan sikap hormat.
Sementara itu, model dan penata rias berbisik-bisik membicarakan lelaki di sebelah Maira.
"Buset, cakep banget itu cowok!"
"Suaminya mbak Maira bukan, sih?"
"Bukan, ah. Orang suami mbak Maira katanya sedang tugas ke Papua, kok."
"Trus, siapa, ya? Pengen deh, dikenalin."
"Kayaknya tentara juga, deh. Pacarnya jangan-jangan."
"Hus, mana ada! Mbak Maira sudah punya suami, lagi hamil pula, masak pacaran!"
Mereka ngikik berbarengan.
"Pak, sepertinya kita digunjingin," ucap Maira pelan, sambil melirik ke arah meja rias.
Kapten Rian cuma tersenyum. Lalu dia bangkit dan berjalan mendekati dua perempuan yang kasak kusuk itu. Entah apa yang dikatakan kapten Rian, yang jelas dua perempuan itu sekarang tampak tersipu-sipu.
"Siap, Pak!" Maira segera bangkit dari duduk dan menghampiri mereka.
"Sepertinya sudah hampir sampai giliran Bu Janu," kata kapten Rian sambil melihat jam di tangannya. "Sebaiknya ibu membenahi lagi busana yang dipakai model!"
"Siap, Pak."
Kapten Rian kemudian meninggalkan mereka, kembali keluar menuju aula utama.
Penampilan karya Maira berjalan sukses. Karyanya mendapat applaus meriah dari penonton. Dan di akhir acara, meski belum mendapatkan tropi juara, tapi Maira cukup puas dengan gelar peserta favorit.
Malam sudah larut saat acara usai. Maira masih membenahi perlengkapannya saat Bu Sapto datang ke belakang panggung.
"Selamat ya, bu Janu. Karyanya bagus banget." Bu Sapto memeluk dan mencium pipi Maira.
"Siap, ibu, terima kasih."
Istri perwira itu melihat jam di tangannya. "Ini saya mau ngantar tamu-tamu dari Jakarta ke wisma di Dago, tempat beliau-beliau menginap. Jadi nggak bisa ngantar Bu Janu pulang. Tapi ada om mudi yang menjemput kesini. Ini lagi otw orangnya."
"Siap, ibu."
__ADS_1
"Nggak apa-apa kan, kalau saya tinggal dulu. Paling sebentar lagi om nya sampai."
"Siap, ibu, tidak apa-apa."
Tapi kenyataannya, bukan sebentar Maira harus menunggu. Sampai model dan penata riasnya pulang, si om penjemput belum juga muncul. Maira resah menunggu di belakang panggung. Sementara para peserta lain juga sudah banyak yang meninggalkan tempat. Belakang panggung makin sepi, tinggal beberapa orang saja.
"Lhoh, belum pulang?"
Sapaan itu mengagetkan Maira. Dia menoleh dan didapatinya kapten Rian menatap dengan raut wajah khawatir.
"Kamu pulang sama siapa? Apa nggak ada mudi yang jemput?"
"Katanya ada, Pak. Tapi saya tunggu-tunggu kok, nggak datang-datang," jawab Maira memelas.
Kapten Rian menghembuskan nafas berat. Lalu dia mengeluarkan handphone dari saku celana dan beranjak menjauh dari Maira. Tampak dia menelepon tak hanya sekali. Dia menelepon, menutup, dan menelepon kembali berkali-kali. Wajahnya tampak gusar. Kelihatannya kapten tampan itu sedang marah.
Beberapa saat kemudian kapten Rian kembali pada Maira.
"Aku antar saja!" ucapnya pendek.
"Tapi, Pak ...."
"Pratu Haris yang mendapat tugas menjemput kamu salah paham. Dikiranya menjemput ke Dago. Sekarang orangnya sudah di Dago. Kalau menunggu dia bisa lebih lama lagi!" Kapten Rian tak bisa menyembunyikan kegusarannya.
"S-saya naik taksi online saja, Pak," ragu Maira mencoba menolak.
"Di malam selarut ini?!" pekik kapten Rian.
Maira menelan ludah.
"Yang mana barangmu, biar aku bawa ke mobil!"
Seperti dihipnotis tangan Maira terangkat, menunjuk ke arah box di atas meja rias.
Kapten Rian segera mengambil box itu dan mengangkatnya. Dia berjalan menuju luar aula.
"Kamu mau nginep sini?" tanyanya saat melihat Maira masih berdiri mematung.
Segera Maira berlari menyusul Kapten Rian. Sampai di tempat parkir Maira masih ragu. Dia berdiri mematung tak segera masuk, meski kapten Rian sudah membukakan pintu mobil untuknya.
"Apa tidak masalah kalau bapak mengantar saya?"
"Sudahlah, jangan mikirin itu. Nanti aku yang tanggung jawab!"
"Ini sudah malam. Kasihan bayi yang di perutmu kalau kamu tak segera pulang dan istirahat!"
Mau tak mau Maira menurut. Dia memang merasa sudah sangat lelah. Perempuan itu segera menaiki mobil kapten Rian. Dalam hati berharap, semoga ini tak akan berbuntut masalah.
__ADS_1
(bersambung)
// Terima kasih sudah mampir. like, komen, vote nya jangan lupa yaa...🙏🙏 //