LELAKI PENGGANTI Season 2

LELAKI PENGGANTI Season 2
KEMBALINYA CINTA


__ADS_3

"Kapten Rian?!"


Lelaki berbadan tinggi tegap itu terkesiap. Mata sipitnya membelalak menatap Maira.


"Lho, Bu Janu di sini?"


Maira mengangguk. "Iya, mengantar suami saya menghadap komandan. Kapten sendiri, kenapa ada di sini?"


"Oh, saya ada sedikit keperluan di Mako." Kapten Rian beralih pada Janu. "Ah, ya, bagaimana mas Janu, sudah sehat?"


Tak ada jawaban dari mulut Janu. Tatap matanya tajam, menyelidik pada kapten Rian.


"Mas!" Maira menggamit lengan Janu. Tapi lelaki itu tetap bergeming.


"Maaf, Pak, mungkin mas Janu lelah. Kami pamit dulu, ya, Pak!" Maira mengangguk. Lalu dia segera menarik tangan Janu, mengajak pergi dari tempat itu.


Sampai beberapa langkah, Janu masih menoleh, menatap lekat pada kapten Rian. Membuat perwira TNI itu sedikit jengah. Maira pun menjadi semakin tak enak hati. Dipercepat langkahnya menuju mobil.


"Aku tidak suka orang itu!" geram Janu, ketika mereka sudah di dalam mobil.


"Siapa, Mas?" Maira mulai menjalankan mobilnya.


"Orang yang namanya Riantama itu!"


"Lhoh, kenapa?"


"Dia menyukaimu!"


Maira tertegun. Dia lalu menoleh pada Janu. "Suka gimana?"


Janu mendengus. "Aku ingat dulu kamu pernah menceritakan tentang dia padaku. Dan seingatku, aku pernah melarangmu dekat dengannya!"


Maira tersenyum simpul. Diam-diam ada rasa lega dalam dada. Janu mulai bisa mengingat detail-detail kenangan masa lalunya.


Tapi kenapa justru yang diingat hal seperti itu?


"Kami nggak ada apa-apa, Mas. Aku hanya menganggap kapten Rian sebatas teman saja. Teman lama waktu sekolah dulu."


"Tapi dia menganggapmu lebih dari itu. Dia menyukaimu!"


Maira memutar kemudi. Mobil berbelok menuju komplek perumahan dinas.


"Mas Janu jangan suka menyimpulkan sendiri gitu, ah. Nanti aku jadi ke-geer-an, lho!"


"Dia sendiri yang bilang padaku, kalau dia sebenarnya menginginkanmu!"


Seet!


Maira menginjak rem, membuat mobil berhenti mendadak dan badan mereka menghentak ke depan.


"Jangan aneh-aneh lah, Mas! Kapan dia ngomong sama kamu?"


"Waktu itu, di taman rumah sakit!"

__ADS_1


Maira terhenyak. Ingatannya melayang pada saat dia menjumpai Janu dan kapten Rian di taman rumah sakit. Sebenarnya dia cukup senang karena ingatan Janu mulai normal. Memori jangka panjang maupun pendeknya mulai tertata. Namun sayangnya, ingatan tentang pernyataan kapten Rian itu membuatnya merasa sedikit tak nyaman.


Kembali Maira menjalankan mobil. "Suka atau pun enggak, yang penting aku kan, tetap milik mas Janu seorang." Perempuan itu mengerling manja pada suaminya.


Janu membuang napas dengan kasar. "Jangan dekat-dekat lagi dengannya!"


Senyum simpul terukir di bibir Maira. "Nggak akan, Mas, janji!" Dia mengangkat dua jari, membentuk huruf 'V'.


Tiba di rumah mereka dikejutkan oleh seseorang yang sudah menunggu di teras.


"Om Bayu!" seru Maira yang baru turun dari mobil.


Lelaki itu tertawa lebar menghampiri mereka. "Halo, dari mana, kok, sudah berdua-duaan aja?"


"Dari kantornya mas Janu, bertemu komandan."


Bayu beralih pada Janu. Diulurkan tangan mengajak salaman lelaki itu. "Bang Janu, bagaimana kondisinya sekarang?"


Janu tersenyum. "Alhamdulillah, baik, Yu."


Bayu membulatkan mata. "Bang Janu sudah ingat aku?"


Lelaki berseragam loreng itu mengangguk. Senyum tetap mengembang dari bibirnya.


"Jadi benar yang dikatakan Karina, Mbak?" Bayu beralih pada Maira. "Bang Janu sudah kembali ingatannya?"


"Alhamdulillah, Om. Tapi belum sepenuhnya kembali. Masih ada beberapa yang belum bisa dia ingat."


"Alhamdulillah ya, Allah!" seru Bayu sambil memeluk Janu.


"Mau balik ke Jogja kapan, Mbak?" tanya Bayu setelah menyesap teh panasnya.


"Nanti malam, Om. Ini baru mau pesan tiket kereta."


"Nanti malam? Bareng aku saja kalau begitu. Aku mau jemput Karina ke Jogja."


"Lhoh, emangnya Om Bayu ada libur?"


"Ada. Tiga hari kedepan aku mendapat jatah cuti selepas dinas luar."


Pulang ke Jogja bersama Bayu terasa lebih menyenangkan. Sepanjang jalan tak terasa lelah karena Bayu banyak mengajak Janu mengulik berbagai kenangan masa lalunya. Terkadang Maira tersipu mendengar mereka berdua bicara tentang dirinya. Delapan jam berjalanan dilalui tanpa terasa. Menjelang subuh mereka sampai di Jogja.


"Alhamdulillah ya, Allah!" Bu Kusno memekik haru menyambut menantunya. Demikian pula pak Kusno dan Karina.


Janu sendiri tak bisa membendung air mata saat bertemu dengan Oza dan Hanin. Dipeluknya Oza erat. "Maafkan ayah ... Maafkan ayah!" ucapnya berulang-ulang. Lalu dia beralih pada Hanin. Diambilnya bayi itu dalam gendongan, diciumi pipinya hingga Hanin merengek karena tak nyaman.


"Sudah, Mas. Kita masuk dulu, sholat subuh dulu!" ajak Maira. Perempuan itu tak kurang-kurang harunya. Air mata sudah berlinangan di pipi.


Ketika hari terang, Bu Hartini, Wulan, Sapto dan Farel datang. Mereka tak bisa menyembunyikan kebahagiaan mengetahui ingatan Janu sudah kembali. Bu Hartini memeluk erat Janu.


"Ampuni saya, Bu ...!" Janu melepaskan diri dari pelukan ibunya, dan jatuh bersujud di telapak kaki Bu Hartini.


Perempuan paruh baya itu segera berlutut, kembali memeluk anaknya. "Ndak, Le, kamu sama sekali ndak salah. Keadaanlah yang membuatmu lupa akan ibu."

__ADS_1


Jika bahagia begitu gencar menyapa, masih beranikah duka terselip di sana?


***


Sepanjang hari rumah dikunjungi para tamu. Saudara-saudara dan teman-teman mereka datang untuk menanyakan kabar Janu setelah ingatannya pulih. Hingga tak sempat bagi Janu untuk menikmati waktu berdua dengan istrinya. Bahkan untuk sekedar bercengkerama dengan anak-anaknya pun harus mencuri waktu luang.


Menjelang malam rumah mulai sepi. Tinggal keluarga pak Kusno sendiri. Oza sudah tidur di kamarnya. Sementara Hanin, dari tadi sudah lelap bersama kedua eyangnya di kamar. Tinggal Janu, Bayu dan istri mereka masing-masing.


"Aku mau pindahin Hanin ke kamar dulu, ya!" ujar Maira sambil berdiri.


"Kenapa mesti dipindahin?" Karina protes. "Kemarin pas mbak ke Bandung, dia tidur dengan ibu juga nggak rewel, kok!"


"Kasihan ibu."


"Justru kalau Mbak pindahin Hanin malah kasihan ibu dan bapak. Tidur mereka jadi terganggu!"


Maira urung beranjak. Dia kembali duduk di sebelah suaminya.


"Jadi, malam ini mas Janu masih mau tidur di kamar Oza?" tanya Karina, menggoda.


Bayu terkekeh mendengar perkataan istrinya. Sementara Janu menunduk malu dan Maira tersipu.


"Yuk, kita masuk kamar dulu, Dik!" ajak Bayu, menarik tangan istrinya untuk berdiri. "Duduk di sini lama-lama hanya akan jadi penghalang ibadah mereka nanti."


Karina tergelak mendengar ungkapan Bayu. "Selamat ber-honeymoon yang kesekian yaa ...!" godanya sambil mengerlingkan mata.


Sepeninggal Bayu dan istrinya, kedua orang ini masih sama-sama terdiam. Hingga ....


"Dik ...."


"Mas ...."


Bersamaan mereka mulai membuka suara. Lalu keduanya tersipu.


"Eh, kamu dulu!" ucap Janu.


"Enggak, mas Janu dulu aja!"


Lalu kedua kembali diam, hingga Janu meraih jemari Maira.


Deg!


Rasanya seperti naik rollercoaster. Setelah beberapa saat lalu stabil jalannya, kini mulai menanjak meninggalkan rasa berdebar. Menanti apa yang akan terjadi di puncak tanjakan.


"Malam ini, boleh kan, aku tidur denganmu?" pinta Janu, lirih di telinga Maira.


Perempuan itu serasa kelu lidahnya. Ingin menjawab, tapi tak ada suara yang keluar. Hanya anggukan kecil yang menyisakan hembusan napas lega dari lelaki di depannya.


Malam terasa lebih hangat dari malam-malam sebelumnya. Rindu yang terpendam sekian lama, kini mendapat jalan untuk muncrat keluar. Maira tersenyum bahagia menutup malamnya. Janu menghempaskan tubuh dengan lega ke samping istrinya.


(bersambung)


// Terima kasih sudah mampir baca.

__ADS_1


Like, komen dan vote nya jangan lupa ,yaa...🙏🙏🙏 //


__ADS_2