
...Ketika dalam kebimbangan, sebaiknya biarkan hati nuranimu yang bicara....
Mungkin seperti itu yang dilakukan Maira. Meski sesakit apa pun perasaan, meski ingin menolak kenyataan, namun ketika melihat bayi mungil itu, nuraninya luruh juga. Dia makhluk tak berdosa. Membutuhkan kasih sayang seorang ibu dan juga ayah. Betapa kejinya jika Maira menuruti perasaan kecewa atas apa yang terjadi antara Janu dan Bertha di masa silam.
Di rumah pak Kusno, mereka semua menatap Maira yang sedang memangku bayi Bertha. Ada gurat kepedihan di wajah Bu Kusno. Bu Hartini bahkan sudah berurai air mata. Sementara Karina menutup mulut, menyembunyikan isak yang nyaris meledak.
Janu menghampiri Maira. "Kalau sudah tidur, taruh saja di kamar, Dik!" ucapnya pelan.
"Ada Oza dan Hanin, Mas. Takut mereka lasak tidurnya, terus nimpah bayi ini."
Janu menarik napas dalam. "Kalau begitu, sini aku gantikan. Kamu sudah menggendongnya dari tadi."
Maira tak menghiraukan ucapan Janu. Dia justru berpaling pada lelaki itu. "O iya, Mas, bayi ini belum diberi nama. Kamu mau kan, memberi nama padanya?"
Janu tertegun. Sekarang ini dia benar-benar tidak tahu harus bagaimana. Sikap Maira yang seperti tak ada masalah sedikit pun, justru membuatnya resah.
"Mas!"
Suara Maira menyentakkan Janu dari lamunan. "Ah, e, iya, Dik. Aku ... aku belum tahu harus memberi nama dia siapa."
"Ayolah, Mas, jangan seperti ini! Lihat, aku tidak kenapa-kenapa, aku baik-baik saja. Kamu pun harus seperti itu! Demi bayi ini." Maira mengelus kepala bayi yang sedang tertidur lelap.
"Berilah nama pada bayi itu nak Janu!" timpal pak Kusno, mencoba ikut mengatasi kecanggungan antara Janu dan Maira.
Janu menghela napas. Sesaat kemudian dia kembali berucap, "Berlian Langit."
Maira ternganga. "Indah sekali namanya," desisnya.
"Kita panggil 'Lian' aja, ya!" seru Karina, sambil mendekat pada kakaknya. Dia kemudian mengelus pipi bayi itu. "Halo, Lian sayang, selamat datang di keluarga kami," bisiknya di telinga bayi itu.
"Bagus nama panggilannya, Rin, 'Lian'," Maira menanggapi.
Tiba-tiba Lian terbangun dan merengek. Maira bangkit dari duduk dan menggendong sambil menepuk-nepuk lembut pantat Lian. Namun bayi itu justru mulai menangis. Semakin lama semakin kencang.
Bu Kusno berusaha ikut menenangkan Lian dengan mengelus-elus punggungnya. "Mungkin dia lapar, Mai!"
"Kalau begitu biar aku susui, Bu."
"T-tapi ...!" Janu mendadak gugup.
"Kenapa, Mas? ASI-ku banyak, kok. Hanin tidak akan kekurangan. Lagian sekarang Hanin juga sudah jarang menyusu."
Maira kemudian beranjak berdiri dan membawa Lian masuk kamar. Di kamar dia memangku bayi itu dan mulai menyusuinya. Maira menatap Lian yang dengan lahap menyusu padanya. Air mata perempuan itu menetes tanpa sanggup dia tahan lagi.
__ADS_1
Menjelang sore saat Oza terbangun, dia heran melihat sosok bayi yang tertidur di sebelah Hanin. "Siapa ini, Bunda?"
Maira yang duduk di tepi ranjang tersenyum menatap Oza. "Namanya 'Berlian Langit'. Dia adikmu juga, Za?"
"Adik? Kok ...?"
Bundanya mengangguk. "Iya, dia adikmu, seperti juga Hanin."
"Tapi kan, dia bukan anak Bunda?"
Tangan Maira terulur, mengelus rambut ikal Oza. "Dengar, sayang, meski dia bukan anak kandung bunda, mulai sekarang dia jadi anak bunda dan ayah. Seperti juga kamu dan Hanin. Kalian bertiga adalah anak ayah dan bunda yang sangat kami sayangi."
Mata bulat Oza mengerjap. Anak usia 10 tahun itu belum terlalu mengerti sepenuhnya. Namun saat melihat bayi Lian yang tertidur pulas dengan pipi montok dan bibir yang kadang bergerak mengenyot seperti sedang menyusu, Oza menjadi terpikat. Bayi Lian sama lucunya dengan adik Hanin.
Tangan Oza terulur menyentuh pipi Lian. "Lucu ya, Bunda. Kulitnya hitam, rambutnya keriting." Dielus-elusnya pipi bayi Lian. "Eh, dia tersenyum, Bunda!" seru Oza, membuat tidur bayi Lian terusik.
"Sttt!" Maira menempelkan telunjuk di depan bibirnya.
Baru saja Oza hendak berlari keluar kamar ketika Janu masuk. Anak itu menarik tangan ayahnya dan membawa ke dekat ranjang. Setengah berbisik dia berkata, "Ayah, adek Lian lucu banget. Kulitnya hitam, rambutnya keriting. Ayah dapat dari mana adek Lian?"
Janu hanya tersenyum kecut. Dia lalu duduk di sebelah Maira.
"Oza main di luar dulu, ya! Kalau di sini takut berisik. Nanti adek Lian dan adek Hanin bangun." kata Maira.
"Tapi nanti kalau mereka bangun, aku dipanggil ya, Bunda!"
"Dik, bagaimana, rewel nggak?"
"Nggak kok, Mas, Lian anteng. Nenennya juga lahap."
Janu mengelus pundak Maira. "Kamu juga harus jaga kesehatan, Dik. Jangan sampai kecapekan!"
Maira tersenyum sambil mengangguk.
Tiba-tiba Janu merengkuhnya dalam pelukan. "Dik, maafkan aku. Terima kasih atas apa yang sudah kamu lakukan ini." Isak Janu mulai terdengar.
Maira mengurai pelukan suaminya. "Sudahlah, Mas, nggak usah mikir macam-macam! Sekarang yang terpenting bagaimana kita merawat dan mendidik mereka bertiga agar menjadi anak soleh solehah dan selalu sehat."
Janu mengangguk dan kembali memeluk Maira lebih erat lagi.
***
Esok harinya mereka bersiap berangkat ke Bandung. Bu Kusno bersikeras ikut.
__ADS_1
"Kamu nanti akan kerepotan, Mai, momong dua bayi sekaligus."
"Kan, ada teh Lina, Bu!"
"Lha, dia kalau sore pulang, to? Gimana nanti kalau malam-malam dua bayi itu nangis?"
"Hanin kan, udah gede, Bu. Lagian mas Janu juga bisa bantu-bantu momong, kok."
"Kalau nak Janu pas piket jaga gimana? Wis, pokoknya aku ikut dulu barang seminggu dua minggu! Nanti kalau sudah aman terkendali aku baru pulang ke Jogja."
Tidak ada lagi yang bisa mencegah. Akhirnya Bu Kusno ikut Janu sekeluarga kembali ke Bandung.
Firasat seorang ibu memang kadang ada benarnya. Meskipun ada teh Lina, tetap saja Maira agak sedikit kerepotan di hari pertama mengurus dua bayinya. Ketika Lian menangis minta disusui, di saat yang sama Hanin merengek minta bermain dengan bundanya. Sementara Janu sudah berangkat ke kantor dan teh Lina sibuk dengan segunung cucian. Beruntung ada Bu Kusno yang sigap mengajak main Hanin.
"Untung saja ibu ikut!" kata Bu Kusno.
Maira hanya menyeringai sambil masih menyusui Lian.
"Habis Lian menyusu, kita bawa berjemur keluar ya, Mai! Biar sehat badannya."
"Iya, Bu."
Matahari pagi masih memancarkan sinar yang belum terlalu terik. Maira membawa Lian keluar dengan kereta bayi Hanin. Sedangkan Hanin memakai sepeda bayi roda tiga. Mereka memilih tempat di tepi jalan komplek untuk berjemur.
"Eh, Bu Janu udah pulang dari Jogja, ya?" sapa Bu Hendy, tetangga depan rumah, yang suaminya teman satu letting Janu.
"Iya, Bu Hendy," jawab Maira tak begitu bersemangat. Dia tahu bagaimana karakter istri teman suaminya itu. Selalu ingin tahu urusan orang.
Perempuan berbadan gempal dan agak pendek itu mendekati Maira dan ibunya yang sedang menjaga Hanin dan Lian. Sekilas dia mengangguk pada bu Kusno sebagai sapaan. Lalu pandang matanya terpaku pada Lian.
"Eh, bayi siapa ini?" serunya. "Anak saudara ya, Bu Janu?"
Maira hanya mengangguk sambil tersenyum. Dia agak malas menanggapi Bu Hendy.
Bu Hendy mengamati Lian dengan seksama. "Kok, lucu, ya. Kayak anak orang Indonesia bagian timur."
Maira mendengkus mendengar kelugasan Bu Hendy.
"Saudara Bu Janu bukan dari Jawa, ya?"
Sekali lagi Maira hanya mengangguk. Dia mulai terlihat sedikit resah.
"Kayaknya sudah cukup berjemurnya, Mai. Dibawa masuk saja, ya!" Bu Kusno menyelamatkan keadaan.
__ADS_1
Setelah berpamitan dengan Bu Hendy, mereka kembali masuk rumah. Bu Hendy menatap mereka dengan sorot mata penuh tanda tanya.
"Aneh," desisnya lirih.