LELAKI PENGGANTI Season 2

LELAKI PENGGANTI Season 2
BAYANG-BAYANG RASA BERSALAH


__ADS_3

Napas Janu memburu. Matanya nanar menatap ke depan. Bulir-bulir keringat membasahi dahi. Tangannya erat mencengkeram sprei.


"Mas!" pekik Maira. Tangan perempuan itu merengkuh bahu suaminya. Dielus-elus punggung Janu untuk meredakan gelisah lelaki itu.


"Kamu kenapa, Mas?"


Janu tak menjawab. Air mata mulai mengalir di pipinya. Lalu dia memeluk Maira erat. Sangat erat.


"Dik, a-aku t-takut!"


"Kenapa, Mas, takut apa?"


"M-mimpi ... Mimpiku!" Janu tergugu di bahu istrinya.


Tangan Maira masih mengelus-elus punggung suaminya. Dia sengaja membiarkan Janu menumpahkan emosinya terlebih dahulu. Hingga beberapa saat kemudian tangis lelaki itu mulai mereda.


Maira merenggangkan pelukan. Sekarang ditatapnya Janu lekat. Lelaki itu menunduk dalam.


"Maafkan aku, Dik," ucap Janu pelan.


"Maaf untuk apa, Mas. Kenapa kamu seperti ini?"


Janu menggeleng. "Entahlah. A-aku mimpi bertemu dia. A-aku takut ...."


"Sudahlah, Mas, jangan terlalu dipikirkan. Sekarang kamu sudah di sini, bersama kami. Nggak usah berpikir yang macam-macam!"


"T-tapi ...."


Maira merengkuh kepala Janu dan menjatuhkan kembali ke bahunya. Dielusnya lagi punggung lelaki itu tanpa banyak bicara.


***


Di Jogja, di kamar Bertha, perempuan itu menjerit keras. Saat bangkit dari tempat tidur tiba-tiba dia terhuyung. Dipegangnya kepala sambil terpejam. Dia hendak kembali duduk di ranjang. Namun terlambat, tubuhnya jatuh terhempas menghantam meja.


Brak!


Sementara di luar kamar Bu Harni tampak panik. Berkali-kali diketuknya pintu kamar Bertha, namun tak ada sahutan.


"Bertha, Bertha!"


Dari arah rumah utama tergopoh-gopoh pendeta Andreas mendekat. "Ada apa, Bu?"


"Tidak tahu, bapa. Tadi saya hanya mendengar jeritan Bertha!" Wajah Bu Harni terlihat pias. Tangan perempuan tua itu bergetar saat mengetuk-ngetuk pintu kamar Bertha.


"Berthaaa ...!" teriaknya lagi.

__ADS_1


Pendeta mendekat. Diputarnya handel pintu, terkunci.


"Coba Bu Harni minggir dulu!"


Bu Harni bergerak ke samping, memberi ruang pada pendeta Andreas. Lalu pendeta Andreas mengambil ancang-ancang. Dia mundur beberapa langkah. Selanjutnya menghambur ke arah pintu kamar Bertha dengan arah menyamping. Lengan dan bahunya menjadi senjata pendobrak.


Brak!


Pintu tetap bergeming.


Sekali lagi,


Brak!


Kraaakh!


Pintu berbahan kayu lapis jebol seketika. Mereka berdua serentak menghambur ke dalam. Dan betapa terkejutnya saat melihat pemandangan mengenaskan di sana. Bertha tergeletak di lantai dengan genangan darah di bagian bawah tubuhnya.


"Berthaaa ...!!!"


***


Kesalahan meski sudah termaafkan tetap terlihat seperti bayang-bayang kegelapan. Hal terbaik yang bisa dilakukan adalah mengikhlaskannya mengikuti langkah kita.


Pagi ini Janu izin tak masuk kerja. Seusai subuh, dia mengunci diri di kamar. Bahkan teriakan pamit dari Oza yang mau berangkat sekolah pun tak dihiraukan.


"Mas, boleh aku masuk?"


Tak ada jawaban. Namun sesaat kemudian terdengar anak kunci diputar dari dalam. Ketika pintu terbuka, tampak Janu berdiri sambil menundukkan kepala di depan pintu.


"Dik, aku malu. Aku tak punya muka untuk berhadapan denganmu."


Maira menggelengkan kepala. Dia merangsek masuk ke dalam kamar. Dibimbingnya Janu menuju ke ranjang. Lalu mereka berdua duduk di atasnya.


"Mas, ada apa sebenarnya denganmu?" Maira menatap Janu dengan pandangan menyelidik.


Janu masih tetap menunduk. Tangannya gemetaran ketika Maira menggenggamnya.


"Kalau mas Janu begini terus, apa nggak kasihan dengan kami, aku dan anak-anakmu?"


Lelaki di depan Maira itu tergugu. Lalu dia merengkuh tubuh Maira dan memeluknya. "Maafkan aku, Dik," ujarnya di sela isak.


Setelah tangis mereda, Janu melepaskan pelukannya pada Maira. Ditatap istrinya itu dengan sendu.


"Dik, aku mau ngomong, tapi ... tapi kuharap kamu tidak marah."

__ADS_1


Maira menelan ludah. Lalu dia menganggukkan kepala.


"Dik, seumur hidup aku merasa bersalah, sangat bersalah. Perasaan itu selalu menghantui dan membuatku takut."


"Kami kan, sudah memaafkanmu, Mas. Kuharap itu sudah bisa mengurangi bebanmu."


Janu mengangguk. "Aku tahu, kamu memang baik. Terima kasih untuk keikhlasanmu memaafkanku. Tapi ...." Dia menjeda sesaat. "Tapi, ini tentang Bertha."


Wajah Maira menegang. Perempuan itu lalu menghembuskan napas berat.


"Maaf, Dik, jika ini menyakitimu. Tapi aku merasa sangat bersalah pada perempuan itu. Tanpa dia, aku tidak akan bisa berada di sini bersamamu dan anak-anak. Mungkin aku sudah mati di belantara Papua jika saja Bertha tak menolong."


Maira mengangguk, mengiyakan walau berat.


"Dan aku telah berlaku tak adil padanya. Tak pernah mencarinya, tak pernah meminta maaf padanya. Padahal, aku ... aku s-sudah menanamkan benih di ....di rahimnya."


Susah payah Janu menyelesaikan kalimat. Maira pun susah payah menguatkan hati saat mendengarnya.


"Apakah dia sehat, apakah bayi yang dikandungnya baik-baik saja, apakah ... apakah bayi itu sudah lahir ...?" Janu menggeleng kuat-kuat. Seperti hendak membuang beban yang menggelayut di kepalanya.


"Aku sebenarnya ingin melupakan dia dan peristiwa itu. Tapi hati kecilku menolak, Dik. Bayang-bayang rasa bersalahku padanya selalu mengejar. Seperti ada suara-suara di kepala yang meminta pertanggungjawaban atas apa yang telah kuperbuat!" Lelaki itu kembali terisak. Ditutupnya wajah dengan telapak tangan.


"Aku mengerti, Mas," ucap Maira dengan suara serak.


Janu kembali menatap istrinya dengan mata sembab. "Ketika aku memikirkan dia, aku jadi merasa bersalah padamu. Tetapi jika aku mencoba benar-benar melupakannya, hati kecilku memberontak. Aku bingung, Dik."


Maira hanya menghela napas. Pandangan perempuan itu kosong, menerawang ke depan. Lalu perempuan itu bangkit dari duduknya, berjalan keluar kamar tanpa berkata apa-apa lagi.


***


Pendeta Andreas dan Bu Harni berpacu dengan waktu. Pendeta menyetir mobilnya cukup kencang, sementara Bu Harni memangku Bertha di kursi belakang. Tak berapa lama mereka tiba di klinik terdekat.


"Wah, kondisinya sudah seperti ini. Kita rujuk ke rumah sakit daerah ya, Pak!" kata dokter yang menangani.


Pendeta hanya mengangguk tak bisa berpikir lagi


Tidak butuh waktu lama, Bertha segera dilarikan ke rumah sakit yang lebih besar. Perempuan itu masih pingsan, sementara pendarahan belum berhenti juga. Suara sirine ambulance menyayat-nyayat hati pendeta Andreas. Lelaki itu beberapa kali menekan dadanya sambil menyetir mobil mengikuti laju ambulance. Tak henti-henti dia berdoa untuk keselamatan Bertha dan bayinya.


Sementara Bu Harni yang mendampingi Bertha di ambulance tak bisa menahan derai air mata. Perempuan itu menangkupkan kedua tangan di depan dada. Matanya yang terpejam sesekali membuka, menatap wajah Bertha yang semakin pucat. Doa tak lepas dia ucapkan.


Di rumah sakit, Bertha segera masuk ke ruang operasi. Pendeta Andreas dan Bu Harni menunggu di luar ruangan. Mereka terlihat sangat gelisah. Pendeta berjalan mondar-mandir, sementara Bu Harni duduk di kursi tunggu dengan mata terpejam. Bibirnya komat-kamit tak henti berdoa.


"Bagaimana menurut Bu Harni jika saya mengabari Bu Maira?"


(bersambung)

__ADS_1


// Terima kasih sudah mampir. Jangan lupa like, komen n vote nya //


__ADS_2