LELAKI PENGGANTI Season 2

LELAKI PENGGANTI Season 2
IDE KARINA


__ADS_3

Di siang yang sama, Karina dan Bu Kusno tampak berbicara serius dengan seseorang melalui handphone. Suara perempuan di seberang sana terdengar jelas dari handphone yang di loud speaker.


"Tapi bagaimana dengan Hanin nanti?" suara di seberang sana bertanya.


"Mbak Wulan tenang saja. Kalau cuma momong Hanin beberapa hari, ibu sanggup," jawab Bu Kusno.


"ASI nya bagaimana, Bu?" Perempuan yang ternyata Wulan, kakak Janu itu kembali bertanya.


"Mbak Maira punya persediaan ASI melimpah di kulkas, Mbak. Produksi ASI mbak Maira emang lumayan surplus. Kadang malah sering didonorkan." Kali ini Karina yang menjawab.


"Yakin Hanin nggak akan rewel ditinggal bundanya beberapa hari?"


"Aku sih, yakin, Mbak. Untuk sementara aku juga mau di sini dulu, bantuin ibu momong anak-anak mbak Maira."


Untuk sesaat suara di seberang sana menjeda.


"Yang jadi masalah, mungkin mbak Maira nya sendiri yang nggak akan setuju dengan rencana ini," lanjut Karina. "Tahu sendiri kan, Mbak, gimana mbak Maira?"


"Iya, sih. Kayaknya Maira nggak akan setuju. Apalagi harus ninggalin anak-anaknya beberapa hari."


"Itulah, makanya Karin telepon mbak Wulan. Maksud Karin, tolong deh, mbak Wulan bantu bujuk mbak Maira!"


"Oke, Rin. Nanti kamu bilang dulu ke Maira, baru aku ...."


"Bukan gitu, Mbak!" potong Karina. "Maksud Karin, mbak Wulan aja yang pertama ngomong ke mbak Maira!"


"Kok, aku?"


"Kayak nggak tahu gimana mbak Maira ke aku sih, mbak. Pasti dia nggak bakalan percaya sama ideku. Dia itu selalu menganggap aku anak kecil yang konyol, Mbak. Bisa dipastikan dia langsung nolak!" jawab Karina setengah menggerutu.


Bu Kusno menutup mulut, menyembunyikan tawanya.


"Beda kalau yang ngomong mbak Wulan. Dia bakalan ada rasa sungkan!"


Di seberang Wulan tertawa. "Iya juga, ya. Oke deh, nanti aku coba."


"Naaah, mantap!" seru Karina.


"Kebetulan sore nanti aku mau balik ke Jogja. Bisa ketemu sama Maira di rumah ibu."


"Iya, Mbak, betul. Kesempatan bagus, tuh!"


"Oke, Karin. Makasih idenya, ya. Semoga berhasil."


"Aamiin!" Hampir berbarengan Karina dan Bu Kusno mengaminkan, sebelum menutup telepon.


***


Di rumah Bu Hartini, menjelang maghrib Wulan dan keluarganya tiba dari Solo. Kebahagiaan Bu Hartini tak bisa disembunyikan. Semua anggota keluarga akhirnya bisa berkumpul di rumah joglo.


Dalam riuh keakraban keluarga besar, Janu duduk diam di salah satu kursi rotan. Sesekali menjawab pertanyaan yang diberikan padanya dengan kalimat singkat. Sementara Maira duduk di sebelahnya.


Wulan mendekat pada mereka, lalu duduk di sebelah Maira. "Hanin makin pinter, ya?"


Maira tersenyum sambil mengangguk. Tatapan tak lepas dari anak-anaknya yang bermain bersama Bu Hartini dan Farel, anak Wulan.


"Dia kemarin kalau ditinggal ke rumah sakit lama, suka rewel nggak?" tanya Wulan lagi.

__ADS_1


"Enggak, Mbak. Yang penting ada persediaan ASI pasti aman."


"Sama eyangnya ya, di rumah?"


"Iya."


Wulan memperbaiki letak duduknya. Lalu dia memiringkan badan, menghadap pada Maira. "Seandainya Hanin ditinggal beberapa hari, kira-kira aman nggak?"


Maira mengernyitkan kening. Dia menatap Wulan dengan pandangan bingung. "Maksudnya, Mbak?"


Wulan menarik napas dalam. "Gini, lho, Mai, Mbak punya ide."


Kerutan di dahi Maira bertambah dalam.


"Gimana kalau kamu dan suamimu pergi ke Bandung, ke rumah dinas kalian."


"Ke Bandung?"


Wulan mengangguk. "Iya. Kalian berdua saja. Anak-anak biar sama eyangnya."


"Tapi, Mbak ...."


"Maksudku, setidaknya kalau kalian kembali ke tempat dimana kalian pernah bersama, itu akan memudahkan Janu mengingat kembali memori-memorinya yang dulu."


Kali ini Janu ikut menoleh. Dari tadi dia ikut menguping pembicaraan Wulan dan Maira. Namun dia tak ikut menanggapi.


"Di sana nanti kamu ajak Janu ke tempat dinasnya, ke tempat-tempat yang biasa kalian kunjungi."


"Tapi kenapa harus berdua saja? Kenapa nggak sama anak-anak saja?" protes Maira.


"Ini agar kamu bisa lebih fokus pada Janu. Kalau nanti kamu bawa anak-anak, tentu saja kamu juga akan repot mengurus mereka."


Wulan memegang tangan Maira. "Percayakan Hanin pada bu Kusno!" tegasnya. "Tadi aku sempat menelepon ibumu dan Karina. Mereka sangat menyetujui ide ini. Dan mereka sanggup menjaga anak-anakmu untuk beberapa hari."


Wulan mengalihkan pandangan pada bu Hartini yang sibuk bermain dengan cucu-cucunya. "Ibu nanti pasti juga akan membantu menjaga cucu-cucunya!"


Maira tercenung. Dia lalu menoleh pada Janu. Pandangan mereka beradu. "Gimana, Mas?"


"Apa?"


"Apa mas mau kalau kuajak ke Bandung, ke tempat dinas mas Janu dulu dan ke rumah dinas kita?"


Janu hanya mengangkat bahu. Dia tak tahu harus menjawab apa. Sementara isi kepalanya kosong dari kenangan-kenangan masa lalu.


"Mau lah, Nu. Siapa tahu di sana nanti ingatanmu kembali!" Wulan ikut menimpali.


"Terserah kalian," jawab Janu pendek.


"Nah, gimana, Mai. Kapan kira-kira kalian siap berangkat?"


Maira menghela napas. "Entahlah, Mbak. Rasanya masih berat kalau harus ninggalin Hanin."


"Gini, deh, kamu ngobrol dulu sama ibu bapakmu. Kamu yakinkan dulu hatimu, kira-kira siap nggak ninggalin Hanin beberapa hari."


Maira mengangguk. "Iya, Mbak."


Malam itu, seperti biasa Janu belum mau tidur sekamar dengan Maira. Sekuat apa pun Wulan memaksa, tetap saja Janu memilih tidur sendiri di kamarnya yang dulu. Maira kembali menelan rasa kecewa. Namun lama-lama, kekecewaan itu sudah menjadi biasa. Hatinya mulai kebas dari rasa sakit yang menyapa.

__ADS_1


***


"Ndak apa-apa, Mai. Percaya saja, Hanin aman di tangan ibu!" Bu Kusno meyakinkan. Pagi ini dia, pak Kusno dan Karina sengaja berkunjung ke rumah Bu Hartini. Dan seperti skenario yang dibuat bersama Wulan, mereka pura-pura belum tahu ide yang dilontarkan Wulan.


"Tenang, Mbak, ini ada asisten ibu yang paling handal!" Karina menepuk dadanya.


Maira mencibir. "Anak manja sepertimu bukannya malah ikut merecoki ibu!'


"Ih, ya, enggaklah!"


"Kalau Karina merecoki ibumu, biar bapak yang turun tangan!" Pak Kusno ikut nimbrung. Semua tertawa mendengarnya.


Bu Hartini mengelus pundak Maira yang duduk di sebelahnya. "Nanti ibu ikut bantu jaga anak-anakmu, Mai. Siapa tahu, lewat ikhtiar ini ingatan Janu akan kembali."


"Nah, semua sependapat kan, Mai?" Wulan berdiri di depan Maira dan Janu duduk. "Jadi, kapan kira-kira kalian mau berangkat?"


Maira menengok pada Janu. Lelaki itu bergeming. Dia tak bereaksi apa pun terhadap pembicaraan keluarga besar mereka.


"Mas, kamu siap kuajak ke Bandung?"


Janu menunduk. "Entahlah. Aku masih bingung."


Wulan kembali duduk di sebelah Janu. "Nu, dengar, kamu punya keinginan ingatanmu kembali nggak?" tanyanya dengan nada tegas.


Janu mengangguk pelan.


"Nah, kalau begitu kamu harus semangat!" tegas Wulan. "Jangan ragu-ragu lagi!"


Sekali lagi Janu mengangguk. "Baiklah," jawabnya singkat.


***


Dua hari kemudian Maira dan Janu tampak menunggu kereta di peron stasiun. Janu masih terlihat linglung. Pandang matanya beredar nanar menatap sekitar. Keriuhan calon penumpang membuatnya sedikit tak nyaman.


"Mas, sebentar lagi kereta datang. Yuk, kita siap-siap!"


Maira membenahi koper dan sebuah tas besar. Dia hendak mengangkat tas itu ke atas koper agar nanti lebih mudah membawanya.


"Biar saya saja!" cegah Janu. Dia menepiskan tangan Maira. Kemudian diangkatnya tas itu dan diletakkan di atas koper.


Maira tertegun. Baru kali ini dia melihat kepedulian Janu padanya. Biasanya lelaki itu lebih banyak diam dan sibuk dengan dirinya sendiri.


Kereta datang. Berdebar dada Janu mendengar gesekan roda kereta dengan rel. Suara itu mengingatkan pada sesuatu yang entah apa.


"Kita naik, Mas!" ajak Maira sambil menarik tangan Janu.


Lelaki itu mengikuti Maira. Sementara tangannya yang satu menarik pegangan kopernya.


Tak perlu waktu lama, mereka sudah duduk di kursinya di dalam gerbong. Maira sengaja menyuruh Janu duduk di dekat lorong gerbong, sementara dia duduk di dekat jendela. Dia sengaja membiarkan Janu lebih leluasa berinteraksi dengan situasi sekelilingnya. Terbukti, mata Janu begitu antusias melihat segala sesuatu yang terjadi. Penumpang yang sibuk mencari kursinya, pramugari kereta yang menawarkan makanan, semua tak luput dari perhatian Janu.


Maira tersenyum melihat Janu beberapa kali seperti kaget, atau mengernyitkan kening, atau mengalihkan pandangan dengan cepat dari satu obyek ke obyek lainnya.


Kereta berangkat. Janu merebahkan tubuh ke sandaran kursi dengan wajah pias. Lelaki itu sejenak gugup, namun kemudian kembali tenang.


"Mau minum kopi atau makan, Mas?" tawar Maira.


Janu menggeleng. Lelaki itu kemudian memejamkan mata.

__ADS_1


Maira menghela nafas dan merapatkan jaketnya. Dia ikut memejamkan mata seperti lelaki di sebelahnya.


Semoga di Bandung kami menemukan titik terang.


__ADS_2