
Di kamarnya, Karina dan Bayu terlibat pembicaraan serius.
"Mas, selama kamu bersama mas Janu dan mbak Maira, adakah mereka menyebut tentang Bertha?"
Bayu memiringkan tubuh menghadap Karina. Sekarang lelaki itu mengangkat kepala dan menumpu dengan satu tangannya.
"Em, enggak pernah, tuh," jawab Bayu pelan.
Karina mengerutkan kening. "Kira-kira gimana ya, mas, kalau mas Janu ingat Bertha?'
Bayu menggedikan bahu. "Entahlah."
"Aku khawatir, Mas ...."
Bayu menyolek hidung istrinya. "Jangan suka berpikir yang tidak-tidak. Doakan saja mudah-mudahan mereka bisa melalui ini dengan baik dan berujung bahagia."
Karina mengambil napas dalam dan menghembuskannya.
"Sudah, tidur, yuk!" Bayu meletakkan kepala di bantal. Tangannya merengkuh tubuh Karina dalam pelukan.
***
"TIDAAAAK ...!!!"
Jeritan keras membangunkan Maira. Perempuan itu tersentak kaget. Dia segera bangkit dari tidurnya.
"Ada apa, Mas?"
Maira terkejut melihat suaminya duduk menekuk lutut di atas ranjang. Sementara wajahnya disembunyikan di antara paha. Kedua tangan erat menutup telinga.
"Tidak, tidak, tidak!" Berulang kali Janu berkata.
"Kamu kenapa, Mas?" Maira semakin khawatir. Dipeluknya tubuh Janu sambil mengelus-elus punggung lelaki itu.
Tiba-tiba Janu berontak. Dia melompat dari ranjang. Lelaki itu menatap Maira dengan pandangan nanap. Lalu dia jatuh berlutut.
"Ampuni aku, maafkan aku, Dik!" serunya di antara isak tangis.
"Mas!" Maira ikut turun dari ranjang.
Janu kemudian bersujud tepat di depan istrinya. "Maafkan aku, Dik!"
"Apa-apaan kamu ini, Mas!" jerit Maira. Perempuan itu ikut terduduk dan segera menubruk Janu. "Kamu ini kenapa?"
"Aku kotor, Dik. Aku kotooor ...!" lolong Janu. "Aku ingat, aku ingat, aku telah melakukan dengan gadis itu. Aku kotor, Dik. Aku tak pantas dekat denganmu!" racau Janu. Tangannya menarik-narik rambut. Kepalanya menggeleng kuat-kuat. Sementara air mata menderas di pipinya.
Maira tertegun. Luka di hatinya kembali menganga. Perih.
Aku tahu, Mas. Tapi tidak bisakah kau lupakan saja itu? keluh Maira dalam hati.
"Sudah, Mas, sudah!" Maira mencengkeram lengan Janu. "Nggak enak kalau bapak ibu sampai dengar!"
__ADS_1
"Aku salah, Dik, aku nggak pantas untukmu. Aku malu, Dik, maluuu ...!"
Tangis Janu semakin mengeras. Belum pernah Maira menjumpai suaminya dalam kondisi demikian. Janu tampak sangat putus asa. Kegagahannya tak tersisa, tertelan tangis yang melolong tanpa henti.
"Diam, Mas!" hardik Maira tak terkontrol. Perempuan itu semakin khawatir anggota keluarga lain ikut mendengar. Yang paling dikhawatirkan jika Oza juga mengetahuinya.
Janu masih menggelengkan kepala. Sementara tangannya tak bisa menarik-narik rambut lagi karena dipegang erat oleh Maira. Tangis lelaki itu masih melolong menyayat hati.
"Mai, Mai!" Suara Bu kusno dari luar, diiringi ketokan pintu yang lumayan keras.
"Bang Janu, Bang, ada apa?" terdengar juga suara Bayu.
Tok tok tok!
"Bang, mbak Mai, buka pintu!" teriak Bayu lagi dari luar.
Maira melepaskan tangan Janu. Lalu dia beranjak berdiri. Sambil berjalan ke pintu, disusutnya air mata di pipi dengan ujung lengan baju.
"Ada apa, Mbak?" Bayu tak sabar bertanya saat pintu terbuka.
"Kenapa, Mai?" Bu Kusno ikut melongok.
Sementara Pak Kusno dan Karina juga memandang cemas pada Maira.
Bayu menerobos masuk. Dia terkesiap melihat Janu yang terduduk di lantai sambil menggeleng-gelengkan kepala dan menarik rambutnya. Tingkah Janu layaknya orang yang tidak waras.
"Oalah, Lee ... ada apa to, ini?" Bu Kusno menghambur ke arah Janu. Tapi Bayu segera menahan mertuanya itu.
Lalu dia mendekat pada Janu dan berjongkok di depannya. Diulurkan tangan menyentuh pundak Janu. "Bang, tenanglah!" Tangan Bayu mulai mengelus pundak Janu. Lalu dengan isyarat, dia menyuruh Karina mengambilkan minum.
Sementara di dekat pintu Maira tergugu. Perempuan bersandar di dinding. Bahunya tersengal-sengal oleh isak tangis yang sekuat tenaga ditahan. Dia masih terkejut dengan perilaku suaminya yang diluar kewajaran.
Pelan-pelan Bayu mendukung Janu supaya berdiri dan mengajaknya duduk di tepi ranjang. Lalu dia mengulurkan segelas air putih hangat yang dibawakan Karina. "Minumlah dulu, Bang!"
Janu meneguk air dari gelas. Hanya satu tegukan.
"Lagi, Bang!"
Janu menggeleng. Lelaki itu kini lebih tenang dari pada sebelumnya.
Anggota keluarga yang lain masih mengamati Janu dengan raut wajah diliputi rasa khawatir. Karina berbisik pada Maira, menanyakan kenapa Janu bisa demikian.
Maira hanya mengangkat bahu sebagai jawaban. Beberapa kali dia tampak masih menyusut air mata.
"Sebaiknya Abang istirahat dulu. Jangan berpikiran yang macam-macam. Tenangkan saja dulu diri Abang!"
Tatap mata Janu nanar melihat ke depan. Pandangan kosong lelaki itu menyiratkan keputusasaan. "Aku salah, Yu, Aku berdosa," ucapnya pelan dan bergetar. "Aku berdosa pada kalian, pada Maira, pada anak-anakku. Aku telah melakukan hal yang nista dengan perempuan lain. Aku kotor, Yu, kotor!" Kembali Janu meraung. Ditutupnya wajah dengan kedua telapak tangan.
Bayu memeluk Abangnya itu. Lalu dengan isyarat tangan, dia menyuruh yang lain keluar kamar, termasuk Maira.
"Mbak, sebenarnya ada apa?" Karina tak bisa menyembunyikan rasa penasaran saat mereka sudah di luar kamar.
__ADS_1
Maira hanya menggeleng. "Entahlah. Saat bangun tidur tiba-tiba dia berteriak histeris lalu minta maaf padaku."
"Tentang Bertha?" Karina bertanya hati-hati.
Mata Maira kembali berkaca-kaca. "Mungkin," jawabnya serak.
"Ohh, jadi mas Janu sudah mengingat gadis itu," keluh Karina.
Sementara pak Kusno dan istrinya hanya duduk di depan Maira dan Karina. Sepasang suami istri itu menyimak dengan hati luka.
"Dia mengingat apa yang dia lakukan pada Bertha. Tiba-tiba dia seperti merasa jijik pada dirinya sendiri. Bahkan dia berontak saat aku hendak memeluknya."
"Janu tertekan. Setelah ingatannya tentangmu dan keluarga kembali, dia merasa sangat berdosa," ucap pak Kusno.
Maira mengangguk. "Apa yang harus kita lakukan, Pak?"
"Sepertinya bang Janu butuh psikiater, Mbak!" sahut Bayu yang baru saja keluar kamar.
Maira dan yang lain segera berdiri menyambut Bayu.
"Bagaimana kondisinya sekarang, Om Bayu?"
"Untuk sementara ini dia bisa sedikit tenang. Tadi sudah kuajak sholat dan sekarang dia sudah kembali tidur."
"Apa memang perlu dibawa ke psikiater to, nak Bayu?" tanya Bu Kusno.
"Saya rasa untuk lebih baiknya seperti itu, Bu."
"Biar besok aku bawa dia ke rumah sakit, menemui dokternya!" ucap Maira.
"Lebih cepat lebih baik, Mbak. Besok aku temani."
"Bukannya kamu pulang ke Jakarta?"
"Besok kami berangkat sore, Mbak," Karina ikut menyahut.
Pagi harinya Maira dan Bayu mengantar Janu kembali ke rumah sakit. Mereka menemui psikiater yang selama ini menangani Janu. Kapten Yusuf, psikiater yang juga anggota TNI itu tampak lega setelah mengatahui ingatan Janu kembali. Namun dia juga prihatin akan kondisi pasiennya sekarang. Janu tampak sangat tertekan.
"Biar saya lakukan sesi terapi dengan bapak Janu dulu, ya, Bu," ucap kapten Yusuf.
Maira mengiyakan. Lalu dia dan Bayu keluar ruangan.
"Mbak Maira tenang saja. Aku yakin bang Janu akan baik-baik saja. Hanya butuh waktu untuk mengembalikan kondisi psikisnya," hibur Bayu.
Maira hanya mengangguk. Wajahnya masih menyiratkan rasa kekhawatiran. Seharian kemarin Janu sama sekali tak mau bicara pada siapa pun. Bahkan pada ibu kandungnya sendiri dan kakaknya yang kemudian juga datang. Malamnya Janu tak mau tidur dengan Maira. Lelaki itu seperti ketakutan saat dekat dengan istrinya.
"Om Bayu, aku takut ...." Maira tak sanggup meneruskan kata-katanya.
(bersambung)
// Apa yang akan terjadi pada Janu?
__ADS_1
Terima kasih sudah baca. Jangan lupa like, komen dan vote nya //