
Ruang tamu itu tak begitu luas dan tampak bersahaja. Bufet kaca di sisi kanan, penuh berisi buku-buku. Hiasan dinding dan berbagai pajangan yang ada, kebanyakan berupa kerajinan khas Indonesia timur. Maira dan kapten Rian duduk di kursi kayu beralas anyaman rotan. Ibu tua yang tadi menerima mereka, masuk ke dalam untuk memberi tahu pendeta Andreas.
Tak lama kemudian, seorang lelaki paruh baya keluar dari ruang dalam. Dahi licinnya dinaungi rambut tersisir rapi belah pinggir. Kaca mata berbingkai tebal melindungi sepasang mata yang tajam, namun bersahabat. Lelaki itu tersenyum ramah pada mereka.
"Selamat siang, bapa pendeta," sapa kapten Rian sambil berdiri.
Pendeta Andreas mendekat, membungkukkan badan. "Selamat siang, selamat datang, pak ...." Sesaat pendeta itu melirik bed nama di dada kapten Rian, lalu tanda pangkat di krah bajunya. "Em, kapten Riantama," lanjutnya sambil mengulurkan tangan.
Kapten Rian menyambut uluran tangan pendeta Andreas.
Lalu pendeta itu beralih pada Maira yang sekarang juga sudah berdiri di sebelah kapten Rian. "Ah, ibu Janu. Ketemu lagi kita. Bagaimana kabarnya?" tanya pendeta itu sambil mengulurkan tangan pada Maira.
"Alhamdulillah, baik, pak pendeta. Bapak sendiri gimana?" Maira menyambut uluran tangan pendeta.
"Puji Tuhan, saya selalu baik dan sehat," jawabnya tetap dengan menebar senyum. "Ayo, mari silahkan duduk!"
Mereka bertiga kemudian kembali duduk. Tatap mata Maira tak lepas dari pendeta. Duduknya terlihat tak nyaman. Beberapa kali tampak menggeser pantat.
"Bagaimana keadaan bapak Janu sekarang, Bu?" tanya pendeta Andreas kemudian.
"Alhamdulillah makin hari kondisi fisiknya makin membaik, bapak pendeta. Hanya ingatannya yang masih belum ada perkembangan. Dia masih menganggap dirinya Batu," jawab Maira.
"Ohh ...." Pendeta Andreas menghembuskan napas berat.
"Bapak pendeta, ada hal yang mau saya tanyakan."
Wajah pendeta Andreas berubah tegang mendengar ucapan Maira. Lelaki itu membetulkan krah bajunya. "Apa ya, Bu?"
"Tentang Bertha. Siapa dia?"
Uhuk uhuk!
Pendeta Andreas terbatuk. Ludahnya tersedak di tenggorokan saat dia menelan.
"Maaf ...."
"Suami saya beberapa hari ini mencari Bertha. Dia selalu berkata bahwa Bertha sangat berarti baginya. Siapa dia, bapak Pendeta?" tanya Maira kembali, dengan suara bergetar. Matanya mulai berkaca-kaca.
Pendeta Andreas tak segera menjawab. Dia jatuhkan pandangan ke bawah, menghindari tatapan Maira. Sementara kapten Rian was-was memperhatikan Maira.
"Bapak Pendeta, tolong jawab saya!" pinta Maira lagi. "Bapak yang menemukan mas Janu pertama kali. Pasti Bapak tahu kan, siapa Bertha itu?"
Setelah menghela napas, pendeta Andreas berdiri. "Bu Janu, kapten Riantama, mari ikut saya," ujarnya.
__ADS_1
Kapten Rian dan Maira bangkit. Lalu keduanya mengikuti langkah pendeta Andreas keluar rumah. Sampai di halaman, lelaki paruh baya itu berbelok menuju pagar samping yang terbuka. Pagar itu memisahkan rumah pendeta dengan bangunan gereja sebelah.
Sampai di area gereja, pendeta mengajak mereka ke halaman samping rumah ibadah itu. Seperti halaman rumah pendeta, bagian luar gereja tersebut juga tampak bersih dan sejuk. Beberapa pohon cemara berdiri kokoh di sana, selain juga satu dua pohon mangga dan rambutan.
Tiba di halaman samping gereja, pendeta Andreas berhenti. Maira dan kapten Rian mengikuti. Lalu telunjuk pendeta menunjuk ke arah pohon mangga yang tumbuh rindang. Di bawah pohon ada sebuah kursi panjang, di mana seorang gadis tampak duduk sambil menyulam ditunggui perempuan tua yang tadi menyambut mereka.
"Bu Janu, anda lihat gadis yang duduk di sana?"
Maira tercekat. Tatap matanya terpaku pada pemandangan di depan sana. Gadis itu berambut keriting tebal dan berkulit legam. Dia tampak serius dengan pen sulamnya.
"Mari kita ke sana!" ajak Pendeta.
Mereka bertiga kemudian berjalan menuju gadis dan perempuan tua itu. Jantung Maira semakin berdebar, seiring langkah kaki mereka yang semakin mendekat. Tatap mata Maira tak lepas dari gadis berkulit legam itu. Tak ada yang istimewa. Dia gadis biasa. Kalau pun ada yang tampak lain, itu karena ciri fisik gadis tersebut berbeda dengan mereka. Jelas sekali bahwa gadis itu berasal dari Indonesia bagian timur.
"Bu Harni," sapa Pendeta pada perempuan tua di sebelah gadis itu.
"Oh, Bapa Pendeta." Buru-buru perempuan tua bernama Harni itu berdiri dan membungkuk pada mereka.
Sementara gadis itu masih asyik memainkan pen sulamnya di antara benang-benang wol warna warni.
Pendeta Andreas tersenyum. Dia lalu duduk di sebelah gadis itu dan menepuk pundaknya. Seketika gadis itu terhenyak, mengangkat wajah melihat pada pendeta.
"Selamat siang Bertha," sapa pendeta, sambil menggerakkan tangan, membuat bahasa isyarat.
"Agh ... Ugh ...aah!" Bertha menjawab sapaan pendeta. Tangannya pun membuat bahasa isyarat.
"Bertha, aku mau mengenalkan kau pada tamu kita." Pendeta kemudian mengayunkan tangan, menunjuk pada Maira dan kapten Rian.
"Aagh ... Aaagh ... Ugh ...ugh!" Bertha bangkit dan sedikit membungkukkan badan. Lalu gadis itu mengulurkan tangannya.
Sesaat semua diam, tak bergerak atau pun bicara. Maira dan kapten Rian sama-sama tenggelam dalam rasa terkejutnya.
"Oh, halo, Bertha." Kapten Rian kemudian, sambil menyambut tangan Bertha. "Aku Riantama."
Lalu Bertha beralih pada Maira. Matanya yang bening menatap Maira penuh kepolosan. Senyum terukir di bibir tebalnya. Lalu gadis itu pun mengulurkan tangan.
Maira tak segera menyambut. Dia menatap lekat pada Bertha, dari ujung rambut hingga ujung kaki. Gadis itu benar-benar gadis yang biasa. Namun dia memiliki sepasang mata bening yang memesona. Mata itu sanggup membuat Maira bergetar hatinya.
Lalu pandangan Maira terhenti di area perut Bertha yang terlihat sedikit menonjol, tidak proporsional dengan tubuhnya yang tak gemuk. Sejenak Maira tercekat. Susah layah ditelannya ludah.
"Aahg ... Aargh ...ugh!"
Racauan Bertha menyadarkan Maira. Perempuan itu lalu menerima uluran tangan Bertha, sambil menyebut namanya pelan. "Maira."
__ADS_1
Untuk beberapa saat suasana menjadi canggung, hingga pendeta memecahkannya.
"Oke, Bertha, Bu Harni, silahkan lanjut belajar menyulamnya. Kami pamit dulu," ucapnya. Lalu dia memberi isyarat pada Maira dan kapten Rian, agar mengikuti meninggalkan tempat itu.
"Bapak Pendeta!" seru Maira, saat mereka sudah jauh beberapa langkah dari Bertha dan Bu Harni. "Tolong ceritakan pada saya, apa hubungan suami saya dengan Bertha!"
Pendeta Andreas menghentikan langkah. Kemudian dia berpaling pada Maira. "Mari kita kembali ke rumah saya dulu, Bu Janu!" ajaknya sambil kembali melangkah.
Kali ini mereka duduk di teras rumah pendeta Andreas. Suasana sejuk akan membuat nyaman siapa saja yang duduk di sana, tapi tidak bagi Maira. Gumpalan tanya dan keresahan membungkus rapat pikiran, hingga tubuh pun tak bisa merasakan suasana nyaman di sekelilingnya.
"Pendeta ...!" hibanya sekali lagi.
Pendeta mengangkat tangan, membuat isyarat agar Maira menghentikan bicaranya. Lalu lelaki paruh baya itu mengambil napas dalam.
"Bertha," ujarnya kemudian. "Gadis itu sebatang kara. Berasal dari salah satu suku di pedalaman Papua. Dia bisu. Tapi dia sangat pandai menjelajah alam. Hampir setiap jengkal tanah di hutan Papua dia hapal." Mata pendeta menerawang jauh.
"Beberapa bulan lalu Bertha menemukan seorang lelaki yang terluka dan sekarat di hutan Papua. Lalu dia membawanya ke dalam goa dan merawat orang itu hingga sembuh. Dan ternyata orang itu mengalami amnesia, sama sekali tidak ingat siapa dirinya."
Mas Janu, bisik Maira dalam hati. Jantung perempuan itu semakin bertalu. Tangannya gemetar memegang lengan kursi.
"Selama berbulan-bulan dia tinggal di goa dan hanya bergaul dengan Bertha. Setiap hari Bertha datang ke goa itu dan menungguinya sepanjang siang. Tak ada orang lain, hanya mereka berdua, dalam situasi orang itu amnesia." Pendeta menghela napas panjang.
"Apakah orang itu suami saya, bapak pendeta?" tanya Maira dengan suara bergetar.
Dia menyimpan harapan walau secuil, bahwa pendeta akan menjawab bukan. Tetapi pendeta Andreas menganggukkan kepala, membuat harapan itu segera lenyap ditoreh luka.
"Apakah ... apakah sekarang Bertha sedang hamil?" tanya Maira lagi.
Pendeta tak segera menjawab, dia menundukkan kepala. Sementara kapten Rian semakin was-was memperhatikan Maira.
"Jawab saya, bapak pendeta!" seru Maira parau.
Pelan pendeta Andreas mengangguk.
"A-apakah itu a-anak s-suami s-saya?"
Sekali lagi pendeta mengangguk.
"Ohhh!" Maira membekap mulutnya sendiri. Seketika tangisnya pecah. Kepalanya digelengkan kuat, bahunya tersengal hebat.
(bersambung)
// Hai, hadir lagi.
__ADS_1
Terima kasih sudah mampir. Jangan lupa support penulis dg like, komen dan vote.
Terima kasih ... terima kasih ... terima kasih 🙏🙏🙏 //