
Sepanjang perjalanan Maira lebih banyak diam. kapten Rian yang akhirnya membuka percakapan.
"Tidurlah kalau ngantuk. Sampai di lanud nanti kubangunkan."
"Tidak, Pak, saya belum ngantuk."
"Agh, sudahlah, nggak usah formal-formal. Hanya ada kita berdua."
Maira tak menanggapi. Dibuangnya pandangan keluar jendela mobil.
"Jadi, kenapa akhirnya kamu memilih nggak kerja? Padahal kamu pinter dan selalu juara dulu." Kapten Rian kembali mengajak Maira bicara.
"Apa kalau pinter harus selalu kerja?"
"Yah, sayang aja ilmumu nggak dimanfaatkan."
Maira tersenyum. "Aku pikir kerja nggak kerja itu suatu pilihan bagi perempuan. Ada yang memang memilih dan nyaman untuk kerja di luar. Ada yang memang terpaksa kerja di luar. Ada pula yang lebih nyaman untuk berkarya di rumah saja. Semua bagus, selama itu didasari oleh ridho suami." Nada bicara Maira mulai terdengar santai. Sangat susah mencoba bersikap formal pada mantan teman yang terlihat akrab padanya itu.
"Kalau begitu, kamu termasuk golongan yang mana?"
"Yang ketiga mungkin."
"Suamimu nggak ridho kamu kerja?"
"Nggak juga. Dia menyerahkan sepenuhnya pilihan kepadaku. Dan aku rasa, aku lebih nyaman di rumah saja. Toh, kepandaian seorang perempuan akan selalu bermanfaat untuk mendidik anak-anaknya."
Kapten Rian mengacungkan jempolnya. "Mantap!"
"Kamu tahu, dari dulu aku selalu ingin bilang kamu itu hebat. Rivalku di SMP ini, aku selalu kagum denganmu." Kapten Rian berdecak
Maira menyeringai. Kalau kagum, kenapa kamu dulu cuek banget ke aku!
Meski sudah berusaha menahan diri, Maira tak bisa menutupi rasa penasaran akan kehidupan Riantama, teman masa lalunya.
"Kamu sendiri, gimana ceritanya? Setahuku dulu kamu selalu menjawab ingin jadi arsitek saat guru kita bertanya tentang cita-cita."
Kapten Rian tersenyum simpul. Pandangannya tetap lurus ke depan, menatap jalanan yang masih ramai saat malam semakin larut. Dalam hati dia bersyukur karena ternyata dulu Maira juga memperhatikannya. Tidak seperti yang dia pikirkan, bahwa gadis terpintar di sekolah itu tak mempedulikannya.
"Papaku," jawab kapten Rian. "Papaku yang pengen aku jadi tentara. Kami sering berdebat karena itu. Pada akhirnya kami ambil jalan tengah, aku kuliah di jurusan arsitektur dulu, setelah lulus daftar perwira karir. Dan, jadi seperti inilah aku."
"Kudengar, kamu mempunyai anak kembar?"
Laju mobil tiba-tiba terhentak pelan. Kapten Rian tanpa sadar menekan remnya. Beberapa saat kemudian lajunya kembali normal, seiring lelaki itu menghembuskan nafas dari mulutnya.
"Iya. Ibunya meninggal waktu melahirkan mereka," jawabnya lirih.
Maira tak terlalu terkejut. Cerita itu sudah banyak beredar di kalangan ibu-ibu. "Aku turut berduka. Semoga beliau bahagia di sana."
"Di mana sekarang anak-anakmu? Umur berapa mereka?"
"Mereka di Jakarta, di rumah mama papa. Umur mereka sudah lima tahun, cewek semua." Sesaat senyum berlesung pipi kapten Rian terkembang. Ada binar bahagia di bola matanya saat mengingat kedua anak kembar yang lucu-lucu. "Sebenarnya aku mau merawat mereka sendiri. Tapi tugas yang sering berpindah-pindah membuatku harus pasrah dan ikhlas mereka ikut eyangnya."
Kenapa tak nikah lagi aja?
Tentu saja itu hanya diucapkan Maira dalam hati. Tak etis menanyakan hal pribadi pada seorang lelaki yang tak begitu dekat dengannya.
Mobil masih melaju pelan. Keduanya sama-sama diam, tenggelam dalam pikiran masing-masing. Maira mulai terbuai kantuk. Tanpa sadar, kepalanya terkulai di sandaran jok mobil dan dia mulai tertidur. Kapten Rian melirik sekilas. Dia menggeleng-gelengkan kepala sambil tersenyum simpul.
***
__ADS_1
"Bangun, sudah sampai."
Seseorang memegang bahu Maira. Perempuan itu tersentak bangun. "Oh!" Dia mengusap wajah dengan telapak tangannya. "Aku ketiduran."
"Iya, nggak apa-apa. Kamu kelihatannya lelah sekali."
"Maaf."
"Nggak apa-apa. Maaf kubangunkan. Aku nggak tahu rumah dinasmu nomor berapa." Kapten Rian kembali menjalankan mobilnya.
Tak berapa lama mereka sampai di rumah Maira. Kapten Rian turun hendak membukakan pintu untuk Maira. Tapi perempuan itu sudah turun sendiri.
"Sebentar, barang-barangmu kuambil dulu." Kapten Rian berjalan memutari mobil, menuju bagian belakang.
Rumah sudah tampak sepi. Rumah tetangga kiri kanan pun sudah tak ada tanda-tanda kehidupan. Tentu saja mereka sudah terlelap di malam selarut ini.
"Terima kasih sudah mengantar saya, Pak," ucap Maira kembali formal.
Kapten Rian tersenyum. "Sama-sama. Segera istirahat, ya. Kasihan bayi yang di perut kalau kamu kelelahan."
Maira mengangguk. Lalu perempuan itu berbalik, berjalan menuju rumah. Kapten Rian sendiri masih berdiri mematung, menunggu hingga Maira masuk ke dalam. Setelah tak terlihat lagi perempuan itu, Kapten Rian kembali masuk ke dalam mobil dan melaju pergi. Sepasang mata tampak mengamati mereka dari balik gorden jendela rumah seberang rumah Maira.
***
Harapan Maira agar kejadian diantar kapten Rian itu tak berbuntut panjang, ternyata tak terwujud. Beberapa hari kemudian, gunjingan di kalangan ibu-ibu sampai di telinganya.
"Mbak Maira, beneran malam itu diantar kapten Rian sendiri?" tanya Nina.
Maira tersentak kaget. "Dari mana mbak Nina tahu?"
"Jadi beneran?"
Nina melepaskan nafas panjang. "Ahhh ..., jadi itu bukan cuma gosip, ya?" tanyanya pelan, tak bersemangat.
"Apa yang mereka katakan tentang aku, Mbak?"
Nina tak menjawab. Dipegangnya kedua tangan Maira. "Kenapa sampai bisa diantar kapten Rian?" tanyanya dengan nada menyayangkan sikap Maira.
Lalu Maira menceritakan semua kejadian malam itu. Bagaimana dia terpaksa ikut kapten Rian karena malam sudah larut dan sopir salah tujuan menjemput dia.
"Ooo ..., jadi begitu ceritanya. Huh, mereka nggak berhak ngomongin kamu kayak gitu, Mbak!"
"Sebenarnya apa sih, yang mereka omongkan?"
Nina tetap tak mau menjawab. Tapi meski Nina bungkam, pada akhirnya Maira tahu juga dari mulut nyelekitnya Dewi.
"Eh, tahu nggak, perempuan itu nggak hanya harus pinter ngerawat tubuh luar saja. Tapi hati juga harus dirawat, dijaga, biar nggak gampang siwer sama tampang cakep!" ucap Dewi sinis, saat mereka sedang beristirahat usai olahraga senam rutin di kantor.
Deg!
Maira tahu apa yang dimaksud Dewi. Perempuan bemulut pare itu pastinya mendapat peluang emas untuk menjatuhkannya saat rumor tentangnya dan kapten Rian tersebar. Tapi Maira berusaha menahan diri. Dia tetap tenang, menyedot air mineral dengan perlahan.
Dewi mengerling pada Maira. "Bu Handy, mau dong ikut nebeng Fortuner putih!" sindirnya, menyebutkan mobil seperti milik kapten Rian.
Tangan Maira yang memegang gelas mineral semakin menegang. Sekuat tenaga dia tahan emosinya. Sementara beberapa ibu yang ngobrol bersama Dewi tertawa cekikikan.
"Ya, soalnya sudah malam, kakak, takutlah mau pulang sendiri." Kali ini Bu Handy yang menimpali. Gayanya dibuat secentil mungkin.
"Alesan takut, padahal kesempatan!"
__ADS_1
"Ha-ha-ha!"
"Heh, apa ini ya, maksudnya?!" hardik Nina yang sedari tadi ikut mendengarkan. Matanya melotot garang pada sekelompok ibu-ibu bermulut pare itu.
"Wow, wow, wow, bodyguardnya marah!" Dewi membelalakan mata, pura-pura ketakutan. Sementara geng Dewi lainnya malah cengengesan.
"Mbak Andre, apa maksudnya itu, hah? Kalian sedang ngomongin mbak Janu, ya? Kalau nggak tahu duduk persoalannya mendingan nggak usah banyak ngomong. Nanti jatuhnya fitnah!" omel Nina.
Maira memegang pergelangan tangan Nina. Dia mencoba menahan emosi perempuan itu agar tidak semakin meluap.
"Fitnah? Fitnah apaan? Nih, saksinya!" Dewi menunjuk ujung hidung Bu Handy. Kontan perempuan bertubuh gempal yang sedang tertawa itu kaget gelagapan.
"Bu Handy ini saksinya. Ada ibu PIA, istri Bintara, larut malam diantar perwira pakai mobil, hanya berdua. Di mana letak etikanya itu, hah?!" Dewi meradang.
"Heh, itu kan, penilaianmu yang tanpa tabbayun dulu. Tanpa konfirmasi pada yang bersangkutan. Main tuduh, main hina seenaknya saja. Siapa tuh, sebenarnya yang nggak punya etika?!" Nina tak kalah garang.
Mata Dewi membeliak. Kedua tangannya kini berkacak pinggang. Dadanya membusung menghadap Nina.
Nina sendiri tak mau kalah. Digulungnya lengan baju hingga sebatas siku. Nafasnya mendengus, memburu.
Maira buru-buru menarik tangan Nina. "Sudah, sudah, Mbak!"
Susah payah diajaknya Nina meninggalkan tempat itu. Mata tajam Dewi dan seringai sinis perempuan itu mengiringi berlalunya mereka.
"Lepasin, Mbak Maira!"
Nina mencoba berontak, tapi Maira semakin kuat menariknya.
"Malu, Mbak. Jangan berantem seperti itu, ah!" sergah Maira saat mereka sudah sampai di samping gedung, tempat yang terhindar dari pandangan Dewi dan ibu-ibu lain.
Diam-diam Nina membenarkan. Perang mulutnya dengan Dewi barusan sudah menarik perhatian ibu-ibu yang lain. Kalau tak segera dicegah, mungkin akan berujung adu fisik. Dan itu pastinya akan sangat memalukan. Apalagi kalau sampai ketahuan ibu-ibu perwira.
"Lagian, mbak Maira juga diem aja di sindir-sindir sama si mulut pare itu!"
"Lha, suruh gimana? Suruh ikut mencak-mencak?" Mata Maira membulat dengan raut wajah polosnya. "Kalau dilihat sama om-om yang di lapangan voli gimana? Dikira ada emak-emak hamil lagi kesurupan nanti!"
Maira mencoba bergurau, tapi Nina masih terlalu jengkel dengan sikap Dewi barusan. Tak ditanggapinya gurauan Maira.
"Seharusnya mbak jelasin dong, apa yang sebenarnya terjadi!" Nina masih gusar.
"Menjelaskan sesuatu pada orang yang benci kita tuh, akan menghabiskan energi saja. Apa pun kebenaran yang kita ungkap, akan tetap terlihat sebagai suatu kesalahan bagi mereka."
Nina mendengus kesal. Orang kok, kebangetan sabar. Bawaan orok kali, ya?
Tangan Maira diletakkan di bahu Nina. "Sabaaar ...," ucapnya sambil tersenyum.
Mereka dikejutkan oleh kedatangan salah seorang ibu pengurus PIA.
"Bu Janu, dipanggil Bu Sapto ke kantor PIA, tuh!"
Ups!
Maira dan Nina saling berpandangan dengan sorot mata penuh kekhawatiran.
Ada apa ini?
(bersambung)
// Terima kasih masih setia mengikuti kisah ini. Kisah yang banyak mengulas kehidupan istri tentara. Semoga bermanfaat.
__ADS_1
Jangan lupa untuk tinggalkan like, komen, dan vote, ya.... terima kasih 🙏🙏🙏 //