LELAKI PENGGANTI Season 2

LELAKI PENGGANTI Season 2
ESCAPED


__ADS_3

Jantung Janu berdebar lebih kencang. Adrenalinnya terpacu hebat. Beberapa slide rencana aksi, dia putar di kepala.


Harus cepat, tepat dan selamat.


Perhatian prajurit itu sepenuhnya tertuju pada lelaki berbadan gempal. Sosok itu tampak berdiri sambil menggunakan teropong mengamati ke arah bawah pegunungan. Pistolnya tampak terselip di belakang punggung.


Satu rencana terlintas di kepala Janu. "Saya mau buang air!" serunya.


Beberapa orang kaget dan berdecak jengkel. Si topi laken menyuruh salah seorang dari mereka untuk mengawal Janu. Dengan malas dia menuruti perintah dan mendekati Janu. Segera Janu berdiri dengan posisi tangan tetap di belakang punggung. Harus tetap begitu, untuk menyembunyikan simpul ikatan yang sudah terbuka.


Mereka berjalan menuju ke arah belukar. Sesaat lagi mereka akan melewati lelaki bertubuh gempal. Janu menghitung dalam hati.


Satu ...


Dua ...


Tiga ...


Sreet!


Dalam gerakan cepat, Janu berputar dan merebut pistol yang terselip di punggung lelaki gempal. Pada saat yang hampir bersamaan, dia mencekik leher si gempal dengan lengan tangannya yang satu dari belakang. Segera dia berbalik menghadap ke lelaki bersenjata yang mengawal. Tubuh si gempal menjadi perisainya.


Semua terjadi begitu cepat. Anggota klompok separatis itu terperanjat dan tak sempat berbuat apa-apa saat Janu sudah menelikung si gempal dan menodong punggung lelaki itu dengan pistol. Si topi laken menjerit marah. Ditodongkannya senjata ke arah Janu. Demikian juga yang lainnya, serempak mereka menodongkan senjatanya.


"Jangan bergerak, atau dia saya tembak!" gertak Janu. Lalu pelan-pelan prajurit itu mundur ke belakang sambil menyeret si gempal. Tubuh si gempal terasa gemetar dalam telikungan Janu.


Para lelaki bersenjata itu mengumpat dan berteriak marah. Namun mereka tak bisa berbuat banyak. Seorang temannya kini berbalik jadi sandera.


Si topi laken tak tahan. Dia bergerak melangkah hendak mengikuti Janu.


"JANGAN BERGERAK!" pekik Janu lagi, memperingatkan. Pistol dia acungkan ke depan sebelum kemudian kembali ditodongkan pada si gempal.


Si topi laken urung melangkah. Kata-kata kotor kembali berhamburan dari mulutnya.


Sementara Janu terus berjalan mundur ke belakang sambil tetap menelikung leher si gempal dengan lengannya. Perlahan dia semakin menjauhi kelompok bersenjata itu. Hingga jarak sekitar 100 meter dari mereka, Janu berhenti. Diarahkan pistolnya ke kaki si gempal.


DOR!


"AAARRRGH ...!" Lolongan si gempal memecah kesunyian hutan, saat timah panas mendekam di betisnya.


Janu menghempaskan tubuh si gempal. Lalu prajurit itu segera berlari dan melompat ke jurang yang landai namun rimbun oleh semak dan pepohonan. Di belakang sana kelompok bersenjata itu segera berlari mengejar Janu. Beberapa diantara berhenti untuk mengurus si gempal, yang lain melesat, mengejar Janu, turun ke jurang.

__ADS_1


Peluru dan anak panah menghujani Janu. Lelaki itu berlari sekencang mungkin tanpa menoleh. Pistol di tangan tak sekali pun ditembakkan. Tidak ada waktu untuk itu. Berlari menghindar lebih baik dari pada berhenti membela diri dalam posisi seperti sekarang. Jumlah mereka dan persenjataannya lebih dari cukup untuk melibas nyawa Janu.


DOR!


DOR!


DOR!


Syuut!


Syuut!


Syuut!


Sesekali Janu merunduk menghindari peluru dan anak panah. Dia berlari dan terus berlari. Terkadang badannya merosot dan berguling, mengikuti kontur tanah yang curam. Tiba-tiba ....


"Aargh...!" Janu menjerit kesakitan saat sesuatu yang panas menyergap pahanya.


Kaki Janu mendadak terasa terbakar dan lemas. Sesaat dia berhenti dan memegang pahanya. Darah telah menembus celana loreng dan membasahi tangannya. Janu meringis kesakitan. Namun dia harus terus berlari. Diseretnya kaki, terpincang-pincang melanjutkan lari.


Sementara kelompok separatis yang mengejarnya semakin dekat. Teriakan-teriakan mereka semakin jelas terdengar. Sekuat tenaga Janu mempercepat larinya. Hingga kemudian dia terperosok ke dalam cekungan tanah yang curam.


Tubuh Janu terguling ke bawah. Berputar-putar menerjang semak belukar yang memenuhi jurang. Sakit dan pedih seluruh tubuhnya. Belum lagi rasa panas di paha.


BYURRR!


Tubuh Janu menghantam permukaan air. Kepalanya terantuk ke batu, membuat kesadaran prajurit itu kembali lenyap.


***


"APA?!" jerit Maira. Tak dipedulikan saat ini dia berada di mana. Kabar yang baru saja disampaikan Komandan telah menohok dengan telak perasaannya.


"Duduk dulu ya, Bu Janu," ajak ibu komandan, menggamit bahunya dan mengajak duduk.


Tanpa diajak pun Maira sudah merasa lemas seluruh persendian. Hampir saja dia terduduk di lantai jika Bu Komandan tak segera memegangi bahunya. Kini mereka berdua duduk di sofa ruangan kantor Komandan.


Mata Maira nanar menatap Komandan. Bibirnya bergetar, tangan gemetar. "B-bagaimana k-kabar suami saya s-sekarang, Pak?" tanyanya terbata-bata.


Komandan berjalan mendekati istrinya dan Maira. Sementara di dekat sofa berdiri berjajar beberapa ibu pengurus PIA dan seorang perwira pembina harian PIA.


"Untuk saat ini masih dalam proses pencarian. Kita doakan saja semoga Serka Janu bisa segera ketemu ya, Bu. Mohon bersabar."

__ADS_1


Maira menutup mulutnya. Dia menggeleng-gelengkan kepala seakan hendak menafikan berita yang baru saja didengar. Namun tak urung tangisnya segera pecah. Dia terisak di pelukan ibu komandan.


"Sabar, ya, Bu Janu. Mari kita doakan sama-sama untuk keselamatan suami bu Janu."


***


Maira keluar dari ruang komandan dengan dipapah Nina. Seluruh badannya terasa lemas. Air mata tak berhenti keluar dari netra. Otaknya terasa beku, tak bisa memikirkan apapun. Rasa sedih dan khawatir menguasai keseluruhan dirinya.


Beberapa ruangan yang dilewati Maira tampak gaduh. Ada jerit tangis dan teriakan-teriakan pilu perempuan yang memanggil-manggil nama seseorang. Semakin ngilu hati Maira mendengarnya. Mereka adalah istri-istri korban penyerangan kelompok separatis di Papua.


"Kita segera pulang saja, ya," bisik Nina di telinga Maira.


Perempuan cantik berwajah sembab itu mengangguk pelan. Dia juga tak mau berlama-lama di tempat yang terasa makin mencekam dan memilukan itu. Dengan masih dipapah Nina, dia bergegas meninggalkan kantor Markas komando.


Mobil dinas kantor mengantar Maira pulang. Nina dan Bu Sapto pun turut menemaninya.


"Sekalian jemput putra Bu Janu di sekolah saja mungkin, ya?" tawar bu Sapto, ketika mereka sudah melaju keluar dari area kantor.


Mendengar itu wajah Maira mendadak tegang. Ingatannya beralih pada Oza.


Oza. Bagaimana dengan Oza jika mendengar ini? Sudah cukup baginya merasakan kehilangan ayah. Apakah harus kembali ... Ah ....


"Ozaaa ...!!!" jeritnya. Tangis perempuan itu kembali pecah. Dia meraung menutup wajah.


Nina segera memeluk tubuh Maira. Bu Sapto mengelus-elus punggungnya.


"Istighfar, Bu Janu, istighfar ...!"


"Astaghfirullah ... Astaghfirullah ...!" Dada Maira tersengal-sengal. Sesaat kemudian dia terkulai di pelukan Nina.


"Mbak, mbak!" Nina menggoyang-goyangkan tubuh Maira. "Ya, Allah, pingsan, ibu!" serunya pada Bu Sapto.


"Astaghfirullah ...." Bu Sapto ikut memegang tubuh Maira yang duduk di antaranya dan Nina. "Om, nggak usah jemput anaknya. Kita langsung pulang ke rumah Bu Janu saja!" perintahnya pada om tentara yang menyetir mobil mereka.


"Siap, Bu."


(bersambung)


// Hai, readers setia. Mohon maaf jika aku tidak selalu bisa membalas komentar2 kalian. Bukan tak mau, tapi sungguh ini karena kesibukanku yang lain. Semoga kalian ridho.


Sekali lagi, mohon tinggalkan like dan komen untuk novel ini. Segala kritik dan saran juga author terima dengan senang hati.

__ADS_1


Terima kasih, semoga kalian selalu sehat dan bahagia. //


__ADS_2