LELAKI PENGGANTI Season 2

LELAKI PENGGANTI Season 2
DILEMA


__ADS_3

//Assalamualaikum, semua!!!


Maaf baru sempat kembali menyapa. Selama dua bulan ini mencoba mengasah kemampuan di berbagai kompetisi menulis. Dengan terpaksa meninggalkan sejenak cerita Bang Janu. Meski cerita ini hanya mendapat level 3 dan menuai recehan saja, insyaallah aku tetap semangat menyelesaikan. Ini demi tanggung jawabku pada kalian pembaca setia.


So ... happy reading! //


...****************...


Baru saja jari pendeta bergerak untuk menyentuh nomor kontak Karina, ketika seseorang datang dan membisikkan sesuatu padanya. Pendeta Andreas bergegas bangkit dan berjalan keluar. Lelaki itu terkesiap saat melihat seorang perempuan berjilbab bersama lelaki berseragam tentara berdiri di samping tenda pelayat. Perempuan itu menyongsong pendeta.


"Pak pendeta, apa kabar?" Dia mengulurkan tangan. Wajahnya menyiratkan rasa gundah.


"M-mbak K-karina?" Dengan gugup pendeta menyambut uluran tangan Karina juga Bayu.


"Pendeta, Bertha?"


Pendeta Andreas mengangguk. "Iya, Mbak, Bertha sudah pergi."


Mata Karina berkilat. Bibirnya bergetar. Tangis perempuan itu pecah. Bayu segera merengkuh bahu istrinya dan mengajak duduk di kursi dalam tenda.


"Kenapa pendeta nggak kabari saya?" tanya Karina di sela tangisnya.


Pendeta tak menjawab.


"Apa yang terjadi dengan Bertha, pendeta. Sakitkah dia?"


Pendeta menggeleng. "Dia mengalami pendarahan hebat sebelum melahirkan, Mbak." Lelaki itu menjeda dengan tarikan napas dalam. "Semua salah saya," desisnya.


Perhatian Karina dan Bayu kini sepenuhnya pada pendeta. Mata mereka menyiratkan rasa ingin tahu.


"Bertha sangat ingin bertemu mas Janu, tapi saya melarang. Sepertinya Bertha tertekan. Sebelum ini, dia sama sekali tak mau bicara dengan saya. Dia marah pada saya."


Karina memegang erat lengan suaminya. Bayu mengelus-elus bahu istrinya.


"Kenapa pendeta melarang? Seandainya pendeta kabari kami, tentu kami akan berusaha bicara dengan mbak Maira dan mas Janu. Bagaimanapun juga Bertha adalah orang yang berjasa menyelamatkan mas Janu."


Pendeta menunduk mendengar ucapan Karina. "Sudah terlambat. Maaf," bisiknya.


"Bagaimana dengan anak Bertha, pak pendeta?" tanya Bayu.


Pendeta Andreas mengangkat wajah, lalu membentuk tanda salib dengan tangan. "Puji Tuhan, bayinya terlahir sehat."


"Alhamdulillah," hampir bersamaan Karina dan Bayu berucap.


"Pendeta, izinkan saya mengabari mbak Maira," mohon Karina kemudian.


Pendeta mengangguk pelan. Lalu Karina mengambil gawai dan mencari nomor kontak kakaknya.


***


Beberapa hari yang lalu, di Jakarta.


Karina tampak duduk di depan Bayu. Suaminya itu sedang menikmati makan siang di meja makan. Sop iga buatan Karina adalah menu favoritnya. Dia tampak tak peduli dengan keberadaan istrinya. Begitu asyik menyuapkan nasi ke mulut.


"Mas!"


"Hem?" jawabnya, masih sambil meloloskan daging dari tulang. Lalu satu suapan besar kembali masuk ke mulutnya.

__ADS_1


"Sepertinya Bertha sudah waktunya melahirkan."


Gerakan Bayu tangan Bayu menyendok nasi mendadak terhenti. Diangkat wajah, menatap istrinya. "Maksudmu apa?"


"Bayinya ... anak itu anak mas Janu, Mas."


Bayu membuang napas. Diletakkan sendoknya di atas piring. "Lalu?"


"Aku kok, jadi merasa nggak nyaman kalau kita hanya berdiam diri saja. Memang benar itu adalah sebuah kesalahan yang tidak disengaja. Kesalahan yang terjadi karena ketidaktahuan. Tapi, apa ya, iya, kita akan lepas tanggung jawab begitu aja?"


Bayu menelan ludah. Lelaki itu terlihat resah. "Aku ngerti perasaanmu, Rin. Aku pun merasa demikian juga. Seperti ada sesuatu yang masih mengganjal." Dia menggenggam tangan istrinya. "Tapi, bukan hak kita untuk campur tangan. Bagaimanapun juga ini menyangkut perasaan mbak Maira. Biarlah mereka berdua yang memutuskan."


Mata Karina berkaca-kaca. Beberapa saat kemudian air mata luruh di pipi.


"Lho, kok, malah nangis?"


Karina menggeleng. "Nggak tahu, Mas, setiap ingat Bertha dan bayinya, perasaanku kok, jadi nelangsa gini, ya?"


Bayu berdiri, menghampiri tempat duduk Karina. Lelaki itu kemudian memeluk istrinya.


"Mas, bayinya kita adopsi saja gimana?" tanya Karina di sela tangis.


Bayu mengurai pelukannya. "Nggak semudah itu, Rin. Pikirkan juga perasaan kakakmu!"


Karina kembali terisak. "Tapi, setidaknya, bisa kan, kita tengok Bertha di Jogja?"


Bayu mengangguk. "Insyaallah akhir minggu nanti, sayang. Kita ke Jogja sekalian nengok bapak ibu."


"Terimakasih, Mas!" Karina memeluk suaminya.


***


"Assalamualaikum, Karina."


"Waalaikumsalam, Mbak. Mbak Mai, aku sekarang di Jogja."


Maira menjawab dengan helaan napas.


"Mbak Mai, Bertha meninggal."


Perempuan itu tersentak hingga ponsel terlepas dari tangannya. Buru-buru dia mengambil kembali benda itu.


"B-b-bertha?" Terbata-bata Maira berkata.


"Iya, Mbak, meninggal waktu melahirkan. Ini kami kebetulan pas datang ke rumah pendeta Andreas. Jenazahnya masih disemayamkan di sini."


"B-bayinya?"


"Alhamdulillah bayinya selamat. Sekarang masih dirawat di rumah sakit."


Seluruh persendian Maira terasa lemas. Kabar itu benar-benar membuatnya terguncang. Bayangan wajah polos Bertha kembali melintas.


Ya Allah ....


"Jadi gimana, Mbak, mas Janu diberitahu nggak?"


Maira tak segera menjawab. Terlalu banyak perasaan berkecamuk di dadanya. Sebuah dilema menghadapi kenyataan yang demikian.

__ADS_1


"Mbak?"


"Biar aku saja yang bicara ke mas Janu, Rin," jawabnya lemah.


Entah sikap apa yang akan dia ambil. Memberitahu Janu, membiarkan lelaki itu kembali pada masa lalu, sanggupkah? Tidak memberitahu, membiarkan semua berlalu begitu saja seperti tak ada apa-apa, tegakah?


Tidak!


Maura menggeleng kuat-kuat. Diremasnya gulungan benang di atas meja.


Mas Janu bisa kembali pada kami karena perempuan itu. Seharusnya aku berhutang budi padanya. Kenapa selama ini aku begitu egois dan kejam? Kenapa tidak dari awal kubiarkan mas Janu memperbaiki kesalahannya pada Bertha?


Maira meloncat dari duduknya. Dia lalu menyambar kunci mobil dari atas rak.


"Teh Lina, aku nitip Hanin sebentar!" serunya sambil berlari menuju garasi.


Tak berapa lama dia sudah melaju menuju kantor Janu. Masih satu jam lagi waktu istirahat siang. Maira tak sabar kalau hanya harus menunggu suaminya di rumah. Sepertinya dia takut keputusan yang sudah dia buat mendadak kembali berubah.


"Om Untung, izin aku mau ketemu mas Janu!" kata Maira, begitu tiba di depan piket jaga.


Kebetulan hari ini Serka Untung, letting suaminya yang berjaga. Lelaki itu terperangah melihat kedatangan Maira yang terlihat sangat buru-buru.


"Ada apa? Nggak ada masalah, kan?"


Maira menggeleng. "Nggak ada apa-apa, Om. Hanya ada yang perlu disampaikan ke mas Jani segera."


"Oke. Kalau begitu mbak Maira tunggu di lobi kantor saja, ya!"


"Jangan, Om, biar aku tunggu di kantin saja!"


Serka Untung hanya mengangkat bahu. "Ya, sudah. Aku telepon Janu dulu, ya. Dia mungkin masih di ruangannya."


"Aku tunggu di kantin ya, Om!"


Serka Untung mengangguk.


Suasan di kantin masih sepi. Belum masuk jam makan siang sehingga belum ada personel yang datang. Maura mengambil tempat duduk di sudut ruangan. Dia tampak gelisah, sesekali memutar-mutar gelas minumnya.


Tidak berapa lama tampak Janu berjalan menuju kantin. Lelaki itu melambaikan tangan pada istrinya sambil tersenyum lebar.


"Ada apa, nih, kok, tumben nyusul? Kangen, ya?"


Maira tak menanggapi gurauan Janu. Bahkan senyum pun tak tampak di raut wajahnya yang mendadak kaku.


Janu mengernyitkan kening, merasa ada sesuatu yang tak beres dengan istrinya. "Nggak ada apa-apa kan, Yang?" tanyanya memastikan.


"Mas," ucap Maira parau. "Ada kabar dari Jogja."


Janu agak terkejut melihat ekspresi sedih di wajah Maira. "Ada apa, Sayang? Bapak ibu kenapa?"


"Bukan bapak ibu, tapi Bertha."


Hampir saja Janu terlompat dari duduknya. "Bertha?"


// Nah looo! Gimana tuh, reaksi Bang Janu mendengar berita tentang Bertha?


Sabar yee, besok kite lanjut lagi.

__ADS_1


Terima kasih sudah berkenan baca, like n komen.


I love u all! //


__ADS_2