
Bahkan hati yang sudah tertata rapi bisa porak poranda oleh tajamnya kata-kata.
"Aku harus jawab apa, Mas?" tanya Maira pada Janu malam itu. Pertanyaan-pertanyaan nyinyir tetangga mulai membuatnya gerah. Mereka heran dengan keberadaan Lian di keluarga itu. Apalagi ciri fisik Lian sangat berbeda dengan keluarga Maira.
Janu menarik napas panjang. Dia mengalihkan pandang pada boks bayi tempat Lian tidur. "Aku jauh dari kata pantas untuk menyarankan kamu harus menjawab apa, Dik. Tetapi kalau aku sendiri yang ditanya, maka dengan ksatria akan kuakui bahwa anak itu bagian dari kesalahanku di masa lalu."
"Nggak, Mas!" sahut Maira cepat. "Aku nggak akan pernah menjawab seperti itu! Kamu pun jangan! Sebagai istri, aku harus bisa menutup aib suami. Nggak akan sedikit pun kuungkap identitas Lian sebenarnya."
Janu menyentuh bahu Maira yang duduk di sebelahnya. "Kalau begitu, tentukan sendiri jawaban yang membuatmu nyaman, Sayang. Aku akan selalu mendukung apa pun keputusanmu."
Begitulah kemudian yang dilakukan Maira. Dia sudah menyiapkan jawaban untuk setiap pertanyaan tentang Lian.
"Dia anak saudara. Ibunya sudah meninggal dan ayahnya menghilang."
Bohong?
Tidak seratus persen 'iya'. Bertha--ibu Lian-- memang sudah meninggal, sedangkan Batu--ayah Lian--memang sudah hilang. Yang ada sekarang Janu, suami Maira.
"Tapi kok, wajahnya kayak orang timur gini, ya? Emangnya orang tua bayi ini dari Indonesia timur?" Dewi--istri Serka Andre--penasaran. Di antara ibu-ibu yang berkumpul untuk olahraga bersama di lapangan voli pagi ini, dia terlihat paling antusias.
Maira mengangguk. Dia kemudian agak menyesal karena hari ini mengajak Lian ke kantor. Tetapi itu terpaksa dilakukan karena teh Lina di rumah, disibukkan oleh Hanin yang agak panas badannya. Sementara ibunya sudah pulang ke Jogja beberapa hari yang lalu.
"Yang saudara Bu Janu bapaknya atau ibunya?" Dewi semakin penasaran.
"Bapaknya."
"Berarti yang dari Indonesia timur ibunya?"
Sekali lagi Maira mengangguk. Dalam hati menggerutu, kenapa Dewi tidak berhenti bertanya saja.
"Dari Papua, ya?"
Deg!
Pertanyaan Dewi terakhir membuat jantungnya berdebar keras. Apalagi dilihat ada seringai aneh di bibir Dewi.
Mungkinkah dia tahu?
"Mbak Maira, yuk, ikut aku sebentar ke kantor PIA!" tiba-tiba Nina mendekat, menggamit lengannya. "Sini aku dorong keretanya Lian!" Dia lalu mengambil alih kereta bayi Lian lalu berjalan meninggalkan tempat itu diikuti Maira.
"Ada apa, Mbak Nina?" tanya Maira, ketika sudah berada di depan kantor PIA. Mereka berdua duduk di kursi taman depan kantor
"Nggak ada apa-apa, cuma biar jauh aja dari si mulut ember itu!"
__ADS_1
"Oh," Maira tertegun.
Nina memang selalu tahu situasi Maira. Dia teman yang paling pengertian.
"Mbak Nina nggak ikut penasaran dengan Lian?" tanya Maira, hati-hati. Dilihatnya temannya itu menghela napas. "Apa memang selama ini keberadaan Lian sudah santer mereka gunjingkan, Mbak?"
Nina memegang bahu Maira. "Sudahlah, nggak usah terlalu dipikirkan!"
Maira sudah lama berteman dengan Nina. Dari gestur tubuh dan raut muka sahabatnya, dia tahu ada sesuatu yang disembunyikan Nina.
"Mbak Nina, apa sebenarnya kalian tahu mengenai Lian?" Maira memberanikan diri bertanya.
Tiba-tiba Nina memeluknya.
"Ada apa ini, Mbak?" Maira mengurai pelukan itu. "Kenapa Mbak Nina nangis?"
Buru-buru Nina menyusut air mata yang menggenang. Lalu dia menggeleng. "Nggak, nggak apa-apa!"
"Jangan bohong, Mbak, pasti ada sesuatu yang kamu sembunyikan dari aku!"
Nina menunduk, menghindari tatapan Maira. Tetapi sahabatnya itu mencengkeram lengannya.
"Mbak, katakan, ada apa?"
"M-maaf, mbak Maira," lirih dan terbata Nina berucap. "Sebenarnya ... sebenarnya sebagian dari kami tahu tentang siapa itu Lian."
Nina memeluk Maira yang masih terpana. "Sabar, Mbak Mai, kamu harus kuat, Sayang!" bisiknya di telinga Maira.
"J-jadi ...."
"Tidak apa, kami justru salut dengan tindakanmu. Kamu perempuan hebat. Seribu satu orang sepertimu."
Maira tak bereaksi apa-apa. Matanya masih nanap menatap kosong ke depan. Tangannya tak juga bergerak membalas pelukan Nina. Setelah beberapa waktu berselang, dia melepas pelukan Nina. Lalu perempuan itu beranjak berdiri dan berjalan gontai menuju kereta bayi Lian. Tak dipedulikan Nina yang berteriak memanggil namanya. Maira tetap berjalan menuju ke arah gerbang kantor. Dia pulang sambil mendorong kereta bayi Lian, tanpa berkata-kata.
***
"Dik, sudahlah!" hibur Janu sambil mengusap punggung Maira. Perempuan itu masih menyembunyikan wajah diantara lutut. Bahunya tersengal menahan isak.
"Jangan terlalu dipikirkan semua perkataan mereka!"
Maira mangangkat wajahnya. "Tapi dari mana mereka tahu, Mas? Bukankah selama ini para petinggi itu meredam peristiwa yang dialami mas Janu di Papua?"
Janu menarik napas dalam. "Anggota pasukan di Papua banyak. Tidak semua bisa merahasiakan berita. Sudahlah, kita terima saja kenyataan ini. Aku sendiri sudah siap dengan segala konsekwensinya."
__ADS_1
"Tapi aku malu, Mas. Aku merasa seperti orang bodoh yang terlihat bahagia, sementara orang-orang sibuk menilai tentang tindakanku yang mereka anggap aneh, di belakangku."
"Yang seharusnya malu aku, Dik. Yang seharusnya hilang muka, aku. Tetapi aku sadar itu adalah buah dari apa yang kulakukan. Kuanggap itu sanksi sosial yang harus kujalani."
Maira semakin tergugu.
"Mengenai kamu, aku yakin jika mereka bijak, justru akan memuji tindakan muliamu. Jangan pernah takut atau pun malu!"
Maira menggeleng. "Bagiku, aib suami adalah aibku juga, Mas!"
Lelaki itu tercenung. Sejurus kemudian direngkuh istrinya dalam pelukan. "Kuatkan dirimu untuk menghadapi ini, Sayang!" bisiknya di telinga Maira.
Namun, sekuat apa pun seorang Maira, ada saat dimana dia merasa terpuruk. Semakin banyak yang bertanya tentang Lian, semakin sering orang-orang mempertanyakan keikhlasannya, luka itu justru semakin terkuak.
"Bu Janu, Masyaallah, kok, bisa sih, sampeyan begitu ikhlas menerima anaknya om Janu?" Bu Hendra--seniornya di komplek rumah dinas--menyapa Maira pagi itu. Mereka sedang belanja sayur di tukang sayur langganan.
Maira tertegun. Tangannya yang sedang memilih tomat berhenti sesaat.
"Iya, ya, kalau saya mah, udah gak akan sanggup, meureun," timpal Bu Asep.
"Eh, ngomong-ngomong, gimana perasaan Bu Janu kalau lihat bayi itu? Ada perasaan gimanaa ... gitu ngga?" Bu Hendy ikut nimbrung.
Ah, tidak bisakah mereka membiarkan semua ini berjalan begitu saja? Tidak bisakah mereka mendukung dalam diam?
"Iya, ih. Kalau saya, mah, meureun gak akan mau menyusui bayi itu. Pasti rasanya jijik, marah, kecewa!"
"Lagian, kok, bisa ya, om Janu yang alim menanam benih ke perempuan lain."
"Ho oh, padahal pasti cantikan Bu Janu kemana-mana. Orang sana pasti hitam, keriting, dan ... Ih, nggak bisa bayangin, dech!"
Maira menarik napas dalam. Ingin rasanya saat ini menutup telinga rapat-rapat. Dia lalu berpaling pada tukang sayur. "Berapa semuanya, Mang?" Tidak diindahkan percakapan ibu-ibu barusan.
Setelah membayar belanjaan, Maira mengangguk pada ibu-ibu yang masih mengelilingi tukang sayur. "Izin, ibu-ibu, saya duluan, ya!"
Maira tahu, seiring langkahnya kembali ke rumah, mereka pasti akan semakin seru menggunjingkan keluarganya. Perempuan itu mempercepat langkah. Sampai di rumah, diletakkan belanjaan di dapur. Tak dipedulikan tatapan heran teh Lina yang mengetahui matanya sedikit sembab. Maira segera berlari masuk kamar.
Di dalam boks bayi, dilihatnya Lian terbangun. Bayi itu merengek, sepertinya haus. Maira hanya menatapnya nanar. Bahkan hingga Lian menangis, dia tetap bergeming. Tak sedikitpun tangannya bergerak untuk mengangkat bayi itu.
Tok tok tok!
"Ibu, Ibu, dedek Lian kenapa?"
Teriakan teh Lina dari luar kamar menyentak Maira. Buru-buru perempuan itu mengangkat Lian dan menggendongnya. Dia lalu membuka pintu kamar dan menyerahkan Lian pada teh Lina.
__ADS_1
"Tolong, Teh, saya agak pusing!"
Lalu dia kembali menutup kamar. Berbaring di tempat tidur sambil mengeloni Hanin. Air mata Maira kembali mengalir.