
Kenyataan tak sesuai yang diharapkan Maira. Bu Kusno pulang dengan wajah lusuh, ditekuk. Perempuan itu termangu saat Maira menyambutnya. Dia langsung beranjak masuk kamar. Tidak keluar lagi hingga Maghrib menjelang.
Malam harinya, saat anak-anak sudah tidur, pak Kusno mengajak Maira ke ruang tengah. Di sana Bu Kusno juga sudah menunggu.
"Duduklah. Ada yang ingin kami bicarakan!" ujar Pak Kusno.
Maira mengambil tempat duduk di depan mereka. Wajahnya menyiratkan kekhawatiran.
"Mai," pak Kusno membuka suara. "Apa ndak sebaiknya Janu segera kita bawa pulang saja."
Maira terhenyak. "Tapi, Pak ...!"
"Kata dokter, proses pengembalian ingatan Janu akan lebih cepat jika dia berada di lingkungannya dulu. Dan lagi, kondisi fisiknya juga sudah bagus."
"Bapak tahu dari mana?"
"Tadi bapak dari kantor nyusul ibumu ke rumah sakit. Kami ngobrol-ngobrol dengan dokter yang menangani Janu."
Maira tercenung. Mungkin jika tak ada nama Bertha antara mereka, dengan suka cita Maira akan mengiyakan saran dokter yang disampaikan lewat pak Kusno itu. Tapi sekarang lain cerita. Rasanya gamang untuk kembali dekat dengan lelaki itu.
"Besok saja kita bawa Janu pulang, ya!" Bu Kusno ikut bicara.
Maira mengangkat wajah. "J-jangan dulu, Bu!" Terbata-bata dia mencegah.
"Kenapa?" Pak Kusno mengerutkan kening.
Anak perempuannya itu tak menjawab. Dia hanya termangu sambil memilin-milin ujung baju.
"Apa karena Bertha?"
Pertanyaan Bu Kusno membuat Maira serasa terlempar. Dia kembali mengangkat wajah. Kedua bola matanya membulat, menatap ibunya.
"Dari mana ibu tahu?!"
"Kami tadi bertemu dan bicara banyak dengan pendeta Andreas di rumah sakit," ujar pak Kusno, hati-hati.
"Pendeta Andreas?!" Maira semakin terkejut. "A-apakah ... Apakah dia bertemu mas Janu juga?" tanyanya penuh kekhawatiran.
Pak Kusno menggeleng. "Dia memang tidak bermaksud menemui Janu. Dia ke rumah sakit karena ingin ketemu keluarga Janu. Beruntung ibu dan mertuamu pas kesana. Lalu, aku ditelepon ibumu, disuruh nyusul kesana."
"Ohh." Maira menghembuskan napas lega.
"Kami sudah tahu semuanya, Mai," lanjut pak Kusno dengan suara bergetar.
__ADS_1
Setitik air mata mulai jatuh di pipi Maira. Perempuan itu merebahkan punggung di sandaran kursi. Jiwanya terasa lelah.
"Kami membahas banyak hal dengan pendeta Andreas. Tentang Bertha, Janu dan kamu."
Pak Kusno mengambil napas dalam, dan menghembusnya. "Apakah kamu sudah mempunyai keputusan, Mai?"
Maira menegakkan badan, lalu menggeleng lemah. "Pertanyaan yang sama untuk bapak. Apa hasil pembicaraan kalian tentang kami? Hal apa kira-kira yang harus aku lakukan, Pak?" tanya Maira. Perempuan itu mulai terisak. "Aku sendiri masih bingung dengan semua masalah yang menimpaku ini, Pak. Bahkan kalau bisa, aku ingin lenyap saja agar tak merasakan semua ini!" Maira mulai putus asa.
"Istighfar, Mai, istighfar!" seru Bu Kusno. Perempuan itu bangkit dan menghampiri Maira. Dia duduk di sebelah anaknya, mengelus-elus pundak Maira. "Ingat, tanggungjawabmu sekarang bukan hanya dirimu sendiri. Tapi juga anak-anakmu!"
"Astaghfirullah!" pekik tertahan Maira. Dia menangis di pelukan ibunya.
"Maira, satu hal yang harus kamu ingat, Allah tidak akan pernah memberi cobaan di luar batas kemampuan hambanya," ucap Pak Kusno, setelah tangis Maira mereda. "Insyaallah kamu bisa menjalani semua ini. Kamu istimewa. Banyak ujian yang telah diberikan padamu, dan kamu bisa melaluinya dengan sangat baik. Bapak yakin, ujian kali ini pun kamu akan mampu menghadapinya."
"T-tapi ini sangat berat, Pak. Tidak hanya menyangkut diriku dan mas Janu saja. Ada Bertha dan calon bayinya ...." Kata-kata Maira terputus oleh isak tangisnya kembali.
Pak Kusno menghela napas. "Mengenai itu, kami tadi sudah berdiskusi dengan pendeta Andreas. Beliau berkata bahwa setelah melahirkan nanti, Bertha akan sepenuhnya mengabdi pada gereja. Kemungkinan dia akan menjadi biarawati."
"Biarawati?!" Maira tersentak. "Itu keputusan siapa, Pak? Setahuku Bertha tak bisa bicara dan pengetahuannya juga tak luas. Dia berasal dari suku terasing yang tidak mengenal pendidikan formal. Dari mana dia bisa memutuskan seperti itu?"
"Memang, yang mengatakan itu hanya pendeta Andreas saja. Kami belum bertemu dengan Bertha sendiri. Kalau pun bertemu, pasti akan sulit berkomunikasi dengannya."
"Aku nggak mau kita seperti mendzolimi nasib orang lain, Pak. Meski aku sangat berharap mas Janu kembali pada kami, tapi aku nggak bisa mengesampingkan nasib Bertha!" tegas Maira.
Maira tercenung. Kepalanya terasa penuh. Dadanya sesak oleh derita. Rasanya benar-benar ingin tenggelam sedalam-dalamnya ke dasar bumi, tanpa tersentuh masalah lagi.
"Buatlah keputusan terbaikmu, Mai. Demi dirimu, anak-anakmu, Janu dan Bertha," ujar pak Kusno. "Mintalah petunjuk pada Allah, karena Dia sebaik-baiknya tempat untuk meminta."
Beberapa saat kemudian Maira menghela napas. Lalu, "Aku akan memutuskan setelah bertemu dengan Bertha!" jawabnya dengan suara bergetar.
***
Hari berganti hari, namun tak ada satu keputusan pun yang diberikan Maira. Perempuan itu menjalani hari yang berat dengan menanggung derita. Orang tuanya sengaja tidak menanyakan apa pun mengenai Janu, agar bebannya tak bertambah berat.
Kapten Rian beberapa kali menghubungi lewat pesan WhatsApp atau pun telepon. Sekedar menanyakan kabar dan kesehatannya. Terkadang lelaki itu juga sukarela mendengarkan curhatan panjang Maira.
Sementara Janu masih di rumah sakit. Maira tak pernah lagi menjenguknya semenjak tahu tentang Bertha. Hanya Bu Kusno dan Bu Hartini yang sesekali pergi ke sana.
"Mai, ini sudah hampir seminggu kamu ndak ke rumah sakit, lho?" tegur Bu Kusno.
Maira tak menjawab. Dia pura-pura sibuk melipat baju-baju Hanin.
"Kasihan Janu," lanjut ibunya. "Kemarin pas ibu ke sana, dia tampak semakin kurus. Rasanya ibu juga ndak tega lihat dia seperti orang bingung."
__ADS_1
Bu Kusno duduk di sebelah Maira. Disentuh tangan anak sulungnya itu. "Dia butuh kamu, Mai. Dia butuh orang yang dulu sangat dekat dan bisa mengembalikan ingatannya."
Maira menghela napas. "Dia butuh Bertha, Bu!"
"Mai!" hardik Bu Kusno. "Kamu bahkan belum membuat keputusan apa pun. Kenapa sekarang ngomongmu seperti itu? Seolah-olah kamu sudah siap melepas Janu. Apakah benar seperti itu, Mai?"
Maira tercenung.
"Bahkan sampai sekarang pun kamu belum menemui Bertha!"
"Apa memang kamu ingin berpisah dengan Janu? Bagaimana nasib anak-anakmu? Bagaimana nasibmu nanti?"
Bertubi-tubi Bu Kusno menumpahkan emosi hati. Perempuan itu sebenarnya gemas dengan sikap Maira. Dia ingin Maira bangkit dan memperjuangkan suaminya. Atau setidaknya segera memberi keputusan tegas agar statusnya tak menggantung. Bu Kusno yakin, meski berpisah dengan Janu, Maira akan segera menemukan jodohnya kembali.
"Atau ... atau karena kapten Rian kamu jadi begini?"
"Bu!" pekik Maira. "Kenapa ibu membawa- bawa namanya?" Maira menatap tajam ibunya.
"Ibu tahu dia menyukaimu, Mai."
"Bu, sebaiknya jangan membuka masalah lain, sementara masalah yang satu ini pun belum selesai!"
Bu Kusno menelan ludah. "M-maksud ibu ... jika memang kamu mau mengganti posisi Janu di hatimu, lakukan segera. Ibu hanya ndak ingin statusmu menggantung seperti ini."
"Ibu!" sekali lagi maira agak meninggikan suara. "Jangan pernah lagi ibu berbicara seperti ini. Kapten Rian itu kuanggap sebagai teman. Dia sudah banyak membantuku. Aku nggak mau melibatkan dia terlalu jauh!" tegas Maira. "Dia berhak mendapatkan perempuan yang lebih baik dariku!"
Bu Kusno menghela napas. "Terserah kamu, Mai," ucapnya sambil berdiri. "Ibu harap, kamu segera memutuskan. Jenguk Janu, temui Bertha. Hadapi semua ini dengan kegagahanmu sebagai perempuan!"
"Jika memang kamu sudah ndak bisa menerima Janu, putuskan dengan segera, jangan menggantung. Ibu yakin kamu bisa segera menemukan jodohmu kembali." Bu Kusno beranjak melangkah keluar kamar. Di ambang pintu dia berbalik. "Kapten Rian, misalnya ...."
"BU!"
Kejengkelan Maira benar-benar di ujung kepala. Jika bukan orang tua yang harus dihormati, tentu saja amarahnya sudah meluap.
Dikira jodoh itu sudah semacam tali jemuran. Putus, bisa langsung sambung dengan tali lainnya!
(bersambung)
// Naah ..., makin bingung kan?
Ga usah bingung, biar author nya aja yg bingung. 😁😁😁
Makasih udah mampir. Jangan lupa sedekah like, komen dan vote nya 🙏🙏🙏 //
__ADS_1