LELAKI PENGGANTI Season 2

LELAKI PENGGANTI Season 2
RASA YANG SALAH


__ADS_3

...Tuhan, jika ini rasa yang tabu, izinkan dia lepas dari hatiku....


Kapten Rian melajukan mobilnya pelan. Ini yang keempat kali dia lewat di depan rumah berhalaman luas itu. Dia menoleh ke arah rumah. Dari balik kaca mobil, tampak Bu Kusno dan seorang perempuan muda.


Ah, di mana dia?


Kapten Rian kembali urung menghentikan mobilnya. Dia terus melaju melewati rumah itu. Hingga di belokan depan, dia injak remnya. Untuk sesaat lelaki itu termangu di belakang setir.


Konyol! Kenapa aku jadi bodoh begini, sih?


Dia memukul setir mobil. Napasnya mendengus kasar. Lalu setelah menegakkan badan, dia belokkan mobil sekali lagi, dan mulai melaju pelan ke arah rumah Bu Kusno. Kali ini dia tak hanya melewati, tapi membelokkan mobil masuk ke halaman rumah Bu Kusno.


"Lhoh, Kapten Rian?" seru Bu Kusno, kaget melihat siapa yang turun dari mobil Fortuner putih itu.


Kapten Rian mengangguk, mengumbar senyum. "Iya, Bu." Disalaminya Bu Kusno. "Apa kabar?"


"Alhamdulillah, baik. Kok, tahu rumah kami, Pak?"


"Kan, ibu sendiri yang memberi alamatnya?"


"O iya, ya. Tadi langsung ketemu atau pakai nanya-nanya, Pak?"


Kapten Rian tersenyum simpul. " Langsung ketemu, Bu."


Padahal bukan hari ini saja dia berkunjung ke desa itu. Beberapa hari lalu dia sudah mencari alamat Bu Kusno, bertanya kesana kemari. Namun ketika tiba di depan rumah itu, dia kehilangan nyali. Baru kali ini dia benar-benar nekad datang, setelah empat kali hilir mudik saja di jalan depan rumah.


"Kalau begitu ayo masuk dulu!" Bu Kusno mempersilahkan. Namun dia urung melangkah saat Karina menggamit lengannya.


"Oh, iya, ini perkenalkan adiknya Maira, Pak." Bu Kusno menepuk bahu Karina yang ada di sampingnya.


"Adik Bu Janu? Ah, ya, perkenalkan saya Riantama, teman SMP Bu Janu dulu." Kapten Rian mengulurkan tangannya.


"Karina," sahut Karina pendek, sambil menyambut uluran tangan Kapten Rian.


"Ya, sudah, ayo kita masuk dulu!" Bu Kusno kembali mempersilahkan tamunya.


Maira yang sedang melipat popok baby Hanin terhenyak saat Karina masuk kamar dan memberi tahu ada kapten Rian.


"Hah! Kapten Rian?"


Karina mengangguk. "Kok, dia kesini ada apa, Mbak?" selidiknya.


Maira hanya mengangkat bahu.

__ADS_1


"Katanya dulu dia teman SMP mbak?"


"Iya. Dan kemarin secara kebetulan dia juga yang membantu mendonorkan darahnya untuk mbak."


"Kok, bisa?"


"Tanya saja ibu, gimana ceritanya."


Karina mengernyitkan kening.


"Ya, sudah, mbak tak keluar dulu, ya. Nggak enak kalau nggak menyambutnya. Secara kemarin dia kan, yang menolong menyelamatkan nyawa mbak."


Karina menyeringai tak suka. "Iyaa ...!"


"Nitip Hanin, ya!" ujar Maira sambil membenahi jilbab. Tak begitu diperhatikan kegusaran Karina. Perempuan itu segera keluar kamar.


"Eh, kapten Rian, sudah lama datang?" sapa Maira pada lelaki berseragam yang duduk di depan bapak ibunya.


Kapten Rian menengadahkan muka. Sejenak raut wajahnya menegang. "B-belum. Apa kabar, Bu Janu?" Lelaki itu berdiri canggung, mengulurkan tangan pada Maira.


"Alhamdulillah baik, Pak." Maira menyambutnya.


"Bagaimana si kecil, sehat?" Kapten Rian sudah bisa menguasai keadaan.


"Sehat, Pak." Maira kemudian mengambil tempat duduk di sebelah ibunya.


"Biar Mai saja, Bu." Maira bergegas berdiri. Tanpa menunggu persetujuan ibunya, dia meninggalkan mereka bertiga, diiringi hembusan napas panjang Kapten Rian.


Kunjungan pertama kapten Rian kemudian diikuti kunjungan-kunjungan berikutnya. Lelaki itu seakan tak bisa menahan keinginan untuk sekedar melihat Maira. Meski ketika sampai di rumah itu, hanya pak Kusno dan Bu Kusno yang menemani ngobrol. Maira paling hanya keluar sebentar untuk menyapa dan membuatkan minum. Selebihnya kapten Rian menghabiskan waktu dengan orang tua Maira sampai waktunya pamit tiba.


Apakah cinta mampu membuat akal pikiran seseorang merosot drastis ke titik terendah?


***


Di hutan pedalaman Papua, hujan mengguyur sejak pagi tadi. Batu menggelung tubuh di atas tempat tidurnya. Sementara bidadari hitam sibuk mengaduk isi periuk tanah yang dijerang di atas api unggun.


"Krrr...agh...em ... Uh ...!" racau bidadari hitam sambil tetap sibuk dengan sendok kayu dan periuknya.


Dari tempat dia tidur, Batu hanya menatap gadis berkulit gelap itu. Senyum terulas di bibirnya saat melihat bidadari hitam dengan gesit bergerak kesana kemari mengambil sesuatu, memasukkan dalam periuk dan mengaduknya. Sementara racauan tak berhenti keluar dari mulutnya.


Batu bangkit, berjalan menghampiri bidadari hitam. Dia berdiri tepat di belakang gadis itu. Dipegangnya tangan bidadari hitam yang sibuk mengaduk. Membuat gerakan tangan gadis itu berhenti mendadak. Lalu dirapatkan tubuhnya ke tubuh bidadari hitam, hingga bibirnya menyentuh tengkuk gadis itu.


"Aah ...!" Batu memejamkan mata. Tiba-tiba dadanya berdegup kencang. Dia seperti diingatkan pada sesuatu yang indah dan hangat.

__ADS_1


Dilepaskannya sendok kayu yang dipegang bidadari hitam. Tangan itu sekarang digenggamnya erat. Bibir Janu mulai menelusuri tengkuk gadis itu.


Bidadari hitam terpekik pelan saat Batu membalikkan tubuhnya menghadap ke lelaki itu. "Taa ... aargh ... !"


"Tidak!" Batu tersentak. Dilepaskan pelukannya pada tubuh bidadari hitam. Lalu lelaki itu segera beranjak kembali ke lempengan batu tempat tidurnya.


Bidadari hitam terpana menatap Batu. Gadis itu bergetar bibirnya. Ada selaput bening di hitam matanya.


Sementara Batu, kembali menggelung tubuh, menghadap dinding, tanpa suara.


***


Siang itu, kapten Rian tampak duduk di teras masjid. Dia baru saja menunaikan sholat dhuhur di masjid komplek rumah sakit. Di sampingnya seorang lelaki berseragam biru langit seperti dirinya, dengan peci putih di kepala, duduk menyandar di tiang teras.


"Sudah antum pikir baik-baik?" tanya lelaki berpeci itu.


Kapten Rian menghela napas. "Habis mau gimana lagi, tadz. Aku nggak bisa membohongi perasaan."


Ustadz Yusuf yang juga seorang anggota TNI itu menegakkan tubuh. Tangannya terulur menepuk bahu Kapten Rian. "Perempuan yang antum cintai itu masih punya suami. Dalam hal ini status suaminya mafqud atau hilang tanpa diketahui jejak dan kabar beritanya."


Kapten Rian mengangkat wajah. Pandangan matanya menyiratkan rasa antusias. "Secara hukum Islam, status istrinya gimana tuh, Tadz?"


"Itu dia. Ada banyak pendapat mengenai masa tunggu istri yang suaminya mafqud. Ada yang bilang satu tahun, ada yang bilang empat tahun di tambah masa iddah empat bulan sepuluh hari, bahkan ada yang berpendapat seorang istri yang suaminya mafqud tidak boleh menikah lagi sebelum ada kejelasan mengenai kondisi suaminya."


"Nah, dari pendapat-pendapat itu, mana yang paling sahih, Tadz?"


Ustadz Yusuf mengerutkan kening. "Begini, dalam sistem hukum kita ada yang namanya Kompilasi Hukum Islam. Kitab ini menjadi pegangan hakim dalam memutuskan suatu masalah di peradilan agama. Setahuku, berkaitan dengan status istri yang suaminya mafqud, di kitab itu dikatakan bahwa perceraian bisa terjadi jika salah satu pihak meninggalkan pihak lain dalam kurun waktu dua tahun berturut-turut tanpa kabar berita."


"Dua tahun?" desis kapten Rian.


"Itu yang tercantum di sana. Tapi tentu saja segala keputusan tergantung kebijakan hakim berdasarkan pada sumber-sumber hukum Islam yang lain juga. Yang jelas, menurutku menginginkan perempuan yang status suaminya mafqud, itu seperti berharap sesuatu yang gak jelas."


Sekali lagi kapten Rian menghembuskan napas berat.


"Kalau boleh kusarankan, sebaiknya antum lupakan saja perasaan itu. Antum ini cakep, keren, masih muda lagi. Tentunya masih banyak perempuan yang dengan ikhlas mau menerima lamaran antum." Ustadz Yusuf terkekeh sambil menepuk-nepuk bahu kapten tampan di sebelahnya.


Kapten Rian hanya tersenyum getir.


Melupakan perasaan itu tak semudah menghapus tulisan di atas kertas.


Sementara itu, tiga bulan pasca hilangnya Janu, suasana di dalam goa di hutan pedalaman Papua memanas. Batu tak sanggup lagi menahan hasrat manusiawinya. Nyala api unggun menjadi saksi keliarannya menyatukan diri dengan bidadari hitam.


(bersambung)

__ADS_1


// Maaf telat up nya. Jujur author agak menghabiskan waktu untuk riset mengenai istri yang suaminya hilang secara hukum Islam. Apa yang author tulis berdasarkan persepsi author tentang apa yang telah dibaca author. Jika ada pembaca yang mempunyai pandangan lain, author sangat berterima kasih kalau pembaca mau sharing di sini. Saling berbagi ilmu itu baik.


Sekali lagi terima kasih sudah mampir. Jangan lupa untuk tinggalkan like, komen dan votenya....❤️❤️❤️ //


__ADS_2