
Maira memutuskan untuk menginap di Jakarta. Seharian dia menunggui Karina. Oza ditemani pratu Haris pulang ke rumah dinas Bayu, istirahat di sana
"Sebaiknya kamu juga istirahat dulu ke rumahku!" saran Bayu.
Maira menolak. Dia benar-benar ingin berada di dekat adik semata wayangnya itu. Melayani, menemani, dan mengajak cerita saat Karina terbangun. Dia ingin menebus kesalahan karena baru sekarang tahu penderitaan Karina oleh sebab sakitnya.
Atas saran Maira, bapak dan ibu mereka akhirnya diberitahu juga oleh Bayu. Pak Kusno dan istrinya sangat terkejut. Mereka menangis mendengar kabar menyedihkan itu. Tanpa menunggu lama, mereka segera memutuskan untuk berangkat ke Jakarta.
"Malam ini kamu tidur di rumahku saja," kata Bayu saat hari semakin sore.
"Aku nunggu di sini saja!" Maira yang dari tadi masih duduk di sebelah bed Karina menjawab, tanpa menoleh pada Bayu. Tangannya masih asyik mengelus-elus lengan Karina. Adiknya itu tampak lelap dan nyaman karena keberadaan Maira di sebelahnya.
"Jangan!" sergah Bayu. "Kamu juga harus mikirin anak yang di perutmu. Kasihan dia kalau kamu ajak nginep di rumah sakit."
Maira tertegun. Sesaat lalu dia lupa jika sedang mengandung. Kesedihan dan kekhawatiran melihat kondisi Karina menyita kesadarannya. Dielus perutnya yang sudah tampak membesar.
"Dan lagi, besok kalau bapak ibu datang, biar ada yang melayani di rumah. Sekarang biar kutelepon Haris untuk jemput kamu."
Maira mengalah. Setelah Karina bangun, dia pamitan pada adiknya untuk istirahat di rumah dinas mereka. Diciumnya kening Karina.
"Aku pulang dulu, ya," bisik Maira.
Karina mengangguk. Senyumnya terkembang. Wajah yang tadi siang tampak pucat itu sekarang sudah lebih cerah. "S-salam buat Oza, ya," ucapnya lirih.
Malam itu Maira dan Oza menginap di rumah Bayu. Pratu Haris lebih memilih tidur di barak remaja bersama temannya yang berdinas di lanud Halim Perdanakusuma. Prajurit muda itu merasa tak enak jika harus menginap serumah dengan istri seniornya.
Paginya bapak dan ibu Maira datang dengan taksi online. Menjelang subuh tadi mereka sampai di stasiun. Mereka langsung menumpahkan kesedihan di hadapan Maira. Bu Kusno menangis tersedu-sedu di pelukan Maira. Pak Kusno terduduk di sofa sambil menutup wajahnya.
"Sabar, pak, Bu," hibur Maira lirih.
"Kok, bisa to, Mai?" tanya Bu Kusno di sela tangisnya.
"Ya, namanya penyakit ya, bisa saja to, Bu."
"Sejak kapan dia sakit itu?"
Maira menghela nafas. Diajak ibunya duduk di sebelah bapaknya. "Sudah cukup lama dia tahu penyakitnya. Dari sebelum menikah. Cuma selama ini dia merahasiakan dari Bayu dan kita."
"Ah, anak itu ...," keluh Bu Kusno. "Terus kemungkinannya gimana, Mai?"
__ADS_1
"Belum tahu, Bu. Kemarin sama hari ini kan, libur. Belum bisa konsultasi ke dokter. Mudah-mudahan saja Karina bisa segera membaik. Kalau kemarin sih, pas aku tinggal pulang, wajahnya lebih cerah."
Bu Kusno menggigit bibir teringat anak bungsunya.
Setelah membersihkan diri dan sarapan nasi uduk yang akhirnya cuma di aduk-aduk saja, mereka berangkat ke rumah sakit diantar pratu Haris dan Oza. Tiba di sana mereka bergiliran masuk karena belum waktunya bezuk. Yang pertama mendapat giliran adalah Bu Kusno. Sampai di ruangan, perempuan itu segera menghambur memeluk putrinya. Isak tangis tak bisa ditahan lagi.
"I-ibu s-sudah ... A-aku tak apa-apa," ucap Karina lirih dan agak terengah-engah. Tangan perempuan itu mengusap air mata yang mengeras di pipi ibunya. "A-aku akan s-segera pulih lagi."
Bu Kusno mengangguk. Diciuminya wajah Karina dengan sepenuh rasa sayang.
Di luar ruangan, Maira tampak bicara dengan Bayu. Keduanya berdiri bersandar ke dinding rumah sakit.
"Menurut dokter gimana, Om?" tanya Maira hati-hati.
Bayu menghirup udara dan menghembuskan pelan-pelan. "Jenis leukimia yang diderita Karin ini sebenarnya perkembangannya cukup lamban. Bisa diatasi dengan terapi obat oral saja. Tapi harus rutin dan disiplin. Dan meskipun kelak dinyatakannya sudah membaik, seumur hidup dia juga harus tetap minum obat itu."
"Tapi kenapa kemarin bisa drop?"
"Mungkin kepikiran."
"Kepikiran?"
Bayu mengangguk. "Dia sering mengeluh ke aku bahwa dia tak akan pernah jadi perempuan sempurna yang memberikan anak bagiku. Keharusan minum obat kanker sepanjang hidup membuatnya harus menahan diri untuk hamil."
"Mungkin karena itu dia jadi drop. Padahal sudah berkali-kali kubilang aku tak mempermasalahkan tentang anak. Bagiku yang terpenting dia selalu sehat, menemaniku sepanjang hidup. Begitu saja aku sudah bahagia." Suara Bayu terdengar serak. Mata lelaki itu berkaca-kaca.
"Sabar ya, Om. Semoga saja dengan kunjungan bapak ibu, Karina akan lebih kuat menghadapi semua ini."
Bayu mengangguk.
Menjelang sore, Maira pamit ke Karina untuk kembali ke Bandung. Dia tak bisa lama-lama di Jakarta karena besok Oza juga harus sekolah. Selain itu pratu Haris yang menjadi sopirnya juga harus masuk kerja.
Sementara Bu Kusno dan suaminya tetap tinggal. Rencananya sampai beberapa hari ke depan, menunggu Karina membaik dan boleh pulang dari rumah sakit.
"Makasih ya, mbak," ucap Karina saat Maira pamitan. Suaranya masih lemah namun tak lagi terengah-engah.
"Pokoknya yang penting sekarang kamu harus selalu semangat. Jangan pikirkan hal-hal buruk apa pun. Om Bayu adalah suami yang baik. Berjuang dan bertahanlah untuk dia," bisik Maira di telinga Karina.
Perempuan berpipi tirus itu mengangguk dengan senyum. "Insyaallah, Mbak. Aku akan sekuat mbak Maira dalam menghadapi ketentuan apa pun yang diberikan kepadaku."
__ADS_1
Maira mengelus rambut Karina. Hatinya nelangsa melihat rambut hitam itu sekarang makin kusut dan menipis.
"Aku balik Bandung dulu ya, Karin. Ingat, semangat!"
Karin mengangguk. Dipeluknya bahu Maira saat kakaknya itu menunduk mencium keningnya.
***
Pagi harinya di Bandung, Maira mengabarkan tentang sakitnya Karina pada Janu. Hari itu jadwal suaminya turun jaga dari daerah pedalaman.
"Apa?!" seru Janu. "Sejak kapan dia sakit itu?"
"Sejak sebelum nikah sudah terdeteksi. Tapi dia menyembunyikannya dari kita, Mas."
Janu menggeleng-gelengkan kepala. "Trus sekarang kondisinya gimana?"
"Kemarin sore pas tak tinggal sudah kelihatan lebih seger, sih. Mudah-mudahan semakin membaik. Aku belum sempat telepon om Bayu."
Janu tercenung. Untuk beberapa saat mereka tenggelam dalam diam. Tak ada semangat untuk bercanda dan saling menggoda seperti biasa. Apa yang menimpa Karina telah menyita bahagia yang seharusnya selalu hadir saat mereka berjumpa melalui sambungan telepon.
***
Seminggu kemudian, Karina sudah diperbolehkan pulang. Terapi untuk kankernya masih dengan terapi obat oral. Dokter kembali menekankan agar Karina selalu disiplin meminum obatnya. Karena itu akan menjadi langkah kesembuhan bagi Karina.
"Mulai sekarang, kamu jangan mikir yang macem-macem. Aku sudah cukup bahagia dengan kamu seorang. Mengenai anak, jangan terlalu dipikirkan!" tegas Bayu setelah dia membaringkan tubuh Karina di atas ranjang kamar rumah mereka.
"Meski kita akan menjadi pasangan tanpa anak, Mas?"
Bayu mengangguk tegas. "Meski tanpa anak sekali pun!" Lalu diciumnya kening, pipi dan bibir Karina.
Perempuan itu menegang sejenak. Diremasnya punggung Bayu yang sedang menunduk menciumi wajahnya.
(bersambung)
// Akankah Karina sembuh?
Apa yang akan terjadi dengan Maira dan Janu?
tetap ikuti kisahnya, ya....
__ADS_1
jangan lupa tinggalkan like, komen, vote.
Terima kasih //