
Selama dua hari di Bandung, Karina dan Bayu tak pergi kemana-mana. Ini karena Maira tak mengijinkan. Dia khawatir melihat kondisi Karina yang tak seperti biasanya. Adiknya itu terlihat lemas dan tak bergairah. Matanya sayu, wajah pucat.
"Sebaiknya kamu cek ke dokter saja, Rin."
"Iya, Mbak. Nanti saja kalau sudah di Jakarta."
"Beneran, ya!" Bayu ikut nimbrung. "Jangan sampai nanti setelah di rumah kamu bilang, 'Aku sudah nggak kenapa-kenapa, kok. Nggak perlu ke dokter'." Bibir Bayu mencebik. Rupanya lelaki itu sudah hafal kelakuan istrinya. Ngeyel alias keras kepala.
"Iya, iyaaa ...!" Karina mencubit pinggang Bayu.
Minggu pagi Maira mengejar-ngejar mereka agar segera pulang ke Jakarta. Dia mengkhawatirkan kondisi Karina kalau kurang istirahat. Apalagi Seninnya Karina sudah harus kembali masuk kerja.
"Jangan siang-siang pulangnya. Nanti Karin nggak ada cukup waktu untuk istirahat!"
"Iya, bentar, aku manasin mobil dulu," sahut Bayu.
"Lhah, kan aku belum jalan-jalan sama Om dan Tante!" protes Oza.
"Lain kali saja ya, Oza. Tante Karin sedang sakit, harus banyak istirahat," kata Maira.
Oza menurut meski dengan wajah cemberut.
"Karin, ingat kata-kata Mbak kemarin, ya!" bisik Maira di telinga Karina saat mereka pamitan. Matanya tajam mengintimidasi. Tatapan itu seolah pisau pengupas memori Karina tentang apa yang disarankan kakaknya mengenai resign.
"Dan jangan lupa, segera cek ke dokter!"
"Iya, Mbaak ...." Karina bersungut menghadapi kecerewetan kakaknya.
Perjalanan pulang ke Jakarta di hari Minggu memakan waktu lebih lama dari hari biasa. Banyak yang melakukan perjalanan Bandung-Jakarta maupun sebaliknya di akhir pekan seperti ini.
Sepanjang perjalanan Karina hanya tidur. Bayu membiarkannya tanpa mengganggu sedikit pun. Sesekali dilirik istrinya. Ada rasa iba di hati Bayu melihat gurat lelah dan wajah yang pucat itu.
Semoga dia mau segera resign.
Sampai di Jakarta, Karina menolak ketika Bayu mengajaknya periksa.
"Aku lelah, Mas. Besok saja ke dokternya."
"Besok aku nggak bisa ngantar, Dik. Kan harus dinas."
"Nggak usah diantar. Aku bisa periksa sendiri nanti.".
"Kalau sore, insyaallah aku bisa nganter, Dik."
Wajah Karina menegang. "Nggak usah!" cegahnya. "Aku nanti langsung dari kantor saja. Ijin sebentar ke rumah sakit."
"Aku khawatir kalau kamu sendiri."
"Tenang aja, Mas. Nanti aku minta Linda menemani." Karina menyebut nama salah satu teman akrabnya di kantor.
Bayu tak bisa berkata apa-apa lagi. Percuma membujuk Karina yang keras kepala. Namun dia mengancam, jika tak benar-benar memeriksakan diri ke dokter, malamnya Bayu sendiri yang akan membawa Karina ke rumah sakit.
__ADS_1
Hari berikutnya Karina memang benar-benar pergi ke rumah sakit. Dia meminta Linda mengantar sampai di lobi rumah sakit dan meninggalkannya.
"Gue di wa suami elo buat nemenin lo, Rin. Ntar gimana dong, kalau bapak tentara itu nanya?"
"Lah, kan, udah nemenin?"
"Nemenin sampai selesai, Kariiin ...!"
"Kerjaan lo gimana?"
"Gue udah izin sama pak bos."
"Ini bisa lama, lho, antrinya, Lin." Karina bersikeras. "Lo bisa dimarahin pak bos kalau kelamaan keluar kantor."
Linda mengulum bibir. Kedua tangan bertumpu di atas setir mobil. Diam-diam dia membenarkan apa yang dikatakan Karina.
"Gue nggak papa sendiri. Ntar gue balik ke kantornya pakai taksi online aja."
"Mmm ..., ya udah, deh. Tapi kalau sampai pak tentara lo itu marah ke gue, Lo yang tanggung jawab ye!"
"Beres!" Senyum Karina merekah. Jari jempolnya terangkat ke atas. "O iya, tentang penyakit gue, lo tetep keep silent, ya, please!" Karina menyangkutkan kedua tangan di depan dada. Matanya memohon menatap Linda.
Temannya itu hanya menatap prihatin padanya. Hembusan nafas panjang keluar dari hidung Linda. Anggukan kecil diberikan pada Karina.
Antrian di poli onkologi pagi ini tak terlalu padat seperti biasa. Setelah menunggu tak lebih dari satu jam, akhirnya tiba giliran Karina. Senyum ramah dokter Ferdhi, spesialis onkologi, menyambutnya.
"Apa kabar, Karin?" sapanya. Kelihatan dokter itu sudah mengenal Karina cukup lama.
"Obatnya rutin diminum, kan?"
"Iya, Dok.
Dokter Ferdhi memindai hasil cek darah yang beberapa saat lalu dilakukan Karina. "Mungkin kamu kecapekan, Karin."
Karina menunduk. "Kemarin memang baru saja dari Bandung, Dok."
"Nah, kan!"
Beberapa saat kemudian Karina dan dokter Ferdhi terlibat diskusi mengenai penyakit Karina. Sudah beberapa bulan terakhir Karina divonis menderita kanker darah Chronic Myleoid Leukimia (CML). Penyakit kanker yang perkembangannya termasuk lamban ini diketahui sebelum Karina menikah. Dia menyembunyikan penyakit itu dari keluarga maupun suaminya. Dan karena penyakit itu pula, Karina pernah hampir menggagalkan pernikahannya dengan Bayu.
Pada saat itu Karina tanpa sengaja mengetahui kalau Maira, kakaknya, diam-diam menyimpan rasa pada Bayu. Di saat yang hampir bersamaan, Karina memperoleh hasil medical cek nya yang menyatakan bahwa dia menderita penyakit itu. Karina menjadi putus asa dengan masa depannya dan sempat akan merelakan Bayu untuk Maira. Tentu saja alasan yang diungkap bukan karena penyakitnya, tapi karena Maira mencintai Bayu. Mengenai penyakit kanker itu dia simpan rapat-rapat.
Semangat Karina untuk sembuh kembali menyala ketika dokter Ferdhi meyakinkan bahwa kanker Karina bisa ditangani dengan pengobatan rutin. Linda, satu-satunya teman yang mengetahui penyakitnya pun ikut menyemangati. Apalagi kemudian kakaknya bisa melupakan perasaannya pada Bayu dan menikah dengan Janu, Karina menjadi lebih lega. Lamaran serius dari Bayu pada dirinya pun kemudian dia terima. Pernikahan dengan Bayu membuatnya yakin bahwa dia akan sembuh dan hidup lebih lama lagi untuk orang-orang yang dicintai.
"Dokter, kira-kira berapa lama lagi saya harus rutin memakai obat ini, ya?"
"Kita coba dulu selama 12 bulan, nanti kita cek lagi. Dan kalau pun sudah membaik, kami juga tetap harus terus minum obat ini."
"Ah," keluh Karina.
"Kenapa, bosan?"
__ADS_1
"Bosan dan mahal, Dok."
Dokter Ferdhi tertawa. "Kan, ditanggung sama perusahaan kamu."
"Iya, sih, Dok. Cuma kayaknya sebentar lagi saya mau resign."
"Lhoh, kenapa?"
"Nggak enak, sering izin berobat."
"Ya, nggak apa-apa, kan. Namanya juga baru sakit." Dokter berperawakan tinggi dan terlihat gesit itu menuliskan resep. "Kalau nggak pakai asuransi kesehatan, biaya obatnya mahal lho, ini. Saranku sih, kalau mau resign dari perusahaan, segera ikut asuransi dari pemerintah saja. Meski mungkin nggak menghandle semuanya, tapi lumayan bisa meringankan."
"Iya, Dok, sudah. Saya ikut asuransinya suami."
"Suaminya kerja di mana?"
"Tentara, Dok."
Dokter Ferdhi mengangguk-angguk. "Bisa. Tapi ya, itu tadi, mungkin nggak sebesar yang ditanggung asuransi kesehatan di perusahaanmu."
"Iya, Dok," sahut Karina, tak bersemangat.
Selama ini salah satu alasan dia tidak keluar dari pekerjaan adalah karena biaya pengobatan penyakitnya. Asuransi kesehatan yang diberikan perusahaannya lumayan besar. Obat-obat yang digunakan Karina selama ini ditanggung sepenuhnya oleh asuransi tersebut. Entah bagaimana nanti jika dia ikut asuransi milik suaminya. Jika saja Bayu dan Maira tak memintanya untuk resign, tentu saja Karina memilih untuk tetap bekerja dan bisa membiayai pengobatannya. Dia tak mau merepotkan Bayu dengan urusan penyakitnya.
Semoga nanti ada jalan.
***
Di Bandung, Maira hampir saja melompat kegirangan. Panggilan telepon dari Janu membuka paginya hari itu.
"Assalamualaikum, Mas!" sapanya, tak bisa menyembunyikan kegembiraan.
"Waalaikumsalam, sayang. Apa kabarmu, cantikku?"
Pyarrr ...!
Seluruh sel tubuh Maira berdenyar. Pipinya merona. Mendengar suara berat Janu saja sanggup membuat dirinya kelimpungan menahan rindu yang meronta hebat.
(bersambung)
_______
Terima kasih sudah mampir ke ceritaku. Jangan lupa untuk selalu tinggalkan like, komen, dan vote jika kamu memang suka kisah ini.
Rate bintang 5 nya jangan ketinggalan juga, yaaa ....!
Kamsahamnida ...🙏
Arigatou gozaimasu ...🙏
Hatur nuhun ...🙏
__ADS_1
Terima kasih ....🙏