Liberator

Liberator
Bab 11 - Hidup dan Mati


__ADS_3

'Srruuggg!!'


Axel dengan cepat melompat ke samping sambil berguling. Menghindari semburan api yang. sangat panas itu.


Saat melihat kembali ke belakang, bahkan jalanan beton itu nampak membara karena terkena semburan api Wyvern itu.


'Aku tak boleh terkena serangannya sama sekali!' Pikir Axel dalam hatinya.


Ia berlari dengan cepat ke arah belakang Wyvern itu. Dengan kecepatannya ini, Axel berpikir bahwa Wyvern itu takkan bisa mengikutinya.


Akan tetapi....


'Swuushh! Swuuushhh!!'


Wyvern itu mengepakkan kedua sayapnya dengan sangat kuat. Menimbulkan tekanan angin yang membuat Axel terdorong hingga terjatuh ke belakang.


'Bruukk! Braaakkk!'


Tanpa menunggu, Wyvern itu segera bersiap untuk terbang.


'Ini buruk!' Teriak Axel.


Ia tak boleh membiarkan Wyvern itu terbang dan pergi membantu Ksatria itu. Lagipula, tugasnya adalah untuk mencegah hal itu terjadi.


Memberikan kesempatan agar Eva bisa menang dalam pertarungan satu lawan satu dengan Ksatria berzirah itu.


Dengan pemikiran itu, Axel mengambil salah satu pisau lemparnya. Sambil mengalirkan kekuatan sihirnya dalam pisau itu, Axel mengincar tepat di bagian sayap Wyvern itu.


Dalam sekejap....


'Swuuushh! Jdaaarrrr!!!'


Kilatan petir dapat terlihat dalam lintasan lemparan pisau oleh Axel itu.


Dan dengan cepat, pisau dengan energi listrik yang besar itu menembus tepat di bagian sayap kanan Wyvern itu. Merobeknya cukup lebar hingga membuatnya kesulitan terbang.


'Bagus.' Pikir Axel.


Ia dengan segera mengambil pisau lainnya dan melakukan hal yang sama.


'Swwuusshh! Jdaaarrr!'


Kali ini, pisau itu berhasil menembus dan merobek sayap kiri dari Wyvern itu. Membuatnya tak lagi mampu terbang dan terjatuh kembali ke tanah.


'Braaakkk!!!'


Dengan tatapan yang mengerikan, Wyvern itu bangkit dan secara perlahan berjalan ke arah Axel. Sedikit demi sedikit, Wyvern itu mempercepat langkahnya. Semakin mendekati ke posisi Axel berada.


Axel kini mulai mengangkat pedangnya kembali. Bersiap untuk berhadapan secara langsung dengan monster ini.


Apapun yang terjadi, Axel tak boleh membiarkannya bergabung dengan Ksatria itu dan mengganggu pertarungan Eva.


Dan jika bisa....


Axel harus mengalahkannya


'Tap! Tap! Tap!'

__ADS_1


Axel mulai berlari dengan cepat menuju ke arah Wyvern itu berada. Tangan kanannya membawa pedang satu tangan itu di belakang. Bersiap untuk mengayunkannya.


Saat jaraknya sudah cukup dekat, Axel memutar tubuhnya dan mengayunkan pedang itu. Kini, mengarah tepat di lengan kanan dari Wyvern itu.


'Klaangg!!!'


Benturan antara pedang Axel dengan sisik Wyvern itu terdengar cukup keras.


Serangan Axel tak mampu untuk menembus sisik yang keras itu. Hanya sedikit menggoresnya saja.


'Sialan! Keras sekali!' Pikir Axel dalam hatinya.


Setelah menyadari serangan pertamanya itu gagal, Axel melompat mundur ke belakang untuk menghindari serangan balasan dari Wyvern itu.


'Braaak!!'


Wyvern itu mengayunkan lengan kanannya secara vertikal. Menghantam jalanan kota ini hingga remuk.


'Fuuuh.... Hampir saja. Jika aku kena serangan itu....' Pikir Axel melihat bekas serangan Wyvern itu yang membuat beton hancur dengan mudahnya.


Setelah melihat kesempatan yang tepat, Axel kembali melesat ke arah Wyvern itu. Tapi kini dengan niatan utama untuk membuat robekan yang jauh lebih besar pada sayapnya.


'Zraaashh! Zraassh! Zraasshh!!'


Sebanyak tiga buah tebasan diayunkan olehnya. Membelah sayap kanan Wyvern.


Kini, Wyvern itu benar-benar tak lagi mungkin untuk terbang.


"Kraaaaaaaak!!!" Teriak Wyvern itu kesakitan setelah menerima serangan cepat dari Axel. Wyvern itu mengangkat kepalanya ke atas.


Axel yang melihat hal itu sebelumnya menyadari bahwa gerakan itu nampak seperti gerakan sebelumnya ketika hendak menyemburkan api.


'Swuuuoosshhhh!!!'


Semburan api dilontarkan oleh Wyvern itu tepat ke arah Axel berada. Jarak mereka sangat dekat, sehingga sulit bagi Axel untuk menghindarinya.


Tapi berkat prediksinya barusan, Axel berhasil melompat sesaat sebelum api itu dilontarkan.


'Srruuugg! Srruugg!'


Axel melompat dan menggelindingkan badannya di jalanan beton ini. Menjauhi arah dari semburan api Wyvern itu.


Tapi tak berhenti di sana, Axel segera berdiri dan berlari secara memutar karena Wyvern itu menyeret semburan apinya mengikut arah Axel berlari.


Setelah beberapa saat, Axel melihat peluang untuk menyerang kembali.


'Sraaashh! Srassshh!'


Dua buah tebasan berhasil kembali diayunkan oleh Axel. Kini, membelah sayap kiri dari Wyvern itu.


"Kraaaaaakkk!!!"


'Blaaaarrrr!'


Dengan amarahnya yang membesar, Wyvern itu kembali menyerang ke arah Axel dengan lengan kirinya. Cakarnya yang besar dan tajam itu bahkan mampu membelah beton dengan mudahnya.


Tapi sekali lagi, berkat kecepatan dan refleks dari Axel yang begitu luarbiasa, menghindari serangan semacam itu cukup mudah.

__ADS_1


Akan tetapi, ketika Axel telah menghindar dan bermaksud untuk memberikan serangan balasan ke arah kakinya....


'Klaaaangg!!'


Pedangnya sekali lagi tak mampu untuk menembus sisik keras dari Wyvern ini.


Axel pun segera menyadarinya, atas apa yang dimaksudkan oleh Eva sebelumnya.


'Keras sekali. Tak salah jika butuh 3 prajurit divisi khusus untuk melawannya....'


Sesaat setelah serangan Axel barusan, semburan api dari Wyvern itu berhenti. Membuat Axel memiliki kesempatan untuk bernafas sedikit lebih lega.


Dalam kesempatan itu, Axel melirik ke arah pertarungan antara Eva dan Ksatria berzirah itu.


Keduanya nampak saling menukar serangan satu sama lain, dengan Eva yang sedikit unggul. Tapi Eva juga mengalami hal yang hampir serupa dengan Axel.


Yaitu kesulitan untuk menembus pertahanan lawan yang begitu keras itu.


'Yang benar saja? Bahkan dengan kekuatan dan pedang besarnya, Eva kesulitan untuk menembus pertahanan Ksatria itu?'


Saat pikirannya teralihkan, Wyvern itu mulai berlari ke arah Axel. Bermaksud untuk menyerangnya dengan dua cakarnya.


'Zraasshhh! Zraaassshhh!'


Axel hanya perlu sedikit melompat mundur untuk menghindari tebasan cakar besar itu.


Dan pada saat itu lah....


Axel menyadari sesuatu.


'Tunggu dulu.... Bagian leher dan perutnya, bukankah sedikit berbeda dari bagian tubuhnya yang lain?'


Sekujur tubuh dari Wyvern itu diselimuti oleh sisik biru tua yang tebal dan keras. Akan tetapi, pada bagian bawah tubuhnya yang menghadap ke tanah yaitu leher, dada, perut, dan telapak tangan serta kakinya, memiliki warna yang sedikit lebih cerah.


Dengan warna biru muda itu, Axel dapat melihatnya dengan sangat jelas.


Sebuah kenyataan, bahwa pada bagian itu....


'Tak ada sisik?!'


Setelah menyadari hal itu, Axel segera melompat mundur. Bersiap untuk serangan berikutnya yang mengarah pada bagian tersebut.


Meski begitu, bagian bawah tubuh dari Wyvern itu terlindung dengan baik oleh bagian atas tubuhnya yang memiliki sisik yang sangat keras.


'Meski memahaminya, bagaimana cara menyerangnya? Tunggu....'


Axel kemudian teringat atas sesuatu hal.


Sesuatu yang membuat Wyvern itu selalu menunjukkan bagian lemahnya itu.


Yaitu....


Ketika Wyvern itu bersiap untuk menyemburkan api. Dimana Ia akan selalu mengangkat kepalanya ke atas, memperlihatkan lehernya yang tak memiliki perlindungan.


Sebelumnya, Axel tak menyadarinya karena selalu kabur ketika melihat gerakannya itu.


Dan kali ini....

__ADS_1


'Aku akan memancingnya menggunakan serangan api itu. Kemudian.... Menyerangnya!'


__ADS_2