Liberator

Liberator
Bab 60 - Konfrontasi


__ADS_3

Sektor Pembangunan Dinding


Bagian Utara.


Di atas crane yang tinggi itu, Axel masih tetap saja duduk dalam kondisi siaga penuh. Ia tak lagi ingin bersikap lalai karena kedamaian yang dirasakannya.


Semenjak tiba di benteng ini, Axel telah sedikit melupakan betapa kerasnya kehidupan keras di dunia ini.


Semuanya terasa begitu mudah.


Bahkan memburu monster sekalipun juga bukan halangan baginya.


Apakah karena Ia diberkati oleh kekuatan ini?


Mungkin saja karena kekuatan ini lah, yang membuat dirinya menjadi sedikit terlalu santai.


Dan hampir saja karena sikapnya itu, Axel membuat seluruh pekerja sipil dan prajurit reguler di wilayahnya terbunuh oleh Chimera.


Tetap sambil mengawasi seluruh keadaan di sekitarnya, Axel terus menerus mempertanyakan hal yang sama pada dirinya sendiri.


"Chimera ya? Sebenarnya.... Makhluk apa itu?"


Axel merasa Chimera benar-benar berbeda dengan monster lain yang pernah ditemuinya selama ini.


Dan perbedaan terbesar adalah kecerdasannya yang jauh lebih tinggi daripada monster biasa.


Bahkan Chimera yang sebelumnya dilawan oleh Axel itu cukup cerdas untuk memahami konsep fisika mengenai beban dan daya tahan suatu struktur bangunan.


Termasuk mampu untuk membuat rencana menghadapi Axel dan juga Eva di tempat yang seharusnya sangat merugikan baginya.


"Sialan, semakin dipikirkan membuatku semakin pusing." Ucap Axel pada dirinya sendiri.


Kini, Ia mengalihkan pandangannya ke arah dinding yang telah hampir selesai itu. Mungkin beberapa Minggu lagi maka dinding yang menutupi sebagian besar wilayah di Los Angeles ini akan selesai.


Seluruh dinding dari berbagai sektor terlihat telah terhubung satu sama lainnya.


Hanya membutuhkan beberapa pengerjaan akhir saja.


Pada saat itu lah, secara tiba-tiba Oracle memanggil Axel melalui jaringan komunikasi di earphone itu.


"Axel, kau mendengarku?" Tanya Oracle singkat.


"Ya? Ada apa?"


"Kami mendeteksi satu lagi unit Chimera yang bergerak ke arahmu. Bisakah kau menahannya sebentar sebelum aku mengirimkan bantuan?" Tanya Oracle.


"Seberapa kuat?" Tanya Axel kembali yang kini telah bangkit dari duduknya.


Axel yang berdiri tepat di puncak crane itu terlihat begitu mengerikan. Karena beberapa langkah saja, Ia bisa terjatuh puluhan meter ke tanah.


Meski begitu, Axel tetap tenang. Ia memahami seberapa jauh kemampuannya dan tahu bahwa jatuh dari ketinggian ini takkan membunuhnya.


Setelah terdiam selama beberapa saat, beserta keributan ringan di balik panggilan itu, Oracle pun kembali berbicara.


"Tak sekuat yang sebelumnya. Mungkin hanya berada di tingkat C+ atau B. Hmm.... Ini sedikit aneh. Tapi gelombang Flux ini benar-benar menyerupai Chimera yang sebelumnya." Jelas Oracle yang Ia sendiri juga sedikit keheranan.


"Hanya tingkat B? Ku rasa aku dan Eva sudah cukup. Jangan buat panik sektor yang lain hanya untuk masalah ini." Balas Axel.

__ADS_1


"Kau yakin?" Tanya Oracle.


"Tentu saja. Jika situasi memburuk, sama seperti sebelumnya aku akan kabur."


Setelah memikirkannya sejenak, Oracle pun akhirnya sependapat dengan apa yang dikatakan oleh Axel.


Lagipula, Oracle telah paham betul mengenai kemampuan Axel. Ia yakin Axel tak mungkin kalah melawan monster tingkat B. Terlebih lagi, kali ini Eva bersamanya.


"Baiklah. Kalau begitu, akan ku sebutkan arahnya. Timur laut, sekitar 14 kilometer dari tempatmu berada. Gerakannya cukup lambat jika dibandingkan dengan Chimera sebelumnya. Tapi tetap berhati-hati." Jelas Oracle panjang lebar.


Setelah menentukan arah dan tujuannya, Axel pun segera melompat turun dari Crane itu dan mendarat di tanah seakan bukan lah masalah besar baginya.


Setibanya di bawah, Ia segera mengajak Eva untuk ikut dengannya.


"Chimera lagi?"


"Begitu lah. Ayo."


Keduanya pun mulai berlari. Menitipkan pembangunan sektor ini kepada para prajurit reguler dan meminta mereka agar menghubunginya jika terjadi apa-apa.


Untuk memastikannya, Axel pun bertanya kepada Oracle sekali lagi.


"Di sekitar sektor ini, tak ada lagi monster kuat kan?"


"Hanya beberapa Goblin dan Orc yang berjalan kesana kemari. Jumlah mereka bisa dihitung dengan jari." Balas Oracle.


Jawaban itu sudah cukup meyakinkan bagi Axel agar meninggalkan sektor pembangunan dinding ini ke tangan para prajurit reguler.


Jika itu hanya para Goblin dan Orc ataupun Lizardmen, mereka akan mampu menanganinya dengan cukup mudah.


Dan dengan begitu, keduanya pun mulai berlari ke arah Timur Laut.


......***......


Beberapa saat kemudian....


"Oi, Oracle. Kau yakin di sini? Aku tak melihat apapun." Ucap Axel kebingungan.


Saat ini, Axel dan Eva telah berdiri di tempat tertinggi di area ini. Yaitu sebuah mall dengan 5 lantai.


Tak terlalu tinggi, tapi cukup untuk membantu mereka melihat ke berbagai arah.


Meski begitu, mereka berdua sama sekali tak menemukan apapun. Tak ada sosok monster sedikit pun di area ini.


Apalagi Chimera dengan ukuran yang besar itu.


"Kau yakin? Sudah melihat ke berbagai arah?" Tanya Oracle dalam saluran komunikasi itu.


"Bagaimana jika kau kemari dan memastikannya sendiri? Aku telah melihat sekeliling berkali-kali dan tak ada satu pun Chimera, bahkan Goblin pun tak ada." Balas Axel.


Oracle pun terdiam dalam kebingungan.


Begitu pula beberapa anggota timnya yang termasuk dalam divisi pengamatan gelombang Flux melalui citra satelit itu.


Sekalipun ada error atau kesalahan perhitungan lokasi, mungkin hanya sebatas 20 hingga 50 meter saja.


Tapi ini?

__ADS_1


"Aneh sekali. Pancaran gelombang Flux sangat jelas menunjukkan Chimera itu berada di dekatmu. Mungkin kau melewatkannya?" Tanya Oracle sekali lagi.


Pada saat mendengarkan ocehan Oracle yang saat ini sama sekali tak bermakna itu, Axel melihat sesuatu di kejauhan.


Bukan monster.


Melainkan sosok seorang gadis kecil yang berlari dengan nafas yang terengah-engah.


"Tunggu, akan ku matikan panggilan ini sebentar." Ucap Axel sambil segera menekan tombol di earphone pada telinga kirinya itu.


"Axel! Jangan mat...."


Tanpa menunggu perkataan dari Oracle, Axel telah mematikan panggilannya.


Di sampingnya, Eva juga menyadari hal yang sama seperti apa yang dilihat oleh Axel.


"Axel, gadis itu...." Ucap Eva dengan wajah yang panik.


"Diburu. Mungkin oleh Chimera itu? Aku tak tahu tapi luka di tubuh gadis itu sudah menjelaskan semuanya."


Dengan segera, Axel dan Eva mulai berlari ke arah gadis itu. Tanpa mengetahui apa yang mengejarnya.


Dalam pikiran mereka berdua, gadis itu mungkin salah satu penyintas yang berhasil bertahan hidup sampai hari ini. Tapi cukup sial karena bertemu dengan Chimera yang mungkin dimaksudkan oleh Oracle sebelumnya.


Dalam sekejap, Axel telah berada tepat di depan gadis itu.


Ia segera berlutut dan memeluk gadis itu dengan tangan kirinya.


"Tenang, aku akan melindungi mu." Ucap Axel sambil melihat ke arah kejauhan. Dimana gadis itu berasal.


Dalam pandangannya, Ia melihat sosok 5 orang pria yang membawa senjata berbeda sedang mengejar gadis ini.


'Yang benar saja. Manusia memburu manusia? Terlebih lagi, gadis sekecil ini?'


Seketika, kedua mata Axel memberikan tatapan yang dipenuhi dengan kebencian. Menatap ke arah kelima orang itu.


"Kakak.... Tolong aku...." Ucap gadis itu sambil terus menangis.


Axel menyadari bahwa lengan kiri gadis itu telah terputus. Sementara itu, tubuhnya memiliki beberapa bekas luka tembakan yang masih belum tertutup sepenuhnya.


"Tenang saja. Ikut lah dengan kakak perempuan di belakangku, dia pasti akan melindungi mu."


Dengan perlahan, Axel mulai berdiri. Ia mengisyaratkan agar Eva melindungi dan merawat gadis kecil itu.


"Kemari, ikut dengan kakak." Ucap Eva yang segera memeluk dan menggendong gadis kecil itu menjauh dari pertarungan ini.


Setelah Ia tahu bahwa yang mengejar gadis ini adalah sekelompok manusia, Eva justru semakin khawatir. Karena keberadaan Chimera yang disebutkan Oracle belum juga nampak. Padahal, seharusnya berada di sekitar tempat ini.


Sementara itu, seluruh pandangan Axel kini terfokus pada sosok kelima orang yang berdiri di hadapannya.


"Seragam itu.... Prajurit militer? Apakah masih ada militer di dunia ini?" Ucap salah satu pria itu.


"Jika iya, memangnya kenapa? Lagipula, itu tak penting lagi." Balas Axel sambil berjalan secara perlahan ke arah mereka berlima.


Ia mulai menarik tombak di punggungnya. Bersiap untuk masuk dalam pertarungan.


Tak peduli apapun alasannya, memburu manusia lain, terlebih lagi seorang gadis kecil, adalah perbuatan paling kejam bagi Axel di dunia ini.

__ADS_1


Sekalipun....


Dalam dunia yang telah hancur seperti ini.


__ADS_2