
"Bisakah.... Aku memikirkannya lebih lanjut lagi sebelum mengambil operasi ini?" Tanya Axel setelah menyadari sebagian kecil dari dunia ini.
"Tak masalah bagiku. Lagipula, tujuan kami hanya mencegah Asia Timur memiliki kalian berdua." Balas Asimov.
Setelah mengetahui berbagai informasi sebelumnya, Axel memiliki sedikit gambaran mengenai apa yang akan terjadi jika dirinya tak diselamatkan oleh Rusia.
'Mungkin.... Aku akan berakhir seperti Akane bukan?’ Pikir Axel dalam hatinya.
Untuk memastikannya, Ia pun bertanya pada dokternya, Dmitri.
"Menurutmu, apa yang akan terjadi jika kalian tak menyelamatkan diriku?" Tanya Axel.
"Singkatnya kau akan mati. Umurmu telah hampir habis. Tapi selain itu, mereka akan menciptakan klon dirimu yang lain, sama seperti Akane." Balas Dmitri.
"Jadi begitu ya?"
Sebagian besar pertanyaannya telah terjawab. Axel juga tak berminat untuk mengetahui lebih lanjut lagi.
Apa yang diinginkannya saat ini hanya satu hal.
Memastikan bahwa rekan-rekannya dan juga adiknya baik-baik saja.
......***......
...Markas Rahasia Bawah Tanah...
...Wilayah Siberia...
Sekitar satu Minggu telah berlalu.
Di dataran yang sangat luas dan sangat dingin ini, kapal selam tersebut memasuki sebuah lorong di dalam laut ini. Lorong yang terhubung ke wilayah Siberia.
Kedalamannya sekitar 100 meter di bawah permukaan laut.
Secara perlahan, kapal selam itu terus bergerak. Lampu berwarna biru yang terang nampak menyinari jalanan di lorong baja ini.
Satu demi satu pintu gerbang di depan kapal selam tersebut terbuka. Setelah melewatinya beberapa puluh detik, pintu itu kembali menutup.
Jumlah pintu yang ada di lorong ini mencapai puluhan lebih.
Sesekali, terlihat keberadaan peluncur torpedo di dalam lorong ini untuk menghancurkan penyusup yang memasuki lorong ini secara paksa.
Dan akhirnya setelah perjalanan selama 1 jam lebih dalam lorong baja ini, mereka mulai menyelam ke permukaan.
'Spraaasshhh!'
Kapal selam itu kini tiba di sebuah pelabuhan bawah tanah dengan dinding besi yang tebal. Ukuran pelabuhan ini sendiri cukup besar untuk menampung dua kapal selam.
Di samping kapal selam yang dipimpin oleh Asimov ini, terlihat sebuah kapal selam lain yang terdiam di tempat.
Beberapa lengan besi nampak mulai mengunci kapal selam milik Asimov. Setelah kapal selam itu terkunci, sebuah jembatan besi mulai terbuka ke arah pintu di samping kapal selam itu.
"Kerja bagus semuanya! Kita akan libur selama 2 Minggu! Nikmati waktu liburan kalian!" Teriak Asimov di ruang utama kapal selam itu.
__ADS_1
"Terimakasih, Kapten Asimov!" Balas para prajurit yang ada di dalamnya.
Semuanya mulai berjalan keluar.
Termasuk Axel.
"Terimakasih, aku sudah cukup pulih." Ucap Axel kepada beberapa prajurit yang nampak berusaha membantunya berjalan itu.
Di kejauhan, Axel melihat sosok Lucy yang duduk di sebuah kursi roda. Seorang dokter nampak mendorong kursi roda tersebut.
'Aku tak berani menemuinya.'
Itu adalah apa yang ada di dalam pikiran Axel setiap kali melihat sosok Lucy.
Axel pernah berjanji untuk menjaga dan melindunginya. Tapi apa hasilnya?
Akan tetapi....
"Kak Axel? Kakak juga ada di sini?" Tanya Lucy dari kejauhan dengan senyuman yang tipis.
"Maaf." Balas Axel yang segera berlari meninggalkan kapal selam ini.
"Eh? Kakak? Kenapa?" Tanya Lucy kebingungan. Ia ingin sekali untuk mengejar langkah Axel. Tapi kondisinya yang saat ini sama sekali tak memungkinkannya.
"Maafkan dia, Lucy. Axel juga menerima nasib yang cukup buruk di sana. Tak seperti dirimu, Axel hanyalah manusia." Ucap Dokter yang ada di belakangnya.
"Jadi begitu ya...." Ucap Lucy sambil menatap lantai besi ini.
Bahkan mereka juga memperlakukannya layaknya monster.
Tapi Lucy memahami rasa kebencian manusia terhadap dirinya. Yang ditunjukkan oleh hancurnya dunia ini.
"Jangan murung. Kami takkan memperlakukanmu seperti apa yang dilakukan oleh Asia Timur. Kau cukup beristirahat dan menikmati hidupmu sendiri di sini. Selama tak melukai orang lain, pihak militer akan selalu menjagamu." Ucap Dokter itu dengan senyuman yang begitu ramah.
"Terimakasih, dokter. Aku tak ingin kembali dalam masa-masa itu...."
Dokter itu pun membawa Lucy ke arah rumah sakit untuk kembali memantau kondisi kesehatannya. Bagaimanapun, luka yang dialami oleh Lucy jauh lebih parah dari apa yang dialami oleh Axel.
Sehingga membutuhkan perawatan yang lebih lanjut untuk memantau kondisinya.
Setelah beberapa puluh menit, semua awak di kapal selam itu telah pergi.
Kini mulai berjalan ke fasilitas yang sebenarnya dari tempat ini. Yaitu sebuah fasilitas yang hampir serupa dengan apa yang ada di Amerika Utara.
Sebuah kota sekaligus benteng di bawah tanah.
Perbedaannya....
"Ramai sekali?" Tanya Axel kebingungan.
Tak seperti benteng di wilayah Amerika Utara yang cukup kecil, benteng bawah tanah di Siberia ini sangat lah besar. Ukurannya mungkin mencapai sebuah kota yang sesungguhnya.
Banyak sekali kendaraan dan juga aktivitas penduduk di kota bawah tanah ini.
__ADS_1
Akan tetapi, pencahayaan kota ini sedikit redup dengan lampu kekuningan hampir di sebagian besar jalanan.
"Aku tahu apa yang kau tanyakan dalam hatimu." Ucap Asimov di samping Axel.
Jika diperhatikan dengan lebih baik lagi, tubuh Asimov benar-benar besar. Axel yang berdiri tegap saat ini hanya setinggi sedikit di bawah pundaknya. Tak hanya itu, tubuh Asimov juga dipenuhi dengan otot yang kekar.
Sambil menghisap cerutunya, Asimov nampak tersenyum ke arah Axel.
"Jika Flux memberikan energi yang hampir tak terbatas, kenapa kami menggunakan lampu redup ini kan?" Tanya Asimov ke arah Axel.
"Aku berpikir seperti itu."
"Mudah saja. Kami tak menggunakan energi sialan bernama Flux itu." Balas Asimov yang segera berjalan.
"Eh?"
Axel sedikit kebingungan dengan pernyataan itu. Memang benar bahwa Rusia menutup gerbang pengeboran Flux di Moscow. Tapi tak menggunakan energi Flux?
"Ikut denganku, aku akan mempertemukan mu dengan rekan-rekanmu. Selama tak mengganggu rencana kami, kau bebas melakukan apapun yang kau mau setelah ini." Lanjut Asimov.
Ia terlihat berjalan ke arah sebuah apartemen yang cukup kecil. Setelah memasukinya, Axel segera disambut oleh wajah yang familiar.
"Kakak!" Teriak Chloe yang segera berlari ke arah Axel.
"Chloe.... Syukurlah kau baik-baik saja...." Balas Axel sambil memeluk kembali tubuh gadis itu.
Di sebuah sofa itu, Axel dapat melihat Eva melambaikan tangan kanannya sambil menikmati bir di sebelah James. Sedangkan pemandangan teraneh dalam semua ini....
"Apa?" Tanya Oracle yang sedang sibuk menonton televisi sambil duduk di sebuah sofa itu.
"Eh? Aku tak mengatakan apapun." Balas Axel.
Ada setidaknya tiga sosok yang belum dilihat oleh Axel. Yaitu Johann, Leona dan Frans.
Tapi sebelum Ia menanyakannya, Asimov telah menjawabnya.
"Johann bergabung dengan militer Rusia. Sedangkan Leona dan Frans bergabung dalam kedokteran."
"Begitu ya?"
Saat Oracle berdiri, Axel melihat keanehan yang lainnya lagi. Yaitu sebuah kenyataan dimana punggungnya tak lagi memiliki perangkat Flux.
"Apakah kalian melepas semua perangkat Flux kami?" Tanya Axel.
"Semuanya. Perangkat itu akan mengundang para monster, dan juga membuat pihak Liberator lain mudah menemukan kami. Ah, benar juga. Jika kau telah memutuskannya, temui Dmitri di rumah sakit. Dia akan membantumu." Balas Asimov yang segera meninggalkan apartemen ini.
Chloe yang mendengarnya kembali bertanya-tanya.
"Kakak? Apa maksudnya telah memutuskan? Apakah kakak akan kembali pergi?"
Masih tak berani mengatakan yang sebenarnya, Axel hanya membelai lembut kepala gadis itu.
"Tenang saja, aku akan baik-baik saja."
__ADS_1