
'Sruugg! Srruugg!'
Suara langkah kaki nampak terdengar di sekitar reruntuhan kota ini. Menyeret beberapa kerikil dan puing-puing bangunan yang ada di bawahnya.
Sedikit demi sedikit, langkah kaki itu semakin mendekat. Ia tak lain adalah Axel.
"Axel, kau baik-baik saja?" Tanya Eva yang melihat kedatangan Axel itu.
"Sedikit luka, tapi tak masalah. Yang lebih penting lagi, bagaimana dengannya?" Tanya Axel sambil memperhatikan sosok gadis yang ada dalam pelukan Eva itu.
Gadis itu nampak memejamkan kedua matanya. Membuat Axel khawatir jika mungkin saja, gadis itu akan mati karena pendarahan yang terlalu parah.
"Dia hanya pingsan, tapi nampaknya sudah mulai baikan." Balas Eva singkat.
Di lengan kiri gadis itu, Eva nampak mengikatkan sebuah tali dari kain dengan kencang. Mencegah darah keluar dari lengan yang telah terpotong itu.
Memperhatikan gadis itu tak sadarkan diri, dengan berbagai tanda-tanda vital yang begitu lemah, Axel memutuskan untuk segera membawanya kembali ke markas pusat.
Mungkin Frans dan Leona bisa menyembuhkannya.
"Bagaimana dengan mereka?" Tanya Eva sekali lagi sambil berdiri dari duduknya.
Mereka yang dimaksud tentu saja para pemburu yang sebelumnya terlihat mengejar gadis ini.
"Aku telah membereskan mereka. Bisakah kau merahasiakan hal ini untuk ku? Aku takut jika orang-orang di markas akan mulai memandangku dengan cara yang berbeda jika mereka mengetahui hal ini." Jelas Axel.
Tentu saja, rasa khawatirnya itu nyata.
Itu karena Axel baru saja membunuh manusia yang lain. Sosok yang seharusnya dilindungi oleh para Liberator.
Meskipun tindakan Axel memang memiliki dasar yang kuat, tapi tetap saja itu adalah tindakan yang melawan prinsip dari Liberator di Amerika Utara ini.
Sambil menatap tepat ke kedua mata Axel dengan lembut, Eva pun membalas.
"Tentu saja. Untuk apa aku membocorkannya?"
Keduanya pun bersiap berjalan untuk meninggalkan tempat ini. Sambil terus berhati-hati terhadap Chimera yang sedari tadi belum ditemukan oleh mereka.
Untuk memastikannya, Axel pun menyalakan kembali earphone di telinga kirinya itu. Untuk dapat berkomunikasi dengan Oracle di markas utama.
'Beep!'
Tapi sesaat setelah Axel menyalakannya, yang didengar olehnya hanyalah sebuah omelan yang cukup berisik di telinganya.
"Axel! Apa yang kau lakukan?! Kenapa kau mematikan saluran komunikasi itu?! Aku ingin penjelasan dengan segera! Kau sadar bahaya dari Chimera itu kan?!"
Ini adalah pertama kalinya bagi Axel untuk mendengar amarah serta teriakan dari Oracle.
__ADS_1
Sosok yang biasanya selalu tenang dengan sikap yang terkesan tak begitu peduli itu, kini nampak begitu menghawatirkannya.
"Maaf, tapi aku menemukan seorang penyintas di tempat ini. Gadis kecil, mungkin 12 tahun. Dan dia terluka cukup parah." Jelas Axel.
Oracle pun terdiam.
Ia tak lagi bisa menjawab jika memang itu kenyataannya.
"Ga-gadis kecil? Seberapa buruk lukanya?" Tanya Oracle khawatir.
"Dia kehilangan lengan kirinya. Juga beberapa luka di ba...."
Sebelum Axel menyelesaikan perkataannya, Ia melihat sesuatu yang aneh pada tubuh gadis itu. Luka bekas tembakan peluru di tubuhnya nampak mulai memudar. Sedikit demi sedikit mulai beregenerasi dan kembali seperti semula.
Seakan-akan tembakan itu tak pernah mengenai tubuhnya.
Yang tersisa, hanyalah pakaian yang compang-camping karena menerima banyak serangan.
"Axel? Kau disana?" Tanya Oracle sekali lagi karena Axel terdiam untuk beberapa saat.
"Aah, ya. Intinya, dia terluka cukup parah tapi masih bisa bertahan hidup. Jadi aku akan kembali ke markas untuk meminta perawatan terhadap dirinya." Balas Axel.
"Dimengerti. Aku akan meyiapkan satu kamar operasi dan beberapa dokter untukmu."
Setelah semuanya beres, Axel pun kembali ke topik utama. Ia memiliki sebuah pertanyaan yang belum terjawab.
"Ngomong-ngomong, bagaimana dengan Chimera itu? Dimana dia? Aku sama sekali tak menemukannya? Apakah dia memiliki kemampuan tembus pandang atau semacamnya?" Tanya Axel penasaran.
Oracle terdengar cukup kebingungan untuk menjawab pertanyaan Axel. Padahal, itu adalah sebuah pertanyaan yang sederhana.
Yaitu dimana Chimera itu berada sekarang.
"Halo?" Tanya Axel sekali lagi karena jawaban tak kunjung datang.
Di sampingnya, Eva turut mendengarkan percakapan antara Axel dan juga Oracle melalui saluran komunikasinya sendiri. Sementara itu kedua tangannya terlihat menggendong sosok gadis itu.
Mereka berdua terus berjalan dengan santai melewati reruntuhan kota ini.
Tentu saja, saluran komunikasi ini hanya mencakup regu Axel dan Eva saja. Tak ada orang lain yang bisa mendengarkan percakapan ini selain Oracle.
Akhirnya setelah beberapa saat terdiam, Oracle pun kembali berbicara.
"Sebenarnya.... Chimera itu menghilang beberapa menit yang lalu. Pancaran Flux yang terdeteksi seakan lenyap begitu saja. Ini benar-benar hal yang tak masuk akal." Jelas Oracle.
Ia terlihat begitu kebingungan. Tak mampu untuk menjelaskan kejadian barusan dengan logika.
Yang pertama, mereka melihat adanya pertanda keberadaan Chimera di lokasi ini.
__ADS_1
Tapi ketika tiba, mereka sama sekali tak bisa menemukan apapun. Dan setelah beberapa saat, jejak Flux dari Chimera itu menghilang begitu saja.
Seakan-akan memang tak pernah muncul di dunia ini.
"Ini hanya dugaan ku saja tapi.... Ku rasa Chimera ini memang seperti yang kau bilang. Memiliki kemampuan bersembunyi yang luarbiasa, bahkan sampai menekan Flux di tubuhnya." Lanjut Oracle.
Axel yang mendengarkan penjelasan itu mulai khawatir.
Bagaimana jika Chimera itu bersembunyi di balik reruntuhan bangunan. Menekan hawa keberadaan mereka seminimal mungkin. Untuk kemudian menyergap Axel dan juga Eva?
Tapi seberapa banyak pun Axel berusaha merasakan keberadaan Chimera itu, Ia tak dapat menemukannya.
Hingga akhirnya, Axel pun menyerah dan memutuskan untuk sekedar fokus pada pekerjaannya saat ini.
Yaitu membawa gadis ini kembali ke markas untuk memperoleh perawatan.
"Baiklah, kalau begitu akan ku tutup lagi panggilan ini. Terimakasih, Oracle. Kami akan berhati-hati." Balas Axel.
"Tunggu! Jangan ma...."
Sekali lagi, sebelum Oracle sempat menyelesaikan perkataannya, Axel dan juga Eva telah mematikan earphone komunikasi itu.
Dan keduanya, berjalan dengan penuh kehati-hatian hingga tiba ke markas. Terus menerus beranggapan bahwa Chimera itu mungkin saja akan menyergap mereka.
Dimana pada akhirnya, Chimera itu benar-benar tak pernah muncul.
......***......
Rumah Sakit Umum
Kompleks Kota Bawah Tanah
Setelah menyerahkan gadis itu ke pihak medis, beberapa dokter dan juga suster segera merawat tubuh gadis itu.
Bukan karena sebagai bentuk perlakuan VIP terhadap Liberator atau semacamnya.
Melainkan....
"Bukankah rumah sakit ini terlalu sepi?" Tanya Axel setelah memperhatikan kondisi di sekitarnya.
"Begitu lah. Mengingat pihak militer memiliki rumah sakit tersendiri, sedangkan khalayak umum cukup sehat dengan rendahnya pekerjaan yang berbahaya, kami selalu dalam keadaan sepi.
Mungkin sesekali akan ada pasien yang datang untuk meminta obat flu atau batuk." Jelas seorang suster cantik yang ada di sebelah Axel itu.
"Begitu kah?"
Dengan balasan yang sedikit ragu-ragu itu, Axel dan juga Eva terus berjalan di belakang ranjang dorong itu. Mengikuti arah beberapa dokter dan juga perawat yang membawa tubuh gadis itu ke suatu ruangan.
__ADS_1
Tanpa menyadari....
Apa yang sebenarnya telah mereka berdua bawa ke dalam benteng bawah tanah ini.