Liberator

Liberator
Bab 69 - Tujuan yang Sebenarnya


__ADS_3

Axel duduk di sisi samping pesawat ini. Sambil memperhatikan jendela di sebelahnya, Ia menikmati makanan ringan berupa coklat batangan.


Beberapa jam berlalu tanpa adanya kendala. Dan akhirnya, mereka pun melihat tanah sekali lagi setelah melalui lautan yang luas ini.


Hanya saja....


"Hmm? Bukankah ini Jepang? Kenapa kita mulai mendarat?" Tanya Axel kebingungan.


Sekalipun Ia bukanlah seorang ahli geografi, tapi Ia tahu bahwa China masih jauh di depan. Akan tetapi, pesawat ini telah mulai menurunkan ketinggian penerbangannya.


"Kau benar. Apakah kita akan berhenti di Jepang terlebih dahulu?" Tanya Eva di sebelahnya.


Emma dan juga Sophie yang duduk di belakang Axel juga terlihat keheranan.


Sementara itu, tak ada satu pun dari prajurit atau pun Liberator dari Asia Timur yang terkejut dengan hal ini. Seakan-akan.... Mereka memang telah berencana untuk mendarat di Jepang sejak awal.


Menyadari kejanggalan ini, Axel pun meraih obat eksperimental yang diberikan oleh Oracle dulu. Sebuah Flux Booster generasi terbaru yang masih sangat tak stabil dengan wujud seperti jarum suntik kecil itu.


Axel menggenggam suntikan itu di dalam kantung celananya. Bersiap jika akan terjadi sesuatu yang buruk di sini.


"Maaf, tapi apakah kita akan berhenti di Jepang terlebih dahulu?" Tanya Axel kepada Liberator Asia Timur di depannya.


"Itu benar. Kita perlu mengisi bahan bakar dan mengambil beberapa perlengkapan untuk berperang di sana." Balas Liberator itu.


Pria lain yang ada di sebelahnya juga ikut menjawab.


"Sekitar 2.000 prajurit dan juga 40 Liberator lain juga akan bergabung. Tentunya dengan pesawat mereka sendiri."


"Aaah, jadi begitu ya?" Balas Axel setelah memahami maksud dari mereka.


Itu bukan lah hal yang aneh.


Lagipula, pesawat ini sama sekali belum mengisi ulang bahan bakar mereka semenjak tiba di Los Angeles.


Dan mengenai pasukan tambahan itu tentu saja merupakan hal yang wajar. Mengingat kabarnya Shanghai telah menjadi sebuah sarang Monster.


Setelah memperoleh jawaban itu, Axel pun kembali duduk di kursinya.


Menanti pesawat ini mendarat di bandara Osaka, Jepang.


......***......


'Swwuuuussshhh!!!'


Secara perlahan, pesawat besar itu pun mulai mendarat. Pemandangan bandara ini jauh berbeda jika dibandingkan dengan apa yang ada di Los Angeles.


Ratusan pekerja nampak memandu beberapa pesawat yang akan mendarat maupun lepas landas.


Selain itu, dari ketinggian Axel dapat melihat pemandangan yang serupa dengan apa yang baru saja selesai dibangun di Los Angeles.


Yaitu dinding beton yang menjulang tinggi, melindungi seluruh kawasan di Osaka ini.


Tidak hanya satu lapis. Tapi terdapat 4 lapis dinding beton itu dengan jarak sekitar 100 kilometer untuk setiap dinding.


Reruntuhan Kota di tempat ini juga telah di bersihkan. Tergantikan oleh gedung apartemen yang tinggi serta lahan pertanian dan peternakan yang luas.


Begitu pula dengan beberapa pabrik yang telah dihidupkan kembali untuk memacu produksi banyak mesin dan peralatan besar.


"Pantas saja mereka memiliki tenaga yang begitu melimpah. Wilayah mereka saja seluas ini." Ucap Axel terkagum atas pencapaian Liberator di Asia Timur ini.

__ADS_1


"Kau benar.... Tapi tenang saja. Suatu hari Amerika Utara akan menyusul bukan? Lagipula, kita telah membangun dinding pertama di LA."


'Bruukk!'


Sedikit goncangan mulai terasa setelah pesawat itu mendarat di lintasan penerbangan ini.


Secara perlahan, pesawat itu pun mulai melambat. Hingga akhirnya, pesawat itu berhenti dan membuka pintu keluarnya.


Seluruh prajurit dan juga Liberator dari Asia Timur keluar secara perlahan. Menyisakan hanya beberapa dari mereka di belakang bersama dengan Liberator dari Amerika Utara.


Akan tetapi....


Sesaat setelah Axel dan timnya turun....


'Sreeeetttt! Bruuukkkk!'


Beberapa Liberator yang tertinggal di belakang kelompok Axel itu segera membanting tubuh Emma dan Sophie ke tanah. Mengunci pergerakan mereka sepenuhnya.


Sosok Liberator yang lain juga terlihat menangkap Eva. Tidak....


Liberator yang menangkap Eva adalah sosok seorang wanita dengan rambut kemerahan yang panjang itu. Ia tak lain adalah Akane, Liberator peringkat S dari Asia Timur.


Ia terlihat mengarahkan pistol tepat ke lehernya dengan tangan kanannya.


Sementara itu, tangan kirinya mengunci kedua lengan Eva dengan kuat.


Hanya Axel sendirian yang sama sekali tak disentuh oleh mereka.


"Apa yang kalian lakukan?" Tanya Axel kebingungan.


Senyuman yang lebar mulai terlukis di wajah Akane setelah mendengarkan pertanyaan Axel.


Kini, semua orang menunjukkan wajah mereka yang sebenarnya. Tak ada lagi sikap ramah dan juga basa-basi.


Pada saat ini lah, Axel mengutuk dirinya sendiri. Karena dirinya, begitu pula dengan anggota kelompoknya, sepakat untuk meninggalkan senjata mereka di bagasi pesawat.


Tak ada senjata yang cukup kuat untuk digunakan olehnya.


Sementara itu, musuhnya telah menyandera seluruh anggota kelompoknya. Membuat Axel berada dalam posisi yang sangat dirugikan.


"Apa yang kalian inginkan? Kalian menyandera karena ingin bernegosiasi bukan?" Tanya Axel.


"Kau benar, Axel. Yang kami inginkan hanyalah dirimu. Atau lebih tepatnya, tubuhmu. Kau tahu, kami Liberator Asia Timur berusaha sekuat tenaga untuk mengumpulkan Liberator berbakat di dunia ini.


Tapi sayangnya, peringkat S seperti dirimu dan Oracle benar-benar langka. Sangat langka, bisa dibilang. Jadi jika kau mau bekerjasama dengan kami, maka aku akan melepaskan kekasihmu ini. Begitu juga dengan dua gadis di belakangmu itu." Jelas Akane panjang lebar.


Axel pun sedikit kebingungan.


Bukankah Ia kemari untuk menolong mereka menaklukkan kembali Shanghai itu? Lalu kenapa masih menginginkan dirinya? Bukankah Ia sudah ada di sini?


"Dan jika kau menolak...." Ucap Akane sekali lagi. Kini sambil menarik pengunci di pistol itu. Bersiap untuk menembakkannya tepat di kepala Eva.


Situasi saat ini benar-benar kritis. Seluruh tubuh Axel mulai gemetar. Pikirannya mulai terhenti. Dan detak jantungnya berdegup dengan begitu kencangnya.


Ia terus memikirkan solusi apa yang sebaiknya dilakukan olehnya.


Menuruti permintaan Akane untuk menyerahkan dirinya mungkin memang bukan lah hal yang buruk. Tapi apa yang akan mereka lakukan padanya adalah pertanyaan yang lain.


"Axel! Jangan pikirkan aku dan...."

__ADS_1


'Doorrrr!'


Akane menembakkan pistol itu. Tapi Ia dengan sengaja membuat tembakan itu meleset.


"Ini hanya sebuah peringatan, Eva. Jika kau berbicara sekali lagi, aku akan segera membunuh mu. Kau tentu tak ingin Axel sedih bukan?" Ucap Akane dengan tatapan yang begitu mengerikan.


Eva sendiri sama sekali tak menyangka bahwa Akane akan bertindak sejauh ini.


Terlebih lagi....


'Kekuatan fisiknya melebihi diriku? Bukankah dia tipe sihir?!' Pikir Eva dalam hatinya yang sedari tadi sama sekali tak bisa melepaskan dirinya.


Di sisi lain, Axel pun berpikir.


'Tak ada pilihan lain....'


Dengan cepat, Axel menarik Flux Booster kecil itu dan bersiap untuk menyuntikkannya ke lehernya.


Tindakan itu membuat semua orang terkejut. Termasuk Akane.


Hanya suntikan itu saja yang sama sekali tak pernah diketahuinya. Itu karena Axel benar-benar memperoleh benda itu di tempat yang tak terpantau oleh kamera.


Berusaha untuk terlihat tetap tenang, Akane pun berbicara.


"Hah! Menggunakan Booster di saat seperti ini? Kau pikir kau bisa mengalahkan kami semua tanpa senjata?"


Sedari tadi, ada sesuatu yang benar-benar mengganjal pikiran Axel.


"Akane, bukankah kau penyihir tipe api? Kau bisa saja membunuh Eva dengan mudah menggunakan sihirmu bukan? Lalu kenapa kau membutuhkan pistol?" Ucap Axel sambil terus meletakkan jarum suntik itu tepat di lehernya.


Pernyataan Axel itu seketika membuat seluruh Liberator di sekitar Axel berada mulai mengangkat senjata mereka dan mengarahkannya pada Axel.


Walau hanya sekilas, Axel bisa melihatnya.


Sebuah sikap keragu-raguan dalam diri Akane.


"Begitu ya? Kau tak bisa menggunakannya ya? Atau lebih tepatnya.... Kau tak ingin bandara ini rusak kan?" Lanjut Axel.


Kekuatan sihir api milik Akane memang benar-benar luarbiasa.


Bahkan bisa dikatakan terlalu kuat.


Area semburan apinya saja bisa mencapai radius ratusan meter. Dan jika Akane menggunakannya di bandara ini....


'Jleb!'


Tanpa ragu, Axel segera menusukkan jarum suntik itu dan memasukkan seluruh cairan itu ke dalam tubuhnya melalui lehernya.


Efek dari obat eksperimental ini bekerja segera setelah kontak dengan darah di tubuh Axel. Tanpa perlu menunggu cairannya menyebar.


Seketika, pandangan Axel terhadap dunia ini berubah drastis.


Akane yang ada di hadapannya terlihat bersiap untuk menarik pelatuk pistolnya. Akan tetapi, entah kenapa, Ia melakukannya dengan begitu lambat.


Atau lebih tepatnya....


Seluruh dunia ini seakan dalam keadaan yang sangat lambat bagi Axel. Dimana setiap satu detiknya, terasa seperti seratus detik bagi Axel.


Sedangkan dirinya sendiri bisa bergerak dengan normal dalam dunia yang telah melambat ini.

__ADS_1


__ADS_2