Liberator

Liberator
Bab 25 - Tombak dan Perisai


__ADS_3

Axel menatap ke arah Lizardmen abnormal itu dengan seksama. Berusaha untuk memperhatikan detail sekecil apapun pada tubuhnya untuk mencari kelemahannya.


Akan tetapi, sisik hijau gelap yang tebal itu sama sekali tak menunjukkan celah. Bahkan jauh lebih buruk daripada saat dimana Axel harus melawan Wyvern beberapa waktu yang lalu.


Kali ini, lawannya benar-benar memiliki pertahanan yang sangat tinggi. Termasuk juga daya serang yang dapat membunuh Axel dalam sekejap.


Api panas milik James sebelumnya juga sama sekali tak mampu untuk melelehkan sisik tebal Lizardmen ini.


'Sekarang, apa yang harus ku lakukan?' Tanya Axel pada dirinya sendiri.


Darah di lehernya terus mengalir walaupun kini mulai melambat.


Jika Axel tak berpikir dengan cepat, maka waktunya akan habis dan Ia akan kehilangan kesadarannya karena pendarahan yang berlebihan.


Saat masih terus memikirkan hal itu....


'Blaaarr! Swuuooshhh!'


Lizardmen itu kembali melompat ke arah Axel untuk menyerangnya.


Tapi saat ini, Axel telah memegang tombaknya. Memungkinkan dirinya untuk memberikan serangan balasan yang lebih kuat.


'Sraaasshh!'


Ayunan pertama dari lengan kanan Lizardmen itu berhasil dihindari dengan baik oleh Axel. Dalam sekejap, Axel memberikan serangan balasan dengan tombaknya.


Kali ini, mengarah tepat pada bagian paling lunak yang dilihat Axel saat ini.


Yaitu mata kanannya.


'Swuushh!'


"Kadal sialan...." Keluh Axel setelah melihat Lizardmen itu dengan santainya memiringkan kepalanya untuk menghindari tusukan dari Axel.


Nampaknya, insting naluriah dari Lizardmen itu benar-benar tajam hingga mampu memprediksi arah serangan Axel sebelum Ia benar-benar melancarkannya.


Dan tanpa memberikan kesempatan bagi Axel untuk bereaksi, Lizardmen itu memberikan sebuah serangan yang jauh berbeda daripada yang sebelumnya.


Ia memutar tubuhnya dengan cepat dan memukul Axel cukup kuat dengan kibasan ekor besarnya itu.


'Braaakkk!! Srruugg!!'


Tak berhenti di sana, Lizardmen itu lalu mengejar Axel dengan mulut yang terbuka lebar. Memperlihatkan ratusan taring tajam di baliknya. Kedua lengannya juga nampak siap untuk mencabik-cabik tubuh Axel.


"Grroooaaaarrr!!!" Teriak Lizardmen itu dengan niatan untuk menerkam Axel.


Tapi pada saat itu lah, Axel melihat sebuah kesempatan emas.


'Jleeebbb! Zraasshh!!'


Dengan cepat, Axel menghunuskan tombaknya tanpa memperdulikan serangan dari kedua lengan Lizardmen itu.

__ADS_1


Sebuah pertukaran serangan berdarah pun terjadi.


Di satu sisi, Axel berhasil menusuk Lizardmen itu pada titik kelemahannya. Yaitu bagian dalam mulut hingga menembus tenggorokannya yang sama sekali tak terlindungi oleh sisik tebal itu.


Sedangkan di sisi lain, Axel sendiri juga menerima luka yang cukup dalam.


Kedua lengan Lizardmen itu kini mencengkeram pundak Axel dengan sangat erat. Kukunya yang panjang dan sangat tajam itu menembus seragam militer dan kulit Axel seakan hanya menembus sebuah kertas tipis.


"Gyaagghh!!!" Teriak Axel kesakitan ketika tubuhnya tertusuk oleh 10 kuku tajam Lizardmen itu.


Tapi Axel tak ingin kabur dan melepaskan serangannya yang cukup telak itu.


Tidak.


Ia tak bisa kabur.


Cengkeraman dari Lizardmen itu sangat kuat hingga jika Axel memutuskan untuk melompat mundur, kedua lengannya mungkin terputus saat itu juga.


'Ku rasa ini adalah akhirnya ya?' Pikir Axel dalam hatinya sambil melihat situasi ini.


Tak ada jalan kabur baginya.


Sekalipun Ia bisa lepas dari situasi ini, belum tentu Axel bisa melepaskan diri dari kejaran Lizardmen ini.


Dan dengan segala pertimbangan cepat di dalam kepalanya, Axel telah memutuskannya.


Yaitu untuk mati bersama dengan Lizardmen sialan ini.


Semakin lama, cengkeraman dari Lizardmen itu semakin kuat. Dan sedikit demi sedikit, cakar tajamnya itu mulai mendekat ke arah jantung Axel berada.


Darah mulai bercucuran dengan sangat deras.


Bernafas pun kini mulai menjadi berat.


Berkat obat bius yang digunakannya, Axel sama sekali tak menyadarinya pada saat ini. Bahwa kedua paru-parunya telah dirobek oleh cakar tajam Lizardmen itu.


Hanya perlu menunggu waktu, sebelum cakar itu mulai menembus jantungnya.


Tak ada rasa sakit yang dirasakannya.


Axel hanya merasa bahwa dirinya sedikit kelelahan dan mulai kesulitan bernafas.


Akan tetapi, hal itu tak mengubah kenyataan, bahwa ini adalah kesempatan terakhir baginya untuk menghentikan Lizardmen ini.


"Wuuooohhh!!!" Teriak Axel dengan sekuat tenaga. Seakan itu adalah kesempatan terakhirnya untuk dapat berteriak dengan bebas.


Bersamaan dengan teriakan itu, Axel mengalirkan sebanyak mungkin energi Flux yang berada di dalam tubuhnya. Mengubah semuanya menjadi sebuah sihir elemen petir yang dialirkan pada tombak logamnya itu.


...'ZAAAAAAPPPP!!! BZZZZZTTTTT!!!'...


Kilatan petir biru yang sangat menyilaukan itu dapat terlihat menerangi seluruh pusat pembuangan ini.

__ADS_1


Bahkan cahayanya turut menerangi sebagian besar lorong yang tersambung dengan pusat pembuangan ini.


Termasuk, dalam salah satu lorong dimana Eva dan juga James berada.


"Cahaya biru ini...." Ucap Eva yang baru saja meletakkan tubuh James di tempat yang aman.


Melihat kilatan itu, James segera menyadarinya. Ia mungkin baru pertama kali bertemu dengan Axel. Tapi bukan berarti Ia sama sekali tak mengenal sosok pendatang baru itu.


Dengan skala sihir yang sebesar ini, James paham apa yang terjadi.


"Apa yang kau lakukan?! Tinggalkan saja aku dan bantu peringkat S itu!" Teriak James dengan raut wajah yang nampak begitu penuh dengan amarah.


Kedua matanya terbuka lebar. Tatapannya tertuju tepat ke arah mata Eva di hadapannya.


"Tapi...." Balas Eva ragu.


Meninggalkan James di sini mungkin sangat lah berbahaya. Mengingat saat pertama kali memasuki saluran pembuangan air ini, Eva dan juga Axel disergap secara tiba-tiba oleh ratusan lebih Lizardmen.


Itu benar.


Meninggalkan James dalam kondisi lumpuh ini jauh dari tempat yang aman, sama saja dengan membunuhnya.


Akan tetapi, James tidak berpikir seperti itu.


"Akan ada banyak yang bisa menggantikanku! Cepat pergi dan bantu dia!" Teriak James yang kini memberikan sorotan yang penuh dengan kebencian. Sebuah kebencian terhadap sikap Eva yang ragu dalam memilih satu hal.


Wajar saja, Eva tahu bahwa Axel adalah seorang Liberator peringkat S.


Kabur dari Lizardmen itu, walaupun sangat abnormal, tentunya mudah. Itu adalah yang ada di dalam pikiran Eva.


Tapi Ia juga teringat.


Bahwa Axel hanyalah seorang pemuda yang baru saja bergabung dalam militer.


Perkembangan dan kemampuan Axel untuk beradaptasi dalam tugas ini membuat Eva lupa, bahwa Axel jauh lebih tidak berpengalaman daripada siapapun dalam divisi khusus Liberator ini.


'Tap!'


Segera setelah membalikkan badannya, Eva mulai berlari. Berlari secepat yang Ia bisa lakukan untuk segera kembali ke dalam pusat pembuangan itu.


'Tap! Tap! Tap!'


Setiap langkah yang Ia tempuh, cahaya kebiruan dari kejauhan itu mulai meredup. Suara benturan antar senjata Axel dan juga sisik keras Lizardmen itu juga tak lagi terdengar.


'Ku mohon.... Jangan terulang kembali....' Pikir Eva dalam hatinya.


Entah kenapa, situasi saat ini benar-benar mengingatkan Eva atas masa lalunya. Saat dimana Ia terlalu mempercayai partnernya, hingga pada titik dimana Eva menilai partnernya terlalu tinggi.


Yang pada akhirnya....


Membuat partnernya terbunuh dalam medan pertempuran.

__ADS_1


__ADS_2