
...'SWUUUOOOSSHHH!!!'...
Tiba-tiba, sebuah bola api raksasa muncul di langit. Semburan api yang berasal dari tangan kanan Akane itu begitu besar, sampai-sampai mampu menyaingi terangnya cahaya matahari.
Axel yang melihat ke arah langit itu cukup terkejut.
Dirinya yang sebelumnya melihat sihir api milik James saja sudah terkagum-kagum. Tapi kini.... Sihir api James yang sebelumnya seakan-akan hanyalah sebuah permainan anak kecil.
"Axel! Kau mendengarku?!" Teriak Oracle dari markas pusat melalui saluran komunikasi tersebut.
"Ya, ada apa?" Balas Axel singkat.
"Permintaan khusus dari Akane, seorang Liberator dari Asia Timur. Ia memintamu untuk membantunya membunuh Phantom itu!" Tegas Oracle.
"Membunuh? Bukan kah kau bilang sebelumnya bahwa Phantom tak bisa dilukai?" Tanya Axel kebingungan.
"Mengenai hal itu, Akane baru saja membuktikan bahwa Phantom pada kenyataannya bisa dilukai. Penjelasan detailnya nanti, tapi pada intinya, Phantom hanya kebal terhadap serangan fisik, dan cukup lemah terhadap serangan tipe sihir!" Jelas Oracle panjang lebar.
Axel yang mendengar pernyataan itu pun akhirnya segera paham. Bahwa serangan anak panahnya barusan termasuk serangan fisik yang tak bisa melukai tubuh Phantom yang seperti hantu itu.
Akan tetapi, sihir petirnya mungkin bisa melukainya.
Tapi bagaimana?
Setelah memikirkannya sejenak, Axel akhirnya memperoleh sebuah ide.
"Baik lah. Aku akan segera bersiap untuk membantunya." Balas Axel yang segera berlari kembali ke arah gedung tinggi tempat Ia dan regu pendukung lainnya berada.
Tujuannya?
Adalah memperoleh tempat tinggi untuk mampu memberikan serangan telak kepada Phantom itu.
'Yang benar saja. Kenapa aku baru tersadar?' Keluh Axel pada dirinya sendiri.
Senyuman yang cukup lebar nampak menghiasi wajahnya itu.
'Selama ini, aku adalah seorang Liberator tipe sihir. Tapi berkat kekuatan ku, aku dapat bertarung setara bahkan melebihi Liberator tipe fisik. Dan itu membuatku melupakan satu hal penting.' Pikir Axel dalam hatinya.
Ia terus mempercepat langkah kakinya untuk menuju ke gedung tinggi tersebut.
Tak melalui tangga, Axel hanya terus berlari menaiki dinding gedung yang sedikit miring itu dengan melompat dari satu jendela ke jendela yang lainnya.
Tak berselang lama, kini Axel telah berdiri di puncak gedung tinggi itu.
"Emma! Dimana kau?" Tanya Axel melalui saluran komunikasi itu.
"Beberapa lantai di bawah mu di dekat jendela yang menghadap ke Utara. Ada apa?" Balas Emma.
"Maaf tapi aku akan meminjam dan merusak senjatamu!"
"Eh?! Tu-tunggu dulu! Apa maksudmu dengan itu?!"
Tapi sebelum Emma sempat menanyakan detail dari apa yang dimaksudkan oleh Axel, pemuda berambut kecoklatan itu telah berdiri tepat di belakang tubuh Emma yang sedang tiarap di atas lantai itu.
__ADS_1
Dengan cepat, Axel segera meraih senapan besar milik Emma dan membawanya kembali ke puncak.
"Tunggu! Akan kau apakan senjata kesayanganku?!" Teriak Emma panik yang berusaha mengejar langkah kaki Axel.
Tapi sayangnya, Emma sama sekali tak cukup cepat untuk itu. Dan kini, nasib dari senjatanya berada di tangan Axel sepenuhnya.
'Braakk!'
Axel segera berlutut dengan satu kaki. Kedua tangannya menopang senjata yang berupa senapan besar itu dengan kokoh. Sementara itu, mata kanan Axel melihat melalui scope pada senjata itu.
Di kejauhan, Axel masih dapat melihat bola api yang besar itu.
Salah satu pesawat bahkan nampak diselimuti oleh bola api untuk melindunginya dari Phantom.
Dan tepat di salah satu pesawat itu, seorang wanita berambut merah nampak terus menyemburkan api dari tangan kanannya.
Ia sama sekali tak berhenti dan terus mengikuti arah pergerakan dari Phantom itu.
'Bertahan lah sebentar lagi, tingkat S dari Asia Timur.' Pikir Axel dalam hatinya sambil terus mengarahkan senapan itu kepada Phantom di kejauhan.
Phantom itu terbang kesana kemari dengan begitu cepat dan hampir mustahil untuk dibidik dengan sempurna.
Tapi demi kelancaran misi kali ini, Axel harus bisa melakukannya.
Tak boleh ada kegagalan dalam misi ini. Atau Phantom itu mungkin akan terbang dan menuju ke arah benteng Liberator di Amerika Utara ini.
'Swuuuusshhh!!! Zraatt! Zraatt!'
Di dalamnya, hanya terdapat sebuah peluru yang belum ditembakkan oleh Emma sebelumnya.
Dengan kata lain, kesempatan Axel hanya satu kali saja. Jika Ia meleset, mungkin Ia takkan bisa menyerang lagi dengan ide gila ini.
'Zraatt! Zraatt!'
Sambaran listrik kecil mulai terlihat di sekitar senapan besar itu. Secara perlahan, senapan itu mulai dipenuhi dengan cahaya kebiruan yang begitu terang.
Tepat setelah Axel menekan pelatuk di senapan itu....
...'DUAAAAAARRRR!!!'...
Ledakan yang besar muncul tepat dari laras senapan itu. Ledakan itu sangat besar bahkan meremukkan laras dan setengah dari senapan itu segera setelah Axel menembakkannya.
Tubuhnya pun turut terlempar ke belakang sejauh puluhan meter setelah menekan pelatuk senapan itu.
Kini, apa yang ada di harapan Axel hanya satu. Agar tembakannya mengenai tepat di targetnya.
Sementara itu....
Beberapa saat sebelum Axel menembakkan senapannya....
Akane yang masih berhadapan secara langsung dengan Phantom itu hanya mampu terus menyemburkan api sembari menghindar.
Ia sama sekali tak berani untuk tersentuh Phantom itu. Karena sepengetahuannya, apapun yang tersentuh oleh tubuh Phantom itu akan segera mati dan hancur. Sama seperti ketika Phantom itu sebelumnya menembus badan pesawat yang membunuh pilot dan yang lainnya.
__ADS_1
'Tap! Tap!'
Tanpa rasa takut, Akane terus menerus melompat di atas badan pesawat itu hanya dengan pengait kawat di pinggangnya. Menghindari serangan dari Phantom itu secara terus menerus.
'Swuuushh!'
Tubuh dengan jubah hitam yang sedikit tembus pandang itu melesat dengan cepat menuju ke arah Akane berada.
Dengan menggunakan sihir apinya sebagai dorongan, Akane pun dapat menghindarinya dengan mudah.
Tapi hingga seberapa lama?
"Cabang Amerika Utara?! Kalian sama sekali tak ada seorang pun yang bisa membantu ku?!" Teriak Akane dalam saluran komunikasi itu.
"Seorang Liberator peringkat S sedang bersiap untuk membantumu!" Balas Oracle.
"Suruh dia bergegas dan...."
Pada saat itu lah, Akane melihat sebuah kilatan cahaya kebiruan yang begitu terang di hadapannya. Sangat terang bahkan sedikit membutakan pandangannya selama beberapa saat.
Kilatan itu tak lain adalah tembakan yang dilakukan oleh Axel dengan memanfaatkan senapan milik Emma.
Axel mengerahkan sebagian besar sisa kekuatannya dalam tembakan itu. Membuat peluru penembus dengan ujung biru itu diselimuti oleh energi sihir elemen petir yang begitu kuat.
Segera setelah pandangannya kembali normal, Akane melihatnya.
Sosok Phantom yang saat ini telah kehilangan bagian lengan kirinya.
"Yang benar saja...." Ucap Akane dengan senyuman yang lebar.
Setelah melihat hal itu, Akane bisa dengan sangat yakin mengatakan bahwa Phantom bisa dibunuh. Hanya saja, membutuhkan sedikit lebih banyak usaha daripada monster biasanya.
Dengan bukti yang nyata itu tepat berada di hadapannya, Akane segera merapatkan kedua tangannya.
Ia secara perlahan memisahkan kembali kedua telapak tangannya, yang kini dipenuhi dengan api biru yang nampak begitu padat.
Tak menunggu lebih lama lagi, Akane segera menembakkan api itu tepat ke arah Phantom di hadapannya.
...'Swuuuuuuoooosshhh!!!'...
Semburan api yang lebih menyerupai seperti api dari jet sebuah roket itu membakar habis tubuh Phantom itu.
Selama ini, Akane tak berani menggunakan serangan itu karena akan menghabiskan banyak sekali kekuatannya. Dan jika Ia tak bisa memastikan dengan benar bahwa Phantom dapat dibunuh, maka serangannya akan sia-sia saja.
Tapi kini....
Semburan api bak jet dari roket besar itu membakar tubuh Phantom itu. Kekuatan dan daya dorong dari semburan api Akane itu sangat kuat bahkan sampai mendorong posisi pesawat tempat Ia berdiri sejauh ratusan meter ke arah yang berlawanan.
Dan akhirnya....
Phantom itu pun terbakar habis.
Hingga abu sekalipun tak tersisa darinya.
__ADS_1