
Benteng Liberator
Cabang Amerika Utara
Lantai B19
"Terimakasih atas kerja keras kalian berdua. Aku yakin teknologi ini akan sangat membantu umat manusia." Ucap Oracle setelah menerima beberapa botol kaca dari Akane itu.
Dengan segera, Oracle menyerahkannya kepada Leona dan Frans untuk dianalisa. Mencari tahu komposisi sebenarnya dari cairan yang dapat membuat para monster itu tergila-gila.
"Bukan masalah besar." Balas Akane yang segera duduk di salah satu kursi besi itu.
Sementara itu, Axel memberikan sedikit laporan yang berbeda.
"Oracle, bisa kah aku berbicara empat mata denganmu?" Tanya Axel.
Kalimat itu tentu saja sedikit menyita perhatian dari Akane yang sedang duduk santai. Pada satu sisi, Akane tak bisa ketinggalan informasi mengenai targetnya.
Tapi di sisi lain, jika Akane memaksa untuk ikut serta dalam pembicaraan mereka....
'Axel akan benar-benar mencurigai diriku.' Pikir Akane dalam hatinya.
Dan dengan pemikiran itu, Akane pun membiarkan Axel berbicara secara empat mata dengan pimpinan dari Liberator di Amerika Utara ini.
Keduanya berjalan pergi. Menjauhi kerumunan para prajurit lainnya. Setelah berada di dalam salah satu ruang istirahat yang kecil dan sepi itu, Oracle mulai bertanya.
"Ada apa?"
"Pasukan khusus dari Rusia, entah bagaimana caranya mereka bisa tahu kita berdua akan pergi ke kompleks pembangkit listrik itu." Jelas Axel.
Oracle yang masih memberikan tatapan tajam kepada Axel mulai berpikir.
Memang benar bahwa penyergapan dari pasukan Rusia itu terlalu bagus untuk dibilang sebagai kebetulan. Tak mungkin mereka berjaga di banyak tempat dan secara tak sengaja bertemu.
Setelah beberapa saat berpikir, Oracle pun kembali bertanya.
"Kau pikir ada yang membocorkan informasi itu?"
"Setidaknya hanya itu yang bisa menjelaskannya. Kau tahu sendiri perintah mu hanya melalui lisan bukan?" Balas Axel.
Berbeda dengan banyak misi sebelumnya yang melalui pemikiran yang matang serta analisis di komputer, misi kali ini cukup spontan.
Hanya muncul di pikiran Oracle setelah menyadari beberapa kejanggalan ketika melaksanakan misi penjemputan di bandara itu.
Akan tetapi....
Siapa? Dan kenapa?
Kenapa membocorkan informasi itu kepada pihak musuh? Yang mana penemuan ini mungkin akan menyelamatkan jutaan nyawa manusia yang masih bertahan hidup?
Oracle sama sekali tak bisa memahami motif mereka.
Tapi dalam pikirannya, hanya ada satu hal yang jelas.
__ADS_1
"Axel. Kau adalah salah satu orang yang paling bisa ku percayai. Terlepas dari performa mu, kau adalah orang yang paling tak mencurigakan. Jadi, aku akan memberikan misi khusus untuk mu." Jelas Oracle.
"Misi khusus?"
"Ingat. Ini adalah misi yang sangat rahasia, dan akan berakhir setelah kami melepas mesin di punggungmu itu. Jika kau mau melakukannya, maka aku akan menjelaskannya padamu.
Tapi jika kau tak mau melakukannya, tak masalah bagi ku. Hanya saja, aku takkan mengatakan apapun padamu lagi soal ini." Tegas Oracle.
Wajah Oracle yang begitu kelelahan dengan kantung mata yang menghitam itu membuat Axel menjadi sangat yakin.
Bahwa wanita itu adalah orang yang hanya memikirkan keselamatan dan masa depan umat manusia. Sekalipun harus mengorbankan dirinya sendiri.
Dan juga, sebagai sosok yang bisa dipercaya.
Setelah memikirkannya sejenak, Axel pun membalas pertanyaan dari Oracle.
"Ya, aku akan menerimanya. Katakan, apa yang sebaiknya ku lakukan?"
......***......
Bzzztt!
Pintu otomatis dalam sebuah ruangan yang kecil itu pun terbuka.
Di baliknya, sosok Axel dan juga Oracle nampak berjalan secara perlahan dengan wajah yang sedikit kaku.
Dari kejauhan, Akane yang melihat sosok mereka berdua secara tak sadar menunjukkan wajah aslinya. Tatapan matanya seakan dipenuhi dengan kebencian dan kekesalan.
'Rubah sialan itu.... Jika saja dia tak diberkati kekuatan, aku takkan memiliki masalah sebesar ini.' Pikir Akane dalam hatinya sambil terus menatap sosok Oracle di kejauhan.
Tanpa kata-kata, Liberator dengan etnis China itu menggelengkan kepalanya ke arah Akane. Mengisyaratkan agar Akane tak membuat wajah seperti itu di tempat ini.
"Terimakasih, Hao Yu. Aku sedikit kelepasan." Balas Akane sambil menutupi wajahnya dengan kedua tangannya.
Setelah beberapa saat, Akane kembali menjadi sosok yang ceria. Ia bangkit dari kursinya dan berjalan ke arah Axel untuk menyapanya.
Sementara itu, Pria bernama Hao Yu itu segera kembali bekerja. Kembali membaur dalam keramaian di ruangan ini.
"Axel! Kau belum mengajakku berkeliling tempat ini!" Ucap Akane dengan ceria.
"Hah? Memangnya kenapa?" Balas Axel dengan wajah malas.
Oracle di sisi lain segera berjalan menjauh dan kembali ke meja kerjanya. Mempersiapkan atas operasi berikutnya bagi para Liberator.
"Kenapa? Bukan kah karena kita partner?" Balas Akane yang kini memasang wajah memelas.
"Maaf, tapi partner ku adalah Eva. Dan sekarang aku berencana untuk menjenguknya."
Axel segera berjalan menjauh meninggalkan sosok Akane sendirian.
"Tunggu! Aku akan ikut!" Teriak Akane yang berusaha mengejar langkah kaki Axel itu.
......***......
__ADS_1
Ruang Pemulihan.
Semenjak Leona dan Frans memperoleh pekerjaan langsung dari Oracle barusan, ruang pemulihan ini sama sekali tak memiliki petugas.
Hanya menyisakan beberapa tabung saja yang aktif dengan Liberator yang masih dirawat di dalamnya.
Dari semua tabung yang ada, Axel hanya berjalan ke arah satu tabung. Dimana di dalamnya terdapat sosok seorang wanita berambut perak, Eva.
"Kau sudah baikan?" Tanya Axel kepada Eva.
"Mmhh!" Balas Eva singkat sambil menganggukkan kepalanya.
Ia mengulurkan tangan kanannya menyentuh kaca dari tabung itu. Dimana Axel membalasnya dengan meletakkan telapak tangannya di tempat yang sama dengan Eva.
"Mmhh?" Ucap Eva sambil melihat ke arah wanita berambut merah di samping Axel.
"Ooh, dia? Liberator dari Asia Timur, Akane. Dia menjadi partnerku untuk sementara waktu." Balas Axel seakan memahami apa yang ditanyakan oleh Eva.
"Salam kenal, aku Akane." Sahut Akane sambil tersenyum manis kepada Eva. Ia bahkan sedikit menundukkan kepalanya.
"Mmhh?" Tanya Eva sekali lagi.
"Ya. Misi sebelumnya baik-baik saja. Lagipula, Akane cukup kuat, bahkan jauh lebih kuat dariku. Jadi itu bukan masalah." Balas Axel.
Akane yang melihat Axel membalas pertanyaan Eva nampak kebingungan.
"Kau.... Bagaimana kau paham apa yang ditanyakan nya?" Tanya Akane penasaran.
"Hmm? Apa maksudmu dengan itu?" Balas Axel kebingungan.
"Mmhhh! Mmmmhh!"
"Maaf, tapi aku sama sekali tak mengetahui apa yang kau katakan." Balas Akane kepada perkataan Eva yang tak jelas itu.
"Ia bilang, kau akan paham setelah berada di dalam tabung itu beberapa kali." Jelas Axel.
"Hah?! Mana mungkin itu yang dia...."
Kalimat Akane segera terhenti setelah melihat sosok Eva menganggukkan kepalanya. Seakan-akan menyatakan bahwa perkataan Axel memang benar.
"Yang benar saja.... Kalian semua gila?"
"Mungkin. Lagipula, tak ada lagi cara untuk bertahan di dunia ini selain menjadi gila."
'Ding!'
Beberapa saat kemudian, ponsel Axel berbunyi. Ia mengangkatnya dan melihat bahwa itu pesan dari Oracle.
Akane yang benar-benar penasaran atas apa yang terjadi pada Axel dan Oracle sebelumnya, segera mendekatkan wajahnya untuk melihat.
Tapi Axel sama sekali tak menyembunyikan apapun. Ia bahkan sedikit memiringkan ponselnya ke arah wajah Akane agar Ia bisa membacanya dengan jelas.
'Jadi rubah itu belum menyadarinya? Apa yang mereka berdua bicarakan sebelumnya? Mengenai pasukan Rusia itu?' Pikir Akane dalam hatinya sambil menatap ke arah ponsel Axel.
__ADS_1
Dalam ponsel itu bertuliskan pesan singkat dengan judul [Hasil Temuan].
[Temuan besar dari kerja kalian berdua berbuah manis. Leona dan Frans telah memahami apa yang ada dalam cairan itu dan kita bisa memanfaatkannya untuk mengambil alih kembali kota Los Angeles. Bersiap lah untuk misi baru.]