
"Kerja yang bagus, Axel. Eva." Ucap Oracle singkat kepada mereka berdua di ruang rapat ini.
Semua pasukan dan pekerja sipil telah ditarik kembali ke markas mengingat kejadian tersebut. Meski begitu, Oracle dan seluruh tim lainnya masih tak mampu memahami motif dari hewan buas itu.
"Apakah ada semacam alat yang mengalihkan perhatian monster itu? Kenapa Chimera itu mundur?" Tanya Axel penasaran.
"Kami juga tak tahu. Tapi tak ada gelombang atau pun Flux lain di sekitar. Pengamatan lanjutan juga memperlihatkan Chimera itu pergi untuk mencari makanan." Balas Oracle sambil menampilkan video dari citra satelit itu.
Pada sebuah layar proyektor yang besar itu, pemandangan dari Chimera yang sebelumnya dilawan oleh Axel dapat terlihat dengan jelas.
Dimana saat ini, monster itu sedang sibuk membantai ratusan Orc sendirian dan memakan daging mereka.
"Jadi mereka tidak berada di pihak yang sama dengan para monster itu?" Tanya Eva.
Beberapa Liberator dan juga prajurit lain dari Asia Timur nampak turut memperhatikan penemuan ini.
Bahkan, Akane yang berasal dari Asia Timur juga baru pertama kali melihat kejadian ini.
Wanita berambut merah itu nampak berbisik dengan sesama Liberator dari Asia Timur di sebelahnya. Membahas mengenai penemuan monster ini.
"Hao Yu, kita belum pernah melihat hal ini bukan?x Tanya Akane.
"Tidak. Belum pernah ada monster buas seperti itu di Jepang. Atau setidaknya di sekitar Osaka." Balas Hao Yu dengan wajah yang kaku.
Keduanya menyadari bahwa penemuan ini, mungkin akan mempengaruhi rencana besar mereka.
Di sisi lain, Leona dan Frans nampak melambaikan tangan mereka ke arah Axel. Meminta agar Ia mengikutinya.
"Kau benar, Eva. Tak seperti monster lainnya yang berada di bawah rantai komando, Chimera ini nampaknya termasuk dalam pihak netral." Balas Oracle.
"Permisi, aku izin pergi." Ucap Axel sambil menunjuk ke arah Frans dan Leona.
"Silakan." Balas Oracle singkat sambil melanjutkan rapat ini.
Setibanya di salah satu ruang kerja itu, Leona dan Frans segera mengutarakan apa yang ada di dalam kepala mereka.
"Kau menggunakan Booster lagi?" Tanya Leona.
"Begitu lah...."
__ADS_1
Axel tahu bahwa umurnya telah terpotong cukup banyak akibat pertolongan dari Eva dulu. Tapi mau bagaimana lagi?
Axel tak bisa memikirkan cara lain untuk melawan Chimera pada saat itu tanpa menggunakan Booster. Akan lebih baik memakai satu dan selamat tanpa luka, jika dibandingkan tak memakainya sama sekali lalu menderita luka fatal.
Itulah yang ada di dalam pikiran Axel pada saat itu.
"Jujur saja, tubuhmu mungkin takkan bertahan lebih lama lagi. Kerusakan sel di tubuhmu akibat Flux telah cukup parah, bahkan bisa dikatakan sebuah keajaiban kau masih bisa bertarung seperti itu." Jelas Leona dengan tatapan yang tajam.
Mendengar omelan itu, Axel hanya terdiam. Lagipula, Ia akan segera berhenti bekerja setelah memenuhi misi dari Asia Timur bukan?
Saat Axel masih berpikir dalam dirinya sendiri, Frans menyodorkan tiga buah jarum suntik berukuran sedang dengan frame logam itu.
Cairan kehijauan dapat terlihat melalui kaca tebal di sampingnya.
"Apa ini?" Tanya Axel.
"Pengobatan sementara. Maaf saja, tapi aku memang perlu memanfaatkan mu sebagai kelinci percobaan ku." Balas Frans tanpa ekspresi.
"Bisakah kau tak mengatakan hal itu padaku?" Balas Axel sambil meraih tiga suntikan itu.
Ia memperhatikan alat yang seukuran dua jarinya itu. Membolak-balikkannya untuk melihat seluruh bagian dari jarum suntik itu.
"Membaik? Maksudmu ini obat?"
"Sudah ku bilang itu adalah obat percobaan, dan aku menggunakannya padamu. Jika berhasil, umat manusia mungkin bisa melawan efek samping dari penggunaan Flux yang berlebihan seperti yang dialami para Liberator."
Seketika, kedua mata Axel terbuka lebar. Ia tak bisa percaya bahwa obat sehebat itu benar-benar akan dikembangkan.
Sekalipun itu masih dalam tahap pengujian, tapi Axel bisa memahami potensi utama dari obat ini.
Dengan kata lain, Liberator tak lagi perlu menghadapi rasa takut atas umur yang terpotong begitu banyaknya.
"Obat ini akan merawat kerusakan sel di tubuh penggunanya akibat Flux. Lalu meregenerasi sel itu sebagai mana mestinya.
Efek Samping yang diketahui yaitu rasa kantuk yang luarbiasa serta kemampuan fisik yang menurun drastis selama 24 jam. Pastikan hanya menggunakan obat itu ketika hari libur." Jelas Leona sambil menyandarkan punggungnya di dinding besi itu.
"Jadi.... Akan ada harapan yang lebih luas untuk para Liberator?"
Frans hanya mengangguk singkat. Menandakan bahwa apa yang dipikirkan oleh Axel benar adanya.
__ADS_1
Di sisi lain, Leona kini berjalan mendekat ke arah Axel. Mendekatkan bibirnya tepat di telinga kiri pemuda itu.
"Ingat, obat ini bersifat sangat rahasia. Jangan sampai orang-orang dari Asia Timur itu tahu." Bisik Leona.
"Aku mengerti." Balas Axel singkat.
Dari pernyataan itu, Axel bisa tahu kalau Frans dan Leona merupakan kaki dan tangan Oracle secara langsung. Atau merupakan orang yang paling dipercaya oleh pemimpin Liberator di Amerika Utara ini.
"Asia Timur merahasiakan sesuatu, itu kami tahu. Tapi begitu pula dengan kami. Singkatnya, mereka tak bisa dipercaya." Balas Frans yang sambil berjalan menjauh.
"Ingat. Gunakan hanya pada hari libur." Ucap Leona yang juga turut meninggalkan Axel sendirian di ruangan ini.
Setelah memandangi kembali ketiga suntikan itu, Axel memasukkannya ke dalam kantung di balik seragamnya sebelum kembali ke ruang rapat.
"Axel, ada apa?" Tanya Eva penasaran.
Secara sepintas, Axel dapat melihat para Liberator dari Asia Timur, termasuk Akane turut mendengarkan percakapan mereka berdua.
"Tidak, Leona hanya mengingatkan padaku agar tak menggunakan Booster secara sembarangan. Kau tahu kan? Efek sampingnya." Ucap Axel sambil menunjuk ke bagian punggungnya.
Jika diperhatikan dengan baik, punggung Axel hingga bagian belakang lehernya terlihat memiliki warna kulit ungu kehitaman. Menandakan kerusakan sel yang cukup buruk akibat dari penggunaan Flux yang berlebihan.
Tentu saja, sama seperti yang diminta oleh Leona, Axel akan merahasiakan obat ini sebaik mungkin.
Dan setelah mengetahui apa yang mereka berdua bicarakan, para Liberator dari Asia Timur itu nampak mulai berjalan menjauh.
Menyadari bahwa percakapan mereka tak begitu berguna bagi Asia Timur.
"Luka mu cukup buruk juga ya?" Balas Eva sambil memperhatikan leher belakang Axel.
"Tak masalah. Lagipula aku masih hidup. Ngomong-ngomong, apakah kau mau makan malam denganku?" Tanya Axel.
"Eh? Aku tak salah dengar? Kau yang mengajakku?" Tanya Eva kembali dengan senyuman yang lebar.
"Ya. Itu pun jika kau mau."
"Tentu saja! Di mana? Daging? Daging kan? Aku tahu, kita akan makan daging!"
Antusiasme dari Eva itu sedikit melegakan untuk dilihat oleh Axel. Setidaknya.... Membuatnya sedikit melupakan kenyataan bahwa umurnya saat ini hanya tersisa kurang dari 10 bulan lagi.
__ADS_1