Liberator

Liberator
Bab 78 - Berita


__ADS_3

Axel menghabiskan sekitar 3 hari untuk memikirkan mengenai tawaran dari pihak Rusia itu.


Kehidupan barunya yang hampir tanpa tanggung jawab di persembunyian Rusia ini sangat lah nyaman. Bahkan Axel mulai ragu, apakah dirinya saat ini masih sama dengan dirinya yang dulu bertarung dengan banyak monster itu.


Senjatanya telah lama hilang semenjak di bandara Osaka itu.


Begitu pula dengan kekuatannya yang telah dihapuskan oleh pihak Rusia.


Kini....


Dirinya benar-benar telah kembali menjadi manusia biasa.


Apakah ini adalah akhir yang terbaik baginya? Axel mulai mempertanyakan hal itu.


Jika memang sisa hidupnya hanya sekitar 2 bulan lagi, maka biarlah itu terjadi. Tapi sayangnya....


'Brak!'


Oracle tiba-tiba membuka pintu di apartemen ini. Mengejutkan semua orang yang berada di dalamnya.


"Semuanya, ada berita buruk untuk umat manusia." Ucap Oracle dengan wajah yang begitu terkejut.


Di belakang Oracle, terlihat sosok Kapten Asimov yang masih menghisap cerutu seperti biasanya.


"Ada apa?" Tanya Eva penasaran.


"Uni Eropa akan meninggalkan kita semua." Balas Oracle singkat.


Balasan itu mengandung makna yang terlalu luas, membuat semua orang justru semakin kebingungan dengan apa yang dimaksud oleh Oracle.


"Meninggalkan kita? Apa maksudnya itu? Apakah mereka berhasil memperoleh teknologi yang hebat dan...."


Perkataan Axel segera dihentikan oleh Oracle.


"Tidak. Tapi benar-benar meninggalkan kita secara fisik."


'Tap! Tap!'


Kapten Asimov nampak melangkah maju. Setelah merasa cukup dekat, Ia melemparkan sebuah flash Drive ke arah Axel.


"Nyalakan. Kalian akan tahu apa yang dimaksudnya." Ucap Asimov yang segera duduk santai di salah satu sofa sambil menikmati cerutunya.


Axel yang baru saja menangkap alat penyimpanan jenis flash Drive itu kebingungan. Dan dengan segera, mengerjakan apa yang diminta oleh Asimov.


Ia mencolokkannya pada tv di ruang utama apartemen ini.


Di dalamnya, hanya terdapat satu video saja. Yang nampaknya merupakan hasil kompilasi dari rekaman para prajurit khusus Rusia di wilayah Uni Eropa.


Semua orang yang ada di apartemen ini pun menyaksikan video tersebut dengan seksama.


Pemandangannya sama seperti apa yang ada di belahan dunia yang lainnya. Yaitu sebuah dunia yang telah hancur dan reruntuhan di segala arah.


Tak ada benteng yang tinggi, maupun menara yang mampu menjaga umat manusia.

__ADS_1


Tak ada apapun, selain hamparan kota yang telah lama runtuh ini.


"Charlie melapor kepada Delta. Tidak ditemukan anomali apapun." Ucap seorang prajurit khusus yang saat ini merekam apa yang dilihatnya dengan kamera pada helmnya itu.


"Delta kepada Charlie. Tolong selidiki lebih lanjut lagi. Kami mendeteksi energi Flux yang besar di wilayah itu." Balas operator dari markas rahasia Rusia.


"Dimengerti."


Prajurit itu, bersama dengan beberapa prajurit lainnya, mulai kembali berjalan ke arah lokasi yang ditunjukkan dalam koordinat mereka.


'Srruugg! Srruugg!'


Mereka berusaha untuk tak membuat suara sedikit pun. Tapi reruntuhan yang menjadi pijakan mereka membuat hal itu mustahil dilakukan.


Setiap kali kaki mereka melangkah, puing-puing bangunan yang ada di tanah dapat remuk dan menimbulkan suara yang keras.


Begitu pula dengan berbagai pecahan kaca di tanah.


Tapi mereka terus melangkah maju.


Setelah beberapa saat.... Mereka merasakan sesuatu yang janggal. Tanah tempat mereka berdiri mulai bergetar.


"Charlie kepada tim. Mundur." Ucap prajurit yang merekam video ini.


Semuanya pun berlari mundur menjauhi koordinat ini.


Dan nampaknya, itu adalah keputusan yang paling bagus. Bagaimana tidak?


Tanah tempat mereka berdiri sebelumnya, kini mulai terbuka. Sebuah pintu gerbang raksasa mulai bergeser dan terbuka. Menyeret semua puing-puing reruntuhan bangunan itu kesamping


Para prajurit khusus Rusia yang melihat hal itu pun terkejut setengah mati.


"Charlie kepada Delta. Kami menemukan suatu anomali. Sebuah lubang dengan diameter lebih dari 200 meter mulai terlihat di koordinat." Ucap prajurit itu.


"Delta kepada Charlie. Bisakah kalian melihat apa yang ada di dalamnya?"


"Akan kami usahakan."


"Berhati-hatilah." Balas operator dari markas pusat itu.


Sebanyak 3 prajurit pun mulai berjalan ke sisi yang berbeda pada lubang besar itu. Sedangkan 2 prajurit lain yang tersisa nampak bersiaga di belakang dalam keadaan bersembunyi di balik pakaian kamuflase mereka.


Semuanya telah mengangkat senapan mereka. Bersiap untuk menghadapi yang terburuk di sini.


'Ctik!'


Ketiganya pun menyalakan lampu senter yang menempel di bagian bawah laras senapan mereka. Lalu mengarahkannya tepat ke lubang besar di tanah itu.


"Apakah kalian melihat sesuatu?" Tanya markas pusat.


Tapi sayangnya....


Sekalipun mereka meneranginya dengan lampu senter, mereka sama sekali tak mampu untuk melihat ujung dari jurang yang begitu dalam ini.

__ADS_1


"Charlie kepada Delta. Kami tak bisa melihat apapun. Beralih ke kacamata infra merah." Balas salah seorang prajurit.


"Tunggu! Dinding di samping jurang ini.... Baja? Apa-apaan ini? Apakah kau bilang ini buatan manusia?" Tanya prajurit yang lainnya.


Operator di markas yang mendengar perkataan prajurit khusus itu segera panik.


Dan dengan cepat, komandan utama Rusia, Nikolov, mulai mengambil alih.


"Teruskan penyelidikan kalian. Lalu hubungkan markas dengan salah satu hasil tangkapan video kalian."


Salah satu prajurit yang merekam video ini pun menekan beberapa tombol di kacamatanya. Lalu mengarahkan pandangannya tepat ke dasar jurang raksasa ini.


Dan apa yang dilihatnya....


Adalah sebuah pesawat ruang angkasa dengan ukuran yang begitu besar. Banyak sekali pekerja yang sibuk menyelesaikan roket raksasa itu di dasar jurang.


"Apa-apaan ini?!" Teriak Axel yang melihat video pada televisi tersebut. Ia segera menoleh ke arah Oracle secara langsung.


"Seperti yang kau lihat, Uni Eropa akan meninggalkan bumi. Membawa sekitar 5.000 warga mereka ke dalam roket itu. Atau setidaknya, itu hasil dari hacking di server utama mereka." Jawab Asimov di sudut ruangan.


Semua orang yang ada di ruangan ini nampak mulai lemas.


Di saat semuanya berjuang keras untuk mempertahankan dunia ini, Uni Eropa telah bersiap untuk menelantarkan dan meninggalkan bumi selamanya. Menuju ke ruang angkasa yang luas dan tak memiliki ancaman monster.


Terlebih lagi....


"Roket itu bukan roket biasa. Tapi sebuah pesawat ruang angkasa yang dapat mensuplai kebutuhan 5.000 manusia selama ribuan tahun di ruang angkasa.


Berkat energi yang melimpah dari Flux, mereka bisa memproduksi makanan, bahkan air dengan teknologi maju mereka.


Membuat siapapun yang ikut dalam roket itu pasti selamat untuk ribuan tahun kedepan, sekalipun tak menemukan planet lain yang layak huni.


Terlebih lagi, dengan suplai Flux yang melimpah, mereka bisa menciptakan peradaban yang jauh lebih maju di luar sana tanpa adanya gangguan monster." Jelas Asimov panjang lebar.


Pada semua orang, terdapat satu pertanyaan yang sama.


Kenapa Uni Eropa merahasiakan hal ini?


Apakah karena roket mereka hanya bisa menampung 5.000 orang saja?


Atau karena ada maksud lain?


Tak ada satu pun yang bisa menjawabnya. Tapi ada satu hal yang pasti bagi Rusia.


"Kita akan membiarkan mereka melakukan apa yang ingin mereka lakukan. Lagipula, Rusia masih menyukai dunia ini. Sekalipun telah hancur seperti ini."


Sedikit demi sedikit, Axel mulai memahaminya.


Bahwa untuk bisa bertahan di dunia ini, manusia harus mengorbankan segalanya tanpa memperdulikan apapun pandangan faksi yang lainnya.


Dan itu juga berlaku bagi dirinya sendiri.


Oleh karena itu, Axel memutuskan akan menerima operasi eksperimental dari pihak Rusia. Sekalipun dirinya akan mati dalam operasi itu, setidaknya terdapat sedikit peluang untuk bisa hidup sedikit lebih lama lagi.

__ADS_1


Semuanya....


Hanya untuk melindungi orang-orang terdekat baginya.


__ADS_2