Liberator

Liberator
Bab 43 - Wajah yang Sebenarnya


__ADS_3

Axel saat ini masih bertarung dengan sengit melawan monster mengerikan itu.


Tapi di sisi lain....


Tepatnya di dalam reaktor itu, Akane nampak memperhatikan sosok Axel dari salah satu celah logam yang ada.


Di tangan kirinya, Akane nampak menggenggam erat earphone komunikasi milik Liberator Cabang Amerika Utara. Dan kini, earphone komunikasi yang terpasang di telinga kanannya, adalah sebuah earohone komunikasi milik Liberator Cabang Asia Timur.


"Ya, saat ini aku sedang merekam pertarungannya." Ucap Akane dengan menggunakan bahasa Jepang. Ia terlihat mengenakan sebuah kacamata yang cukup tebal.


"Bagaimana menurutmu?" Tanya seorang pria tua dari saluran komunikasi itu.


"Sebagai seorang peringkat S, Ia memang cukup menjanjikan. Tapi dari keseluruhan reaksinya terhadap pertanyaan ku, Ia terlihat tak begitu tertarik dengan visi kita." Balas Akane.


Pada kenyataannya, Akane telah menyelesaikan pengambilan sampel itu dari tadi.


Atau lebih tepatnya....


Pihak Liberator Asia Timur sudah mengetahui apa yang sebenarnya memicu para monster tingkat C kebawah untuk kehilangan akal mereka. Yaitu dengan memanfaatkan cairan Flux dengan bahan campuran lainnya.


Dan tentu saja, itu adalah sebuah rahasia tingkat tinggi milik mereka. Dan Akane takkan pernah mengatakan hal itu kepada Amerika Utara.


"Begitu ya? Tapi peringkat S itu sangat langka. Terus usahakan untuk membujuknya bergabung. Kita membutuhkan sebanyak mungkin tenaga untuk visi besar kita." Balas Pria tua itu.


"Akan ku usahakan, Jendral Matsumoto." Balas Akane dengan sikap yang serius.


Sementara itu, kacamatanya terus menerus merekam aksi pertarungan dari Axel. Setelah di rasa cukup, Akane pun mematikan rekamannya dan segera mengunggah datanya ke server Asia Timur.


Sebelum akhirnya, menghancurkan kacamata itu agar menghilangkan barang bukti.


"Sebelum kau kembali, aku ada satu pertanyaan untukmu." Ucap Pria tua yang tak lain adalah jendral Matsumoto itu melalui saluran komunikasi.


"Apa?" Tanya Akane singkat.


"Antara dirimu dan peringkat S bernama Axel ini.... Siapa yang lebih kuat?" Tanya Pria tua itu.


Wajah Akane pun sedikit mengeras. Dengan mata yang mulai menyipit sambil memperhatikan pertarungan Axel di kejauhan.


"Kau bercanda? Pertanyaan bodoh macam apa itu? Bukankah jawabannya sudah jelas?" Balas Akane.


"Hoo.... Jadi begitu ya? Aku mengerti. Kalau begitu, segera dapatkan peringkat S itu dan kembali kemari. Rusia secara perlahan mulai memperkuat pengaruh mereka dan merekrut banyak penduduk dari China." Jelas Jendral Matsumoto.


Akane terlihat sedikit menghela nafasnya. Mengingat bahwa pasukan khusus dari Rusia benar-benar memburunya hingga ke Amerika Utara ini.

__ADS_1


"Baiklah, akan segera ku selesaikan." Balas Akane untuk yang terakhir kalinya.


Sebelum mematikan earphone komunikasi itu dan menyimpannya dengan rapi di balik seragamnya.


Setelah semuanya beres, Akane segera berdiri. Lalu memasang kembali earphone komunikasi Amerika Utara di telinga kirinya.


Di kejauhan, sosok Axel yang begitu kelelahan dapat terlihat berdiri di atas tumpukan mayat para monster abnormal itu.


Ia terlihat memegangi tombak kehijauannya yang dipenuhi dengan darah para monster.


Setelah menyadari pergerakan dari Akane, Axel pun menoleh sembari bertanya.


"Wanita sialan, kenapa kau lama sekali?" Tanya Axel dengan cukup kesal.


"Aah, maafkan aku. Tapi tenang saja, aku telah memperoleh sampelnya." Balas Akane sambil tersenyum. Wajahnya terlihat begitu merasa bersalah dengan menempelkan kedua telapak tangannya.


Berusaha untuk meminta maaf kepada Axel.


Setelah itu, Akane memperlihatkan beberapa botol berisi cairan biru di pinggang kirinya itu kepada Axel.


"Hah.... Baiklah. Tak masalah bagiku. Lagipula monster ini cukup lemah." Balas Axel.


Menurutnya, monster abnormal itu memang cukup merepotkan dengan regenerasinya yang begitu cepat. Tapi sayangnya, monster itu kurang beruntung karena bertemu dengan Axel.


Dimana Axel dapat memberikan serangan yang jauh lebih cepat daripada kemampuan regenerasi monster itu.


Apa yang membuat perburuan kali ini begitu mudah adalah karena senjata generasi kedua yang digunakan oleh Axel itu sendiri. Yang mampu menembus kulit dan daging tebal monster barusan layaknya sebuah mentega.


Saat Axel masih memperhatikan tumpukan potongan daging dan organ dalam di bawah kakinya, Akane pun kembali berbicara.


"Kau masih mau di sini? Ayo, segera kembali. Aku ingin mandi setelah semua ini." Ucap Akane.


"Tidak, ayo kita kembali ke Los Angeles. Tapi sebelum itu, apakah kau pernah melihat monster seperti ini sebelumnya?" Tanya Axel.


Akane nampak terdiam selama beberapa saat. Tentu saja Axel melihat keanehan di wajahnya yang seakan menyembunyikan sesuatu.


Menyadari bahwa pertanyaan Axel ini terlalu berbahaya untuk dijawab dengan sebuah kebohongan, Akane pun memilih untuk jujur.


Setidaknya, berusaha agar Axel memperoleh kepercayaan darinya.


"Ya, aku pernah menemui monster serupa beberapa kali di sana." Balas Akane.


"Kau serius? Seperti apa?" Tanya Axel yang kini terlihat begitu tertarik.

__ADS_1


"Pada saat itu, seperti seekor Orc? Tapi Ia memiliki kulit merah dan tubuh yang sedikit lebih besar." Jelas Akane sambil berjalan meninggalkan kompleks pembangkit listrik ini.


"Seberapa kuat dia?" Tanya Axel sekali lagi.


Akane nampak menopang dagunya dengan dua jarinya. Menunjukkan bahwa dirinya sedang berpikir dengan keras untuk mengingat kembali kejadian itu.


"Jika diingat-ingat lagi, cukup lemah? Maksudku, aku hanya perlu membakar mereka. Aah, tapi mungkin lebih lemah dari monster yang baru saja kau lawan." Balas Akane sambil menatap ke arah mata Axel.


Tak ada sedikitpun keraguan atau tanda-tanda kebohongan di mata wanita itu.


Tentu saja, karena semua yang dikatakannya barusan adalah sebuah kenyataan.


Axel yang mendengar jawaban itu pun mulai sedikit terkagum atas pencapaian Akane.


"Luarbiasa.... Jujur saja aku sedikit iri dengan elemen api milikmu itu." Balas Axel.


"Maaf, tapi aku tak bisa membagikannya denganmu." Balas Akane sambil tertawa ringan.


Secara perlahan, candaan mulai memasuki pembicaraan mereka berdua. Membuat keduanya sedikit demi sedikit mulai semakin dekat.


Tanpa memperdulikan sedikit pun monster lain di sekita mereka, Axel dan Akane pun berjalan kembali menaiki bukit itu. Untuk kembali menaiki motor mereka.


......***......


Di jalan Raya antara San Fransico dan Los Angeles ini, keduanya melaju dengan cukup kencang menaiki sebuah motor HD itu.


Meskipun jalanan ini sedikit rusak, tapi tak separah dengan apa yang terjadi di perkotaan. Mungkin karena tak banyak penduduk di sepanjang jalan raya ini yang membuat serangan monster tak begitu intensif.


Hampir tak ada bangunan sama sekali di sepanjang jalan raya ini. Begitu pula dengan kendaraan lainnya yang cukup jarang ditemui. Hanya tanah kering dan sesekali terdapat satu atau dua pohon sejauh mata memandang.


Sama seperti sebelumnya, Akane mengendarai motor itu di depan. Sedangkan Axel terpaksa untuk membonceng di belakang.


Di ujung cakrawala, cahaya matahari nampak mulai terbenam. Menghapus penerangannya di bumi yang telah kehilangan nyawanya ini.


Dalam perjalanan itu, tanpa di sangka Axel dan Akane bisa menjadi sedikit lebih akrab dengan membicarakan berbagai hal yang mungkin sedikit tak penting.


"Dan kau tahu? Dulu kucing ku pernah membawakan ku seekor tikus. Saat melihatnya, aku seperti 'apa-apaan yang kau lakukan?' pada kucingku." Ucap Akane sambil tersenyum lebar.


"Hah? Membawakanmu tikus? Kenapa?" Tanya Axel penasaran.


"Kau pikir aku tahu? Hahahaha!"


Dengan demikian, keduanya menikmati perjalanan pulang ke Los Angeles dalam naungan malam yang dingin ini.

__ADS_1


Kecuali....


Mereka lupa mengisi ulang bahan bakar sebelum memasuki jalan raya yang sangat sepi ini.


__ADS_2