Liberator

Liberator
Bab 85 - Days 23


__ADS_3

Beberapa Minggu telah berlalu semenjak ledakan nuklir di seluruh dunia itu terjadi.


Umat manusia kini telah secara resmi mengakhiri kehidupan bumi untuk selamanya. Dengan tangan mereka sendiri.


Axel bersama dengan Chloe masih terus melanjutkan perjalanan mereka ke arah Barat. Tanpa mengetahui sebenarnya dimana lokasi peluncuran roket itu berada.


Satu hal yang pasti, mereka harus menemukan peradaban.


"Kuggh! Uhuk!"


"Chloe, kau tak apa?" Tanya Axel panik setelah melihat adiknya terbatuk-batuk.


"Tak apa...." Balas Chloe singkat.


Keduanya saat ini mengenakan sebuah makser gas serta pakaian yang tebal. Pakaian yang terbuat dari bahan khusus untuk melindungi mereka berdua dari radiasi nuklir.


Axel menemukan pakaian tersebut dalam salah satu pembangkit listrik tenaga nuklir di wilayah Rusia.


"Ingin beristirahat sebentar?" Tanya Axel.


"Mungkin sebentar saja...."


Setelah mencari suatu rumah yang masih dalam kondisi yang baik, keduanya pun memasukinya dan berlindung di dalamnya.


Efek samping dari ledakan 5.300 rudal nuklir itu mulai terasa saat ini. Dan hal yang paling mematikan dalam ledakan yang mengenai sebagian besar wilayah di dunia ini, bukanlah daya hancur dari ledakannya.


Melainkan apa yang dibawa setelah ledakan itu selesai.


Asap yang tebal dari ledakan tersebut mulai menutupi atmosfer bumi. Menutupi cahaya matahari hampir sepenuhnya di seluruh permukaan bumi ini.


Hal tersebut menyebabkan suhu permukaan bumi menurun dengan sangat drastis. Hal itu membuat hampir di seluruh bagian dunia mengalami hujan salju yang begitu lebat. Dan memaksa musim di seluruh dunia memasuki musim dingin.


Tak hanya itu, efek radiasi yang disebabkan oleh ledakan nuklir tersebut mulai bergerak ke segala arah. Menyelimuti hampir seluruh permukaan bumi dalam radiasi yang mematikan.


Tanaman, hewan, bahkan para monster pun mulai merasakan akibatnya. Semuanya mati tanpa sedikit pun kesempatan untuk bertahan hidup tanpa perlengkapan dan juga perlindungan yang memadai.


Dan sekalipun mereka bisa bertahan entah bagaimana caranya, mutasi mulai menggerogoti tubuh mereka.


Mutasi yang terjadi jauh berbeda dengan mutasi akibat energi Flux yang kuat.


Kali ini, mutasi yang diakibatkan nuklir dapat dikatakan 100% menyebabkan efek yang sangat buruk.


Gagal jantung, malfungsi pernafasan, kecacatan otak, kulit yang melepuh dan seakan-akan meleleh, kerusakan organ pencernaan, mata yang mulai mengendur dan terlepas dari kelopak mata, serta lain sebagainya.


Berbagai efek negatif tersebut, entah satu atau beberapa secara bersamaan akan dengan mudah membunuh makhluk apapun secara perlahan.


Dan ini lah, senjata terkuat yang dimiliki oleh umat manusia.


Bahkan monster yang dulunya ditakuti oleh manusia, tergeletak tak berdaya di hadapan zat yang dapat dikatakan tak kasat mata itu.


Satu-satunya alasan umat manusia tak menggunakannya adalah karena senjata tersebut tidak memandang bulu.


Semuanya akan mati di tangannya.

__ADS_1


Setelah beberapa saat beristirahat, Axel mulai melepas masker gas miliknya untuk bisa sedikit menghirup udara segar ini.


"Kau lapar?" Tanya Axel sambil membuka tas punggungnya.


Chloe tak menjawab. Tapi Ia menolak dengan mengarahkan telapak tangannya ke wajah Axel.


"Bukankah kau terakhir makan kemarin sore? Bagaimana jika kau nanti sakit?" Tanya Axel sekali lagi.


"Kak.... Persediaan makanan kita telah menipis. Jika terus seperti ini, mungkin hanya bisa bertahan selama beberapa hari saja."


Kenyataan tersebut memang pahit. Tapi sebagian besar minimarket yang mereka temui di sepanjang jalan telah dijarah oleh penduduk lokal. Tak menyisakan apapun yang berharga di dalamnya.


"Tapi...."


Chloe masih terus menggelengkan kepalanya. Dan pada akhirnya, Ia memutuskan untuk beristirahat dengan tidur di lantai rumah ini.


"Maaf."


Setelah memastikan bahwa adiknya tidur dan berada dalam kondisi yang aman serta tersembunyi, Axel segera keluar dari rumah ini. Berniat untuk mencari apapun yang masih dapat mereka manfaatkan.


Satu-satunya hal yang ditinggalkannya untuk adiknya hanyalah secarik kertas. Dimana di atasnya tertulis bahwa Axel sedang mencari barang berharga di sekitar tempat ini. Meminta adiknya untuk menunggu.


Dari satu rumah ke rumah lain, dari gedung yang satu ke gedung yang lain.


Axel terus mencari apapun yang bisa dimanfaatkan. Entah itu makanan, perlengkapan, atau apapun.


Tapi sayangnya hasilnya nihil. Ia tak menemukan benda apapun yang bisa dimanfaatkannya kecuali daging yang telah membusuk dan dimakan oleh belatung, atau roti yang telah berjamur.


Axel paham akan hal itu. Karena dulunya, Ia juga merupakan seorang penjarah yang mengais-ngais makanan sisa di berbagai minimarket.


Beberapa jam berlalu, dan akhirnya Axel memutuskan untuk kembali ke rumah barusan dengan tangan kosong. Dan menghabiskan entah pagi atau malam ini di sana.


Mengistirahatkan badannya untuk perjalanan esok hari.


......***......


Hari ke 23 setelah ledakan.


Beberapa hari kembali berlalu. Dan Axel masih terus berjalan ke arah Barat.


Apakah mereka masih di wilayah Rusia? Atau telah tiba di wilayah Eropa? Mereka tak tahu pasti. Karena seluruh sistem komunikasi telah runtuh sedangkan peta juga tak begitu mendukung.


Satu-satunya petunjuk yang nyata bagi mereka adalah papan penunjuk jalan yang masih bertuliskan seperti tulisan Rusia yang lainnya.


"Ngomong-ngomong.... Kau yakin tak bertemu dengan Oracle atau yang lainnya?" Tanya Axel secara acak di tengah perjalanan mereka.


Meskipun pembicaraan ini terkesan acak, tapi Chloe segera menjawabnya untuk ke sekian kalinya dengan tenang.


"Tidak. Mungkin kami terpisah di tengah kerumunan itu."


"Begitu ya?"


Langkah kaki mereka berdua mulai lemas.

__ADS_1


Axel hanya makan satu kali setiap dua hari dan meminum air jernih apapun yang bisa mereka temukan di sepanjang jalan.


Semua itu dilakukannya agar Chloe dapat menikmati makanan setiap satu hari sekali.


Dengan pembagian makanan yang seperti ini, setidaknya mereka bisa bertahan selama 5 hari lagi.


Di tengah perjalanan mereka, Axel melihat sebuah mall yang cukup besar di kejauhan. Tentu saja, mall itu menjadi tujuan utama mereka berdua secara otomatis.


Karena mungkin saja, di dalamnya terdapat sisa makanan atau semacamnya.


"Kak! Itu!"


"Ya, kau benar. Ayo."


Seketika, tubuh mereka yang lemas kembali bertenaga. Sama seperti seseorang yang tersesat di tengah padang pasir dan menemukan sebuah oasis.


Axel dan Chloe juga sama.


Mall itu adalah oasis bagi mereka. Tapi entah bisa menemukan sesuatu atau tidak, itu perkara yang lain.


'Braaakk! Braaakkk!'


Axel menghancurkan apapun yang menghalangi jalan mereka untuk memasuki mall tersebut. Di dalamnya, sama seperti dugaan mereka.


Mall ini telah hancur lebur dengan lumut dan tanaman yang mendominasi di dalamnya.


"Berpencar?" Tanya Chloe.


"Tidak. Terlalu berbahaya. Di tempat seluas ini, kemungkinan masih terdapat monster yang selamat. Atau lebih buruk lagi, manusia lain."


Pendapat Axel itu segera terbukti nyata setelah mereka berdua mulai menyusuri mall tersebut.


"Ggraaaaaarrr!!!"


Dua ekor Goblin secara tiba-tiba muncul. Menyergap keduanya dengan cepat. Meski begitu, Axel bisa melihat bahwa kulit pada Goblin itu mulai melepuh dan meleleh.


'Sreettt!'


Dengan sigap, Axel segera melindungi Chloe dan memukul kedua Goblin itu dengan tangan kosongnya.


Pakaian tebal dan besar itu sedikit menghambat pergerakannya. Tapi dengan sosok Goblin yang telah terluka, pukulan sederhana yang diperkuat listrik telah cukup untuk membunuh mereka dengan mudah.


"Kau tak apa?" Tanya Axel.


Chloe nampak mengangguk.


Keberadaan Goblin di tempat ini membuktikan setidaknya dua hal.


Pertama, keberadaan sumber air yang setidaknya layak untuk diminum.


Kemudian yang kedua, keberadaan sumber makanan. Yang mungkin berasal dari sisa-sisa produk makanan di mall ini.


Keduanya pun memahami hal itu, dan mulai merasakan adanya harapan yang lebih tinggi terhadap 'oasis' yang mereka temukan itu.

__ADS_1


__ADS_2