Liberator

Liberator
Bab 86 - Warsaw


__ADS_3

'Klettakk! Kletaakk!'


Axel dan juga Chloe terlihat sedang menggeledah berbagai rak di mall ini. Berusaha mencari apapun yang bisa menjadi sumber makanan dan minuman mereka.


Hingga akhirnya, setelah beberapa jam berlalu, mereka menemukannya.


"Chloe! Aku menemukan sesuatu!" Teriak Axel.


Di hadapannya adalah sebuah rak yang terjatuh ke lantai. Menutupi seluruh barang yang ada di bawahnya.


Pada saat Axel mengangkat rak tersebut, tumpukan kaleng makanan dan minuman dapat mereka temukan dalam kondisi yang masih cukup bagus.


Jumlahnya sangat banyak, mungkin cukup untuk memenuhi kebutuhan mereka selama ratusan hari lebih.


"Kakak.... Ini...."


"Kau benar. Dengan ini, kita bisa bertahan hidup untuk waktu yang sangat lama."


Tanpa menunggu lebih lama lagi, keduanya segera membagi tugas. Di satu sisi Chloe terlihat sibuk merapikan dan menyortir makanan dan minuman kalengan itu. Memisahkan dari yang telah rusak dan busuk dengan yang masih dalam kondisi bagus.


Sementara itu, Axel di sisi lain terlihat sedang mengamankan lokasi di gudang bahan mall ini. Memasang berbagai barikade di sekitar pintu dengan tumpukan rak besi.


Hal itu dilakukannya mengingat Ia menemukan beberapa keberadaan monster sebelumnya. Dan tak menutup kemungkinan ada monster yang lainnya.


Setelah semuanya beres, keduanya pun beristirahat sambil menyalakan api unggun di salah satu ruangan karyawan dalam gudang ini.


Memasak makanan yang mereka temukan.


"Kak.... Kemana kita akan pergi selanjutnya?" Tanya Chloe.


Dalam pikiran Axel hanya tersisa satu jawaban. Sama seperti sebelumnya.


"Eropa."


Tapi dimana? Dalam video tersebut, mereka tak tahu dengan pasti dimana keberadaan lokasi peluncuran roket itu.


Sebuah roket yang dinyatakan akan membawa umat manusia terpilih keluar dari planet yang telah hancur ini. Meninggalkannya demi mencari dunia yang baru.


Jika saja....


Mereka bisa menemukan lokasi itu. Memangnya, Axel dan juga adiknya dapat naik ke dalam roket itu?


Apakah mereka memiliki hak yang setara?


Lelah menunggu jawaban yang berikutnya dari kakaknya, Chloe terlihat mulai memejamkan kedua matanya secara perlahan.


Penemuan kali ini benar-benar membuat adrenalin mereka berdua mereda. Merasa begitu lega karena berhasil menemukan sumber makanan yang cukup untuk keduanya dalam waktu yang lama.


Tapi jika harus pergi sekali lagi, ada batasan atas jumlah makanan dan juga minuman yang bisa mereka bawa.


"Chloe, beristirahat lah dulu. Aku akan memikirkannya lebih lanjut mengenai hal ini." Balas Axel.


"Ya...."


Dengan segera, Chloe segera membaringkan badannya di lantai. Dengan menggunakan ranselnya sebagai bantal, gadis itu pun tertidur pulas.


Memberikan sedikit waktu bagi Axel untuk memikirkan rencana bodohnya ini dengan baik.


......***......


Hari demi hari terus berlalu. Tapi keduanya masih belum meninggalkan mall ini.


Axel dan juga Chloe masih menjelajahi mall ini untuk mencari berbagai barang berguna lainnya. Salah satunya adalah tas kamping yang berukuran besar. Mampu untuk membawa masing-masing persediaan makanan dan minuman selama 3 Minggu lebih.


Jumlah yang cukup untuk memberikan mereka waktu menemukan minimarket atau mall lainnya yang bisa mereka jarah.


Tak hanya itu, keduanya juga menemukan bagian penjualan senjata di lantai atas. Yang tentunya, tak ada siapapun yang menjaganya.


"Bisakah kau menggunakannya?" Tanya Axel pada adiknya yang kini sedang membawa sebuah pistol itu.


'Daaarrr!!!'


"Ku rasa bisa." Balas Adiknya setelah mencoba menembakkannya satu kali.


Axel juga mengambil berbagai senjata lainnya. Termasuk persediaan peluru untuk berjaga-jaga. Tapi bagi dirinya sendiri, Ia memilih sebuah senapan mesin.


Selain pedang buatan pabrik di markas Amerika Utara itu, tak ada yang benar-benar bisa menahan kekuatannya. Dan semuanya akan hancur setelah sekali ayunan.

__ADS_1


Jadi tak ada gunanya bagi Axel untuk membawa senjata seperti itu.


Lagipula....


'Memangnya.... Akane masih bisa menemukan ku? Bukankah aku telah pergi cukup jauh sambil terus berusaha menyembunyikan diri?' Tanya Axel dalam hatinya sendiri.


"Kak, aku sudah siap." ucap adiknya.


"Baiklah. Ayo segera pergi dari sini."


Sambil membawa sebuah peta di tangan kanannya, Axel berhasil mengetahui lokasinya saat ini.


Ia berada di sekitar wilayah Moscow. Di salah satu mall terbesar di kota ini. Tak hanya itu, kota Moscow juga merupakan satu dari dua belas kota yang memiliki gerbang dimensi.


Jadi sangat sulit untuk melewatkannya di peta.


Dan dengan informasi itu, keduanya bisa menentukan arah kemana mereka akan pergi.


Sebagai permulaan, Axel berencana untuk menuju ke salah satu kota besar di Polandia. Yaitu Warsaw. Berdasarkan perhitungannya, mungkin akan membutuhkan waktu perjalanan kaki selama sekitar 11 hari atau lebih.


Cukup lama, tapi setidaknya persediaan makanan mereka akan bertahan selama 3 Minggu.


Perjalanan mereka berdua menempuh salju dingin akibat ledakan nuklir di seluruh dunia, serta badai radiasi yang mematikan pun dimulai.


Hanya dengan bermodalkan pakaian pelindung Hazmat untuk melindungi mereka dari situasi ekstrim ini.


......***......


"Kakak.... Jadi itu...." Ucap Chloe terkagum-kagum sambil menunjuk ke arah kejauhan.


Saat menolehkan wajahnya, Axel dapat melihatnya dengan jelas. Sebuah struktur bangunan yang begitu besar dan dapat terlihat dari jarak puluhan kilometer lebih.


Struktur itu memiliki bentuk menyerupai setengah lingkaran dengan kerangka baja yang tebal di sampingnya. Tapi saat ini, sebagian besar dari kerangka itu telah rusak dan melengkung.


"Kau benar. Gerbang dimensi. Semua yang mengawali kehancuran dunia ini." Balas Axel sambil menatap ke arah gerbang dimensi di Moscow ini.


Nampaknya Rusia tak bercanda mengenai diri mereka yang menolak teknologi ini. Lalu menghancurkannya sendiri.


Menatap reruntuhan dari gerbang dimensi yang setinggi dan selebar ratusan meter lebih itu, Axel merasakan suasana yang aneh.


Jika saja semuanya berlangsung dengan baik, mungkin umat manusia saat ini telah terbang dan menjelajahi angkasa dengan sumber energi yang tak terbatas. Tapi sayangnya, yang terjadi justru sebaliknya.


Peradaban umat manusia terpukul mundur sejauh ratusan, atau bahkan ribuan tahun ke belakang. Dimana untuk bertahan hidup saja, manusia telah sangat kesulitan.


"Kau tahu kak? Ku harap aku bisa kembali ke masa lalu dan menghentikan proyek itu." ucap Chloe dengan wajah yang sedih di balik kaca masker gasnya itu.


Perkataannya memang benar.


Siapapun yang berhasil bertahan hidup saat ini, pasti akan memikirkan hal yang sama. Untuk mengulangi semuanya dan mencegah hal ini terjadi.


"Sayangnya tak ada yang seindah dan semudah itu." Balas Axel yang segera melanjutkan langkah kakinya.


Sepanjang perjalanan, keduanya terus menerus menerus mencari makanan dan minuman baru di setiap minimarket yang mereka temui.


Satu-satunya tanda kehidupan yang mereka temui, adalah mayat para monster yang tergeletak di jalanan. Tubuh mereka nampak telah membusuk. Dan sebagian besar hanya tersisa tulang belulang saja.


Sesekali, mereka menemukan jasad manusia yang telah tergeletak tak berdaya. Terbunuh bukan oleh monster, melainkan radiasi nuklir yang disebabkan oleh tangan manusia sendiri.


Setibanya di Warsaw, hal yang mereka jumpai juga serupa. Hanya saja kali ini....


"Berhenti! Siapa kalian!" Teriak beberapa orang dengan pakaian Hazmat tebal sambil menodongkan senapan mereka ke arah Axel.


Beberapa prajurit tersebut nampak bersiaga di belakang sebuah barikade besi. Memblokade wilayah kota ini.


"Kakak.... Ada orang." ucap Chloe dengan bahagia. Akhirnya setelah perjalanan yang panjang ini, keduanya melihat sosok manusia yang lainnya.


"Ya, kau benar."


Axel segera meletakkan senjatanya di tanah lalu mengangkat kedua tangannya.


"Pengungsi dari Timur. Kami tak memiliki niat buruk sedikitpun, hanya berusaha bertahan hidup." Balas Axel dengan bahasa Inggris.


Salah seorang prajurit kemudian memberikan kode untuk memeriksa mereka berdua.


Setelah dipastikan tak ada benda berbahaya seperti bom atau semacamnya, para penjaga itu pun mempersilakan keduanya melewati barikade ini.


"Silakan. Kami tak memiliki banyak, tapi pemerintahan Uni Eropa telah memperjuangkan yang terbaik." Ucap salah seorang prajurit itu.

__ADS_1


"Terimakasih."


Di balik barikade tersebut, hanya terdapat jalanan dan reruntuhan kota yang kosong. Tak banyak penduduk yang masih bertahan di kota ini.


Salah seorang prajurit mempersilakan Axel dan juga Chloe untuk beristirahat di salah satu bunker bawah tanah.


Menanyakan apa tujuan dari keduanya.


"Jadi kemana kalian akan pergi?" Tanya prajurit itu.


Axel sedikit ragu untuk mengungkapkan yang sebenarnya. Mengingat proyek roket itu mungkin adalah sebuah rahasia besar.


Tapi pada akhirnya, Axel memberanikan dirinya untuk berbicara.


"Ku dengar, kalian memiliki proyek roket untuk meninggalkan bumi. Apakah itu benar?" Tanya Axel.


Kedua mata prajurit itu pun membuka lebar seakan tak bisa mempercayai apa yang baru saja di dengarnya.


"Jika benar.... Kami hanya ingin tahu apakah kami bisa ikut menaikinya." Lanjut Axel.


"Sebelum itu, kami ingin memastikan sesuatu. Siapa kalian yang sebenarnya? Dan kenapa bisa sampai di sini? Tenang saja, kami pihak Uni Eropa menjunjung tinggi hak asasi manusia. Yang terpenting, katakan lah dengan jujur."


Seorang prajurit yang lain tiba-tiba datang membuka pintu bunker ini. Membawakan sebuah makanan dan minuman hangat untuk keduanya.


Meskipun, apa yang mereka sajikan hanyalah bubur gandum dan air putih yang sederhana. Tapi makanan tetaplah makanan.


Mengingat situasi dunia saat ini, makanan justru jauh lebih berharga daripada perhiasan seindah apapun.


Sambil menikmati jamuan sederhana itu, Axel menceritakan segalanya.


Mengenai asal mereka berdua yaitu dari Amerika Serikat. Dimana Ia bergabung sebagai seorang Liberator di sana, dan apa yang terjadi setelah itu.


Termasuk.... Mengenai penyerangan dari pihak Asia Timur.


"Jadi begitu.... Kami selalu curiga terhadap gerak gerik dari Asia Timur. Tapi nampaknya memang benar. Lalu, apakah kau mengetahui sesuatu mengenai ledakan nuklir itu?" Tanya prajurit tersebut.


Axel hanya menggelengkan kepalanya sambil menjawab.


"Kami masih berada di antah berantah saat rudal-rudal itu ditembakkan."


Prajurit itu pun menghela nafasnya dalam-dalam. Setelah beberapa saat, Ia meraih kertas putih kosong di sisinya. Menuliskan sesuatu di atasnya.


"Asal kau tahu, Uni Eropa berniat untuk memberangkatkan sebanyak mungkin umat manusia keluar dari bumi."


"Eh?"


Axel dan juga Chloe terkejut mendengar hal itu. Pasalnya mereka diberitahu oleh pihak Rusia bahwa Eropa berniat untuk meninggalkan seluruh sisa umat manusia membusuk di dunia ini.


Tapi nampaknya....


Konspirasi terjadi di berbagai tempat. Membuat Axel menjadi ragu, mana yang benar dan mana yang salah.


"Gelombang pertama akan meluncur tepat 21 hari lagi di Berlin, Jerman. Ku dengar saat ini kuota keberangkatan kapal ruang angkasa itu sebesar 2.000 orang dan baru terisi sekitar 1.200 orang saja." Jelas prajurit itu.


"Du-dua ribu? Lalu.... Kenapa masih banyak yang kosong?"


Sambil menggelengkan kepalanya, prajurit itu pun menjawab.


"Sebagian besar dari kami memilih untuk tinggal sedikit lebih lama lagi. Lagipula, terdapat total 10 buah kapal ruang angkasa yang akan diluncurkan. Para prajurit berniat untuk menaiki kapal gelombang ke 9 dan 10.


Yang lebih penting lagi, menyelamatkan warga sipil. Selama itu bisa terpenuhi, kami sudah cukup puas." Jelas prajurit itu dengan ramah.


Axel sama sekali tak menyangka. Bahwa selama ini, dugaannya terhadap Uni Eropa melenceng cukup jauh.


Begitu pula Chloe yang saat ini mulai memperlihatkan senyuman yang dipenuhi dengan harapan. Sebuah harapan untuk meninggalkan dunia yang telah mati ini.


Sebelum Axel sempat menjawab, prajurit tersebut membuat cap pada kertas yang sebelumnya. Lalu menyerahkannya kepada Axel.


"Ini adalah rekomendasi dariku agar kalian bisa melewati seluruh pos penjagaan dengan mudah sampai ke Berlin. Cukup tunjukkan saja surat ini pada mereka. Seseorang pasti akan mengantarkan kalian ke ruang tunggu peluncuran." jelas Prajurit itu.


"Te-terimakasih banyak! Aku tak tahu harus membalas seperti apa...." Balas Axel yang segera menundukkan kepalanya.


"Tuan, setidaknya bisakah kami mengetahui namamu?" Tanya Chloe juga sambil menundukkan kepalanya.


Dengan senyuman yang ramah, prajurit itu pun menjawab.


"Abraham, kapten dari pasukan di pos jaga kota Warsaw."

__ADS_1


__ADS_2