Liberator

Liberator
Bab 23 - Akhir dari Pemburuan?


__ADS_3

'Zraasshh! Sraasssh!'


Axel dan juga Eva nampak seperti pasangan penari di atas sebuah panggung yang megah. Dengan banyak air terjun dan juga properti mengelilingi panggung ini.


Sesekali, Eva nampak memutar badannya dengan anggun. Dimana gerakan itu akan dibalas oleh Axel dengan langkah yang ringan dan cepat.


Setiap kali mereka berdua mengayunkan lengannya, air mancur dengan warna merah nampak bercucuran di segala tempat.


Banyak gerakan membuat mereka harus mengatur ulang nafasnya beberapa kali. Cairan merah yang mengucur dari berbagai tempat itu juga mewarnai ulang setelan abu-abu mereka yang indah, kini menjadi setelan warna merah gelap.


Tanpa memperdulikan hal itu, keduanya tetap terus menari.


Di atas pembantaian para Lizardmen ini.


James yang melihat tarian mereka berdua dari jauh, merasa bahwa kehadirannya sama sekali tak dibutuhkan.


Dari sekitar 1.500 Lizardmen yang ada dalam pusat pembuangan ini, Axel dan juga Eva setidaknya telah membantai lebih dari 500 ekor hingga detik ini.


Dalam pikirannya, hanya terlintas satu kata.


"Serasi."


Satu kata itu dapat menggambarkan kerjasama antara Axel dan juga Eva yang begitu mulus dan sempurna. Seakan-akan mereka berdua memang terlahir untuk saling melengkapi kekurangan satu sama lain.


Di saat Axel tak mampu untuk menebas beberapa Lizardmen yang bersisik tebal, Ia akan bertukar posisi dengan Eva untuk menyelesaikan tugas itu.


Sementara itu, ketika gerakan Eva terlalu lambat untuk menghindari atau mengenai targetnya, Axel akan bergerak mendahului Eva. Seakan Axel benar-benar bisa membaca seluruh aliran pertarungan di medan pertarungan ini dengan sempurna.


"Kau yakin dia baru saja bergabung kurang dari 1 bulan yang lalu?" Tanya James sambil terus menatap ke arah pergerakan Axel yang begitu mengerikan.


Gerakan Axel bagaikan sebuah arus listrik. Melesat dari satu titik ke titik lainnya dengan cepat. Termasuk meninggalkan jejak listrik yang membuat lawannya sedikit terluka hanya dengan berada di lintasan gerakan Axel.


Saat James masih sibuk dengan pikirannya sendiri, beberapa Lizardmen nampak mulai berlari ke arahnya.


'Ini buruk!' Teriak James dalam hatinya.


Ia tak bisa lari. Jika Ia bergerak cukup banyak dari posisinya saat ini, maka sihir api yang telah dikumpulkannya sedari tadi akan lepas tak terkendali.


Peluang terburuknya, Ia akan terbakar bersama dengan apinya sendiri.


Akan tetapi....


'Zaapp! Swuusshh! Swuusshh! Swuusshh!'


Tiga buah anak panah melesat ke arah sekitar James berdiri. Menembus tubuh tiga ekor Lizardmen yang sedang berlari ke arah James itu sendiri.

__ADS_1


Tanpa mengatakan sepatah kata pun, Axel yang baru saja menembakkan tiga anak panah itu segera mengunci kembali busurnya. Mengubahnya menjadi tombak untuk sekali lagi menari bersama dengan Eva.


'Peringkat S.... Hahaha.... Ku rasa, umat manusia masih memiliki banyak harapan.' Pikir James dalam hatinya setelah menyadari betapa kuatnya Axel.


Wajahnya tak lagi mampu untuk menahan senyuman yang penuh kebahagiaan itu.


Tak berselang lama, James akhirnya berteriak dengan keras ke arah mereka berdua.


"Mundur! Aku akan membakar habis tempat ini!" Teriak James.


Tanpa sedikit pun jeda, Axel segera mengaitkan kembali tombaknya di punggungnya. Segera setelah itu, Ia berlari ke arah Eva dan mengangkatnya untuk pergi menjauh dari medan pertarungan ini.


'Tap! Tap! Tap!'


Hanya dalam sekejap, Axel kini telah berdiri di samping James dengan Eva yang turun secara perlahan dari tubuh Axel.


"Hahaha, tak pernah berhenti pamer ya?" Ucap James sambil tertawa ringan ke arah Axel.


Axel hanya mengerutkan keningnya sambil memasang wajah kebingungan.


"Apa maksudmu?" Tanya Axel.


"Tak ada. Bersiap lah! Aku akan membakar habis tempat ini!" Teriak James sekali lagi.


Setelah meneriakkan hal itu, James segera menembakkan bola api biru itu.


Dan benar saja....


...'BLAAAAAAAARRRRRR!!!'...


...'SWUUUOOOSSSHHHH!!!'...


Semburan api biru yang sangat kuat dan juga besar itu segera membakar habis apapun yang ada di hadapannya.


Sesaat setelah kontak dengan air, api itu dengan cepat membuatnya menguap. Menjadi gas panas bahkan tak sampai satu kedipan mata.


Sedangkan seluruh Lizardmen yang tersisa?


Semuanya terbakar habis, bahkan hingga tak lagi menyisakan abu setelah terkena sihir skala besar milik James itu.


Hanya dalam 10 detik. Sebuah sihir yang membutuhkan waktu kurang lebih 20 menit itu berlangsung.


Tapi dalam 10 detik itu pula, misi pembersihan sarang Lizardmen ini selesai.


'Swuuooshh.... Wuushh!'

__ADS_1


Secara perlahan, api biru itu segera berubah warna kembali menjadi kuning kemerahan.


Ukurannya pun semakin mengecil. Hingga akhirnya hanya sebesar sebuah korek api di ujung kedua tangannya.


Dan tak lama setelah itu....


'Bruukk! Srruugg!'


James langsung terjatuh. Mulai kehilangan seluruh kekuatan di tubuhnya.


Axel yang melihatnya dengan tanggap segera menangkap tubuh James yang hampir tersungkur ke tanah itu.


"Kerja yang luarbiasa, James. Berkatmu, kita bisa pulang cukup awal hari ini." Ucap Axel sambil menopang badan James yang tak lagi memiliki sisa tenaga itu.


"Hahaha.... Begitu kah? Syukurlah. Kalau begitu mau kah kau mentraktirku sebungkus rokok nanti?" Tanya James sambil tersenyum puas.


"Tentu saja. Selama aku bisa mendapatkannya, itu saja." Balas Axel.


Akan tetapi, ada satu hal yang sedikit mengganjal kedua pria itu. Yaitu sebuah kenyataan bahwa Eva sama sekali tak merayakan kemenangan besar ini.


Saat Axel melirik ke arah Eva, wanita berambut perak itu hanya berdiri dalam diam. Menatap ke arah kejauhan dengan mata yang terbuka lebar serta mulut yang menganga.


"Eva? Ada apa?" Tanya Axel kebingungan.


"Ini bohong kan? Tidak.... Itu tak mungkin.... Bahkan sihir mu seharusnya bisa membakar Dread Rider bukan? Lalu kenapa.... Kenapa?" Ucap Eva dengan suara yang terpatah-patah.


Tubuhnya juga nampak mulai gemetar hingga Eva hampir kehilangan keseimbangannya.


Mengetahui bahwa dirinya takkan memperoleh jawaban dengan bertanya, Axel pun mengikuti arah pandangan mata Eva di kejauhan.


Di balik asap dari uap air pembuangan yang mendidih itu, serta kobaran api yang masih membakar segala tempat di pembuangan ini, Axel bisa melihatnya.


Sesosok monster yang masih berdiri dengan tegap di tengah semua kegilaan ini.


Setelah memfokuskan penglihatannya, Axel akhirnya tahu dengan pasti monster apa itu. Dan hal yang sama seperti yang dialami oleh Eva, juga mulai dirasakan olehnya.


Yaitu sebuah rasa takut yang datang secara naluriah.


Seakan insting di tubuhnya berteriak untuk takut pada makhluk di hadapannya, sekalipun akal pikiran Axel sendiri terus berusaha untuk bersikap tenang.


Kini, apa yang di hadapi oleh kelompok beranggotakan tiga orang ini, adalah sebuah anomali pertama yang terjadi di dunia ini.


Sebuah anomali....


Yang belum pernah dijumpai oleh satu orang pun dari seluruh cabang Liberator di dunia ini.

__ADS_1


__ADS_2