
"Hmm? Bukan kah itu terlalu cepat?" Ucap Akane setelah melihat isi pesan di ponsel Axel itu.
"Kau benar. Tapi mereka berdua memang ahlinya dalam bidang medis dan Flux. Aku tak meragukan mereka." Balas Axel menanggapi perkataan Akane itu.
Dengan segera, Axel memasukkan kembali ponselnya ke kantong celananya.
Sambil menatap kembali sosok Eva yang masih dirawat dalam tabung itu, Axel mengucapkan selamat tinggal.
"Aku tunggu kau sembuh." Ucap Axel.
"Mmhh!"
Dan dengan itu, Axel meninggalkan ruang perawatan ini untuk kembali ke lantai B19.
......***......
Beberapa jam telah berlalu.
Seluruh Liberator termasuk mereka yang berasal dari Asia Timur telah berkumpul di lantai B19 ini. Tujuannya hanya satu, yaitu menjelaskan rencana misi baru mereka.
"Leona dan Frans baru saja menemukan senyawa yang membuat para monster itu tertarik. Semua ini berkat bantuan dari Axel dan juga Akane yang menemukan sampelnya dari pembangkit listrik di San Fransisco.
Dan dengan teknologi baru ini, umat manusia memiliki peluang yang luas. Leona, Frans. Silakan jelaskan detailnya." Ucap Oracle dengan panjang lebar.
Tanpa di duga siapapun, Leona dan juga Frans membawa dua ekor Goblin yang diikat oleh rantai.
Hal itu mengejutkan beberapa prajurit reguler yang ada di dalam ruangan ini. Tapi tidak bagi para Liberator karena Goblin hanyalah monster tingkat rendah.
Di saat Frans masih memegangi kedua rantai itu, Leona berdiri di hadapan sebuah meja sambil membawa sebuah botol kaca berisi cairan biru tua.
'Cairan yang serupa dengan yang ku lihat di sana.' Pikir Axel mengingat apa yang ditemukannya di kompleks pembangkit listrik itu.
"Hmm.... Jadi tak perlu berlama-lama lagi, aku akan menunjukkan efek dari cairan ini." Ucap Leona dengan wajah malasnya sambil membenahi kacamatanya dengan tangan kirinya.
Kedua ekor Goblin itu nampak meronta-ronta berusaha untuk melepaskan diri dari ikatan rantai tersebut. Tapi sayangnya tiada daya bagi mereka.
Rantai itu begitu tebal dan mencekik leher mereka secara langsung. Semakin mereka bergerak, semakin besar rasa sakit yang akan mereka rasakan.
Setelah saling menatap satu sama lain, Leona dan juga Frans pun mengangguk.
Dan segera setelah itu....
'Pyaaarr!'
Leona melemparkan botol kaca itu ke lantai. Botol kaca yang pecah itu menumpahkan cairan biru tua ke segala arah.
Tak lama kemudian, Frans pun melepaskan rantai di tubuh Goblin itu. Membiarkannya berlarian dengan bebas.
Beberapa prajurit reguler yang melihat hal itu segera berlari menjauh. Sedangkan beberapa Liberator yang berada di depan segera mengangkat senjata mereka. Bersiap jika terjadi hal yang tak diinginkan.
Tapi jauh di luar perkiraan semua orang....
"Groooaaarr! Raaawwrr!"
Kedua ekor Goblin itu berlari langsung ke arah cairan biru tua yang tumpah di tanah itu. Berusaha sekuat tenaga untuk meraih dan meminumnya dengan kedua tangan kecil mereka.
Bahkan, keduanya saling bertarung satu sama lainnya dalam memperebutkan cairan itu.
__ADS_1
"A-apa yang sebenarnya terjadi?" Tanya beberapa orang yang melihat kejadian itu.
Leona pun berjalan ke depan sambil menendang kepala salah satu Goblin itu cukup keras beberapa kali.
Meski begitu, Goblin itu sama sekali tak bereaksi. Mereka bahkan tak berusaha untuk membalas serangan dari Leona.
Keduanya tetap fokus untuk memperebutkan cairan biru tua itu.
Axel yang melihatnya mulai paham kenapa para monster yang ada di pembangkit listrik sebelumnya sama sekali tak menghiraukan keberadaannya.
Meskipun....
'Bukan kah mereka lebih agresif?' Pikir Axel dalam hatinya.
Dalam kompleks pembangkit listrik itu, para monster seakan berada dalam keadaan mabuk. Mereka berjalan secara perlahan dan tenang tapi tak memperdulikan apapun di sekitar mereka.
Sedangkan pemandangan ini....
"Grooaarr! Raaawwrrr!"
Kedua Goblin itu masih saling pukul satu sama lain. Saling mencakar, saling menggigit, dan saling melukai.
Semua itu hanya untuk memperebutkan cairan biru tua yang berada di lantai.
Mereka berusaha meraihnya dengan tangan mereka. Tapi karena cukup sulit, belum lagi diganggu oleh Goblin yang satunya, mereka langsung menjilat ke lantai untuk mengambil carian itu.
'Ini jauh berbeda dengan apa yang ku lihat di kompleks pembangkit listrik itu. Apakah karena terhalang? Tidak.... Bukan karena itu.' Pikir Axel.
Tak berselang lama, Leona pun mulai berbicara menjelaskan situasi ini setelah puas menendang kepala Goblin di hadapannya itu.
"Seperti yang kalian lihat, cairan ini membuat para monster tingkat C dan di bawahnya menjadi gila. Mereka akan berusaha sekuat tenaga untuk mendapatkannya. Apapun yang terjadi." Jelas Leona.
"Cairan apa itu?"
"Bukan kah dengan cairan ini, kita bisa memaksa monster menjauh?"
Beberapa komentar dari para Liberator dan prajurit pun mulai terdengar begitu ramai di ruangan ini.
Tetap dengan wajah lelahnya, Leona pun membalas.
"Kau benar. Dengan memanfaatkan teknologi ini, kita bisa memaksa para monster menjauh dan membantai mereka. Dan dengan ini pula, kita bisa mulai mengambil alih kembali kota Los Angeles ini."
"Dengan kata lain, manusia tak lagi perlu bersembunyi di bawah tanah." Tambah Oracle yang berdiri di samping.
Wajah semua orang pun nampak begitu antusias. Mereka dapat membayangkan masa depan yang begitu cerah dengan teknologi baru ini.
Masa depan dimana manusia sekali lagi bisa bangun dan melihat matahari terbit. Serta dapat melihat tenggelamnya matahari sebelum tertidur.
Dan bukannya hidup di bawah tanah layaknya seekor tikus.
Meski begitu, tetap ada beberapa pertanyaan yang ingin diajukan oleh para Liberator. Salah satunya yaitu....
"Cairan itu, bahan apa yang digunakan?" Tanya salah seorang Liberator dari Asia Timur.
Akane nampak tersenyum tipis setelah mendengar pertanyaan itu. Itu karena Ia tahu cabang Asia timur hanya berpura-pura untuk tak mengetahui apapun.
'Dasar, kalian butuh waktu selama ini untuk membuat bahan pengalih perhatian monster?' Pikir Akane dalam hatinya sambil terus tersenyum tipis.
__ADS_1
Kini, Frans yang melangkah maju. Tapi sebelum Ia berbicara, Frans menarik sebuah golok besar di pinggang kanannya. Mengayunkannya dengan cepat untuk menebas kepala Goblin yang masih kegilaan dengan cairan biru tua itu.
"Bahan yang digunakan ternyata sangat sederhana. Bahkan kita telah melihatnya setiap hari." Ucap Frans singkat.
Dari balik mejanya, Akane yang duduk dengan santai pun masih tetap tersenyum.
'Tentu saja sederhana. Bahannya hanya lah Flux murni dan oksigen. Semakin lama terekspos terhadap oksigen, maka efeknya akan semakin kuat.' Pikir Akane.
Akan tetapi....
Penjelasan lanjutan dari Frans membuatnya terkejut.
"Hanya Flux murni dan garam." Jelas Frans singkat.
'Eh?!'
Secara refleks, Akane memperlihatkan wajah terkejutnya kepada semua orang yang berada di depannya.
Dan hal itu, tentu saja diketahui oleh Oracle yang sedari tadi memang memperhatikan keseluruhan gerak gerik dari para Liberator dan Prajurit yang berasal dari Asia Timur.
Tak hanya Akane. Tapi juga 8 Liberator lain dan juga beberapa prajurit reguler mereka.
Semuanya menunjukkan wajah yang terkesan begitu terkejut setelah mendengar pernyataan dari Frans.
Lalu, apa yang dilakukan oleh Oracle dengan informasi itu?
Tidak ada.
Ia hanya diam saja. Tak mengatakan sepatah kata pun. Tak menunjukkan perubahan perilaku sedikit pun. Kedua matanya kini tertuju kepada Frans yang masih menjelaskan detailnya.
Akane sendiri sadar bahwa dirinya telah membuat kesalahan yang cukup besar dengan menunjukkan wajah terkejutnya.
'Sialan! Aku terbawa suasana! Apakah ada yang melihatku?!' Pikir Akane dalam hatinya sambil melihat ke berbagai arah di sekelilingnya.
Terutama memperhatikan ke arah Oracle yang berdiri di depan semua orang itu.
'Hah.... Syukurlah. Tak ada yang melihat ku.' Ucap Akane.
Hal yang sama juga dipikirkan oleh para Liberator dan prajurit lainnya yang berasal dari Asia Timur.
Sikap terkejut mereka terjadi karena mereka memang telah mengetahui teknologi untuk mengalihkan perhatian para monster itu sejak lama.
Tapi mereka menyimpan pengetahuan itu untuk diri mereka sendiri. Tak memiliki niat untuk membagikannya.
Hal itu lah yang membuat Asia Timur bisa dengan mudah menaklukkan kembali Osaka. Dengan mengalihkan perhatian para monster lalu membangun dinding yang menjulang tinggi. Sebuah dinding yang juga dilapisi teknologi pengalih perhatian monster itu.
Membuat para penjaga dengan senapan mesin besar dapat membantai monster yang menyerbu dengan mudah.
Sangat sederhananya teknologi itu, hampir semua orang militer mengetahuinya. Dan jika kondisi darurat sekalipun, mereka biasa memanfaatkan Flux Booster mereka untuk mengalihkan perhatian para monster yang mengejar mereka.
Akan tetapi....
Apa yang didengar mereka saat ini jauh berbeda dengan apa yang mereka ketahui.
"Reaksi natrium klorida ini terhadap Flux cukup unik sehingga membuat...."
Frans terus menjelaskan detailnya. Tapi bagi para Liberator yang hanya pandai bertarung, detail itu sama sekali tak perlu.
__ADS_1
Yang mereka butuhkan hanya satu.
Yaitu mengetahui bahwa teknologi baru ini bisa membawakan kemenangan dan harapan baru bagi umat manusia.