Liberator

Liberator
Bab 32 - Escort 2


__ADS_3

Emma yang melihat serangan dari Axel itu merasa begitu takjub. Pasalnya, tembakan panahnya dengan mudahnya menembus tubuh dari Wyvern yang seharusnya merupakan monster tingkat tinggi itu.


“Axel, kau benar-benar luarbiasa.” Puji Emma melalui saluran komunikasi itu.


“Jika kau memiliki waktu untuk memuji, bagaimana jika kau mengincar dan menembakkan senjatamu itu?” Balas Axel dengan sindiran yang tipis.


“Hahaha.... Baiklah, aku akan segera mendukungmu.” Balas Emma.


Emma segera memasukkan sebuah peluru dengan ukuran yang begitu besar. Bahkan secara normal, peluru seukuran itu mampu untuk menembus baja dari Tank.


Peluru itu merupakan kaliber 50 BMG atau seukuran satu setengah jari telunjuk pria dewasa. Dengan ujung dari peluru itu memiliki warna kehijauan yang menyala.


Belum lagi ditambahkan kekuatan sihir dari Emma itu sendiri.


’Cklaak!’


Setelah memasukkan peluru besar itu ke dalam senapannya, Emma segera mempersiapkan dirinya.


Tiga buah penyokong besi nampak mendukung Emma dalam menjaga keseimbangan dari senapan besarnya itu.


Dalam posisi tiarap, Emma segera mengincar targetnya melalui scope pada senapan itu. Yang membuatnya mampu melihat di kejauhan dengan jelas.


Setelah menentukan targetnya....


Emma secara perlahan memasukkan sihirnya ke dalam senapan itu. Cahaya kebiruan dalam senapan itu semakin lama semakin terang. Tapi semuanya terfokus pada satu tempat, yaitu peluru itu sendiri.


‘Swuuuuussshh!!!’


Suara pengumpulan energi yang terjadi pada senapan Emma begitu nyaring.


Beberapa kilatan listrik kecil nampak mulai muncul di sekitar senapannya. Menandakan bahwa peluru yang ditingkatkan dengan sihir Emma itu mulai mengalami Overlord atau memperoleh terlalu banyak energi.


Hingga akhirnya, segera setelah Emma menarik pelatuknya....


‘BAAAAAAAAAAAM!!!’


Sebuah ledakan yang cukup besar terjadi di sekitar senapan Emma. Ledakan itu menimbulkan api biru dan beberapa percikan listrik.


Tapi yang lebih parah dari semua itu, senapannya yang bahkan telah disokong oleh tiga penyangga besi itu terdorong cukup jauh ke belakang.


Di hadapan laras senapan itu, lantai beton bangunan tersebut mulai menghitam hanya dengan terpapar ledakan pelurunya saja.


Sedangkan targetnya itu sendiri....


’SPRAAAASSSSHHH!’


Sebuah lubang yang sangat besar, seukuran dengan bola basket itu timbul di bagian dada dari Wyvern itu. Membunuhnya seketika dan melemparkan penunggangnya terjatuh sejauh ribuan meter ke tanah.


Axel yang turut melihat serangan Emma barusan hanya bisa tersenyum. Dengan sedikit sindiran, Axel pun kembali berbicara.


“Apa-apaan itu? Bukankah kau jauh lebih kuat dariku?” Ucap Axel sambil tertawa ringan melalui jaringan komunikasi itu.


“Tidak. Setiap tembakanku jauh lebih lama jika dibandingkan dengan tembakanmu. Terlebih lagi, aku harus berterimakasih padamu.” Balas Emma.

__ADS_1


“Hah? Apa maksudmu dengan itu?” Tanya Axel kebingungan sambil terus menembakkan anak panahnya.


“Ujung dari peluru yang ku gunakan, terbuat dari bahan sisik Lizardmen yang kau bunuh sebelumnya. Jadi kekuatan ini.... Sebagian berkatmu.” Ucap Emma dengan suara yang semakin lama semakin lirih itu.


Balasan dari Axel cukup singkat.


“Syukurlah.”


Di sisi lain, Sophia yang juga termasuk dari regu pendukung bersama dengan Axel dan Emma juga turut bertarung.


Perbedaannya, Sophia tak bertarung dengan menggunakan senjata. Melainkan menggunakan sihirnya secara langsung, yaitu sebuah sihir tipe air.


Sophie menembakkan ratusan hujan es yang tajam ke berbagai arah di sekitar bandara ini.


Ia tak bertarung melawan para Dread Rider yang begitu jauh darinya itu. Melainkan bertarung melawan ribuan, bahkan puluhan ribu monster yang mulai menerjang ke arah bandara ini secara bersamaan.


“Kalian berdua fokus untuk menjatuhkan para Dread Rider itu! Sisa pertahanan di bandara dan gedung ini, serahkan saja padaku!” Teriak Sophie melalui saluran komunikasi itu.


“Terimakasih!”


...***...


Di sisi lainnya, pertempuran untuk menjaga keempat pesawat agar dapat mendarat di bandara ini dengan selamat mulai menjadi semakin sengit.


‘Bbraaaakk! Kraaaakk!’


Puluhan ribu pasukan monster, mulai dari Goblin, Orc, hingga Lizardmen mulai menerjang ke arah bandara ini.


‘Kreettaakk! Kraaaak! Kraaakk!’


“Yang benar saja....”


“Hahaha.... Mereka semua benar-benar monster....”


Keluhan para prajurit seragam hitam itu mulai terdengar di segala arah bandara ini setelah melihat betapa banyaknya monster yang menyerbu tempat ini.


Dimana mereka....


Tanpa sedikit pun rasa takut, menerjang melewati ladang ranjau dan juga kawat tajam itu.


Mereka tak memperdulikan nyawa mereka.


Jika mereka mati, maka sisa perjuangannya akan dilanjutkan oleh monster yang berada di belakangnya. Dan di belakangnya lagi.


‘Blaaarrr! Duaaaarrrr! Blaaaarrr!’


Suara ledakan ranjau yang besar itu terdengar di segala sisi pertahanan bandara ini.


Setiap ledakan yang terjadi, puluhan tubuh Goblin terlempar ke udara dengan tubuh yang hancur lebur. Membuat hujan darah merah kehitaman yang begitu menjijikkan.


Sedangkan ketika ledakan itu terpicu oleh Orc maupun Lizardmen, mereka tak mati seketika.


Paling parah, mereka hanya akan kehangan satu kaki atau lengan mereka dalam ledakan itu.

__ADS_1


Bahkan dengan darah yang terus mengucur dari bagian tubuh mereka yang terpotong itu, mereka tetap berusaha maju. Sekalipun harus merangkak.


Pagar berkawat tajam yang juga dialiri listrik itu, seharusnya berfungsi untuk menahan agar mereka tak berani masuk atau mendekat.


Tapi para monster itu terus menabrakkan diri mereka pada pagar besi itu. Menjadikan tubuh mereka sebagai jembatan agar yang ada di belakang mereka dapat terus maju.


Melihat kengerian ini semua, para prajurit seragam hitam yang jarang bertemu atau bertarung dengan para monster mulai ketakutan.


Moral mereka mulai runtuh.


Begitu pula dengan kepercayaan diri mereka.


Tapi jika ingin kabur, memangnya kemana? Kemana mereka akan kabur dalam situasi ini?


Ke Utara? Mereka akan menjumpai ribuan Goblin yang terus menerjang dengan brutalnya.


Ke arah Selatan? Ratusan Orc dengan zirah tebal dan senjata yang besar itu nampak mengayunkan senjata besar mereka ke segala arah tanpa sedikit pun rasa takut.


Bagaimana dengan ke arah Barat atau Timur?


Mungkin mereka bisa selamat.


Tentunya, itu jika mereka bisa melawan ratusan Lizardmen yang memiliki pola gerakan yang rumit, serta sisik yang begitu tebal.


Mengetahui semua itu, seluruh prajurit tersadar. Bahwa tak ada lagi jalan keluar bagi mereka selain bertarung hingga mati.


Tapi mengetahui bahwa mereka akan mati?


“Ti-tidak! Aku tak ingin mati di sini!”


“Ampun! Seseorang selamatkan kami!”


“Huwaaaaaah!”


‘Daaarr! Daaarr! Daaarr!’


Seluruh prajurit berseragam hitam itu mulai menembakkan senapan mesin mereka secara acak. Mengarahkannya kemanapun monster itu berada.


Rentetan peluru terus menerus menghujani barisan para monster itu. Begitu pula dengan ratusan longsong peluru yang terus menerus dimuntahkan oleh senapan mesin mereka.


‘Daaarr! Daaarr! Daaarrr!’


Peluru dari senapan mesin mereka mampu dengan mudah menembus tubuh para Goblin yang merupakan monster tingkat E kebawah.


Tapi selain pada para Goblin itu, peluru itu kesulitan untuk menembus zirah tebal dari para Orc itu dan juga sisik keras dari para Lizardmen.


Dibutuhkan setidaknya ratusan tembakan peluru untuk mampu menembus zirah dan membunuh satu ekor Orc saja.


Begitu pula untuk membunuh seekor Lizardmen.


Karena alasan inilah pasukan divisi khusus Liberator dibentuk.


Sehingga monster tingkat D keatas yang sangat sulit ditandingi oleh senjata konvensional, dapat dibunuh oleh Liberator dengan kemampuan fisik atau magis mereka yang tinggi.

__ADS_1


__ADS_2