
Eva segera membawa Axel ke tempat yang aman. Meskipun, kecepatannya sama sekali tak bisa mengimbangi Chimera itu.
Dan dengan segera, Ia pun mulai terkejar.
Axel yang menyadari hal itu segera turun lalu berganti menggendong Eva untuk menjauh.
"Apakah bantuan telah tiba?" Tanya Axel singkat sambil menggendong tubuh Eva dengan kedua tangannya itu.
"Aku belum melihat satu pun." Balas Eva.
"Begitu ya?"
Axel kemudian segera memperhatikan sekelilingnya. Dan Ia melihat sebuah gedung pencakar langit di kejauhan yang telah agak miring. Sebuah gedung yang bisa saja roboh kapan saja.
Melihat kondisi itu, Axel segera mempercepat langkah kakinya untuk menuju ke puncak dari gedung tersebut.
Ia memutar dan mengambil sisi yang sedikit miring. Memberikannya pijakan yang mudah untuk menaiki gedung itu.
Sesaat sebelum mulai menaiki gedung itu, Axel melihat ke arah belakang.
"Bagus, dia benar-benar selalu mengikuti ku." Ucap Axel setelah mengetahui Chimera itu tepat berada di belakangnya.
"Turunkan aku, aku bisa lebih cepat darinya di sini." Ucap Eva yang mulai berusaha melepaskan diri dari kedua tangan Axel.
Dengan segera, keduanya pun mulai berlari.
Menaiki gedung pencakar langit yang setinggi 50 lantai lebih itu dari sampingnya. Melewati kaca demi kaca yang berlubang di sisi gedung itu.
'Brakkk! Braaakkk! Braaakkk!'
Chimera itu juga cukup gila untuk mengikuti mereka berdua.
Di satu sisi, Axel memang tak bisa memahami kenapa Chimera itu terobsesi dengannya. Mungkin karena Ia melukainya. Tapi Axel tak bisa membuktikan hal itu.
Sementara itu, di sisi lain Axel juga cukup senang.
Dengan ketinggian seperti ini, mungkin Axel bisa memberikan luka yang cukup besar pada Chimera itu dengan menjatuhkannya ke tanah.
"Tapi bukankah Chimera itu memiliki sayap?" Tanya Eva.
"Hanya tulang saja. Lihat lah, semua kulit di sayapnya telah robek. Ia takkan bisa terbang dengan sayap seperti itu." Balas Axel yang terus berlari.
Tak berselang lama, keduanya akhirnya berada tepat di puncak gedung pencakar langit ini.
Ketinggiannya mencapai 230 meter lebih dari permukaan tanah. Dan tempat yang menjadi pijakan mereka hanyalah sisi samping gedung yang miring dengan banyak kaca yang telah hancur.
Bertarung di tempat seperti ini melawan monster itu memang pilihan yang cukup beresiko.
Tapi lebih beresiko lagi jika bertarung dengan monster itu di tanah lapang. Dimana monster itu bisa bergerak dengan bebas dan cepat.
'Pyaaaarrr!!!'
Setelah tiba di puncak, Axel segera memasuki lantai teratas dari bangunan itu dengan memecahkan salah satu kaca yang ada.
__ADS_1
Begitu juga dengan Eva.
Dan kini, di dalam sebuah ruang kantor yang miring ini, keduanya mempersiapkan diri mereka untuk yang terburuk.
Ratusan meja dan kursi serta komputer dan berbagai dokumen tersebar di segala tempat pada ruangan ini.
Menunjukkan bahwa sebelumnya tempat ini merupakan sebuah kantor salah satu perusahaan besar. Yang pada saat ini, hanya menyisakan perlengkapan tanpa satu pun pegawai di dalamnya.
'Deg! Deg!'
Jantung Axel dan juga Eva mulai berdetak kencang. Keduanya merasa sedikit takut atas pertaruhan ini.
Rencana Axel cukup sederhana. Yaitu memancing agar Chimera itu menyerang mereka berdua lalu menghindar. Membuat Chimera itu terjatuh ke tanah dari ketinggian ini.
Sambil berpegangan pada beberapa tiang yang ada, Axel dan Eva terus menanti. Menanti datangnya monster Chimera itu ke arah mereka.
Tapi tanpa di duga oleh keduanya....
'Kreekk! Blaaaarrr!'
Chimera itu menghancurkan sebagian besar dari dinding yang ada agar Ia bisa masuk dengan mudah. Dan juga dengan perlahan.
Chimera itu memiliki kecerdasan yang cukup tinggi untuk menyadari bahaya dari tempat ini. Sekaligus menyadari bahwa Axel dan juga Eva takkan kabur begitu saja setelah menaiki gedung tinggi ini.
'Brakkk! Braaakk!'
Secara perlahan, Chimera itu berjalan. Ia perlu sedikit merangkak karena tubuhnya yang terlalu besar dibandingkan dengan ruangan ini.
Dan benar saja, secara perlahan, lantai bangunan ini tak mampu untuk menahan beban dari Chimera itu.
Lantai yang menjadi pijakannya mulai runtuh sedikit demi sedikit.
Tapi Chimera itu mampu beradaptasi dengan baik. Ia menggunakan kedua ekornya untuk menyangga sebagian besar berat tubuhnya itu ke dinding bangunan di dekatnya.
Perlahan tapi pasti, Chimera itu mulai mendekat ke arah Axel.
"Tenang saja. Tunggu sampai dia menerjang." Ucap Axel berusaha untuk tak hanya menenangkan Eva, tapi juga dirinya sendiri.
Aman tetapi....
Ada yang aneh dalam gerakan Chimera tersebut.
Secara tiba-tiba, Chimera itu mulai terdiam dan tak bergerak. Ia membuka sayapnya lebar-lebar dan mengangkat kepalanya ke atas.
'Bzzttt! Zaapp!'
Pada saat itu lah Axel menyadari, bahwa dirinya sama sekali belum melihat kekuatan penuh dari Chimera itu.
Meski hanya sepintas saja.
Axel dapat melihatnya.
Sambaran listrik yang mengalir dari kepala Chimera itu lalu bergerak menuju ke dua sayapnya. Sedikit demi sedikit listrik itu terkumpul di kedua sayapnya.
__ADS_1
"Axel.... Itu...."
Tak mampu menunggu lebih lama lagi, Axel segera meraih tubuh Eva dan membawanya melompat dari gedung ini.
'Pyaaaaarrr!!!'
Kini keduanya terjun bebas dari ketinggian 200 meter lebih. Eva pada awalnya tak paham kenapa Axel melakukan itu, serta merusak rencananya sendiri.
Tapi saat Ia melihat ke arah udara, tepatnya ke arah lantai dimana Chimera itu berada....
...'JDAAAAAAAARRRRR!!!!'...
Sambaran ratusan lebih petir yang mengarah pada tempat yang sama dapat terlihat. Sambaran petir itu bahkan jauh lebih kuat daripada apa yang dimiliki oleh Axel.
Membuat kekuatan Axel seakan seperti permainan anak-anak saja.
Tak hanya itu, jangkauan dari serangan petir itu bahkan tak dapat diketahui. Sejauh mata memandang, petir itu masih terus melaju.
Sedangkan kekuatannya sendiri tak lagi perlu diragukan.
Jika saja Axel tak berpikir cepat untuk melompat dari lantai itu, mungkin keduanya telah tersambar petir hingga menjadi abu.
Tidak, dengan kekuatan sebesar itu....
Mungkin abu sekalipun juga takkan tersisa di tubuh mereka berdua.
'Swuuuusshhh!'
Dalam pemikiran itu, keduanya masih terus terjun bebas ke tanah.
Tapi Axel segera menyeimbangkan dirinya kembali dan mendarat dengan kedua kakinya.
'Blaaaarrr!!!'
Jalanan beton itu langsung remuk sesaat setelah menerima hentakan kaki dari Axel.
Dan tak menunggu lebih lama lagi, Axel segera berlari. Sejauh mungkin dan secepat mungkin.
Sesekali, Ia menoleh ke arah belakang tepat di gedung Chimera itu berada.
"Tak mengikuti kami lagi?" Tanya Axel yang sedikit ragu-ragu itu.
Di kejauhan, Chimera itu nampak membalikkan badannya dan meninggalkan gedung itu. Menuju ke arah yang berlawanan dari lokasi pembangunan ulang para Liberator itu.
"Axel! Apa yang terjadi?" Tanya Oracle melalui saluran komunikasi itu.
"Aku sendiri juga tak tahu tapi.... Dia mulai meninggalkan tempat ini. Apakah itu hal yang bagus? Lagipula, yang terpenting monster itu tak menyerang markas bukan?"
Mendengar jawaban dari Axel itu, Oracle nampak kebingungan.
Di satu sisi, Ia merasa lega karena monster misterius yang sangat kuat itu telah mundur. Memberikan umat manusia kesempatan lain untuk mempersiapkan diri mereka.
Tapi di sisi lain....
__ADS_1
Oracle tahu.
Bahwa jumlah dari monster itu tak hanya satu. Melainkan lebih dari ribuan di luar sana.