Liberator

Liberator
Bab 56 - Sisi Lain


__ADS_3

'Klang! Klang! Klang!'


Suara hantaman besi dan mesin peralatan berat itu kembali terdengar di garis depan ini. Seakan-akan kejadian kemarin sama sekali tak pernah terjadi.


Wajar saja, karena prajurit reguler dan pekerja sipil sama sekali tak diberitahu mengenai Chimera yang ditemukan oleh Axel.


Mereka merahasiakan Chimera itu jauh-jauh di dalam dokumen mereka.


Selama mereka tak menjumpainya lagi, itu bukan lah sebuah masalah.


"Kau masih memikirkannya?" Tanya Eva kepada Axel yang berdiri di atas crane atau derek jangkung yang tinggi itu.


'Bbrrrrr!!'


Secara perlahan, Crane itu mulai bergerak untuk mengangkat baja tebal itu. Mengarahkannya ke bagian depan dinding sebagai lapisan pelindung.


"Tidak juga. Aku hanya menjalankan pekerjaanku." Balas Axel singkat.


Kedua matanya terus memindai di sekitarnya. Memastikan bahwa tak ada sedikit pun monster yang mendekat.


Seberapa keras pun Axel bekerja, tetap saja tak ada satu ekor pun monster yang ditemukannya. Hampir semua monster di area ini telah dimusnahkan.


Dan juga, pasukan utama dari para monster telah mundur sejak runtuhnya dunia ini. Meninggalkan manusia dalam keadaan terpuruk ini sendirian.


"Begitu kah? Kalau begitu aku akan bersantai di bawah. Panggil aku jika ada apa-apa ya?" Ucap Eva sambil melompat dari puncak crane itu.


Sementara itu, Axel tetap terdiam di atas crane ini. Menikmati ketenangan dunia ini selama Ia masih bisa merasakannya.


Sesekali, Axel meraih suntikan yang disimpannya di balik seragam militernya.


Ia berencana untuk menggunakannya akhir pekan ini.


Meskipun percaya pada Leona dan Frans, Axel masih merasa sedikit takut. Bagaimana jika obat ini tak berfungsi dengan baik dan justru membunuhnya?


Tapi sekalipun itu terjadi, memangnya apa bedanya? Bukankah Axel juga tetap saja akan mati sebentar lagi?


Dalam pikirannya itu, Axel terus melanjutkan pengawasannya pada sektor ini.


......***......


Di sisi lain....


Tepatnya di sebuah tempat yang sangat jauh dari peradaban maju umat manusia....


Sebuah pemukiman kumuh dapat terlihat berdiri di tengah reruntuhan kota ini. Mereka menggunakan tiang besi dan juga kain yang dijahit menjadi satu sebagai rumah mereka. Layaknya sebuah tenda.


Tempat ini bahkan tak pantas disebut sebagai pemukiman. Lebih cocok jika disebut sebagai lokasi perkemahan darurat.


Tapi itu lah kenyataannya.


Nasib bagi umat manusia yang berada jauh dari benteng Liberator.


Jauh dari pertolongan dan juga jangkauan mereka. Termasuk perlindungan dari para Liberator.

__ADS_1


Meski begitu....


Mereka tetap bertahan hidup dengan cara mereka sendiri.


Di hadapan sebuah api unggun yang dibuat dalam tong tempat sampah berbahan besi itu, puluhan orang nampak terkumpul.


Semuanya memiliki penampilan yang begitu kotor dan juga pakaian yang telah compang-camping. Kulit mereka mulai menghitam karena banyaknya kotoran dan debu yang belum pernah dibilas. Kecuali jika hujan turun.


"Bagaimana hasil buruan hari ini?" Tanya seorang Pria dengan jenggot dan rambut yang panjang itu.


"Cukup bagus. Kami memperoleh satu ekor kadal raksasa ini. Cukup untuk memberi kita makanan untuk dua hari kedepan." Balas seorang pemuda di kejauhan.


Di belakangnya, nampak 4 pemuda lain yang mengangkut mayat monster kadal raksasa. Yang tak lain merupakan Lizardmen itu sendiri.


Mereka telah memotong kepala Lizardmen itu dan membalikkan tubuhnya untuk menguras darahnya.


"Syukurlah. Bagaimana dengan air bersih?" Tanya Pria itu kembali.


"Tak ada masalah. Kami telah mengamankan saluran air bawah tanah. Sedikit kotor, tapi cukup untuk diminum." Balas seorang wanita yang membawa satu jerigen berisi penuh air yang sedikit keruh itu.


Setelah melihat air itu sesaat, Pria sebelumnya nampak mengangguk puas.


"Semuanya. Terimakasih banyak atas kerja keras kalian semua. Mari, kita nikmati hasil buruan hari ini." Ucap Pria itu.


Ia berjalan secara perlahan ke arah jasad Lizardmen itu sambil membawa sebuah pisau tajam.


'Jleebbb!'


Setelah menusukkannya tepat di perut Lizardmen itu, Pria itu segera menguliti monster itu. Sedikit demi sedikit, mengelupas kulit Lizardmen itu.


Beberapa nampak mulai memotong dan membersihkan daging dari bagian tubuh Lizardmen itu.


Beberapa yang lain lagi nampak mulai memasak air untuk mereka konsumsi.


Semuanya bekerja dalam sebuah tim yang sangat kompak. Bahkan anak kecil sekalipun turut membawa pisau, membersihkan sisa sisik dari Lizardmen itu untuk kemudian diserahkan pada orang lain untuk dibumbui.


Bumbu apa yang digunakan?


Tentu saja, apapun yang bisa mereka temukan di sisa-sisa toko swalayan di sekitar mereka.


Setelah semuanya beres, daging Lizardmen itu diolah menjadi 3 olahan berbeda.


Olahan pertama yaitu daging bakar untuk mereka makan saat ini. Kemudian olahan kedua yaitu daging rebus yang akan mereka makan untuk 2 hari kedepan.


Dan terakhir yaitu olahan asap, dimana mereka akan mengawetkan daging itu dengan metode pengasapan serta penggaraman. Tujuannya yaitu untuk menyimpan cadangan makanan di kemudian hari.


Tak setiap hari mereka bisa mendapatkan buruan yang bagus.


Tak setiap hari pula semuanya dapat kembali dengan selamat.


Itu benar.


Sama seperti hari ini....

__ADS_1


"Dimana paman Nikolas?" Tanya seorang anak laki-laki yang terlihat berumur 10 tahun itu.


Pemuda yang termasuk dalam regu pemburu itu pun berlutut sambil membelai lembut kepala bocah laki-laki itu.


"Dia mati." Balas Pemuda itu singkat.


Tak ada sedikit pun niatan untuk merahasiakan atau pun menjaga perasaan anak kecil itu.


Tidak di sini.


Karena dunia ini, sekarang sudah menjadi sebuah tempat dimana hanya yang terkuat yang bisa bertahan.


Dan bocah laki-laki itu sudah memahami hal tersebut.


"Begitu ya? Apakah itu karena paman Nikolas lemah?" Tanya bocah itu.


Sekali lagi, pemburu itu pun menjawab.


"Tidak, Nikolas tidak lemah. Tapi Ia penakut. Dan karena ketakutannya itu, Ia hampir saja membahayakan nyawa pemburu lain." Balas Pemburu itu.


Bocah itu pun menundukkan kepalanya. Berusaha untuk meresapi seluruh perkataan pemburu itu.


Tak ada waktu baginya untuk menangisi pamannya yang tiada.


Tak ada pula alasan baginya untuk menangisinya.


Lagipula, ini lah hukum dari dunia ini.


Hanya yang terkuat yang bisa bertahan. Di tengah kekejaman dan ketidakadilan dunia ini.


"Makan lah. Dan tumbuh lah dengan kuat. Sehingga suatu hari nanti, kau bisa melindungi yang lain." Ucap pemburu itu sambil mengarahkan potongan daging bakar dari bagian lengan atas Lizardmen itu.


Dengan lahapnya, bocah laki-laki itu pun menerima daging bakar tersebut. Memakannya seakan tak ada lagi kesempatan esok harinya.


Di saat semua orang sedang sibuk menikmati makanan mereka....


Seseorang melihat suatu hal yang aneh.


"Oi, siapa dia?" Tanya salah seorang penjaga yang membawa tombak besi itu.


"Hmm? Bocah tersesat?" Tanya penjaga yang lainnya.


Di kejauhan, tepatnya diluar wilayah pemukiman mereka, sosok seorang gadis kecil yang mungkin masih berusia 11 atau 12 tahun itu terlihat berjalan sendirian.


Tubuhnya dipenuhi dengan darah. Begitu pula dengan pakaiannya. Darah itu cukup banyak hingga mewarnai rambut pirangnya menjadi merah.


Di atas semua itu, ada satu hal yang menjadi pusat perhatian semua orang.


"To.... Long...."


'Braakkk!'


Dengan kalimat terakhirnya itu, gadis kecil itu pun terjatuh ke tanah dengan tubuh yang begitu lemas. Tatapan matanya mulai memudar, dan secara perlahan, kedua matanya pun tertutup rapat.

__ADS_1


Menyembunyikan mata berwarna merah itu di baliknya.


__ADS_2