
Mendengar semua ocehan dari Akane yang terjadi secara tiba-tiba itu, Axel hanya terdiam. Dalam hatinya, hanya ada satu kalimat.
'Ku pikir aku bisa sedikit memahaminya tapi.... Nampaknya aku memang tak bisa memahami apa maksud dari wanita ini.'
Sementara itu, Akane nampak menanti respon dari Axel. Tetap sambil menjaga senyuman manis di wajahnya itu.
Tak berselang lama, Akane pun mengulurkan tangan kanannya ke arah Axel.
"Apa maksudnya ini?" Tanya Axel melihat tangan kanan Akane yang mengarah padanya. Seakan meminta untuk berjabat tangan.
"Hanya jabat tangan untuk kerjasama kita mulai hari ini. Tak boleh?" Tanya Akane sambil terus tersenyum. Tapi kini, Ia juga menutup kedua matanya sambil sedikit memiringkan kepalanya ke samping.
Axel sekali lagi memperhatikan tangan kanan Akane itu. Entah kenapa, sejak awal Axel merasa ada sesuatu yang salah dengan wanita ini.
Tapi Axel sama sekali tak bisa menjelaskannya.
Hanya sebuah perasaan tak nyaman ketika dekat dengannya.
Setelah memikirkannya selama beberapa saat, Axel pun segera menjabat tangan kanan Akane itu dengan cukup kuat.
'Sreettt!'
"Hmm! Bagus! Aku suka dengan sikapmu!" Balas Akane sambil tersenyum.
'Jadi memang tak ada apapun yang terjadi? Hanya jabat tangan biasa?' Tanya Axel dalam hatinya.
"Baik lah! Obrolan singkat telah selesai. Sekarang, bisa kah kita mulai menyelesaikan misi ini?" Tanya Akane yang telah membalikkan badannya kembali. Kini menatap ke arah pembangkit listrik di kejauhan itu.
"Semakin cepat selesai semakin baik." Balas Axel.
Ia memperhatikan ribuan monster lebih yang berkerumun di sekitar pembangkit listrik tersebut. Mereka seakan-akan berjalan ke satu titik yang sama.
Tapi karena banyaknya rintangan dan juga bangunan yang roboh, mereka tak bisa memasuki pembangkit listrik itu dengan mudah.
Di sisi lain, Akane segera bersiap untuk mengeluarkan sihir api skala besarnya. Pada telapak tangan kanannya, sebuah bola api dengan warna kebiruan mulai terbentuk.
Sesaat sebelum Akane menembakkan serangan api itu, Axel segera menahan tangan kanannya.
"Tunggu! Apa yang kau lakukan?!" Tanya Axel panik.
"Menghabisi mereka, tentu saja." Balas Akane seakan tanpa dosa.
Axel hanya mampu memukul keningnya sendiri karena tak percaya atas tindakan dari Akane itu.
"Hah.... Kita di tugaskan untuk menginvestigasi apa yang menyebabkan para monster itu tertarik ke tempat ini. Bukan menghabisi mereka." Jelas Axel sambil menghela nafasnya.
Ia tak bisa percaya bahwa Akane hanya berpikir untuk menghabisi semuanya dengan kekuatan semata.
"Aah, benar juga. Maaf." Balas Akane yang memasang wajah tak berdosa. Lengkap dengan senyuman yang lebar.
Axel kemudian mulai menuruni bukit itu. Bersiap untuk menerobos masuk melewati ribuan monster tipe Goblin dan Orc itu.
Ia mengangkat senjatanya. Menguncinya dalam bentuk tombak. Bersiap untuk pertarungan yang sengit melawan para monster jika memang dibutuhkan.
__ADS_1
Akan tetapi....
Tak ada satu pun monster yang peduli padanya.
Bahkan ketika Axel berdiri tepat di samping salah satu Goblin itu, mereka hanya terus berlari ke satu titik yang sama. Menghiraukan keberadaan Axel sepenuhnya.
"Apa-apaan ini?" Tanya Axel kebingungan melihat tingkah mereka. Yang seakan-akan ada sesuatu yang jauh lebih penting di dalam sana dibandingkan dengan musuh bebuyutan mereka.
Tapi yang lebih mencurigakan lagi....
Saat Axel melirik ke arah Akane, wanita itu nampak sama sekali tak terkejut. Ia terlihat biasa saja. Hanya ketika Axel benar-benar menanyakannya secara langsung kepada Akane, wanita itu baru bersikap bingung.
"Kau tahu sesuatu tentang ini?" Tanya Axel dengan tatapan yang tajam.
"Hah? Tentu saja aku tak tahu. Menurutku ini memang cukup aneh karena mereka menghiraukan keberadaan kita berdua." Balas Akane.
Axel hanya diam.
Ia tak mampu lagi berkata-kata.
Setelah terus menatap tajam ke arah Akane, Axel segera kembali mengalihkan perhatiannya kepada kerumunan monster di hadapannya.
Dan melanjutkan pencarian mereka.
......***......
Beberapa puluh menit telah berlalu.
Kini, Axel dan juga Akane telah berada cukup dalam di kompleks pembangkit listrik itu.
Sama seperti manusia, para monster juga merupakan makhluk hidup. Yang butuh makan, minum, dan beristirahat.
Dan saat ini, di dalam kompleks pembangkit listrik ini, tumpukan mayat dari para monster tergeletak di mana-mana.
Bagi mereka yang masih cukup segar, atau baru saja mati, maka akan menjadi makanan bagi yang masih hidup.
Daging mereka akan menghapuskan lapar di tubuh monster yang masih hidup. Sedangkan darah mereka akan melegakan dahaga bagi yang lainnya.
Pemandangan yang dilihat oleh Axel ini jauh lebih buruk dari apa yang dibayangkan olehnya.
Bau amis dan juga busuk tercium dari segala arah. Memaksa Axel untuk mengikatkan selembar kain di hidung dan mulutnya untuk mencegah bau busuk itu masuk.
Dan seperti dugaannya....
'Berapa kali pun aku melihatnya, Ia benar-benar mencurigakan.' Pikir Axel melihat ke arah sosok Akane di depannya.
Wanita itu nampak terlalu tenang.
Seakan-akan Ia telah cukup sering melihat pemandangan ini.
Apakah Ia mengetahui sesuatu dari hal ini? Jika iya, kenapa tak memberitahukannya kepada dirinya? Tapi jika tidak, kenapa Ia terlihat begitu tenang?
"Bbzztt! Markas pusat kepada tim Axel. Kau mendengarku?" Ucap Oracle melalui saluran komunikasi pada earphone di telinga kiri Axel itu.
__ADS_1
Setelah menekan bagian tengah dari earphone itu, Axel pun membalasnya.
"Di sini Axel. Kami sedang berada di dalam pusat pembangkit listrik, jadi tak bisa begitu banyak berbicara." Balas Axel dengan suara yang cukup lirih.
Kedua matanya terus memperhatikan gerak-gerik dan langkah kaki dari Akane di kejauhan.
Tentu saja, Akane juga dapat mendengarkan pembicaraan dalam saluran komunikasi ini. Karena Ia juga memakai earphone pada gelombang yang sama.
"*Setelah melakukan penelitian lebih lanjut dari data yang kau kirim barusan, perilaku dari monster itu memang sangat aneh.
Jika kau bisa mengetahui penyebabnya, mungkin kita bisa memanfaatkan teknologi itu untuk membantu menjaga keamanan wilayah baru umat manusia. Dengan memancing para monster di tempat pembantaian*." Jelas Oracle panjang lebar dalam saluran komunikasi itu.
"Aku mengerti. Akan ku usahakan untuk mengetahui penyebab di balik fenomena ini." Balas Axel sambil menekan kembali bagian tengah dari earphone itu.
Memutuskan panggilan yang ada, agar dirinya tak lagi terganggu.
Di depannya, Akane mulai membalikkan badannya dan melihat ke arah Axel dengan tatapan yang sedikit rumit.
Dan secara tiba-tiba, Akane segera mengeluarkan sihir api di tangan kanannya.
Tatapannya begitu tajam ke arah Axel. Bersiap untuk menembakkan bola api itu tepat ke arah wajahnya.
Dengan responnya yang cepat, Axel pun menarik tombak di punggungnya. Memutuskan bahwa Akane memang sangat mencurigakan dan mungkin berniat untuk menghabisinya atau semacamnya.
'Swuuusshhh!!'
Tanpa ragu, Akane segera melemparkan bola api di tangan kanannya itu.
Hanya saja....
Bola api itu melewati wajahnya. Dan mengenai sesuatu yang berada tepat di belakangnya.
"Gyaagghh!!!" Teriak seorang Pria tak dikenal karena tubuhnya terbakar oleh api milik Akane.
Secara perlahan, tubuh pria itu mulai terlihat dari yang sebelumnya sepenuhnya tembus pandang.
Di sisi lain, Axel yang hampir saja mengayunkan tombaknya ke arah Akane, kini mulai terdiam membeku. Tak memahami apa yang sebenarnya terjadi.
"Tak ku sangka Rusia akan mengirimkan pasukan khusus mereka kemari." Ucap Akane dengan senyuman yang lebar.
Ia pun membuat sebuah lingkaran api di sekitar tubuhnya dengan tinggi 75cm. Membuat apapun yang mendekat, sekalipun tak terlihat, akan terbakar oleh apinya.
Axel yang telah melihat kembali apa yang baru saja diserang oleh Akane, mulai kehilangan rasa curiganya terhadap wanita itu.
Tepat di hadapannya, adalah sosok seorang prajurit dengan seragam dan perlengkapan khusus yang mampu membuatnya menjadi hampir tak terlihat.
Dan di tangan kanannya, terdapat sebuah pisau militer yang hampir saja menggorok leher Axel.
"Akane, terimakasih." Ucap Axel singkat.
"Jangan berterimakasih dengan kata-kata, tapi bantu aku menghabisi mereka." Balas Akane.
Dengan segera, Axel mulai mempersiapkan dirinya. Mengaliri sebagian tubuhnya dengan elemen petir. Begitu pula pada ujung tombaknya.
__ADS_1
Kini, pertarungan yang sedikit berbeda pun terjadi.
Dimana lawannya bukan lah seekor monster, melainkan manusia itu sendiri.