Liberator

Liberator
Bab 66 - Pihak Lain


__ADS_3

"Dengan pengetahuan dari tubuhnya itu, kita bisa menciptakan generasi Liberator yang lebih cepat, lebih kuat, dan hidup lebih lama."


"Jadi begitu ya?" Ucap Akane sambil mendengarkan percakapan itu melalui earphone miliknya.


Sebuah percakapan yang seharusnya merupakan rahasia besar bagi Oracle dan Axel.


Akane dapat mendengarkannya karena Ia berhasil melakukan peretasan pada berbagai ruang kendali di benteng ini. Memberikannya akses terhadap sebagian besar informasi baik itu video maupun audio pada pihaknya.


Di sampingnya, beberapa Liberator lain dari Asia Timur turut mendengarkan hal yang sama. Mereka mencatat beberapa poin-poin yang penting dalam ruang rapat ini.


Sebuah ruang rapat yang di khususkan untuk para Liberator dari Asia Timur.


Senyuman yang lebar nampak terlukis di wajah Akane setelah Ia menyadari rahasia besar itu.


"Nona Akane, apa yang sebaiknya kita lakukan?"


"Tentu saja mengirimkan informasi ini kepada Jendral Matsumoto. Sambungkan aku dengan Jendral." Balas Akane yang berdiri dari kursinya.


"Dengan segera."


Beberapa operator nampak mengutak-atik komputer di hadapan mereka. Dan setelah mengamankan sambungan pembicaraan dengan wilayah Asia Timur, layar monitor yang besar dalam ruangan ini pun menyala.


Secara serempak, semua orang yang ada di sana memberikan hormat kepada Jendral Matsumoto.


"Lapor, kami menemukan informasi yang sangat penting di wilayah Amerika Utara." Ucap Akane setelah menurunkan tangan kanannya.


"Laporkan." Balas Jendral Matsumoto singkat.


"Baik! Di Amerika Utara ini, ditemukan keberadaan Chimera dengan wujud manusia. Memiliki tingkat kecerdasan yang sangat tinggi, dan juga kemampuan regenerasi yang luarbiasa." Jelas Akane.


Jendral Matsumoto nampak melebarkan tatapan matanya karena terkejut atas informasi itu.


Ia tak bisa percaya bahwa akan ada monster dengan wujud manusia di dunia ini.


"Apa kau bilang? Chimera dengan wujud manusia? Seperti apa kemampuannya?" Tanya Jendral Matsumoto dengan tatapan yang begitu serius.


"Kemampuan fisiknya berada di kisaran tingkat C hingga B. Akan tetapi kemampuan regenerasinya bahkan melampaui kemampuan regenerasi tubuhku. Ia bisa menumbuhkan lengan yang telah hilang sepenuhnya." Jelas Akane.


Pada layar besar itu, Jendral Matsumoto nampak menganggukkan kepalanya. Menerima seluruh informasi yang diberikan oleh Akane.


"Dimengerti. Menjadikannya sebagai subjek penelitian di Jepang nampaknya akan sangat menguntungkan Asia Timur. Apakah kau bisa mengambil subjek Chimera itu?" Tanya Jendral Matsumoto.

__ADS_1


"Sedikit disayangkan, mengambilnya dengan cara yang halus hampir mustahil dilakukan. Tapi akan beda ceritanya jika dengan cara yang kasar. Meskipun, kami akan sedikit membutuhkan tambahan bantuan." Balas Akane.


"Bantuan? Berapa banyak? Selama bisa memperoleh subjek Chimera berakal itu, takkan menjadi masalah seberapa banyak yang harus dikorbankan." Balas Jendral itu dengan tatapan yang sangat tajam.


Keriput dan rambutnya yang mulai memutih, sama sekali tak menghentikan ambisinya yang begitu besar.


"2 orang saja sudah cukup. Tolong kirimkan ID A-04 dan A-06." Balas Akane.


Meskipun terdengar begitu aneh, tapi tak ada satu orang pun yang berdiri dengan tegap di ruangan ini yang nampak terkejut.


Mereka semua menganggap seluruh perkataan Akane barusan itu adalah hal yang normal. Begitu pula dengan Jendral Matsumoto pada layar besar itu.


"Hmm.... Aku paham dengan permintaan A-04, tapi kenapa dengan A-06? Apakah kau tak bisa membereskannya sendirian?" Tanya Jendral Matsumoto penasaran.


"Sayangnya, pemimpin Liberator Amerika Utara yaitu Oracle, memiliki kemampuan yang sempurna untuk melawan target individual dengan sangat cepat. Tanpa A-06, aku takkan selamat dengan serangan skala luas ini." Balas Akane.


"Jadi begitu ya? Baiklah. Dimengerti. Aku akan kirimkan bantuan segera setelah kalian memberangkatkan target ke Jepang. Mengerti?" Tanya Jendral Matsumoto itu.


"Dimengerti." Balas Akane singkat.


Segera setelah itu, sambungan komunikasi itu dimatikan.


Para Liberator di ruangan ini pun segera memberikan hormat kepada Jendral Matsumoto di layar itu.


Tanpa sepengetahuan dari Liberator pihak Amerika Utara sama sekali.


......***......


"Liberator.... Generasi kedua?" Tanya Axel kebingungan terhadap pernyataan dari Oracle itu.


"Ini semua masih sebatas teori. Tapi bukan berarti tak mungkin. Hanya saja, kita membutuhkan lebih banyak data penelitian untuk mewujudkannya. Dan untuk itu lah, Lucy ingin bertemu denganmu. Untuk meminta pendapatmu."


"Jadi begitu ya...."


Axel memahami bahwa semua ini mungkin adalah yang terbaik bagi umat manusia.


Dan jika memang benar bahwa gadis bernama Lucy itu bukan lah manusia, dan juga takkan dilukai, tak ada salahnya untuk melakukan hal ini bukan?


"Aku mengerti." Balas Axel singkat.


"Kalau begitu, ikut denganku." Balas Oracle sambil berjalan ke arah pintu baja di samping ruangan ini.

__ADS_1


Setelah melewati lorong kecil, keduanya pun tiba di ruangan berlapis baja ini. Dimana sosok Lucy terlihat sedang sibuk bermain boneka.


"Kakak!" Teriak Lucy dengan begitu bahagia setelah melihat sosok Axel.


"Terimakasih telah menyelamatkanku Kak! Terimakasih!" Teriak Lucy sambil memeluk tubuh Axel dengan begitu eratnya.


"Syukur lah kau sudah baikan."


"Iya kak! Lihat! Kakak perempuan itu memberikan boneka ini! Aku benar-benar menyukai mereka!"


Lucy terlihat memperkenalkan koleksi boneka miliknya itu.


Mendengarnya, Axel tak mampu mempercayai bahwa gadis ini masih berumur beberapa bulan saja. Tapi memiliki bentuk fisik seperti seorang gadis berumur 12 tahun.


"Mereka semuanya cantik." Balas Axel sambil membelai salah satu boneka beruang berwarna putih itu.


"Tentu saja mereka cantik! Tapi.... Kakak. Kakak perempuan itu bilang mereka akan melakukan perawatan pada tubuhku. Apakah menurut kakak itu aman?" Tanya Lucy khawatir.


Ekspresi wajahnya berubah seketika, dengan tatapan wajah yang murung dan juga kerutan di keningnya.


Axel pun mengangkat tangan kanannya dan mulai membelai lembut rambut pirang gadis itu. Setelah beberapa saat, Axel mengangkat wajah gadis itu secara perlahan.


"Tenang saja. Kakak perempuan ini orang yang baik. Dia pasti akan membantumu. Jangan khawatir, jika sesuatu terjadi aku akan menyelamatkanmu sekali lagi." Balas Axel dengan ibu jari yang membelai pipi gadis itu.


"Benarkah?! Kakak akan datang menyelamatkanku?! Kakak janji?! Terimakasih! Aku sayang kakak!" Teriak Lucy yang segera berlari untuk kembali memeluk tubuh Axel.


"Iya, aku berjanji akan menyelamatkanmu." Balas Axel yang memeluk kembali tubuh gadis kecil itu.


"Yey! Terimakasih Kak!"


Setelah beberapa saat bermain bersama dengan Lucy, Oracle pun meminta agar Axel kembali. Semua itu agar mereka bisa melakukan penelitian lebih lanjut terhadap Lucy itu sendiri.


"Lucy, sekarang sudah saatnya tidur. Kakak Axel akan kembali lagi beberapa hari lagi. Selama Lucy bersikap dengan baik, kakak akan memberikan mainan baru untuk Lucy. Mengerti?" Tanya Oracle.


"Lucy akan bersikap baik!"


"Gadis yang pintar. Kemari lah." Ucap Oracle sambil membuka kedua lengannya lebar-lebar.


Lucy pun segera berlari ke arah Oracle. Memeluknya dengan begitu erat.


Melihat pemandangan ini, Axel merasa....

__ADS_1


Mungkin....


Umat manusia dapat terselamatkan.


__ADS_2