Liberator

Liberator
Bab 21 - Bantuan Tambahan


__ADS_3

Lantai B19


Ruang Rapat Utama


"Axel, Eva. Aku telah memutuskan untuk memberikan bantuan pada kalian untuk menangani sarang Lizardmen itu." Ucap Oracle sambil duduk di balik meja kerjanya itu.


Mendengar ucapan Oracle itu, Axel dan juga Eva nampak cukup senang. Lagipula hampir mustahil untuk melawan ribuan Lizardmen di ruangan yang luas itu hanya berdua.


"Syukurlah. Jadi, siapa yang akan membantu?" Tanya Axel dengan perasaan yang cukup senang.


"Liberator tingkat A sama seperti Eva, James. Ia adalah seorang Liberator tipe sihir sepertimu." Jelas Oracle.


Axel hanya terdiam. Menunggu kalimat selanjutnya dari Oracle.


Tapi Oracle telah kembali bekerja dan tak lagi berbicara. Di sisi lain, Eva mulai menarik lengan kanan Axel untuk segera meninggalkan ruang rapat ini.


"Tu-tunggu dulu! Hanya satu orang?" Tanya Axel sambil menarik lengannya.


Oracle mendongakkan kepalanya, menatap tajam ke arah mata Axel secara langsung tanpa berkedip.


"Kau pikir berapa banyak Liberator di benteng ini? Dari 15, hanya 10 yang bisa meninggalkan benteng. 3 dari 15 Liberator bukanlah tipe petarung.


Kemudian 2 lagi bertugas untuk berjaga-jaga di benteng jika ada serangan mendadak yang di tujukan pada benteng ini. Jika kau paham segera berangkat. James telah menunggumu di lantai 1 markas." Balas Oracle dengan panjang lebar.


Axel sama sekali tak menyangka bahwa apa yang disebut sebagai bantuan itu hanya 1 orang.


Ia kemudian teringat atas banyaknya prajurit berseragam hitam lainnya yang ada di markas militer ini.


Tapi sebelum Axel sempat bertanya, Oracle seakan dapat membaca pikirannya. Atau lebih tepatnya dapat menebak apa yang akan ditanyakan oleh Axel berikutnya berdasarkan dari raut wajahnya.


"Dan juga pasukan seragam hitam takkan bisa ikut dalam operasi pembasmian ini. Senjata senapan mesin mereka tak cukup kuat untuk membunuh monster tingkat D seperti Lizardmen dan Orc.


Secara singkatnya, membawa mereka hanya akan menjadi beban untuk kalian. Jadi ditolak." Lanjut Oracle yang kini mulai fokus kembali pada pekerjaannya di komputer itu.


'Lalu apa gunanya mereka?'


Axel hendak melontarkan pertanyaan itu. Tapi Ia segera menahannya.


Kini Ia benar-benar paham atas pentingnya sumberdaya divisi khusus Liberator. Dan alasan kenapa mereka semua sampai menipunya agar bergabung.


Ya, Axel telah mengetahui jawaban dari pertanyaannya itu sendiri.


Yaitu para pasukan seragam hitam tak cukup beruntung untuk diberkati dengan evolusi yang kuat dari Flux.


"Maaf." Ucap Axel singkat sambil segera membalikkan badannya. Berniat untuk meninggalkan ruang rapat ini tanpa menunggu Eva.

__ADS_1


Eva nampak sedikit menundukkan kepalanya kepada Oracle sebelum pergi mengejar langkah kaki dari Axel.


......***......


"5 Orang yang harus selalu berada di benteng.... Kau tahu siapa saja mereka?" Tanya Axel kepada Eva dalam elevator itu.


"Leona dan Frans adalah Liberator tipe khusus yaitu medis. Selama berada di tangan mereka berdua, kau takkan kehilangan nyawamu sekalipun jantungmu berhenti." Jelas Eva sambil memandangi berbagai tombol lantai di elevator itu.


Mengenai kedua orang itu, Axel memang sudah menduganya.


Leona dan Frans. Mereka berdua adalah orang yang bertanggungjawab untuk melakukan operasi gila itu dan memperkuat pasien mereka dengan energi Flux tambahan.


Jadi wajar saja mereka tak mampu untuk bertarung. Tidak, lebih tepatnya akan jauh lebih buruk kehilangan mereka berdua dibandingkan dengan kehilangan Liberator tipe petarung.


"Satu lagi yang tak mampu bertarung adalah Anna. Ia adalah orang pertama tanpa bakat yang mengajukan dirinya sebagai bahan percobaan bagi Frans dan Leona. Hasilnya tentu saja sesuai prediksi." Jelas Eva.


"Sesuai prediksi?" Tanya Axel penasaran.


Eva nampak sedikit ragu untuk mengatakannya dengan jelas. Tapi setelah terdiam selama beberapa detik, Eva akhirnya mengatakannya.


"Tetap lemah. Peringkatnya adalah F untuk saat ini. Bahkan masih jauh lebih lemah daripada dirimu sebelum menerima operasi.


Aah, tapi tenang saja. Anna sama sekali tak mempermasalahkan hal itu dan kini Ia terus melakukan patroli di dalam kota. Sekalipun peringkat F, Ia masih jauh lebih kuat daripada prajurit seragam hitam lainnya." Jelas Eva.


Axel tak tahu harus berkata apa.


Tapi Ia juga kehilangan banyak umur kehidupannya akibat operasi itu.


"Lalu dua lagi?" Tanya Axel berusaha mengalihkan topik pembicaraan yang cukup suram itu.


"Kau telah menemuinya. Ia bernama Trevos, penjaga lantai komunikasi di B7." Ucap Eva sambil tersenyum cukup lebar.


"Hah? Pria tukang tidur itu?" Tanya Axel terkejut.


"Begitu lah. Tapi dia cukup kuat kau tahu? Peringkat B dengan tipe fisik!" Balas Eva tetap dengan senyuman lebar di wajahnya.


Jika dipikirkan kembali, manusia yang berevolusi dalam tipe fisik memiliki kekuatan yang jauh lebih besar daripada tipe sihir.


Itulah yang ada di dalam pikiran Axel.


Lagipula, Eva yang berada di peringkat A itu menurut Axel jauh lebih kuat daripada dirinya sendiri. Yang mana diberi label peringkat S.


'Mungkin ini adalah pembeda utama antara tipe sihir dan fisik?' Tanya Axel dalam hatinya.


'Ding!'

__ADS_1


Pintu dari elevator itu pun terbuka.


Keduanya berjalan keluar di lantai satu, mencari Pria bernama James yang seharusnya akan bekerja sama dengan mereka berdua khusus untuk hari ini.


Tentunya, mereka cukup mencari Pria dengan seragam abu-abu.


Setelah mengamati sekitar selama beberapa saat, Axel melihat sosok Pria berseragam abu-abu yang sedang bersandar pada tembok di dekat pintu keluar markas militer ini.


Pria itu meletakkan tangan kirinya di dalam saku celananya. Sedangkan tangan kanannya nampak memegang sebatang rokok di depan bibirnya.


Axel dan Eva segera berjalan ke arah Pria itu.


"James?" Tanya Axel singkat.


Pria itu memiliki rambut hitam yang cukup panjang dengan kulit yang sedikit gelap. Sedangkan senjata yang ada di punggungnya....


'Tak ada senjata?' Pikir Axel dalam hatinya.


"Jadi kau bocah baru peringkat S itu? Perkenalkan, aku James." Ucap Pria itu sambil menghembuskan asap rokok putih.


"Aah, ya. Senang berkenalan denganmu." Balas Axel sambil mengulurkan tangan kanannya.


James menggigit batang rokoknya sebelum menjabat tangan Axel itu.


Segera setelah itu, pandangannya teralihkan pada sosok Eva yang sedari tadi berdiri di samping Axel.


"Yoo, Eva. Lama tak melihatmu. Ku pikir kau telah mati." Ucap James sambil menepuk pundak wanita berambut perak itu.


"Kau sendiri, yakin belum membakar orang lain?" Balas Eva juga sambil memukul James secara perlahan.


'Bruukk!'


"Kuugh! Dasar wanita sialan, kau tahu barusan itu sakit kan?" Balas James sambil tertawa ringan.


Axel yang melihat keakraban keduanya memberikan sedikit ruang bagi mereka.


'Membakar orang? Apakah dia memiliki elemen tipe api atau semacamnya?' Pikir Axel dalam hatinya saat mendengarkan percakapan mereka berdua.


Tapi, Axel baru teringat satu hal lagi.


Ia lupa menanyakan siapa satu orang lagi yang bertugas untuk menjaga benteng ini. Meskipun, Axel sudah memiliki bayangan atas siapa orang itu.


'Apakah itu Oracle? Yah, mengingat Ia tak pernah keluar dari benteng ini mungkin itu memang dia orangnya.'


Setelah menjawab pertanyaannya sendiri, Axel mulai berjalan di bagian belakang.

__ADS_1


Mempersiapkan dirinya untuk kembali di saluran pembuangan air bawah tanah, tepatnya di bagian penampungan sampah.


Sebuah area yang sangat luas di bawah tanah, yang kini justru menjadi sarang dari monster itu sendiri.


__ADS_2