
Beberapa jam telah berlalu semenjak gadis itu mulai dirawat secara intensif dalam rumah sakit ini.
Beberapa selang dan juga tabung nampak terhubung ke tubuh gadis itu. Lengan yang sebelumnya terputus itu pun juga mulai dibalut dengan perban setelah melalui perawatan untuk mencegah kontaminasi bakteri.
Sementara itu, Axel dan juga Eva hanya bisa duduk di sudut ruangan ini.
Memperhatikan beberapa dokter dan perawat yang sedang berusaha menyembuhkan keadaan gadis itu.
"Kau pikir dia akan selamat?" Tanya Axel yang menggunakan kepalan kedua tangannya sebagai tumpuan dagunya itu. Kedua matanya terfokus pada arah ranjang rumah sakit itu.
"Melihat regenerasi tubuhnya yang sedikit abnormal, kurasa dia akan selamat." Balas Eva singkat.
Apa yang dimaksudkan olehnya adalah bekas tembakan peluru yang tiba-tiba menghilang itu.
Padahal sebelumnya, mereka berdua melihat dengan jelas tubuh gadis itu yang dipenuhi oleh luka tembakan peluru.
Setelah beberapa saat kemudian, salah seorang dokter itu nampak pergi meninggalkan gadis itu sambil mengangkat ponselnya. Semua itu terjadi setelah dokter itu melihat beberapa parameter kesehatan pada layar monitor di sebelah ranjang itu.
Dimana Axel dan juga Eva tak begitu memahami apa saja yang dimaksudkan dalam layar tersebut.
"Permisi." Ucap dokter itu singkat sambil segera keluar dari ruangan ini.
"Apakah itu normal?" Tanya Axel.
"Entah lah. Mungkin keperluan mendadak atau pasien lain?" Balas Eva yang juga kebingungan dengan sikap dokter barusan.
......***......
Lantai B19
Ruang rapat utama.
"Begitu kah? Siapa saja yang telah mengetahuinya?" Tanya Oracle dengan suara yang lirih.
Tangan kanannya nampak mengangkat ponselnya tepat ke sebelah telinga kanannya.
Sementara itu, tangan kirinya mengisyaratkan agar semua orang menjauh darinya.
Setelah memastikan bahwa beberapa Liberator utama dari Asia Timur tak ada di ruangan ini, Oracle pun segera melangkah pergi. Menuju ke elevator.
Tapi sebelum itu, Oracle menatap ke arah Frans dan juga Leona yang masih bekerja di kejauhan. Melambaikan tangan kirinya untuk meminta mereka berdua mengikutinya.
"Jangan katakan pada siapapun soal ini." Bisik Oracle dalam ponselnya.
Setibanya dalam elevator itu, tak ada orang lain di dalamnya. Dengan cepat, Oracle segera menekan tombol nomor 1 di elevator itu.
"Aku mengerti. Aku akan segera ke sana." Balas Oracle singkat sambil menutup panggilan itu.
"Ada apa?" Tanya Leona kebingungan.
"Kau tahu aku masih sibuk mencari Chimera yang menghilang itu kan? Jangan salahkan aku jika..."
Sebelum Frans menyelesaikan keluhannya, Oracle segera memotongnya dengan sebuah kalimat yang sangat mengejutkan.
"Chimera itu telah berada di dalam benteng ini."
__ADS_1
Keduanya pun terdiam dengan mata yang terbuka begitu lebar serta mulut yang menganga.
Tak pernah sedikit pun mereka menyangka akan mendengar pernyataan seperti itu. Tapi itulah kenyataannya.
"Tu-tunggu dulu! Kau bercanda kan?"
"Bagaimana mungkin monster sebesar itu memasuki benteng ini?!" Teriak Frans.
Oracle segera mengarahkan jari telunjuknya di depan bibirnya. Meminta agar mereka berdua tetap diam.
"Diam dan ikut denganku."
......***......
Rumah Sakit Umum
Axel dan Eva masih menemani gadis kecil itu dirawat dalam ruangan ini. Mereka menanti kabar yang baik darinya.
Akan tetapi, secara tiba-tiba, ada seseorang yang membuka pintu ruangan ini dengan cukup keras.
"Oracle? Kenapa?" Tanya Axel kebingungan melihat sosok sepenting itu di sini.
Oracle hanya menatap Axel sekilas sebelum melanjutkan pekerjaannya.
"Semuanya, silakan meninggalkan ruangan ini. Aku menerima informasi bahwa luka yang di derita gadis ini terlalu buruk, sehingga perlu ditangani secara langsung oleh mereka berdua." Ucap Oracle sambil melirik ke arah Leona dan Frans.
Tak ada satu pun dokter atau perawat yang tak mengenal mereka berdua.
Kemampuan mereka dalam bidang pengobatan begitu luarbiasa. Hingga konon di katakan selama berada di bawah perawatan mereka berdua, kondisi kritis seperti apapun akan bisa dilewati dengan mudah.
"Di-dimengerti!" Balas dokter yang ada di ruangan ini sambil membungkukkan badannya. Begitu pula dengan para suster yang ada di sebelahnya.
Dengan segera, mereka pun meninggalkan ruangan ini.
"Apa yang kalian berdua lakukan? Bukankah aku memerintahkan agar kalian semua pergi dari sini?" Tanya Oracle sambil menatap tajam ke arah Axel dan juga Eva.
Seketika, Axel menyipitkan kedua matanya sambil menatap tepat ke arah mata Oracle.
"Apa yang akan kau lakukan padanya?"
Sebagai sesama penyintas yang pernah mengalami pahitnya bertahan hidup diluar benteng ini, Axel memiliki sedikit bias terhadap pendapatnya sendiri.
Dan menganggap bahwa apapun yang terjadi, gadis ini tetap harus dilindungi. Terlebih lagi setelah melihat betapa mengerikannya nasibnya.
"Katakan, apa yang sebenarnya terjadi pada gadis itu? Kau tak mengatakannya padaku kan?" Balas Oracle yang berjalan semakin mendekat ke arah Axel.
Axel sedikit melangkah mundur dengan tindakan Oracle itu. Bahkan tatapan matanya mulai gemetar.
Itu karena Axel memang menyembunyikan fakta bahwa gadis itu sebenarnya dikejar oleh manusia yang lainnya. Termasuk perkataan mereka yang menganggap bahwa gadis ini adalah monster.
"Tunggu, apa maksudmu?" Tanya Eva yang juga berusaha berpihak pada gadis itu. Ia berjalan ke arah ranjangnya dan bermaksud untuk melindunginya.
"Intinya, gadis itu adalah Chimera." Ucap Leona dengan sikap malasnya. Kedua tangannya nampak meraih beberapa alat medis di ruangan ini.
"Leona!" Teriak Oracle.
__ADS_1
Tentu saja, informasi ini seharusnya sangat dirahasiakan. Tapi Leona merasa bahwa kedua orang di hadapan mereka telah menyimpan terlalu banyak rahasia.
Tak lagi perlu untuk menyembunyikannya.
"Apa kau bilang?" Tanya Axel dengan kedua mata yang terbuka lebar.
Seketika, hawa dingin mulai mengalir di sekujur tubuhnya. Jika perkataan Oracle itu benar, maka Axel baru saja membahayakan nyawa seluruh penduduk sipil di benteng bawah tanah ini.
Tidak....
Oracle mungkin memang benar. Lagipula, hal yang sama juga dikatakan oleh para pemburu itu.
"Hah.... Pada intinya, kami mencurigai gadis ini adalah Chimera yang kalian temui di luar sana. Tenang saja. Kami hanya akan mengurungnya dalam sel tahanan sambil terus mengobati dan mempelajari tubu...."
'Sreetttt!'
Mendengar perkataan Oracle, Axel tak lagi bisa menahan emosinya. Ia dengan segera meraih kerah seragam Oracle dan mengangkat tubuhnya ke atas.
"Kau bilang ingin menjadikannya sebagai objek percobaan?! Sama sepertiku?!" Teriak Axel dengan tatapan yang dipenuhi dengan perasaan kebencian.
Axel sendiri merasakannya.
Perasaan keputusasaan setelah mengetahui bahwa nasibnya dipermainkan oleh orang-orang Liberator atau para Pembebas ini. Dengan merenggut umur dan kehidupannya.
Meskipun sebagai gantinya, Ia bisa memberikan rumah yang aman dan nyaman bagi adiknya.
Tapi tetap saja....
Ia tak ingin orang lain mengalami hal yang sama.
"Kau melawanku? Bocah ingusan sepertimu?" Balas Oracle dengan ekspresi wajah marah yang sama sekali belum pernah ditunjukkan oleh ga.
Sikap Oracle itu sedikit memberikan rasa takut pada diri Axel. Tapi Ia tak lagi mampu berbalik.
"Jika kau berani mempermainkan hidupnya...."
"Sudah selesai." Ucap Leona di kejauhan sambil mengangkat tiga buah botol kaca kecil di tangan kirinya.
"Eh?"
Secara perlahan, Axel segera menurunkan tubuh Oracle. Sambil memperhatikan sosok Leona yang mengelap lengan kanan gadis itu.
"Aku tak tahu apa yang kau pikirkan, tapi menguji dan mempelajari tubuhnya hanya membutuhkan sedikit sel dari tubuhnya. Dengan kata lain, irisan tipis di sebagian kecil kulitnya." Jelas Frans yang berjalan ke arah Leona itu.
Sekalipun keduanya bersikap tenang, tapi tetap saja. Axel baru saja melakukan kesalahan yang cukup besar.
"Axel. Berdasarkan data, gadis ini bukanlah manusia. Mengingat bahaya dari Chimera, aku akan tetap mengurungnya. Tapi bukan dengan rantai, hanya memasukkannya dalam ruang berlapis baja.
Ia bisa hidup dengan tenang disana sementara kami mengamati apakah Ia memang berbahaya atau tidak sambil terus mengobati lukanya. Hal ini juga dapat merahasiakan keberadaannya." Jelas Oracle panjang lebar.
Kedua lengannya nampak sibuk merapikan kerah seragamnya yang kisut akibat cengkeraman Axel barusan.
"Tak ada sekalipun aku bilang akan menyiksanya. Tapi Axel, kau berani melawanku ya? Mungkin kau membutuhkan libur selama 3 hari untuk menenangkan dirimu." Lanjut Oracle sambil melirik ke arah Axel dengan tatapan yang sini.
Di kejauhan, Eva hanya bisa terdiam. Ia tak tahu harus berbuat apa di situasi seperti ini.
__ADS_1
Peluang terburuknya, mungkin hanya lah Axel yang akan memasuki ruang penjara isolasi. Sama seperti dirinya dulu.