
'Klaaangg!'
Suara besi yang nyaring itu terdengar sesaat setelah Axel memperoleh kembali kesadaran dirinya.
Apa yang ada di hadapannya, hanyalah sebuah dinding kaca yang tebal. Hampir sama seperti apa yang dilihatnya di markas Liberator Amerika Utara.
'Klaaanggg!'
Kedua tangan dan kakinya sama sekali tak bisa bergerak. Semuanya tertahan oleh pengekang baja berlapis yang mencegah Axel untuk kabur.
Tubuhnya menempel pada tembok baja itu. Melepaskan diri adalah sesuatu yang tak dimungkinkan.
'Ckleek!'
Setelah beberapa saat, seseorang nampak masuk dari sisi samping melalui pintu baja yang tebal itu.
Axel sama sekali tak pernah melihat orang tersebut. Ia memiliki penampilan yang cukup pendek. Rambutnya yang telah memutih itu memperjelas umurnya. Begitu pula dengan langkah kakinya yang cukup lambat.
Di sampingnya, terlihat beberapa pekerja yang lainnya yang mengenakan seragam serupa. Yaitu jas laboratorium berwarna putih dengan beberapa papan klip untuk mencatat apapun yang mereka amati di tangan kiri mereka.
"Hoo.... Nampaknya kau telah bangun ya, Axel." Ucap Pria tua itu dengan ramah. Bahasa Inggrisnya sedikit kaku.
"Profesor, berhati-hati lah. Subjek ini bisa melukai A-01 cukup parah bahkan dengan senjata tingkat rendah." Ucap seorang pemuda di sampingnya dengan menggunakan bahasa Jepang.
"Tapi bukankah pengekang baja itu sudah cukup kuat untuk menahannya?" Balas wanita di samping profesor itu.
Axel di sisi lain hanya bisa terdiam dalam kebingungan. Tak memahami harus melakukan apa dalam situasi ini.
Tapi nampaknya, profesor yang ada di hadapannya cukup ramah.
"Maaf, tapi dimana aku? Dan kenapa?" Tanya Axel penasaran.
Profesor itu pun berjalan mendekat ke arah Axel dengan senyuman yang ramah. Sambil menatap ke arah mata Axel, Ia pun menjawabnya.
"Fasilitas penelitian bawah tanah di Osaka. Sedangkan untuk kenapa, itu karena kau adalah seorang Liberator yang berhasil mencapai peringkat S. Tentu saja." Jawab profesor itu dengan ramah.
Ia kemudian memberikan suatu isyarat kepada beberapa peneliti lain di sebelahnya. Dimana mereka dengan segera memahami apa yang harus dilakukan dengan berjalan pergi ke sudut ruangan ini. Mencari sesuatu di tumpukan kotak peralatan yang ada.
"Memangnya kenapa? Bukankah kami dari Amerika Utara telah sepakat untuk membantu kalian?"
Mendengar perkataan Axel itu, Profesor tua itu pun tertawa ringan.
"Hahaha.... Hahaha! Buahahaha!"
Semakin lama, tawanya menjadi semakin keras. Layaknya orang yang telah kehilangan akalnya.
__ADS_1
"Maaf.... Hahaha.... Sungguh, aku minta maaf. Tapi yang kami butuhkan bukan lah dirimu, Axel. Melainkan kemampuanmu." Lanjut Profesor itu.
Beberapa asistennya kemudian menyerahkan pisau dan berbagai alat bedah lainnya. Secara perlahan, Profesor itu pun mendekat ke arah Axel sambil mengarahkan alat bedah itu ke tubuhnya.
"Tunggu, apa yang kau lakukan?! Apa yang akan kalian lakukan?!" Tanya Axel panik.
"Apa? Tentu saja membedah tubuh mu untuk mengetahui bagaimana proses evolusi mu berlangsung. Dan dengan itu.... Hahahaha!!!"
Profesor itu pun sama sekali tak memiliki niatan untuk melanjutkannya. Ia hanya tertawa seperti orang gila sambil terus membedah tubuh Axel.
Di saat yang bersamaan, seluruh asisten yang ada di sampingnya mulai menyembuhkan tubuh Axel dengan kemampuan yang serupa dengan apa yang dimiliki oleh Leona dan juga Frans. Meskipun, sedikit lebih kasar.
"Kuuggh! Aaaarrgghh! Hentikan! Henti...."
Sebelum Axel berhasil meneriakkan apa yang ada dalam pikirannya, Profesor itu menghentikan apapun yang sedang dilakukannya dan menarik lidah Axel keluar.
Tanpa ragu, segera memotongnya begitu saja.
"Jangan sembuhkan lidahnya. Aah, benar juga. Pita suaranya juga." Ucap Profesor itu yang segera menusuk leher Axel. Membedahnya untuk merusak pita suara di tenggorokan Axel.
Mencegahnya untuk tak hanya berbicara, tapi juga bersuara untuk selamanya.
"Siap laksanakan, Profesor Akihiko." Balas para asistennya itu sambil terus menyembuhkan tubuh Axel kecuali dia bagian itu.
Apa yang terjadi berikutnya, hanya lah sebuah neraka di dunia ini.
Setiap harinya selalu dimulai dengan tubuhnya yang dibedah untuk diteliti. Tapi Axel sendiri juga tak mengerti apa yang sebenarnya diteliti dengan melakukan hal ini.
Satu hari, mereka akan memeriksa bagian perutnya. Di hari yang lain, mereka akan memeriksa bagian lengannya. Begitu pula hari-hari lainnya.
Setidaknya, mereka akan membiarkan bagian yang sebelumnya telah diteliti untuk beristirahat selama satu Minggu. Dan tak pernah menyentuhnya selama masa pemulihan itu berlangsung.
Tapi yang paling parah adalah setiap hari ke 7 dan kelipatannya.
Dimana mereka akan memeriksa otak Axel secara langsung.
"Tenangkan dirimu, Axel. Kami hanya perlu mencari tahu apakah ada suatu hubungan tertentu antara evolusi elemen listrik milikmu itu dengan otakmu. Tenang saja. Jangan berontak." Ucap Profesor itu.
Meski begitu, tubuh Axel tak bisa berhenti bergerak. Setiap kali alat bedah itu menyentuh bagian dalam otaknya, beberapa bagian tubuhnya seketika memperoleh respon dan bergerak secara refleks.
Sesekali, penglihatannya benar-benar menghilang sepenuhnya ketika profesor itu melakukan kesalahan dan melukai bagian otak yang mengatur penglihatannya.
Dan respon dari mereka sangat lah dingin.
"Maaf, tolong sembuhkan bagian ini. Aku sedikit mengacau barusan." Ucap Profesor itu.
__ADS_1
Dengan segera, seluruh asistennya menyembuhkan bagian tersebut. Memberikan Axel sekali lagi kesempatan untuk melihat.
Tapi juga kesempatan untuk tersiksa karenanya.
'Kapan ini akan berakhir?'
Pertanyaan itu mulai terukir di dalam hatinya.
Sebelumnya, Axel selalu berharap untuk bisa bertahan hidup sedikit lebih lama agar Ia bisa menikmati hidup damai dengan adiknya. Juga dengan orang-orang terdekatnya.
Kini?
Axel selalu berharap, bahwa tubuhnya akan menyerah akibat kontaminasi dengan Flux itu dan mati.
Ia hanya ingin seluruh penderitaan ini berakhir.
Sekalipun Axel ingin berteriak sekuat tenaga untuk melampiaskan rasa sakit yang dirasakannya, Ia sama sekali tak bisa melakukannya.
Axel bahkan tak memiliki kemampuan untuk melakukan hal itu.
Secara perlahan....
Ia mulai kehilangan kesadaran terhadap waktu itu sendiri.
Di saat pemeriksaan tubuhnya itu berlangsung, waktu berjalan begitu lama. Terasa seperti penyiksaan yang dialaminya berlangsung selamanya.
Tapi saat pemeriksaan tubuhnya itu selesai, waktu seakan terbang begitu saja. Dan tiba-tiba telah kembali di rutinitas yang sama seperti sebelumnya.
"Fyuuh.... Kerja bagus hari ini, Axel. Akhirnya kau berhenti memberontak setelah hari ke 32 ya?" Ucap Profesor itu kepada Axel.
Kini tubuh pemuda itu telah sepenuhnya berubah.
Sekalipun bisa menyembuhkan luka yang dialaminya selama pemeriksaan, para asisten Profesor Akihiko itu tak bisa sepenuhnya menghilangkan bekas luka yang timbul.
Dan sesekali, mereka harus merawat tubuh Axel dengan metode yang konvensional. Seperti menjahit bekas lukanya.
Hal itu lah yang membuat seluruh tubuh Axel yang saat ini dipenuhi dengan bekas jahitan.
"Sampai jumpa esok hari lagi, Axel. Tubuhmu benar-benar bagaikan sebuah tambang emas. Kami memperoleh banyak sekali data yang berguna di sana."
Axel tak lagi tahu, kapan hal ini akan berlangsung. Juga kapan akan berakhir.
Yang ada dalam hatinya, hanya lah sebuah harapan agar benteng di Amerika Utara tetap selamat.
Entah kenapa....
__ADS_1
Axel memiliki firasat yang buruk di sana.