
'Swuushh! Swuusshh!!'
Axel terus menembakkan anak panahnya ke arah para Dread Rider di sekitar pesawat itu.
Pada saat itu lah Ia mendengar kabar buruk dari Oracle.
"Axel! Aku hanya mengatakan ini padamu. Tapi nampaknya terdapat pihak ke tiga dalam misi ini."
Jelas Oracle.
"Pihak ke tiga?" Tanya Axel sambil terus menarik busurnya dengan kuat.
"Rusia. Mereka melakukan Hacking ke markas utama. Dan kemungkinan besar, alasan kenapa para monster bisa mengetahui rencana kita di tempat ini adalah ulah mereka." Tegas Oracle.
Axel segera menyipitkan kedua matanya setelah mendengar pernyataan itu.
Bagaimana tidak?
Itu karena setidaknya terdapat dua hal yang aneh dalam pernyataan dari Oracle.
Pertama. Rusia adalah salah satu negara adidaya yang runtuh relatif awal semenjak serangan para monster itu ke dunia ini.
Berita keruntuhan Rusia dalam peperangan itu telah lama diberitakan, bahkan sebelum dunia benar-benar hancur sepenuhnya. Di saat Amerika dan juga China masih terus berjuang melawan para monster.
Itu benar.
Rusia telah lama hancur.
Tapi kenapa mereka saat ini masih ada? Bahkan memiliki kemampuan untuk melakukan Hacking?
Kemudian kedua....
'Kenapa Rusia mengkhianati umat manusia dengan membeberkan rencana ini?'
Itulah apa yang ada di dalam pikiran Axel mengenai kejadian ini. Dan dengan itu, Ia segera paham apa yang diinginkan oleh Oracle.
"Apa yang seharusnya ku lakukan untuk masalah ini?" Tanya Axel singkat sambil melepaskan tembakan anak panah lain.
"Berdasarkan backlog yang tersisa dari aktivitas hackingnya, setidaknya hacker itu masih berada di Los Angeles. Tugasmu adalah temukan Hacker itu dan selidiki bagaimana caranya mereka memaksa monster berkumpul di bandara ini." Tegas Oracle.
"Sekalipun aku harus meninggalkan misi ku saat ini?" Tanya Axel sekali lagi.
"*Jangan bercanda. Mengatasi hacker ini masih jauh lebih penting daripada penjagaan bala bantuan dari Asia Timur.
Lagipula, Asia Timur mengirimkan ratu api mereka, seorang Liberator tingkat S sama sepertimu. Mereka akan baik-baik saja*." Balas Oracle melalui jaringan komunikasi itu.
Axel yang saat ini sedang menarik busurnya kembali, mulai mengendurkan nya. Mengembalikan anak panah yang dipegangnya kembali ke dalam tas lalu menutup dan mengangkutnya di punggungnya.
"Dimengerti. Akan segera ku kabari lagi." Balas Axel yang segera bersiap untuk melompat dari gedung tinggi itu.
"Aku mengandalkan dirimu, Axel." Balas Oracle sebelum mematikan saluran komunikasi itu.
'Swuuuuuuuuusssshhh!'
Kini, Axel terjun bebas dari gedung yang setinggi hampir 300 meter itu. Meski begitu, wajahnya nampak begitu tenang.
Ia bahkan sempat mengatur ulang frekuensi saluran komunikasinya untuk menghubungi rekan pendukung yang lainnya di gedung itu.
"Emma, Sophie, aku akan pergi. Aku mendapat misi darurat dari Oracle." Jelas Axel yang masih terus terjun bebas dari ketinggian itu.
Mendengar penjelasan dari Axel, keduanya sama sekali tak mempertanyakannya lebih lanjut.
Lagipula, jika itu memang benar misi darurat dari Oracle, maka itu sudah merupakan langkah terbaik yang bisa diambil tim Liberator di tempat ini.
"Baiklah. Axel.... Jaga dirimu." Balas Emma yang mewakili tim pendukung di gedung tersebut.
__ADS_1
Axel tak membalasnya.
Saat ini, Ia sudah cukup dekat dengan tanah dan bersiap untuk mendarat.
'Blaaaaarrr!!!'
Axel mendarat dengan kedua kakinya, meremukkan beton di jalanan tempatnya jatuh.
Secara perlahan, Axel mulai bangkit. Kini tujuannya sangat jelas. Yaitu mengikuti koordinat yang diberikan oleh markas pusat yaitu Oracle pada ponselnya.
Sebuah koordinat dimana Hacker itu kemungkinan berada.
Sesaat sebelum mulai berlari, Axel memperhatikan kembali kondisi fisiknya. Yang sama sekali tak terluka setelah melompat dari ketinggian seperti itu.
'Sudah ku duga.... Aku merasa aneh dengan tubuhku sedari tadi. Tapi tak ku sangka, kekuatan fisikku meningkat cukup tinggi.' Pikir Axel sambil melihat tangan kirinya.
Sebelumnya, Axel telah merasa curiga dengan penglihatannya yang menjadi semakin tajam dan akurat. Dan kini, Ia sangat yakin.
Bahwa kemungkinan besar, tubuhnya kembali berevolusi berkat kontak dengan energi Flux yang terlalu besar sebelumnya.
Mengesampingkan pemikiran itu, Axel segera melihat ponselnya sejenak. Memastikan dimana koordinat itu berada, lalu mulai berlari.
Kedua kakinya sedikit diselimuti oleh aliran petir. Dan dengan hentakan yang kuat....
'Zaaaaapp!'
Axel melesat dengan cepat melewati banyak puing-puing bangunan yang ada.
Setiap langkah kakinya, meninggalkan jejak berupa aliran listrik yang sedikit menyebar ke sekitarnya.
Kini, di hadapannya adalah barisan para monster yang berusaha untuk menyerbu bandara ini.
Melihat betapa banyaknya para monster itu, Axel segera mengunci kembali busurnya. Mengubahnya menjadi sebuah tombak dengan warna hijau tua dan alur hijau yang menyala.
'Zraassh! Zraaassshhh! Zraaaassshhhh!!'
Para prajurit seragam hitam serta Liberator yang lain, hanya melihat fenomena barusan seperti sebuah sambaran kilat belaka.
Hanya para Liberator, yang mampu melihat sosok Axel yang bergerak dalam lintasan garis lurus itu.
Dan apapun yang dilewati olehnya, kini hanya menyisakan sebuah kehancuran. Ratusan monster tipe Goblin dan juga puluhan monster lain dengan tipe Orc mati dalam sekejap. Hanya karena Axel melewati mereka.
Tubuh mereka tercabik-cabik hingga menjadi banyak potongan kecil oleh senjata generasi kedua milik Axel.
Sementara itu, kekuatan petir dari tubuhnya sendiri membuat apapun yang ada di dekatnya segera hangus terbakar.
Kalau pun tak hangus terbakar, mereka akan tersetrum hingga tak mampu bergerak selama beberapa detik.
"Apa-apaan itu barusan?" Tanya Johann terkejut ketika melihat sambaran petir barusan yang membunuh ratusan monster seketika.
"Axel? Kenapa di sini?" Tanya Eva yang segera memahami siapa sosok dari sambaran petir itu.
"Axel?! Jadi bocah baru itu?" Tanya Johann terkejut.
Reaksi yang sama juga diperlihatkan oleh beberapa Liberator yang lainnya. Dimana mereka tak bisa mempercayai kekuatan yang ditunjukkan oleh Axel.
Sebuah reaksi yang sama, saat mereka pertama kali melihat Oracle yang masih bertarung di garis depan dulu.
"Ini kah kekuatan dari peringkat S?" Ucap salah seorang prajurit berseragam hitam itu.
Axel, yang tentunya memprioritaskan misi baru yang diberikan oleh Oracle itu tak begitu ambil pusing terhadap kondisi medan pertempuran di bandara ini.
Ia hanya lewat, dan meninggalkannya begitu saja. Setelah beberapa saat, Axel mulai memperlambat langkah kakinya untuk memastikan kembali lokasi yang ditunjukkan oleh Oracle.
Itu karena Axel berpikir, jika hacking itu benar-benar dilakukan, maka tak salah lagi sosok Hacker itu jauh lebih berbahaya daripada para monster yang dapat dikatakan tak berakal ini.
__ADS_1
'Di sana?' Tanya Axel sambil melihat ponselnya.
Sebuah titik kuning muncul di dalam sebuah peta bangunan yang cukup besar itu pada layar ponsel Axel.
Dan kini, Axel berada tepat di hadapan bangunan itu.
Sebuah bangunan yang tak lain adalah pusat kendali dalam bandara ini.
Axel memegang tombaknya dengan erat dan bersiap untuk berlari.
'Tap! Swuuussh!'
Ia berlari dan mendobrak pintu masuk itu secara langsung. Kini, apa yang ada di hadapannya, adalah sosok seorang Pria dengan rambut pirang yang pendek.
Pria itu sedang berdiri di hadapan sebuah mesin yang aneh, dengan wujud seperti sebuah lemari yang memiliki banyak lampu kelap kelip dan kabel di sekitarnya.
"Eh?!" Teriak Pria itu terkejut.
Axel, kini mulai berjalan secara perlahan. Tangan kanannya memegang tombaknya dengan erat. Ia juga mulai menggigit bibirnya sendiri karena perasaan yang begitu kesal.
'Jadi benar-benar ada ya? Dan alat itu.... Apakah yang memanggil para monster?' Tanya Axel dalam hatinya.
Sekalipun Axel ingin menebas pria itu secepat mungkin, Ia masih berusaha berpikiran tenang. Dan dengan cepat, Axel menghubungi markas pusat melalui earphone nya.
"Axel disini. Aku telah menemukannya, Ia terlihat sedang berdiri di hadapan sebuah mesin aneh yang nampaknya masih aktif itu." Jelas Axel.
Oracle, yang menerima kabar itu dari Axel segera memukul meja di hadapannya dengan keras. Ia sangat kesal bahwa kenyataannya, terdapat umat manusia yang mengkhianati manusia lainnya.
Tapi Oracle tak bisa bertindak atas emosi.
Ia dengan cepat memberikan perintah baru kepada Axel.
"Tangkap dan interogasi dia. Mungkin dia...."
"Tunggu, ada yang aneh dari mesin itu...." Balas Axel dengan panik.
Tak berselang lama....
...'BLAAARRRRRR!!!'...
Sebuah suara ledakan terdengar dari saluran komunikasi itu. Oracle beserta pekerja yang lain di markas pusat itu segera panik.
"Axel?! Kau mendengarku?! Apa yang terjadi?!" Teriak Oracle kebingungan.
Tak ada balasan dari Axel. Hanya terdengar suara reruntuhan bangunan tempat Ia berdiri.
"Lapor! Emma dari tim pendukung melihat sebuah ledakan besar dari salah satu bangunan pusat kendali bandara di kejauhan!" Ucap salah seorang operator dalam markas pusat ini.
Sebelum Oracle sempat menanyakannya lebih lanjut, balasan dari Axel telah tiba.
"Kuggh! Sialan! Nampaknya dia meledakkan dirinya sendiri. Entah kenapa, tiba-tiba mesin itu meledak saat aku menemukannya." Ucap Axel melalui jaringan komunikasi itu.
"Syukurlah, kau selamat. Bisakah kau laporkan kondisi di sekitar?" Tanya Oracle yang mulai bernafas lega.
"Sebentar, banyak sekali asap di sini." Balas Axel.
Akan tetapi, sebelum Axel dapat melihat apapun di sekitarnya dengan jelas, salah seorang operator segera melaporkan sebuah hal yang besar.
"Lapor! Para monster.... Mulai melarikan diri! Mereka mundur dari bandara ini!"
Laporan itu, tentunya menegaskan satu hal.
Yaitu sebuah kenyataan, bahwa mesin itu memang benar-benar sebuah alat untuk memanggil para monster mendekat.
"Jadi begitu.... Setelah tahu dirinya terpojok, Ia meledakkan dirinya sendiri agar tak diinterogasi dengan memanfaatkan mesin itu ya?" Ucap Oracle yang kembali memperhatikan peta di layar proyektor yang besar itu.
__ADS_1
Dimana banyak bulatan merah dari para monster, mulai menjauhi dari bandara itu.
Meninggalkan para Liberator dan prajurit yang berjaga di sana seakan tak pernah terjadi apapun sebelumnya.